Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 83 Misi 2 Leo


__ADS_3

Setelah Shena dan Aryani ke luar dari kantor KUD, Rega langsung memerintahkan rekan-rekan kerjanya untuk menyiapkan seluruh berkas-berkas yang diperlukan untuk diberikan kepada Bayu dan pengacaranya.


“Ada apa ini, Rega. Kok dadakan sekali” tanya Vita.


“Pemilik perkebunan yang baru meminta semua data pengelolaan lahan perkebunan ini. Mereka akan datang sebentar lagi, tolong siapkan semua dokumennya. Jangan sampai ada yang terlewat,” pinta Rega.


“Siapa pemilik barunya? Apa kamu mengenalnya?” tanya Dody.


Rega terdiam. Ia tidak ingin Shena ataupun yang lainnya tahu bahwa pemilik tanah perkebunan ini adalah Bayu, yang ia duga sebagai pacar masa kecil Shena. “Tidak, aku tidak tahu. Sebaiknya jangan banyak tanya. Siapkan saja semua dokumennya dan kalian semua boleh pulang jika semuanya sudah selesai. Biar aku saja yang akan menemui mereka.” Rega mencoba menutupi siapa pemilik baru perkebunan yang sedang ia kelola.


“Benarkah? Kami semua boleh pulang lebih awal? Padahal kami ingin tahu sekali siapa pemilik baru perkebunan ini.”


“Kalau begitu, kamu saja yang nemuin mereka dan aku yang pulang!” tantang Rega.


“Ah, tidak tidak! Aku saja yang pulang.” Dody langsung berubah pikiran, daripada dipaksa kerja, lebih baik dia pulang dan bisa bersenang-senang.


“Cepat kumpulkan semuanya sebelum mereka sampai kemari,” tegas Rega.


Semua rekan-rekan Rega langsung bergegas mengerjakan semua yang diperintahkan Rega.


Ketika teman-temannya sibuk menyiapkan berkas-berkas. Rega menerima telepon lagi dari pengacara Bayu. “Iya halo,” ucap Rega.


“Maaf pak Rega, saat ini kami belum bisa datang karena klienku Bayu belum juga sampai kemari. Saya akan menunggu dia dulu dan akan mengabari kapan kami akan datang ke sana, kami usahakan secepatnya.”


“Baiklah Pak, tidak apa-apa. Kabari saja jika Bapak akan kemari.”


“Oke! Terimakasih.” Sambungan telepon diputus dari sana.


“Sial!” Rega membanting kertas-kertas yang ada di mejanya. “ Apa Bayu tahu kalau Shena ada di kampung ini? Tapi tidak mungkin. Mereka sudah lama tidak saling bertemu ataupun memberi kabar masing-masing,” gumam Rega dengan kesal sampai menggertakkan gigi-giginya.


***


Sementara itu, Aryani pulang kerumahnya setelah sukses meninggalkan Shena sendirian di tengah hamparan perkebunan teh yang dipenuhi dengan perbukitan dan hutan rimba. “Rasakan, kamu Shena, siapa suruh jadi pelakor. Saat ini, kamu pasti kesulitan mencari jalan pulang. Semoga saja kamu mati diterkam harimau Leopard di hutan!” gumam Aryani sambil cengar-cengir sendiri setelah ia tiba di halaman depan rumahnya.


Apa yang diharapkan Yani memang benar, saat ini Shena sedang dalam dekapan Leopard, tapi bukan Leopard harimau buas, melainkan Leopard si anak sultan yang memiliki kekayaan tak terhingga dan punya wajah super duper tampan menawan yang membuat semua wanita jadi tergila-gila padanya.


“Di mana Shena!” tanya Rega yang langsung mengagetkan Aryani dengan kemunculannya secara tiba-tiba.


Gadis itu langsung terperanjat,“Mas Rega? Bikin kaget saja!” Yani tidak langsung menjawab pertanyaan calon suaminya. Ia sibuk mengelus dadanya karena terkejut melihat Rega tiba-tiba muncul di depannya.


“Kenapa kamu pulang sendiri? Aku kira kamu bakal pulang dengan Shena. Kamu bilang kamu mau minta maaf padanya?” Rega langsung mencecar calon istrinya dengan banyak pertanyaan.


“Dia sudah pulang duluan Mas. Aku malah ditinggal sama dia! Kenapa Mas Rega ada di sini? Ehm ... mobil sedan putih itu milik mas Rega? Mobil baru, ya?” Yani berbohong dan mencoba memutar balikkan fakta serta berusaha mengalihkn pembicaraan.


“Dia ninggalin kamu?” tanya Rega tak percaya.


