
“Selamat datang pak Bas,” ucap Leo menyambut kedatangan pengacaranya. Pria paruh baya itupun masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.
“Kau punya rumah yang bagus, kenapa aku tidak pernah tahu? Kapan kau membeli rumah ini?” Pengacara kondang itu masuk ke dalam dan mengamati sekeliling rumah yang ditempati Leo saat ini.
“Ini bukan rumahku, apa Bapak sudah membawa semua berkas-berkas yang aku inginkan?” Leo mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Shena mendengar pembicaraan mereka.
Meski sedikit bingung, pak Bas pun tetap menuruti apa yang diinginkan Leo. Pria necis paruh baya itu membuka tasnya dan menyerahkan dokumen penting yang Leo pesankan.
“Bagaimana dengan penyelidikan yang aku minta waktu itu? Apa anda sudah menemukan orang itu?” tanya Leo dengan raut muka serius sambil memeriksa berkas-berkas yang diberikan pak Bas padanya.
“Dia ada di tempat aman sekarang, sebulan yang lalu orang-orangku sudah menangkapnya saat ia mau melarikan diri.”
“Baiklah, awasi saja dia sampai saatnya tiba. Untuk sementara, tolong simpankan berkas-berkas ini.” Leo bangun berdiri. “Anda tunggu di sini sebentar, maaf tidak ada apa-apa. Aku baru saja tiba semalam bersama Shena,” terang Leo yang tampak sumringah.
“Apa ... kalian tidur bersama di rumah ini? Sekamar?” Pak Bas mulai kepo dan curiga berlebihan.
Melihat ekspresi pengacara kondang yang sudah Leo anggap sebagai ayah keduanya seperti terkejut, Leo jadi tergoda untuk menggoda pengacara yang punya pikiran kuno itu, “Tentu saja kami satu kamar, kenapa? Apa ada masalah?” tanya Leo dengan memasang wajah polos.
Pak Bas jadi kikuk sendiri kalau Leo bertanya seperti itu. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Tapi, kalian berdua kan belum resmi menikah? Bagaimana bisa kalian tidur dalam satu kamar?” protes pak Bas yang menentang segala macam bentuk hubungan intim di luar nikah.
“Sebentar lagi kami akan menikah, apa salahnya melakukannya sekarang atau nanti?” Leo sengaja memperkeruh pikiran pak Bas yang terlihat merah padam entah karena marah atau kesal.
“Dasar anak muda zaman sekarang, tidak taat peraturan! Maunya grusa-grusu kayak dunia akan kiamat saja,” gumam pak Bas saat Leo berlalu meninggalkannya. Leo hanya terkekeh mendengar gerutuan pengacaranya.
Shena baru keluar dari kamar mandi saat Leo masuk kembali ke kamarnya. “Ada apa? Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu?” tanya Shena yang heran melihat Leo senyam senyum sendiri.
Leo melangkah mendekati Shena dan melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya. “Tidak apa-apa, apa kamu sudah selesai di kamar mandinya? Kamu mau ikut pergi denganku?” tanya Leo sambil menempelkan dahinya di dahi Shena, sementara kedua tangannya masih anteng di pinggang Shena.
“Ehm ... aku harus kembali ke rumah Bu Dewi, semalaman aku tidak pulang dan tidak memberi kabar, dia pasti sangat khawatir padaku. Oh iya, aku juga ingin memperkenalkan seseorang padamu. Dia teman masa kecilku yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Dia sangat ingin bertemu denganmu saat aku bercerita padanya tentangmu.” Shena terlihat antusias dan bersemangat sekali.
Leo duduk sambil memangku Shena di tempat tidur dan melupakan pengacaranya yang duduk sendiri di ruang tamu seperti obat nyamuk kurang kerjaan.
“Oh iya? Apa saja yang kamu ceritakan pada temanmu?” Leo memeluk erat pinggang Shena dan Shena melingkarkan tangannya di leher Leo.
“Ehmmm ... banyak, terutama dia ingin tahu apakah kamu jauh lebih tampan dari dia.”
“Apa?” seketika Leo langsung berdiri sehingga membuat Shena terjatuh.
“Auwww, sakit tahu!” Shena mengerang karena perut bekas operasinya yang dulu kembali terasa sakit akibat terjatuh tiba-tiba tanpa peringatan.
“Oh, maaf Sayang, aku sangat terkejut.” Leo menarik tangan Shena dan kembali memangkunya. “Kamu tidak apa-apa? Apa lukamu masih sakit?” tanya Leo kelewat cemas.
“Sebenarnya sudah tidak apa-apa, tapi karena kamu menjatuhkanku tanpa permisi jadi kembali terasa sakit lagi.” Shena memasang wajah cemberut akut.
