
Shena menelepon Laura setelah ia tiba di terminal kampung halamannya. Shena memutuskan untuk pulang ke rumah bibi dan pamannya meskipun ia sebenarnya tidak mau lagi datang kesana. Menurut Shena, hanya tempat inilah yang tidak mungkin di jangkau oleh Leo karena jaringan internetnya masih belum stabil. Sepupu Leo, Xiao nai yang ahli melacak juga tidak akan bisa menjangkau tempat ini, karena mayoritas penduduk di kampung halaman Shena adalah bertani dan berladang, sehingga tidak tahu menahu apa itu jaringan internet. Apalagi lokasinya juga berada di dataran tinggi yang sinyalnya tidak mudah di dapat, internet pun juga tidak ada.
“Tidak ada tempat lain, sementara ini aku akan tinggal di sini sampai penelitian skripsiku selesai. Setelah itu, aku akan mencari tempat lain yang jauh dari jangkauan Leo, sehingga ia tidak akan bisa menemukanku lagi.” Shena duduk di kursi penunggu sambil menyandarkan punggungnya di kursi itu. “Aku sangat merindukannya, aku sangat rindu pada Leo. Aku bahkan tidak punya fotonya. Kenapa aku tidak meminta fotonya waktu itu, setidaknya aku bisa melihat wajahnya meski kami tidak lagi bersama,” gumam Shena lagi. Gadis itu terlihat sangat frustasi memikirkan Leo yang sudah tak bisa lagi dilihatnya. Ingin rasanya menangis tapi ia tahan agar air mata itu tidak tumpah keluar.
Shena baru sadar kalau cincin berlian yang disematkan Leo di jari jemarinya masih aman terpakai di jari manis Shena. Gadis itu menatap cincin tersebut dengan penuh haru. Cuma itu satu-satuya kenangan yang Shena miliki dari Leo. Tanpa sadar, Shena kembali teringat saat-saat momen romantis yang Leo berikan padanya. Saat, di mana Leo melamar Shena.
Sekuat apapun Shena menahan agar air matanya tidak tumpah, tetap saja air mata itu jatuh menetes dipunggung tangan Shena tanpa permisi ketika Shena menatap satu-satunya kenangan dari Leo, yaitu cincin pertunangannya sendiri.
Buru-buru, Shena mengusap air matanya dan langsung melepas cincin pertunangannya. Bukan karena Shena tidak mau melihat cincin itu lagi, tapi ia sengaja menyembunyikannya agar paman dan bibinya tidak merampasnya jika mereka tahu Shena punya cincin berlian.
***
Shena berjalan mengitari sebuah bangunan gedung berwarna putih yang luas. Gadis itu terdiam sejenak menatap bangunan megah itu. Lagi-lagi, air mata Shena mengalir tanpa peringatan karena ia teringat akan kenangan masa lalunya saat almarhum kedua orang tua Shena masih ada. Bangunan rumah yang kini tampak tak berpenghuni itu dulunya adalah milik orang tua Shena yang sudah dijual oleh paman dan bibinya serta seluruh aset-aset keluarga Shena yang lainnya. Saat itu Shena masih kecil sehingga ia tidak tahu menahu soal harta warisan keluarganya yang sudah dihabiskan oleh paman dan bibinya untuk berfoya-foya.
Setelah Shena tahu dan mengerti, semua harta kekayaan orang tua Shena sudah ludes dimakan oleh keserakahan adik kandung almarhum ibunya. Sekarang, mereka tinggal disebuah banguan kecil sederhana yang ada pinggir sungai milik paman Shena sendiri. Mereka tinggal bertiga bersama dengan istri dan anak perempuan satu-satunya yang bernama Aryani, sepupu Shena yang jauh lebih tua darinya.
