
Shena langsung melempari Leo dengan bantal, karena sudah bicara sembarangan.“Bicara apa kau! Siapa yang mengkhianatimu! Dasar aneh! Auwww ....” Shena memegangi luka diperutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak bergerak.
Leo langsung berlari ke arah Shena karena khawatir pada kekasihnya yang tiba-tiba merasa kesakitan, “Kau tidak apa-apa?” Leo membungkuk di depan Shena dengan ekspresi penuh kecemasan.
“Ambilkan bantalku!” pinta Shena dan langsung dikerjakan oleh Leo.
Roy yang menyaksikan ketua gengster itu melakukan apa yang diperintahkan Shena jadi melongo tak percaya melihat pemandangan aneh yang ada di depan matanya.
“Ternyata benar kata orang-orang, IQ seseorang jadi merosot setelah dia jatuh cinta!” Roy berkomentar karena masih tidak percaya dengan sikap bucinnya Leo pada Shena.
“Apa kau bilang?” Leo memelototi Roy karena mendengar komentar pedasnya. “Liat aja, kau juga akan merasakan hal yang sama jika kau benar-benar jatuh cinta! ” Leo membentak Roy yang langsung disambut tawa damai dari Roy.
“Itu tidak akan pernah terjadi,” bantah Roy dengan penuh percaya diri.
Shena dan Roy saling pandang dengan tatapan permusuhan. Roy melangkah mendekati Leo yang sedang membenahi posisi bantal untuk Shena agar gadis itu bisa bersandar. “Pacarmu, oh bukan ... tunanganmu itu, sudah bersikap sok tahu padaku, ajari dia! Supaya dia tidak ikut campur lagi urusan orang lain. Aku akan mengantar Laura pulang, sekarang.” Roy menepuk pelan bahu Leo. “Oh iya, Carlos masih hidup dan dia ada di dalam rumah sakit ini, dengan pengawalan yang super duper ketat.”
Leo mengangguk tanda mengerti, ekspresi wajahnya berubah menjadi menyeramkan. “Aku akan bicara lagi denganmu nanti. Cepat kembali setelah kau mengantar Laura pulang.” Leo berbalik ke arah Shena dan menatap tajam mata tunangannya.
“Siapa Carlos?” tanya Shena yang penasaran karena raut wajah Leo berubah menjadi marah ketika mendengar nama ‘Carlos’.
“Kamu tidak perlu tahu, apa kamu baik-baik saja? Jangan terlalu banyak bergerak." Leo tampak sangat khawatir pada Shena.
"Tidak apa-apa, aku sedikit lupa kalau aku habis terkena tembakan peluru." Sebenarnya, Shena masih merasakan sakit akibat ia bergerak terlalu cepat tadi, tapi ia tidak ingin Leo tahu.
Leo memerhatikan Shena. "Sekarang jelaskan padaku? Apa yang kalian bicarakan sampai harus menyuruh Laura ke luar ruangan?” Leo memulai interogasinya.
__ADS_1
Deg ...
Shena tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada Leo. Berakhirnya hubungan Laura dan Roy, secara otomatis sudah membuat Shena kalah taruhan dari Leo. Itu artinya, Shena harus menuruti semua yang diinginkan Leo tanpa syarat apapun.
Leo masih menatap Shena menunggu penjelasan darinya. Rasa sakit yang tadi Shena rasakan seolah tak terasa lagi dan berubah jadi kepanikan yang menakutkan. Gadis itu tidak bisa membayangkan bahwa selamanya, ia akan jadi boneka Leo.
“Aku ... aku hanya ... meminta Roy untuk mengakui perasaannya pada Laura. Aku yakin sekali, dia sudah jatuh cinta pada Laura. Karena itulah, ia menghindari Laura supaya tidak menyakiti Laura lebih dalam lagi. Tapi temanmu itu tetap saja menyangkal dan tidak mau mengakui perasaannya. Padahal, sudah jelas sekali di matanya, kalau Roy itu sedang jatuh cinta pada Laura. Tadi dia juga sempat mengakuinya sendiri, meskipun ia mengatakannya secara refleks saja.”
Leo hanya diam menatap Shena, cowok itu menyunggingkan senyumnya.
“Apa ada yang lucu? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?” Shena tidak mengerti, kenapa Leo malah tertawa.
Apa dia senang karena sudah menang taruhan?
“Tidakkah kamu sadar, bahwa Roy sangat mirip dengan seseorang?” tanya Leo masih sambil menatap mata Shena.
“Kamu memaksa Roy untuk mengakui perasaannya pada Laura. Bagaimana denganmu? Apakah kamu tidak mau mengakui perasaanmu juga?”
