Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 22 Berita Heboh


__ADS_3

Berkat ciuman maut dari Shena, Leo pun luluh dan akhirnya mau melepaskan semua wanita yang diikatnya. Para wanita-wanita itu berterima kasih pada Shena sebelum mereka pergi dari rumah Leo yang bagai rumah neraka itu.


Semua orang yang ada di lapanganpun membubarkan diri ke tempat mereka masing-masing. Kini hanya tinggal Shena dan Leo saja yang masih standby di tempat. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan perasaan mereka masing-masing.


“Apa kamu ... mulai jatuh cinta padaku?” tanya Leo untuk memastikan arti dari ciuman Shena tadi.


“Jangan Ge-Er dulu! Kamu tidak mau menuruti permintaanku, terpaksa aku melakukan itu ....” Shena menunduk untuk menutupi rasa malunya.


Tidak ada cara lain lagi, cuma itu jalan satu-satunya supaya kamu mau menuruti kata-kataku. Terbukti ampuh juga.


“Oh, kamu menciumku seperti itu hanya supaya aku mau menuruti permintaanmu?” Leo tersenyum getir.


Shena tidak menjawab pertanyaan Leo dan memilih menunduk sambil memainkan kakinya.


“Berarti, kamu sama br3ngseknya denganku,” bisik Leo pada Shena yang membuat gadis itu terkejut seketika.


“Apa? Barusan kamu bilang apa?” Shena tidak terima dikatai br3ngsek oleh Leo.


Leo hanya tersenyum licik pada Shena dan meninggalkan Shena sendirian di lapangan.


Dasar breng ... b4ajingan tengik! Seenaknya aja ngatain orang! Nggak nyadar apa? Kalau dia itu jauh lebih b4ngsat lagi!


Shena berlari menyusul Leo. Gadis itu berjalan di samping Leo tanpa bicara sepatah katapun.


“Ayo, aku antar kamu pulang,” ucap Leo dengan lembut, sepertinya ia sudah melupakan soal ciuman tadi.


Shena langsung senang karena sebentar lagi dia kembali ke dunia Shena sendiri meski gadis itu merasa sangat aneh karena ia belum pernah secara resmi bertemu dengan keluarga Leo. Padahal, ia sudah menjadi tunangan Leo.


Apa benar keluarga Leo hanya menganggap pertunangan ini hanya sebagai permainan saja? tidak ada pertemuan antara dua belah keluarga, hanya ada tamu undangan dan pesta yang sangat meriah. Jika memang seperti itu, maka akupun juga tidak boleh menganggap serius pertunangan ini.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Leo saat mereka sudah berada di dalam mobil VW ID4, yaitu salah satu jenis mobil listrik Volkswagen yang dipasarkan di Eropa dan Amerika. Sejauh ini negara Asia pertama yang berhasil mendapatkannya hanyalah China. Jika Leo pun memiliki mobil ini, berarti Leo adalah orang kedua di Asia yang berhasil mendapatkannya juga. Benar-benar luar biasa kaya keluarga Leo ini. Harta kekayannya tidak akan pernah habis tujuh turunan.

__ADS_1


“Tidak ada.” Shena yang tidak tahu apa-apa tentang berbagai merek dan jenis mobil hanya bersikap biasa saja, dia menganggap semua mobil sama saja. Hanya warna dan bentuknya saja yang berbeda.


“Aku ada perjalanan bisnis selama 3 hari bersama Xiao nai besok. Mungkin untuk sementara kita tidak akan bisa bertemu. Tapi aku akan menghubungimu. Jangan pernah kamu meninggalkan ponsel atau mematikannya. Jika sampai kamu seperti itu, maka akau akan datang kemari dan kamu tahu sendiri apa yang bakal aku lakukan! Bisa jadi, bulan tertusuk ilalang akan terulang lagi.” Leo mengancam Shena agar tidak berusaha menghindar darinya selama ia melakukan perjalanan bisnis ayahnya.


“Kamu tidak akan melakukannya.” Shena sudah tahu kejadian yang sebenarnya, jadi ia santai saja menghadapi ancaman Leo.


“Apa maksudmu?” tanya Leo sambil konsentrasi menyetir.


“Kita tidak melakukan apa-apa semalam. Aku pun juga tidak merasakan apa-apa yang membuat tubuhku berbeda. Kamu bohong padaku!” ucap Shena tanpa melihat Leo.


“Siapa yang bilang?” Leo masih saja menyangkal meski Shena sudah jelas-jelas tahu kebenarannya.


“Bi ... maksudku ART mu, dia memintaku untuk menyuruhmu istirahat dan tidur karena semalaman kamu terus terjaga untuk mengurus sesuatu, dan baru kembali tadi pagi. Aku baru tahu kalau sesuatu yang membuatmu tidak tidur semalaman itu adalah karena sibuk menangkap para wanita-wanita yang membullyku waktu itu.” Shena mengatakannya dengan ekspresi yang tidak dimengerti Leo.


Leo memukul-mukul kendali mobil dengan keras. “Ahhhh sial, kenapa dia mengatakannya pada Shena!” gumam Leo kesal karena rahasianya sudah terbongkar.


“Jangan salahkan Bibi, dia sagat mencemaskan dan mengkhawatirkan kamu. Kamu beruntung Leo, aku jadi sangat iri padamu,” ujar Shena dengan lirih dan terdengar sedih.


