
Bunyi klakson terdengar sangat kencang di telinga Shena dan yang lainnya, tapi sayangnya gadis itu tidak bisa bergerak saking syoknya. Tidak ada waktu lagi untuk menghindar karena Shena sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya. Matanya terbelalak menatap truk besar berwarna kuning itu. Bayangan kematian melintas dipikiran Shena. Air mata mengalir deras dengan sendirinya ketika Shena memikirkan kematian begitu cepat menghampirinya dan hanya tinggal menunggu beberapa detik saja.
Leo, yang tersadar bahaya apa yang akan menimpa kekasihnya, langsung berlari dengan cepat ke arah tubuh kaku itu dan memeluk Shena dengan sangat erat. Ternyata, Leo bermaksud melindungi tunangannya dari truk besar yang melaju kencang ke arahnya. Sebab, dalam situasi genting seperti ini, sudah dapat dipastikan tidak akan bisa lagi menghindar.
Truk itu melaju semakin kencang ke arah mereka berdua diiringi bunyi klakson yang memekikkan telinga. Teriakan Laura dan Roy terdengar menggelegar dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya disaat mereka melihat detik-detik Leo dan Shena hampir saja tertabrak.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati sendirian,” Bisik Leo di telinga Shena.
Shenapun gemetar ketakutan dipelukan Leo membayangkan apa yang akan menimpa mereka berdua sebentar lagi.
Jika memang takdir memutuskan aku mati sekarang, aku tidak akan pernah menyesal, karena aku mati ... berada dalam pelukan orang yang aku cintai. Batin Shena sambil menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Leo.
“Leo ... aku mencintaimu.” Shena menengadahkan kepalanya lalu mengecup bibir Leo sesaat sebelum truk itu hendak menghantam keduanya.
Suara teriakan Laura dan Roy sama sekali tak terdengar di telinga keduanya. Bahkan klakson sekencang itupun juga tidak terdengar sama sekali di telinga Shena dan Leo. Mereka berdua terhanyut dalam kegelisahan masing-masing sambil berciuman dengan mesra dan memutuskan menerima takdir yang digariskan pada keduanya dalam menghadapi kematian dadakan ini.
Namun, takdir Tuhan berkata lain, mereka berdua belum saatnya diperbolehkan mati karena hubungan mereka baru saja dimulai. Entah apa yang merasuki sopir truk itu sehingga di waktu yang tepat tangannya bergerak cepat membanting setir ke arah samping kiri dengan kencang agar laju kendaraanya berubah haluan dan akhirmya masuk ke area taman hiburan.
Dengan keterkejutan yang luar biasa, sopir truk itu pun berusaha mengerem truknya agar berhenti tepat sebelum menabrak sebuah pohon besar.
Roy dan Laura sama-sama terduduk lunglai, lemas tak berdaya tapi juga bernapas lega karena kedua sahabat mereka tidak jadi mengalami peristiwa tragis yang entah bagaimana keduanya bisa menghadapi kenyataan jika seandainya Leo dan Shena benar-benar tertabrak oleh truk besar tadi.
“Buka matamu, Sayang,” pinta Leo pada Shena yang masih memejamkan mata saat mencium mesra bibir Leo.
Perlahan Shena membuka matanya dan menatap wajah Leo yang terlihat begitu menawan dan bersinar terang. “Apaaaaa ... kita sudah mati?” tanya Shena dengan ekspresi yang langsung membuat Leo tersenyum.
Cowok itu mendaratkan ciuman lembut di bibir Shena. “Tuhan masih berbelas kasih pada kita untuk bisa membangun bahtera rumah tangga secepatnya sebelum kematian benar-benar memisahkan kita,” ucap Leo setelah menyudahi ciumannya.
__ADS_1
Shena tersadar setelah mendengar kata-kata Leo bahwa dirinya ternyata masih hidup. “Apa yang terjadi?” Shena celingukan mencari-cari di mana truk besar yang harusnya menabraknya. Gadis itu memusatkan perhatiannya pada sebuah taman hiburan yang di dalamnya terdapat truk kuning berukuran besar sedang terpakir tepat di depan pohon beringin.
Leo merangkul Shena untuk menepi sebelum kendaraan lain menabrak mereka. Begitu Shena berjalan mendekat ke arah Laura, sahabat Shena itu berlari menyongsong Shena dan langsung memeluk tubuh sahabatnya.
“Apa yang kamu lakukan, ha? Hampir saja! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika sesuatu menimpamu seperti tadi? Apa kamu sudah bosan hidup, ha?” Laura mengomeli Shena sambil menangis dalam pelukannya karena terlalu takut kehilangan sahabat terdekatnya.
“Maafkan aku, La. Aku nggak bermaksud bikin kamu khawatir,” ujar Shena untuk menenangkan Laura.
“Syukurlah kalau kalian berdua baik-baik saja, aku akan mengurus sopir truk itu.” Roy menepuk pelan bahu Leo lalu beralih menatap Laura. “La, ayo ikut aku!” ajak Roy sambil menggandeng tangan Laura sehingga gadis itu terpaksa melepaskan pelukannya dari Shena. Setelah itu, mereka berdua pergi meninggalkan Shena dan Leo berdua saja. Roy dan Laura berjalan beriringan ke arah sopir truk tadi.
Para preman yang baru saja dibuat babak belur oleh Leo langsung berlari tunggang langgang menyaksikan orang yang baru saja menghajarnya masih tetap hidup padahal jelas-jelas hampir saja truk itu menabrak Leo dan Shena.