“Iya, aku udah cari dia kemana-mana. Tapi nggak ketemu juga, dia pasti sudah pulang duluan. Makanya aku baru pulang sekarang. Aduhh ... aku capek sekali. Aku mau masuk dulu, aku sangat lapar. Eh Mas, ayok kita keluar cari makan? Masa habis beli mobil baru aku nggak diajak jalan-jalan?” rengek Yani sambil bergelandot di lengan Rega dengan manja.


Rega berdecak kesal, tapi akhirnya ia mau saja menuruti kemauan Yani daripada nanti dia merengek terus. Belum sempat mereka keluar pagar halaman, tiba-tiba saja Arga datang dengan mobil jeepnya dan langsung keluar membanting pintu mobil lalu berjalan cepat menghampiri Yani dan berteriak melabraknya.


“Elo bawa kemana Shena tadi siang, ha? Kenapa sampai sekarang dia belum kembali?” teriak Arga dengan penuh emosi.


Rega pun langsung terkejut mengetahui Shena sampai sekarang belum kembali. Ia pun ikut menatap marah pada Yani. “Apa yang terjadi, Yani? Kamu yakin Shena yang meninggalkan kamu? Atau malah kamu yang ninggalin, dia?” tanya Rega dengan marah.


“Dia yang ninggalin aku, Mas? Masa Mas nggak percaya sama aku, sih?”


Nggak mungkin dia ninggalin, elo! Dia bukan tipe orang licik kayak, elo!” sanggah Arga dengan kesal. “Pasti elo yang udah ninggalin dia karena elo tahu, Shena tidak tahu apa-apa daerah sekitar sini, ngaku aja!” bentak Arga dan tebakannya memang benar.


“Eh, kamu jangan nuduh sembarangan, ya? Emang kamu ada bukti kalau aku yang ninggalin dia?” Yani masih saja bersi kukuh pada pengakuannya seolah menantang Arga.


“Awas saja lo Yan, kalau sampai Shena kenapa-napa. Habis, lo!” Arga pergi dan masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan menginjak pedal gasnya, setelah itu ia melaju sangat kencang meninggalkan kediaman Yani.

__ADS_1


Rega pun melakukan hal yang sama, ia buru-buru masuk ke dalam mobil sedannya dan langsung pergi meninggalkan Aryani sendirian di luar.


“Eh, Mas! Mas! Mau kemana? Kok aku ditinggalin gitu aja, sih?” teriak Yani tanpa ada yang peduli pada teriakannya. “Yah, nggak jadi makan enak, dong.” Aryani menendang-nendang pasir di jalanan saking kesalnya.


****


Leo menggendong Shena sampai ke jalan utama masuk desa. Ia sangat senang melihat Shena tertidur dalam gendongannya. Dengan kerennya Leo membawa Shena masuk ke dalam sebuah rumah besar yang pasti bakal membuat Shena terkejut jika gadis itu tahu ada di mana mereka sekarang.


Leo meletakkan tubuh Shena di atas kasur yang sudah ia siapkan sebelum datang menjemput Shena. Leo mengecup kening Shena dengan lembut sambil berkata, “Selamat malam Sayang, selamat tidur. Aku mencintaimu dan tidak akan pernah membiarkanmu menjauh dariku lagi.”


Shena terlalu lelah berjalan mengitari bukit dan perkebunan teh tadi sehingga ia tidak sadar sudah berada di dalam sebuah rumah besar bersama dengan Leo.


Leo mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, “Halo, pak Bas? Maaf, tadi aku tidak bisa ikut denganmu. Apa semuanya sudah siap? Besok pagi kita ke sana ... iya, aku tidak apa-apa ... ehm, aku bersama Shena sekarang ... dia baik-baik saja. hanya sedikit kelelahan. Aku akan menjaganya di sini. Kita akan bertemu lagi besok pagi begitu Shena bangun. Sampai jumpa!” Leo menutup teleponnya dan mematikan semua lampu di rumahnya.


Leo menuju kamar Shena dan tidur di samping Shena sambil menatap lekat wajah gadis yang amat sanagt dicintainya ini. “Aku akan menyelesaikan semua masalahmu Sayang, kita akan mengakhiri semuanya di sini sampai tidak ada lagi yang tersisa. Mereka semua akan mendapatkan ganjaran yang setimpal karena sudah membuatmu hidup menderita selama ini. Syukurlah aku bisa menemukanmu kembali.” Leo bicara pada dirinya sendiri karena Shena sudah tertidur pulas.


Perlahan Leo mengangkat kepala Shena dan menindihkan lengan Leo agar menjadi bantal Shena. Gadis itu tertidur pulas dalam pelukan Leo yang hangat.


