
Operasi Shena berhasil berkat darah yang di donorkan Leo pada Shena. Peluru yang bersarang di tubuh Shena juga sudah berhasil dikeluarkan. Kini, keduanya berada di ruang ICU pasca operasi dilakukan untuk mengecek apakah ada gejala lain yang terjadi mengingat luka tembak Shena lumayan dalam. Untungnya, peluru itu tidak sampai mengenai organ vital Shena sehingga operasi Shena bisa cepat selesai tanpa mengalami kendala. Sedangkan Leo, juga harus mendapatkan perawatan karena darah yang di ambil dari tubuh Leo juga lumayan banyak. Mereka berdua, tertidur pulas di ruangan yang sama.
Keesokan paginya, Leo tersadar dari tidurnya. Ia langsung bangun dan mendapati Shena masih terbaring lemah di ranjangnya. Perlahan, Leo mendekat dan menatap wajah pucat gadis yang dicintainya. Leo menggenggam tangan Shena yang masih terpasang selang infus di punggung jari jemarinya.
“Apa yang kamu lakukan, Shena?” Leo mulai berbicara pada Shena meski ia tahu Shena belum bisa mendengar suaranya karena Shena masih belum sadarkan diri. “Kamu bilang, kamu membenciku, tapi kamu berlari menghadang peluru itu demi menyelamatkanku. Katakan saja jika sekarang, kamu mulai mencintaiku, maka aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Aku janji padamu, aku akan membuatmu selalu bahagia bersamaku, dan hanya kamulah satu-satunya wanita yang akan mendampingiku selamanya.” Leo mencium tangan Shena dengan lembut dan mengusap kepala Shena.
“Jangan salah paham,” ucap Shena yang langsung mengagetkan Leo.
“Shena? Kamu bisa mendengarku? Kamu sudah sadar?” Leo terkejut sekaligus senang karena akhirnya Shena kembali sadar setelah semalam membuatnya khawatir. Leo segera memencet tombol untuk memanggil suster agar datang memeriksa keadaan Shena.
Meski Shena sudah sadar dan bisa mendengar suara Leo, tapi mata gadis itu masih tertutup. Shena masih enggan membuka matanya karena rasa sakit yang ada diperutnya mulai terasa. Sepertinya, obat bius Shena sudah mulai menghilang sehingga luka bekas operasinya semalam mulai terasa perih.
Tidak berapa lama, susterpun masuk ke dalam ruangan bersama dengan salah satu dokter yang mengoperasinya semalam. Leo mundur menjauh dan mengawasi Shena serta dokter yang sedang memeriksa keadaan Shena.
Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda lain yang membahayakan, dokter pun menyimpulkan bahwa Shena bisa pulih seperti sedia kala asal melakukan terapi dan minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter.
“Lukamu, sudah tidak apa-apa, seminggu lagi, kamu bisa pulang ke rumah. Setelah ini, kamu akan dipindahkan ke kamar inap. Semua sudah baik-baik saja, syukurlah suamimu bisa mendonorkan darahnya tepat waktu, jika tidak, entah apa yang terjadi.” Dokter itu memeriksa denyut dan detak jantung Shena untuk memastikan, Shena tidak mengalami cedera yang lainnya.
Shena agak bingung dengan maksud ucapan dokter yang memeriksanya. Tapi ia mulai sadar bahwa suami yang dimaksud dokter itu adalah Leo. Karena itulah mereka diizinkan satu ruangan.
Dasar Leo br3ngsek! Bisa-bisanya dia mengaku-ngaku sebagai suamiku. Dasar nggak ada akhlak!
Dokter itu pergi ke luar ruangan dan suster mulai mengganti perban di luka Shena. Leo hanya mengamati Shena dari kejauhan. Sebenarnya, gadis itu keberatan jika ia harus membiarkan Leo melihat proses pergantian perban di depan gengster mesum itu, tapi Shena tidak berdaya dan tidak bisa berkomentar apa-apa. Sesekali, keduanya saling curi-curi pandang.
“Kemarilah, Pak!” pinta suster itu pada Leo yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Leopun dengan senang hati menuruti panggilan suster.
“Ada apa, Sus?” tanya Leo dengan memasang wajah sok polos.
“Anda harus memerhatikan saya cara mengganti perban istri anda, karena setelah ke luar dari rumah sakit nanti, andalah yang harus menggantikannya sendiri. Lihatlah tata caranya. Agar lukanya sembuh, perban harus diganti setiap sehari sekali supaya lukanya tetap steril.” Suster tersebut memberitahu Leo cara mengganti perban dan merawat luka tembak yang benar.
Sebenarnya Shena sangat keberatan dengan apa yang dilakukan suster itu, tapi sekali lagi ia tidak punya tenaga untuk membantah hal semacam ini.
“Anda mengerti?” tanya suster itu pada Leo setelah selesai mengganti perban yang ada di perut Shena.
“Akan saya usahakan, Sus. Terimakasih informasinya,” jawab Leo dengan ramah tapi matanya melirik nakal pada Shena.