"Truk sebesar itu aja takut sama cowok itu .. apalagi kita yang cuma manusia ... sebaiknya jangan sampai kita bertemu dengan dia lagi. Dia pasti bukan manusia. Mungkin saja dia adlah dewa yang menyamar jadi manusia!" ucap pemimpin preman yang kebanyakan nonton film fantasi itu sambil berlari meninggalkan Leo dan Shena diikuti oleh semua anak buahnya.
“Sepertinya, hubungan mereka baik-baik saja,” gumam Shena merasa lega ketika melihat Laura dan Roy saling bergandengan tangan. Sebaliknya, Shena menatap heran para preman yang lari terbirit-birit seolah-olah mereka baru saja melihat setan. "Ada apa dengan preman-preman itu?" gumam Shena. Leo tidak menyahut pertanyaan Shena dan hanya memandang lurus ke depan.
Bagai disambar petir, Shena benar-benar terkejut Leo mengatakan kata-kata indah yang paling ditunggu-tunggu semua wanita, terutama bagi wanita yang sudah lama ingin di lamar pacarnya. Yang paling membuat Shena terkejut adalah kenapa Leo harus mengatakannya di saat seperti ini dengan gaya yang benar-benar membuat setiap wanita tidak bisa menolaknya.
“Kalau kamu diem aja, berarti aku anggap jawabannya adalah, ‘iya’.” Leo menatap lembut mata Shena. Gadis itu masih belum sadar dari rasa terkejutnya. Leo benar-benar sangat romantis habis sehingga membuat Shena terpaku melihat Leo yang berlutut di hadapannya.
Seperti inikah rasanya di lamar? Tanya Shena dalam hati. Pikirannya seakan melayang entah kemana. Ia sendiri juga tidak tahu harus berkata apa.
Tanpa permisi lagi, Leo bangkit berdiri dan mencium bibir Shena lagi dengan mesra. Cowok itu melingkarkan tangannya di pinggang Shena dan merekatkan tubuh Shena erat ke dalam dekapannya. Mereka berdua menikmati suasana romantis yang menegangkan sekaligus juga mengharukan akibat insiden yang hampir saja membuat keduanya meregang nyawa.
Perasaan Leo dan Shena kini saling bercampur aduk antara bahagia dan juga tegang. Mereka berdua sama sekali tidak peduli dengan kendaraan yang berlalu lalang di samping mereka. Angin yang berhembus lembut dan bunga-bunga taman bermekaran, menjadi saksi bisu kisah cinta membara antara Shena dan Leo setelah keduanya berhasil melewati ambang kematian beberapa detik lalu.
Keduanya saling memejamkan mata karena terlalu khidmad meresapi lidah mereka bersatu dan bergumul di dalamnya. Ini adalah ciuman terlama yang diberikan Leo pada Shena karena terlalu besarnya gelora asmara yang bergejolak dalam diri keduanya.
__ADS_1
“Will, you marry me, Shena?” tanya Leo sekali lagi setelah ia selesai mencium Shena.
“Yes, I will,” ujar Shena tanpa ada keraguan lagi di dalam hatinya. “Tapi ... aku ada permintaan.” Shena menatap bahagia mata Leo. Rona pipinya tiba-tiba saja memerah semerah buah delima.
“Katakan apapun yang kamu iginkan kecuali menunda pernikahan kita,” jawab Leo dengan hati-hati seolah tahu apa yang ada dalam pikiran wanita yang amat sangat dicintainya.
Shena terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa dengan keputusan Leo yang menginginkannya untuk segera menjadi istrinya.
Sesaat sebelum menghadapi kematian, Shena tidak merasa menyesali apapun karena Leo melindunginya sampai akhir. Mungkin satu-satunya penyesalannya adalah kata 'cinta' yang belum sempat Shena ucapkan pada Leo. Itulah kenapa tadi, Shena menyatakan perasaannya karena dirinya mengira bahwa ia tidak mungkin bisa lagi mengungkapkannya pada Leo.
Tidak di sangka, pernyataan cinta Shena yang selama ini sudah ditunggu-tunggu oleh Leo keluar di saat detik-detik akhir hidupnya sehingga membuat cowok itu berjanji dalam hatinya, jika memang ia diberi kesempatan hidup sekali lagi, maka ia akan segera menikahi Shena secepat mungkin. Dan ternyata, doa Leo langsung terkabul dengan cepat, yang artinya, Shena dan Leo harus segera melangsungkan pernikahan mereka berdua.
Disisi lain, paman paruh baya yang dulu sempat bertemu dengan Shena di acara pesta pertunangan Shena dan Leo waktu itu, berjalan cepat menuju ke sebuah ruangan khusus yang ada di sebuah kastil besar milik keluarga Pyordova.
“Anda memanggil saya, Tuan besar.” Paman paruh baya itu membungkuk tanda hormat pada majikannya yang sedari tadi memang sudah menunggunya.
“Panggil dia ke sini, jangan biarkan cecunguk itu menghalangimu. Buat dia sibuk sementara waktu.” ucap seorang laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya tanpa menoleh pada paman paruh baya itu.
“Baik, saya permisi.” Paman itu berjalan mundur sambil membungkukkan lagi badannya lalu ke luar ruangan dengan ekspresi tenang setenang air di permukaan kolam
***
Mohon sabar menunggu untuk keseruan kisah Leo dan Shena ya ...
jangan lupa like, vote dan komennya ... trimaksih 🙏🙏
salam manis dari penulis ♥️
__ADS_1