__ADS_1
Sayangnya, Aryani bukanlah gadis yang baik. Ia sangat mirip dengan kedua orang tuanya yang tidak pernah merasa bersyukur akan apa yang mereka punya. Dari kecil, Shenalah yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah dan sekolahnya. Shena diperlakukan seperti budak daripada keluarga, padahal harta warisan milik Shena sudah mereka habiskan sendiri. Bahkan Shena sama sekali tidak mendapat bagian apa-apa. Ia malah mendapat perlakuan yang kejam dari paman dan bibinya serta dari Aryani pula.
Namun, Shena sama sekali tidak mengeluh, ia selalu mengerjakan semua yang diperintahkan oleh paman dan anggota keluarganya karena pesan dari almarhum ibunya yang meminta Shena agar selalu patuh pada paman dan bibinya. Sebab, cuma merekalah satu-satunya keluarga yang Shena punya, tidak ada yang lain.
Satu pesan itu lah yang Membuat Shena harus memenuhi apa yang dikatakan almarhum ibunya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya meskipun Shena harus menderita karena menjalankan pesan itu. Shena hanya ingin almarhum ibunya bahagia jika Shena memenuhi permintaannya.
“Shena,” panggil seseorang dan Shena langsung menoleh ke arah orang itu setelah mengusap air matanya.
Shena menatap orang yang memanggilnya. Awalnya ia tidak tahu siapa laki-laki yang menaiki sepeda gunung itu. Sampai ada seorang wanita yang juga menyusul pria itu dibelakangnya.
Cowok yang dipanggil Rega dan wanita itu sama-sama terkejut melihat kedatangan Shena, yang membedakan keduanya adalah ekspresinya. Satu memasang ekspresi senang tiada tara. Sedangkan yang satunya memasang ekspresi penuh kebencian dan dendam.
“Kenapa kau kembali ke sini lagi, ha?” teriak wanita itu seketika.
“Yan!” bentak Rega. “Kenapa kamu berteriak sama sepupu kamu sendiri? Harusnya kamu senang Shena masih mau kembali lagi kemari, dan kamu bisa minta maaf padanya. Bukankah itu yang selama ini kamu bilang ke aku?” tanya Rega yang jadi marah dengan sikap Aryani karena ia tidak welcome pada Shena. Ternyata wanita yang dipanggil 'Yan' itu adalah Aryani, saudara sepupu Shena sendiri.
__ADS_1
Yani lagsung kelabakan mendengar bentakan Rega. “Maaf Mas, aku hanya terkejut melihat Shena tiba-tiba saja datang tanpa memberitahu sebelumnya,” kilah Ayrani untuk menutupi ketidaksukaannya pada Shena.
Shena hanya tersenyum saja mendengar jawaban sepupunya. Ia tahu betul seperti apa perasaan sepupunya terhadap Shena. “Maaf, kalau aku tidak memberitahumu, Kak. Aku tidak punya ponsel ataupun nomer teleponmu untuk bisa menghubungimu kalau aku ingin pulang kemari. Lagi pula, aku tidak akan lama di sini. Aku hanya akan melakukan sebuah penelitian untuk bahan skripsiku dan mengambil beberapa berkas-berkasku di rumahmu. Setelah itu, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi untuk selamanya.” Shena menyindir telak sepupunya.
Aryani menatap marah pada Shena tapi ia berusaha tersenyum di depan calon suaminya, Raga. “Kamu ini bicara apa Shena. Ayo kita pulang, pasti ayah dan ibu senang melihat kamu.” Aryani turun dari sepedanya dan memegang tangan Shena seolah menunjukkan bahwa dia senang dengan kedatangan Shena.
Dasar bocah tengik! Awas saja kau, untung saja di sini masih ada Rega. Kalau tidak, sudah pasti aku becek-becek dan ku cincang kau jadi daging giling. Batin Aryani sambil menatap tajam mata Shena.
****
nantikan kisah selanjutnya ya... jangan bosan menunggu ...
terimakasih yang sudah memberikan dukungan like, vote, dan komentarnya sehingga penulis menjadi semangat terus untuk memberikan cerita menarik lainnya ..
love you all
__ADS_1
salam manis dari penulis ♥️♥️♥️