Leo mengecup pipi kiri Shena dengan mesra, “Maaf Sayang, itu tadi gerakan refleks. Aku kira temanmu itu wanita. Aku hanya tidak menyangka, kalau selama aku tidak ada, kamu tinggal satu rumah dengan laki-laki lain selain aku.” Leo mulai menampakkan kecemburuannya. “Katakan padaku, apa saja yang sudah kalian lakukan selama aku tidak ada? Apa dia masuk ke kamarmu? Apa dia menyentuhmu? Katakan padaku?” Leo terlihat panik dan agak kelewat histeris mengkepoi semua kegiatan Shena dengan Arga. Padahal, Arga adalah laki-laki yang sudah dianggap seperti saudara sendiri oleh Shena, begitu juga dengan sebaliknya.
“Kamu jangan lebay deh, aku tidak melakukan apapun sama dia. Arga juga baru datang kemarin, jadi kami tidak banyak melakukan aktivitas bersama. Lagipula, Arga itu pacarnya banyak, sama sepertimu. Sepertinya, kalian berdua itu cocok, sama-sama playboy kelas kakap yang suka gonta ganti pasangan!” balas Shena. Ia juga berpura-pura marah jika mengingat reputasi Leo sebagai player wanita.
“Ehem,” Leo berdeham untuk mengalihkan pembicaraan. “Baiklah, aku percaya padamu. Lalu, apa jawabanmu mengenai siapa yang lebih tampan? Tentu saja aku, kan? karena aku memang jauh lebih menawan dan keren dari temanmu itu, benar kan?” Leo mulai menunjukkan sikap narsisnya di depan Shena dengan berpose sok imut.
__ADS_1
“Nggak! Kamu jauh lebih jelek dari dia. Seandainya aku tidak menganggapnya sebagai saudaraku, mungkin aku akan lebih memilih dia!” Shena berlari keluar karena telah berhasil menggoda Leo.
Cowok itu melongo mendengar jawaban Shena yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Shena! Awas saja, kamu! Sini! Jangan lari, kamu! Bisa-bisanya kamu mengatakan aku jauh lebih jelek dari temanmu!” teriak Leo dan berlari mengejar Shena keluar kamar. Langkahnya terhenti saat melihat gadis yang dikejarnya sedang mematung melihat pengacara pak Bas berdiri didepannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pria baruh baya itu menatap tajam keduanya secara bergantian.
“Jadi, kau menyuruhku menunggumu hanya untuk melihatmu main kejar-kejaran dengan istrimu, ha? Kalian pikir ini taman kanak-kanak, apa?” bentak pengacara Pak Bas dengan geram.
Shena hanya menunduk menyembunyikan tawanya, sedangkan Leo berlagak tidak berdosa dan berjalan maju mendekati Shena. “Pak Bas, anda pasti pernah muda, bukan?” Leo mencoba membela diri.
“Tapi jiwa mudaku tidak seperti kalian! Benar-benar kau ini, bagaimana kau begitu persis dengan ayah dan ibumu! Menyebalkan sekali!” gerutu pak Bas yang disambut tawa oleh Leo dan Shena. “Ayo cepat, urusanku bukan hanya melihat tingkah konyol kalian! Ada banyak urusan yang harus aku tangani! Cepatlah dan kita selesaikan sekarang juga! Dan kamu nona Shena, apa kamu ingin ikut dengan kami atau tetap tinggal di sini?” tanya pak Bas yang beralih menatap Shena.
Shena yang tadinya agak takut melihat kemarahan pengacara Leo mulai memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Gadis itu terkejut karena baru sadar ada di mana dia sekarang, ruangan ini, lantai keramik ini, dan juga semua benda-benda yang ada di dalam rumah ini, sangat tidak asing lagi bagi Shena.
“Sebentar, Pak. Aku merasa tidak asing lagi dengan rumah ini, tolong tunggu sebentar.” Shena berlari keluar menuju halaman rumah ini. Begitu Shena sampai di halaman, ia berbalik badan dan menatap bagian luar rumah ini.
Seketika Shena mengatupkan kedua tangannya di mulutnya yang menganga karena tak percaya pada apa yang dia lihat. Untuk pertama kalinya setelah ayah dan ibunya meninggal, baru kali ini Shena bisa menginjakkan kakinya kembali di rumah ini. Tidak salah lagi, rumah ini, rumah yang tidak berpenghuni ini, adalah rumah almarhum orangtua Shena yang dulu. Rumah yang sudah puluhan tahun dijual oleh paman dan bibi Shena yang serakah. Shena baru menyadari bahwa semalam ia dan Leo, bermalam di rumah ini, di rumah almarhum orang tua Shena sendiri.