Sebelum Leo memastikan perasaannya pada Shena, cowok itu sudah mencari tahu seluk beluk dan asal muasal Shena. Gadis sederhana yang dicintainya itu, kehidupannya tidaklah sebaik Leo saat ini. Kehidupan mereka berdua sangat berbanding terbalik. Shena adalah anak yatim piatu yang terpaksa tinggal dengan bibinya di desa.


Sayangnya, selama ikut bibi dan pamannya, Shena tidak pernah mendapatkan perlakuan yang layak sebagai seorang keponakan, kedua adik dan adik ipar almarhum ayah dan ibunya itu terus saja memperlakukan Shena seenaknya bagai binatang dan pembantu. Harta warisan orang tua Shena yang harusnya jatuh ke tangan Shenapun juga dirampas paksa oleh mereka. Untungnya, Shena adalah gadis yang sangat pintar sehingga berkat bantuan bapak ibu gurunya sewaktu di SMA, Shena bisa mendapatkan beasiswa di salah satu universitas ternama agar Shena bisa terbebas dari siksaan paman dan bibinya yang serakah dan supaya bisa meraih cita-citanya.


“Jangan sedih, Sayang. Kamu masih punya aku. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu mulai dari sekarang. Tersenyumlah, karena senyummu sungguh memabukkan daripada red wine yang kamu habiskan saat pesta pertunangan kita.” Leo mencoba menggoda Shena agar gadis yang kini menjadi tunangannya tidak terlalu terhanyut dalam kesedihan atas hidupnya yang memprihatinkan.


Shena hanya diam sambil tersenyum simpul pada Leo. Sungguh miris nasib Shena yang harus kehilangan orang tua di usia yang bisa terbilang belia. Kini ia harus berjuang sendiri agar bisa meraih cita-citanya agar menjadi orang yang sukses sehingga ia bisa membanggakan kedua orangtuanya yang kini berada di surga.


Setelah satu jam perjalanan dari rumah Leo, mereka berdua akhirnya sampai juga di depan kosan Shena.


Leo berniat mengantar Shena sampai ke depan pintu kamarnya, tetapi Shena menolak dengan alasan dia tidak ingin menarik perhatian orang.


“Bukankah kamu bilang ada perjalanan bisnis? Sebaiknya kamu cepat pulang dan istirahatlah. Aku juga mau istirahat,” ujar Shena yang langsung di sambut tawa bahagia Leo.

__ADS_1


“Aku senang kamu mencemaskan aku, Sayang. Ingin rasanya tidak menuruti permintaanmu ini supaya kamu menciumku lagi dengan ganas seperti yang kamu lakukan di lapangan golf tadi, baru aku mau menurutimu,” sindir Leo.


Sialan! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu padaku!


Shena tidak menjawab karena malas meladeni Leo. Satu-satunya hal yang ingin dilakukan Shena adalah masuk ke dalam kamar kosnya dan langsung tidur di sana.


“Sudahlah, balik sana!” usir Shena.


Leo ke luar dari dalam mobil dan mengecup kening Shena tiba-tiba. Gadis itu terkejut dan spontan mundur ke belakang. “Aku akan meneleponmu nanti, aku pergi.” Leo menatap Shena sambil tersenyum lalu masuk ke dalam mobil mewahnya. Beruntung hari ini sepi tidak ada orang yang berlalu lalang, jadi Leo dan mobilnya tidak banyak mengundang perhatian orang.


Shena masuk ke dalam kamar kosnya begitu Leo pergi. Ia menutup dan mengunci pintu kamar dengan rapat lalu merebahkan diri di kasurnya yang sudah 24 jam ia tinggalkan dalam kondisi berantakan.


Hari ini ada jadwal kuliah siang, jadi Shena masih punya waktu istirahat kurang lebih satu jam dari sekarang. Namun, melihat kamarnya yang masih awut-awutan, Shena memutuskan untuk membersihkan kamarnya terlebih dulu.


Baru saja Shena memulai merapikan tempat tidur tiba-tiba pintu kamarnya diketuk-ketuk seseorang sambil berteriak-teriak memanggil namanya.


Shena hafal sekali suara siapa itu. Suara itu adalah suara sahabatnya, Laura.


“Shena!” teriak Laura. “Kamu ada di dalam, kan? Jawab aku! Aku tahu kamu ada di dalam kamar, buka nggak!” Laura masih berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Shena dari luar.


“Iya-iya ... kenapa teriak-teriak gitu, sih?” Shena membuka pitu kamarnya dan Laura langsung nyelonong masuk begitu pintu kamar terbuka.


“Kamu dari mana aja sih? Tiba-tiba aja hilang nggak ada kabar? Ditelepon juga nggak diangkat! Kamu habis dari mana?” tanya Laura menggebu-gebu.


“Diculik!” jawab Shena singkat sambil memeriksa ponselnya yang masih tersimpan rapi ditempatnya, ia baru sadar kalau pada saat Leo menculiknya, ia tidak membawa ponsel sehingga tidak bisa memberitahukan bagaimana keadaannya pada Laura.


“Ah, yang bener? Kalau kamu diculik kenapa bisa balik lagi? Ada-ada aja kamu itu! Cepet ikut aku ke kampus! Ada berita heboh! Cepetan sana mandi!” Laura mendorong paksa tubuh sahabatnya supaya masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kampus.


“Emang ada berita apaan, sih?” tanya Shena penasaran.


“Udah masuk aja! Cepetan! Gak pakai lama, awas kalau lama-lama,” ancam Laura.

__ADS_1


****


__ADS_2