Pertanyaan Leo membuat Shena jadi salah tingkah. Shena menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal, bingung dan juga merasa aneh. Berkali-kali Shena memalingkan muka karena tidak tahan melihat Leo terus-terusan menatapnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tiba-tiba saja Shena menjadi grogi berada di dekat Leo.
“Kamu masih saja tidak mau bicara? Oke! Hanya ada satu cara untuk membuktikannya.”
Tanpa peringatan, Leo langsung mencium bibir Shena dengan lembut dan penuh cinta. Sedangkan Shena yang mendapat serangan mendadak dari Leo, langsung terkejut setengah mati. Jantungnya terpicu begitu cepat sehingga menimbulkan bunyi degupan yang bisa didengar oleh mereka berdua. Mata Shena terpejam menikmati ciuman maut yang dilayangkan Leo padanya.
Perasan Shena langsung bercampur aduk saat ini, antara bahagia, takut dan tidak percaya. Shena terus saja menyangkal pada dirinya sendiri tentang perasaan cinta yang mulai tumbuh di hati Shena, tapi hati tidak akan bisa dibohongi. Sekeras apapun usaha Shena untuk menyangkal perasaanya, Shena harus tetap menerima bahwa dia sudah mulai jatuh cinta pada Leo. Gadis itu berusaha menguasai diri agar tidak melayang karena sedang dimabuk kepayang.
__ADS_1
Leo menyudahi ciumannya dan perlahan menatap Shena dengan lembut, pancaran matanya menyiratkan kebahagiaan yang tak terkira. Kini, akhirnya Leo tahu, bahwa Shena sudah mulai membuka hati untuknya dan mau menerima ketulusan cinta Leo.
“Jantungmu berdetak dengan kencang, kamu sudah tidak bisa lagi menyangkal. Ciuman ini sangat berbeda dengan sebelumnya.” Leo menatap Shena yang tertunduk malu, gadis itu mencoba memegang dadanya sendiri. “Aku juga bisa merasakannya Shena, aku tahu kamu juga mencintaiku.” Tatapan Leo membuat Shena terbujur kaku dan tidak bisa bergerak bagai terhipnotis oleh pesona yang dipancarkan Leo padanya.
“Aku kalah,” lirih Shena, ia tidak kuasa lagi menatap mata Leo yang membuat detak jantungnya terus-terusan berdegup dengan kencang.
Awalnya, Leo bingung mendengar kata-kata Shena. Tapi cowok itu langsung mengerti dan menyunggingkan senyum manisnya lagi.
“Tidak, kamu menang.” Leo mengecup bibir Shena lagi. Lalu mengangkat dagu Shena. Kini keduanya saling menatap satu sama lain. Aura cinta yang begitu indah, sedang menyelimuti dua sejoli ini.
“Roy sudah berpisah dengan Laura. Artinya aku kalah bahkan sebelum melakukan apa-apa pada mereka.” Shena memberitahu Leo bahwa dia memang sudah kalah dan berniat untuk mengakui kekalahan.
“Tapi, Roy sudah jatuh cinta pada Laura, bukankah kamu sendiri yang bilang? Meski saat ini cecunguk itu belum mau mengakuinya.”
Shena memikirkan kata-kata Leo. Benar juga, perjanjiannya adalah Roy jatuh cinta pada Laura, baik mereka berpisah atau tidak, yang jelas Roy sudah jatuh cinta pada Laura.
“Kamu benar, berarti aku tidak perlu menuruti semua apapun yang kamu mau, apa kita seri?” tanya Laura sedikit senang.
Leo mengangguk, “Ehm ... tidak perlu. Karena kamu sudah membalas cintaku, maka perjanjian kita kemarin, batal.”
Senyum mengembang di wajah Shena langsung menghilang begitu mendengar kata-kata Leo. “Apa?”
“Jika kamu sudah jatuh cinta padaku, maka kesepakatan kita batal, kita tidak memerlukan kesepakatan itu lagi karena tujuan aku menyetujui kesepakatan itu adalah agar kamu jatuh cinta padaku,” terang Leo sambil memamerkan senyum liciknya.
Shena terkejut mendengar penjelasan Leo, jadi inti kesepakatan waktu itu adalah untuk membuat Roy jatuh cinta pada Laura, dan disaat bersamaan, Leo juga membuatku jatuh cinta padanya. Saat ini kami berdua sudah melakukan keduanya, Roy jatuh cinta pada Laura, dan aku jatuh cinta pada Leo. Dasar Leo! Pantas saja dia bisa jadi gengster sungguhan yang menakutkan, dia benar-benar serigala berbulu domba!
__ADS_1
*****