Shena menangis saking shocknya. “Tidak mungkin, ini tidak mungkin, Aku kembali ke rumah ini? Aku akhirnya bisa kembali ke rumah ini lagi.” Shena melihat Leo dan pak Bas juga ikut keluar ke teras depan rumahnya.
Seketika Shena berlari ke arah Leo dan langsung memeluknya dengan erat. “Apa kamu yang membawaku kemari? Tapi ... tapi, bagaimana bisa? Kunci rumah ini pasti di bawa pemilik rumah ini. Bagaimana bisa kamu bisa masuk ke dalam sini?” Shena terlampau senang sampai ia tidak terasa sudah mendekap Leo terlalu kuat.
Leo hanya tersenyum sambil perlahan melepaskan pelukannya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci lalu ia berikan pada Shena. “Kamulah pemilik rumah ini sekarang, apa yang dulu hilang darimu, satu persatu ... akan aku kembalikan padamu, Sayang.” Leo mengecup kening Shena yang terkejut sambil menyerahkan kunci itu ke tangan Shena.
Dengan ekspresi keterkejutan yang tak terkira, Shena menatap kunci itu sambil berderai air mata. Ia tidak pernah menyangka bakal memegang kunci rumah peninggalan almarhum orangtuanya lagi sekarang. Shena kira, ia tidak akan pernah melihat kunci rumah berbentuk hati yang khusus dipesankan Ayah Shena dulu sewaktu ayahnya masih hidup.
Shena mengatupkan kunci itu dengan kedua tangannya sambil tertawa riang sambil mengusap air matanya. “Terimakasih Leo, terimakasih!” Ingin rasanya Shena meloncat-loncat saking girangnya, tapi niatnya ia urungkan karena ada pengacara Leo yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi bingung.
“Ehemmm,” Pak Bas mulai merusak suasana romantis antara Shena dan Leo. Sayangnya, kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu sama sekali tidak menganggap pak Bas ada di sini.
“Memang dasar muda mudi nggak ada akhlak mereka itu, bisa-bisanya aku dijadikan obat nyamuk di sini! Dasar kutu kupret si Leo.” Pak Bas ngedumel sendiri di belakang Leo. Pria itu mengambil ponselnya dan langsung menelepon istrinya karena terprovokasi suasana romantis antara Leo dan Shena.
“Antarkan aku ke rumah bu Dewi, aku yakin dia sangat mencemaskanku sekarang.” Shena melepaskan pelukan Leo dan berdiri tegak disisinya.
“Oke, aku akan menjemputmu begitu urusanku dan pak Bas sudah selesai. Bawa ponsel ini supaya aku bisa menghubungimu dengan mudah,” Leo memberikan ponselnya dan menggandeng tangan Shena. Shena pun tertawa senang menatap Leo yang juga tersenyum padanya.
“Kamu senang?” tanya Leo yang menuntunnya masuk ke dalam mobil pengacara pak Bas.
Shena menatap wajah tampan Leo, “Sangat sangat sangat sangat senang sekali.” Shena tak henti-hentinya mengembangkan senyumannya sejak Leo datang kembali ke dalam hidupnya.
Shena turun dari mobil BMW milik pak Bas tepat di depan rumah bu Dewi. Leo ingin mengantar Shena masuk ke dalam, tapi gadis itu melarang Leo dan segera menyelesaikan urusannya dulu, baru nanti ia akan memperkenalkan Leo pada guru dan teman masa kecil Shena.
“Kamu yakin?” Tanya Leo.
“Iya, aku akan menunggumu sampai urusan kamu selesai. Sampai ketemu lagi nanti. Jangan lupa beritahu aku kalau urusan kamu sudah selesai.” Padahal Shena tidak tahu menahu urusan seperti apa yang akan diselesaikan Leo untuknya.
Leo mengecup kening Shena. “Baiklah, sampai ketemu lagi, Sayang.”
Shena balas mengecup pipi Leo kemudian berlari masuk ke dalam rumah gurunya. “Sampai jumpa lagi!” teriak Shena sambil melambaikan tangannya pada Leo sebelum ia benar-benar masuk ke dalam.
__ADS_1
Leo yang masih terkejut dengan kecupan Shena hanya tertawa saja melihat gadis itu melambaikan tangan padanya. Leopun masuk ke dalam mobil dan pergi berlalu meninggalkan halaman rumah guru Shena.
Bu Dewi yang mendengar suara teriakan Shena langsung berlari keluar dan memeluk Shena dengan erat.
“Ke mana saja kamu, Shena? Kamu membuat kami semua khawatir saja!” bu Dewi langsung memeluk Shena, “Arga!” teriak ibu Dewi memanggil-manggil putranya setelah melepas pelukannya dari Shena.