“Sama-sama.” Suster itu meninggalkan ruangan untuk memeriksa pasien yang lainnya.
Sayangnya, Leo tidak ingin kehilangan kesempatan langka seperti ini. Cowok itu duduk di sebelah Shena dan Shena langsung membuang muka berpaling dari Leo.
“Tidak usah malu padaku, kita suami istri sekarang.” Leo mencoba menggoda Shena.
“Kapan aku menikah denganmu?” ucap Shena dengan ketus tanpa mau menatap Leo.
“Ada yang mengartikan bahwa pernikahan adalah sebuah penyatuan, darah kita berdua sudah menjadi satu di tubuhmu, berarti secara tidak langsung kita berdua sudah menikah?”
“Kamu ini idi0t atau apa, sih? Sejak kapan darah orang yang bercampur jadi satu itu dikatakan menikah?” Shena jadi keki dengan pemikiran konyol Leo yang menyatakan bahwa mereka sudah menikah hanya karena Leo mendonorkan darahnya pada Shena.
“Aku putuskan sejak hari ini!” Leo masih saja membuat Shena jadi emosi. Cowok itu memang sengaja membuat Shena menggebu-gebu agar ia melupakan kejadian yang membuatnya terluka seperti ini. Leo tidak tahu harus bagaimana jika sampai Shena kenapa-napa gara-gara dirinya. “Katakan padaku, kamu bilang tadi aku salah paham, apa maksudmu?”
__ADS_1
Shena yang tadinya agak kesal, kini berupaya memperbaiki moodnya dan menjelaskan kalau yang ia lakukan saat itu pada Leo bukan untuk melindunginya.
“Aku tertembak bukan karena melindungimu saja, aku hanya tidak ingin salah satu dari kalian mati sebelum kalian meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian. Syukurlah, aku sempat menjelaskan apa yang terjadi pada Bibi sesaat sebelum aku pingsan. Dan aku merasa sangat keren karena dalam masa sekaratku, aku masih bisa mengingat semua kejadian waktu itu.” penjelasan Shena, langsung membuat Leo terpaku.
Leo memegang tangan Shena sehingga gadis itu refleks menoleh ke arah Leo. Shena terkejut melihat ekspresi Leo yang terlihat sendu seolah menyesali semua yang sudah terjadi.
“Jangan pernah melakukannya lagi hanya demi melindungiku,” aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu gara-gara aku. Shena, aku sangat mencintaimu, dan aku tidak ingin melihatmu terluka seperti kemarin. Aku bisa jadi gila jika sampai kehilangan dirimu.” Leo menatap wajah Shena yang juga terpaku melihatnya.
Baru kali ini hati Shena bergetar mendengar kata-kata Leo. Mungkinkah aku juga sudah mulai menyukai Leo? Tidak mungkin. Bagaimanapun juga, Leo adalah gengster dan dia sama sekali bukan tipeku, tapi .... kenapa aku senang sekali saat mendengar Leo berkata seperti itu?
Leo mencium punggung tangan Shena dan beralih mengecup kening Shena. “Aku ke luar dulu sebentar, jika ingin sesuatu, panggil aku. Bawa ponsel ini, di dalamnya hanya ada nomerku.” Leo memberikan ponselnya pada Shena. Gadis itu ingat kalau ponselnya juga sudah hilang entah ke mana saat dia diculik waktu itu.
“Kamu mau ke mana? Aku sendirian di sini.” Shena agak cemas jika Leo meninggalkan dirinya sendirian di tempat yang tidak ia kenal.
“Aku harus membersihkan diriku, lihat aku! ketampananku hilang jika aku tidak membersihkan diri lebih dari dua hari.” Leo mulai bersikap narsis sehingga membuat Shena meringis aneh. “Aku juga akan membeli beberapa pakaian dan perlengkapan yang kamu butuhkan. Oh iya, barang-barangmu sudah ada di rumah Laura. Hanya saja ponselmu rusak karena terjatuh dan terlindas mobil. Makanya aku menyiapkan ponsel itu untukmu. Aku tidak akan lama, sebentar lagi Roy dan Laura akan datang kemari.”
“Apa?” Shena terkejut mendengar Laura dan Roy akan datang kemari. “Kamu memberitahu Laura juga?” Shena tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Laura jika sahabatnya itu datang kemari.
“Aku tidak memberitahunya, malah dia yang menghubungi Roy pertama kali saat ia menemukan kopermu di sebuah halte dekat rumahnya. Dia juga sangat mengkhawatirkanmu. Mungkin Roy yang sudah memberitahunya tentang apa yang terjadi padamu saat ini. Aku pergi dulu, Laura pasti akan ketakutan jika melihatku seperti ini, da-da ....” sekali lagi, Leo mencium kening Shena dan pergi meninggalkan ruangan.
Jantung Shena berdegup kencang. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya saat ini.
Tidak mungkin aku jatuh cinta pada Leo. Aduh! yang benar saja? aku pasti sudah gila. Aku rasa, ini hanya efek dari luka tembak yang kualami sehingga aku jadi berhalusinasi.
***
__ADS_1