****


Arga pulang kembali kerumahnya setelah lewat tengah malam. Ia terlihat letih karena kelelahan mencari Shena yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.


“Gimana, Ga? Apa kamu sudah tahu ada di mana Shena?” tanya bu Dewi pada Arga setelah tahu putranya kembali pulang.


Arga menggeleng lemah. “Arga nggak nemuin Shena di mana-mana, Ma.”


“Terus gimana? Apa kita lapor polisi saja?” usul bu Dewi karena terlalu cemas pada Shena.


“Kita lihat besok pagi, Ma. Kalau sampai besok Shena masih belum ada kabar, Arga akan langsung lapor polisi. Arga istirahat dulu ya, Ma. Arga capek banget.” Cowok itu pamit masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri dikasurnya. Dalam sekejap, Argapun tertidur sangat pulas.


Sementara Rega, masih berkeliling kampung untuk mencari-cari keberadaan Shena yang hilang entah ke mana. “Dia tidak punya ponsel jadi sulit banget dilacak, kurang ajar si Yani, pantas saja ia begitu semangat membantu menunjukkan jalan pada Shena saat aku memintanya ke bukit itu, pasti ini semua sudah ia rencanakan, Sialan!” Rega membanting setirnya ke pinggir jalan dan berhenti di situ. “Harusnya aku nggak ngirim Shena ke sana. Jika terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan pernah meaafkan diriku sendiri,” gerutu Rega dengan kesal sambil menatap sekeliling berharap bisa bertemu dengan Shena.


****


“Aku dengar, pemilik perkebunan yang baru akan datang hari ini.” Vita mulai bergosip ria dengan teman-temannya di depan kantor KUD.


“Oh iya? Seperti apa dia, ya? Pasti aki-aki yang tajir melintir. Bayangin saja, perkebunan ini sangat luas banget dan dia membelinya secara cash langsung dengan harga jual yang tinggi. Pasti orang ini kaya raya benget. Rega aja nggak ada apa-apanya dibandingin orang ini,” terang Dody.


Tanpa mereka sadari, Aryani sedang menguping pembicaraan mereka dari belakang.


“Siapapun orang ini, yang jelas dia sangat super duper kaya raya. Harta tujuh turunan saja, nggak akan habis katanya. Seneng kali ya, yang jadi istrinya. Aku sempat dengar gosip di luar, kalau dia masih lajang loh, meski udah aki-aki.” Fitri menambahkan berita menjadi lebay sehingg mereka semua langsung heboh dan terus saja ngegosip.


“Wah, kalau memang benar itu orang sekaya itu, boleh juga tuh aku embat, daripada Mas Rega yang jutek cuek bebek itu. Nggak ada salahnya kalau aku mencoba menggaet tua bangka itu, itung-itung aku nggak perlu susah-susah menikmati hari tua,” gumam Aryani yang berniat buruk pada pemilik baru perkebunan ini.


“Ehemmm,” Aryani berdeham di belakang anak buah Rega yang sedang bergosip.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Fitri agak terkejut melihat Yani si sepupu jahat Shena sudah ada di belakang mereka.


“Suka-suka aku dong, kan ini kantor calon suami aku. Wajar kalau aku datang kemari, minggir sana!” dengan congkaknya ia menerobos kerumunan anak buah Rega lalu berjalan lurus menuju kantor calon suaminya.


“Dasar nenek sihir!” umpat Fitri denga kesal. “Baru jadi calon istri aja udah belagu!” Fitri terlihat sangat emosi melihat tingkah laku Aryani yang sok berkuasa di sini.


“Sudah sudah, ngapain kamu ngurusin dia? Bikin mukamu cepet tua saja. Sebaiknya kita urus pekerjaan kita daripada dongkol liat mukanya yang udah mirip kecebong itu.” Vita menggaet lengan Fitri keruangannya diikuti yang lainnya.


“Mas, “ panggil Aryani saat masuk ke ruangan Rega.


Cowok itu tidak merespons panggilan calon istrinya. Ia malah sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.


“Mas Rega dengar aku nggak sih, kenapa mas Rega jadi jutek gitu sih sama aku?” rengek Aryani.


“Ngapain kamu kemari?” tanya Rega tanpa menoleh padaYani.

__ADS_1


“Aku mau minta jatah sama mas, Rega!”


Rega yang tadinya sok sibuk lansgung terkejut mendengar perkataan Aryani. “Jatah? Jatah apa? Bukannya seminggu yang lalu kamu sudah aku kasih uang? Masa sudah habis?” tanya Rega yang langsung dibuat kesal setengah mati oleh Yani pagi ini.


