Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 88 7 cm


__ADS_3

Leo menggandeng tangan Shena keluar dari kampus setelah bertemu dengan Evan. Tanpa sengaja, mereka melihat Roy dan Laura yang saling berdebat disamping mobil mereka masing-masing.


“Minggirin, nggak?” bentak Laura yang merasa mobil kijangnya di halangi oleh mobil land cruise milik Roy.


“Kamu tuh yang minggir!” Roy masih tidak mau kalah dengan Laura. Keduanya saling menatap dengan emosi.


“Kenapa lagi sih mereka?” tanya Shena yang hendak maju menghampiri kedua pasangan sejoli yang sedang bertengkar itu, tapi tangannya di cekal oleh Leo sehingga Shena tidak jadi ke sana.


“Biarkan saja Tom and Jerry itu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jangan ikut campur, Sayang. Bagaimana kalau kita kencan?” Leo nyengir kuda untuk merayu Shena.


“Nggak! Aku harus tahu apa yang sedang mereka ributkan. Lagian aku kangen banget sama Laura.” Shena melepas paksa tangannya tapi Leo tetap mencengkeram tangan Shena dengan kuat. Cowok itu menarik tangan Shena sampai tubuh Shena terjatuh kepelukan Leo.


“Aku nggak suka ditolak, Sayang.” Leo menatap Shena yang merasa malu karena banyak pasang mata sedang memerhatikan mereka. Kedua tangan Leo melingkar erat di pinggangnya sehingga Shena kesulitan bergerak. Bahkan tubuh merekapun saling menempel satu sama lain. Hanya wajah mereka saja yang memiliki jarak. Itu pun hanya 7 cm saja jaraknya.


“Leo, lepasin, banyak yang ngeliatin kita. Masa pelukan di tempat seperti ini, malu tahu!” Shena berusaha menyembunyikan wajahnya di dada Leo untuk menghindari tatapan orang-orang kampus yang memerhatikan mereka.


“Biarin aja, toh mereka semua juga tahu kalau kita sebentar lagi akan menikah. Tidak akan ada yang keberatan jika kita berpelukan di tempat umum seperti ini.” Leo sengaja menggoda Shena karena sudah berani menolak berkencan dengannya.


“Kamu marah karena aku menolak berkencan denganmu?”


“Tidak, aku tidak marah. Aku hanya tidak suka di to ...”


Shena langsung mengecup bibir Leo sebelum Leo menyelesaikan kalimatnya. Cowok itu langsung diam terpaku menatap Shena yang tiba-tiba saja menciumnya tanpa pemberitahuan lebih dulu.


“Lepaskan aku, kita akan berkencan setelah aku menyapa sahabatku.” Shena melepaskan pelukan Leo perlahan-lahan dan berlari menghampiri Laura sambil tertawa senang karena berhasil membuat Leo terkejut dengan ciuman dadakannya. Kini, giliran wajah Leo yang jadi merah padam karena merasa malu sendiri.


“Shenaku lebih ganas sekarang,” gumam Leo sambil mengelus-ngelus bibir bekas ciuman Shena yang masih terasa.


Leo mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Halo, siapkan pasukanmu untuk misi rahasia, jangan sampai ada yang tahu ... ehm, Aku akan menemuinya setelah ini ... beritahu aku jika kalian sudah berada lokasi itu. Oh iya, katakan pada Ayahku, untuk bersiap-siap jika nanti bertemu dengan musuh kesayangannya.” Leo menutup sambungannya sambil bergumam, “Tuan Malik, tunggu aku, anda pasti sangat terjekut melihatku.” Leo tersenyum kecil memerhatikan Shena berjalan menghampiri Laura.


Shena langsung memeluk Laura saat sedang asyik berdebat dengan Roy. Tentu saja sahabatnya itu terkejut melihat Shena yang tiba-tiba saja datang memeluknya, begitu juga dengan Roy.


“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Roy dan Laura bersamaan.


Shena tersenyum melihat kekompakan duo Tom and Jerry ini.


“Di mana Leo?” keduanya juga menanyakan hal yang sama lagi, lebih kompak malah.

__ADS_1


Shena jadi tertawa mendengar pertanyaan yang sama dari Roy dan Laura.


“Kenapa kamu tertawa? Nggak ada yang lucu!” Laura mulai ngambek pada Shena.


Shena memeluk lagi sahabatnya, “Aku sangat merindukanmu. Maaf baru bisa menyapamu sekarang. Lagian kalian menanyakan pertanyaan yang sama secara bersamaan, tidakkah kalian berpikir kalau kalian ini sehati?” Shena mencoba menggoda Laura yang terlihat marah.


Laura melepas pelukan sahabatnya, “Hentikan ocehanmu? Sehati apanya? Apa yang terjadi? Kapan kamu datang kemari? Kenapa kamu tidak mengabariku kalau kamu kembali? Aku bisa menjemputmu jika kamu bilang lebih awal.” Laura mencecar Shena dengan banyak pertanyaan.


“Kamu sibuk bertengkar dengan Roy, bagaimana bisa kamu menjemputku? Lagian apa yang kalian ributkan, sih?” tanya Shena memandangi Laura dan Roy bergantian.


Roy berdeham dan memasang wajah semelas mungkin di depan Shena. “Ehem ... Shena, kamu tahu nggak? Laura mutusin aku lagi, padahal aku salah apa, coba? Aku udah bilang sama dia kalau aku bukan playboy lagi. Aku tuh cinta banget sama dia, Shena. Cuma dia satu satunya wanita yang aku cintai sekarang, tapi dia nggak percaya sama aku. Masa aku harus membelah dadaku supaya dia mau percaya sama aku?” Roy memperlihatkan wajah ngeneznya di depan Shena karena cintanya ditolak mentah-mentah sama Laura, seolah-olah hatinya kini menjadi hancur berkeping-keping.