“Maafkan saya Bu, maaf karena sudah membuat ibu dan Arga khawatir, tapi ibu tenang saja, Shena tidak apa-apa.” Shena berusaha menenangkan gurunya yang terlihat cemas.
Arga pun keluar dan memasang wajah sama seperti ibunya. “Darimana saja kamu? Kenapa baru pulang sekarang?” Arga pun terlihat tak kalah cemas dari ibunya. Mereka bertigapun akhirnya masuk ke dalam dan Shena menceritakan semuanya termasuk pertemuannya dengan Leo yang bagai malaikat tak bersayap.
****
Sementara di kantor KUD, Rega memarahi Aryani habis-habisan karena sudah bersikap kurang sopan di kantornya. “Kamu ini nggak tahu malu, apa? Bisa-bisanya kamu bilang kayak gitu di depan semua rekan-rekan kerjaku. Apa tidak ada hal lain yang bisa kamu bicarakan di sini selain hal memalukan seperti itu?” bentak Rega saat keduanya sudah ada di parkiran kantor KUD.
“Kenapa harus malu, Mas? Wajar kan sebagai calon istri mas Rega yang haus akan belaainmu aku meminta hakku!” Aryani masih saja membenarkan argumennya sendiri.
“Kalau kamu nggak malu, aku yang malu punya calon istri sepertimu. Belum resmi jadi suami istri saja kamu sudah bikin malu aku. Kita batalkan saja pernikahan kita. Aku sudah muak sama kamu!” teriak Arga dan berlalu meninggalkan Yani.
“Loh, loh Mas? Kok gitu, sih? Kamu nggak bisa batalin pernikahan kita gitu aja!” Yani berusaha mengejar Rega dan menghalangi langkahnya.
“Minggir!” bentak Rega.
“Nggak! Aku nggak akan minggir dari sini. Apa ini gara-gara Shena? Pasti dia yang sudah meracuni otak kamu sampai akhirnya kamu mau batalin pernikahan kita, iya kan?” nada suara Yani mulai meninggi.
“Cukup! Jangan bawa-bawa nama Shena lagi, aku tahu kamu sudah mencelakai Shena. Sampai sekarang tidak ada yang tahu bagaimana kabar Shena, dan itu semua gara-gara kamu. Sebaiknya, kamu ngaku aja. Apa yang sudah kamu lakukan sama Shena, ha? Atau aku akan melaporkanmu ke polisi,” ancam Rega.
“Aku tidak melakukan apa-apa? Kenapa kamu masih saja nuduh aku yang nggak-nggak? Apa sebegitu jahatkah aku di mata kamu?” Yani mencoba membela dirinya dan menujukkan pada Rega bahwa ia tidak bersalah. Padahal jelas-jelas dialah yang memang sengaja meninggalkan Shena sendirian di tengah bukit-bukit itu.
Pertengkaran antara Rega dan Yani yang terjadi di depan kantor KUD membuat orang-orang termasuk rekan kerja Rega langsung berbondong-bondong mendekat dan menyaksikan keduanya dari jarak jauh. Mereka semua terkejut mengetahui Shena menghilang dan sampai hari ini tidak ada kabar.
“Apa benar yang dikatakan Rega itu?” tanya Dody pada teman-temannya yang berdiri di balik jendela depan.
“Lo diem aja, simak aja dulu, baru ntar komen,” usul Fitri yang berkonsentrasi dengan drama ikan terbang antara Rega dan Yani.
“Yani, aku tahu kamu benci banget sama Shena.” Rega mulai kehabisan kesabaran, “Yang membuatku tidak habis pikir adalah, kenapa kamu sampai nekat melakukan hal ini pada Shena. Apa salahnya padamu?”
“Oke! Terus saja belain Shena, yang kamu pikirkan cuma Shena Shena Shena dan Shena. Mana pernah kamu mikirin aku yang jelas-jelas adalah calon istri kamu sendiri. Apa buktinya kalau akulah yang mencelakai Shena?” tantang Yani yang memang langsung membuat Rega bingung karena tidak memiliki bukti apa-apa.
“Ada buktinya!” teriak suara seseorang yang tidak lain adalah Leo.
****
maaf kalau tulisannya agak berantakan dan kelewat panjang ... kalau ada waktu longgar akan penulis perbaiki supaya lebih enak lagi dibacanya.
malam ini penulis akan crazy up keseruan kisah Leo dan Shena sebelum memasuki target keseruan lain yang tak terduga dengan author pemes lainnya. tunggu saja kejutannya dan jangan bosan memberikan dukungan like, vote, dan komentarnya ya ..
love you all
__ADS_1
salam manis dari penulis ♥️♥️