“Ihhh, bukan itu ... Mas tahu nggah sih, sejak Shena datang kemari, Mas Rega nggak pernah ngasi ciuman lagi sama aku. Apa mas Rega sudah nggak sayang lagi sama aku?” teriak Yani sehingga membuat Rega malu karena para pegawainya langsung ngeliatin dia.


“Kamu ini bicara apa, sih? Ayo ikut aku! Jangan bikin aku malu di sini!” Rega menyeret Yani keluar dari ruangannya dan menjauh dari anak buahnya.


***


Shena terbangun di pagi hari dan langsung terkejut saat mendapati dirinya ada di atas dada Leo. Secepat kilat ia bangun dan memeriksa seluruh bagian tubuhnya. “Haaah, untunglah pakaianku masih lengkap, aku pikir dia mengerjaiku lagi seperti waktu itu, selagi aku tidak sadar,” gumam Shena sambil bernapas lega.


Gadis itu memerhatikan Leo yang masih tertidur pulas disampingnya. “Aku kira kejadian semalam hanya mimpi, tapi sekarang aku yakin ini bukan mimpi. Aku benar-benar bersama Leo sekarang. Dan kini dia ada disampingku.” Shena mendekatkan wajahnya pada Leo untuk menikmati ketampanan Leo sambil senyam senyum sendiri.


Perlahan, Shena memonyongkan mulutnya hendak mencuri ciuman di bibir Leo, tapi belum sampai niat itu kesampaian, tiba-tiba saja Leo membuka matanya dan langung menyerang Shena lalu merebahkan gadis itu di bawahnya. Kini, posisi mereka tertukar, Shena yang tadinya di atas, dalam sekejab berubah posisi jadi di bawah sedangkan Leo ada diatasnya.


“Mau apa kamu, wahai pencuri?” Leo tersenyum nakal sambil menahan kedua tangan Shena yang terlentang agar tidak bisa melawan.


“ak-aku ... ehm, aku bu-bukan pencuri, memang apa yang mau ku curi darimu?” tanya Shena yang mulai memerah karena mereka berdua saling tumpang tindih di atas kasur.


“Kamu mau mencuri ciumanku. Iya, kan?” goda Leo.


“Aku mau membangunkanmu, tapi aku tidak tega, karena kamu pasti kecapean setelah menggendongku semalaman sampai kemari.” Shena memerhatikan Leo yang menatapnya tajam tanpa berkedip. “Bisa lepaskan aku? Aku mau ke toilet.” Shena memohon pada Leo untuk dilepaskan dengan mengedip-ngedipkan matanya.


“Bagaimana kalau aku tidak mau melepaskanmu?”


“Aku sedang tidak ingin bercanda, aku sudah tidak tahan!” pinta Shena.


“Kalau begitu, ayo kita lakukan, aku juga sudah tidak bisa lagi menahannya. Aku rasa, tidak ada masalah kalau kita berdua melakukannya sekarang, aku akan mulai dari melepas pakaianmu.”


“Haa? Apaan, sih? Kenapa pakai acara melepas pakaian segala? melakukan apa?” tanya Shena yang masih belum ngeh dengan maksud ucapan Leo yang sengaja menggodanya.


“Kamu bilang, tadi sudah tidak tahan? Sama, aku juga.” Leo masih tersenyum nakal pada Shena.


“Maksudku, aku ingin buang air kecil, apa kamu ingin aku ngompol di sini? Lepaskan aku, bodooh!” Shena meronta-ronta untuk dilepaskan.


“Tahan dulu sebentar!” genggaman tangan Leo semakin kuat pada Shena.


Tanpa peringatan, Leo menyerang bibir Shena dan mengisap-ngisap dua buah benda lunak berwarna merah delima itu dengan lembut.


Shena yang hampir kehilangan kendali mencoba mendorong tubuh Leo ke samping dengan sekuat tenaga agar ia bisa bangun dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Leo hanya tetawa kecil menyaksikan sikap Shena yang semakin menggemaskan itu. “Jika kamu tidak lari ke kamar mandi, maka bulan tertusuk ilalang pasti akan terjadi tadi, “ gumam Leo yang bangun berdiri untuk membuka pintu depan setelah bunyi bel rumah berbunyi.


***


Spesial hari ini, episodenya penulis bikin panjang supaya puas bacanya.


mohon dukungan like, vote dan komentarnya ya..



Shena yang menatap Leo saat tidur. 🤭🤭🤭


huh



nantikan keseruan kisah Shena dan Leo selanjutnya...


terima kasih 🙏 love you all 😘😘

__ADS_1


salam manis dari penulis ♥️♥️♥️


__ADS_2