Shena yang tidak tahu menahu kejadian sebenarnya, percaya saja dengan apa yang dikatakan Roy padanya, apalagi raut wajah Roy terlihat menyedihkan sekali. “Benarkah itu, Ra? Kamu mutusin, Roy? Kenapa? bukannya kamu cinta banget sama dia?” tanya Shena tanpa tahu Roy sedang mengedipkan satu matanya pada Laura.


“Kamu percaya sama omongannya, dia? Kamu tahu sendiri Roy itu kayak apa?” bantah Laura.


Shena jadi bingung karena Laura juga benar.


“Tapi aku udah nggak kayak dulu lagi, Shena. Percaya sama aku,” Roy mencoba membela diri. “Aku beneran cinta mati sama Laura sekarang. Apa aku harus mati dulu baru kamu percaya kalau aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu ,Laura?” Roy terlihat sok serius saat bilang cinta sama Laura.


“Mati aja ke laut sono! Dasar pembual!” Laura geram dengan akting Roy yang sengaja ia tunjukkan pada Shena. Gadis itu memilih pergi meninggalkan Shena dan Roy. Shena hendak menyusul Laura tapi tangannya dicekal Leo dari belakang.


“Tapi Laura ....”


“Udah, kamu ikut aku saja, biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Malam ini pokoknya kita kencan!” Leo merangkul Shena dan membawanya masuk ke dalam mobil volvonya.


Sebelum menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ponsel Leo berdering. “Halo.” Leo mengangkat teleponnya.


“Leo!” teriak seorang wanita dari seberang sana yang tidak lain adalah ibu Leo sendiri.


“Jangan berteriak Ibu, aku tidak tuli!” Ujar Leo dengan kesal karena kaget mendengar teriakan ibunya.


“Ibu sedang tidak ingin bercanda!” bentak ibu Leo. “Apa benar berita yang aku lihat di tv itu? tuan Malik? Apa yang terjadi dengannya?” Ibu Leo terdengar cemas di seberang sana.


“Tenang Ibu, aku sudah punya banyak rencana untuk bisa membantu membebaskan dia, jangan khawatir, Oke. Hari ini aku akan menemuinya.” Leo berusaha menenangkan Ibunya.


“Baiklah, semoga berhasil. Ayahmu sedang mengumpulkan seluruh anak buahnya untuk berjaga-jaga jika kamu butuh bantuannya. Kamu tahu harus menghubungi siapa. Dan juga berhati-hatilah, Kenzo bukanlah orang yang mudah kamu kalahkan.” Ibu Leo memberi pesan dan peringatan pada putranya.

__ADS_1


“Aku tahu Ibu, aku juga tidak akan kalah darinya, karena aku punya kalian berdua. Sampai ketemu lagi nanti. Dan juga, tolong persiapkan pernikahan kami dengan baik, Ibu sudah janji.”


“Kamu ini! Selesaikan dulu skripsimu baru pikirkan pernihakahan! Dasar anak nggak ada akhlak!” teriak ibu Leo dan langsung menutup sambungannya.


“Apa salahnya? Bukankah dia sendiri yang berjanji? Kenapa malah marah-marah? Pakai acara ngatain anaknya sendiri lagi? Dasar emak-emak.” Leo menggerutu sendiri sambil menatap layar ponselnya yang mati.


Shena hanya senyam senyum melihat tingkah konyol Leo. Bahkan disaat genting seperti ini, dia masih saja sempat memikirkan pernikahannya.


“Jangan tetawa atau aku akan memaksamu menikah denganku sekarang juga,” ucap Leo sambil menyalakan mesin mobilnya.


“Silahkan saja, ibumu tidak akan membiarkannya. Jika kamu terus memaksaku supaya cepat menikah denganmu, bisa saja mereka akan menculikku lagi dan menyembunyikanku darimu supaya kamu tidak terus-terus saja memaksa mereka agar cepat-cepat menikahkan kita.” Shena balik mengancam Leo.


Leo mendengus kesal karena apa yang dikatakan Shena memang benar.


“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Shena mengalihkan pembicaraan agar Leo tidak lagi kesal padanya.


“Aku akan menemui tuan Malik di rumah tahanan, kamu tunggu saja di mobil, jangan keluar kemana-mana sampai aku kembali.” Leo melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Shena pun mengangguk mengerti. “Apa tidak apa-apa kita menemuinya sekarang? Bagaimana kalau ada anak buah musuh tuan Malik yang datang mengawasi kita.”


“Tidak ada yang tahu siapa kita sebenarnya, karena kita hanyalah mahasiswa biasa. Jangan khawatir, Sayang. Kamu akan lihat keuntungan punya wajah tampan sepertiku, tapi aku juga sangat butuh bantuanmu, terutama jangan pernah merasa cemburu jika ketampanan suamimu ini bakal kumanfaatkan untuk menolong tuan Malik.”


“Kita lihat saja nanti.” Shena tersenyum memandangi wajah tampan Leo yang terlihat serius saat menyetir.


“Aku tahu aku sangat tampan, jangan melihatku seperti itu,” goda Leo.


Shenapun langsung memalingkan mukanya sampai mereka tiba di sebuah tempat di mana tuan Malik di tahan.


****


jangan lupa dukung penulis dengan like, vote dan komentarnya ya ..


terima kasih semuanya, jangan bosan menunggu keseruan kisah cinta Leo dan Shena.


mereka akan segera menikah setelah Leo menyelesaikan misi terakhirnya.


love you all

__ADS_1


salam manis dari penulis


__ADS_2