
“Nona, kenapa kita malah datang ke kantor polisi? Bukannya tadi Nona bilang akan pergi berbelanja dan ke salon? Untuk apa kemari?” tanya bibi Jenny bingung dengan sikap nona barunya yang ternyata mengajaknya ke kentor polisi.
Shena berhenti berjalan sebelum ia memasuki pintu utama kantor tersebut. Gadis itu berbalik badan menghadap bibi Jenny.
“Bibi, aku tahu Bibi tidak akan setuju, tapi aku tidak ingin Leo mendapat masalah lagi kedepannya. Tidak baik membalas dendam pada seseorang yang sudah terpuruk. Teman kosku yang dulu, sudah memberitahuku semuanya, bahwa Leo sudah membuat ibu kosku dan teman-temannya hidup menderita. Aku tidak menginginkan ini Bibi, meskipun mereka sudah berbuat jahat padaku, aku tidak ingin Leo juga berbuat jahat pada mereka. Hal itu hanya akan menimbulkan dendam dan permusuhan yang berkepanjangan. Karena itu, aku datang kemari untuk menghilangkan dendam itu.” penjelasan Shena yang terlalu panjang membuat bibi Jenny takjub akan kerendahan dan kebaikan hati Shena.
Selama ini, Leo memang selalu bertindak di luar batas kemanusiaan jika sedang marah. Ia bahkan tak segan-segan bertindak kejam terhadap siapapun yang menyakitinya atau orang terdekatnya. Itu karena dia terlahir dilingkungan keras dan didikan yang ekstrem dari ayahnya yang dikenal sebagai gembong mafia.
Bibi Jenny selalu khawatir, jika Leo terus hidup seperti itu, akan banyak sekali musuh yang mengincarnya dan yang paling ditakutkan kepala pelayan itu adalah Leo bisa saja kehilangan nyawanya akibat ulahnya sendiri yang suka bertindak kejam dan sadis terhadap musuh-musuhnya. Tapi, dengan adanya Shena di sisi Leo sekarang, bibi Jenny jadi yakin bahwa Shena adalah penunjuk jalan yang tepat bagi tuan mudanya yang sudah ia anggap sebagai puteranya sendiri agar tidak terlalu dalam terjun ke dunia hitam.
“Pantas saja, tuan muda Leo memilih anda sebagai pasangannya, sekarang saya mengerti, memang cuma andalah yang pantas mendampingi tuan muda Leo sebagai cahaya penerang di hidupnya yang penuh dengan kegelapan.” Ucapan bibi Jenny membuat Shena agak bingung. Namun, gadis itu menanggapinya dengan senyuman manis.
Keduanya pun masuk ke dalam kantor polisi untuk melaksanakan rencana Shena. Saat Shena datang, sedang ada kehebohan di dalam ruangan. Banyak sekali orang-orang berkerumun di ruangan itu sambil beradu mulut satu sama lain. Suara hingar bingar yang mengalahkan ramainya pasar terdengar sampai pintu luar.
Shena dan bibi Jenny terkejut dengan apa yang mereka lihat di dalam. Rupanya ada tontonan gratis ibu-ibu yang saling berkelahi di dalam kantor salah satu anggota polisi di sini. Para polisi yang terdiri dari bapak-bapak juga bingung dan kualahan melerai ibu-ibu yang sedang bertengkar entah karena alasan apa.
“Ada apa ini, Pak? Kenapa ramai sekali.” Tanya Shena pada salah satu polisi yang melintas disampingnya.
__ADS_1
“Para emak-emak itu terus saja berantem dari semalam, Nona. Kami semua yang ada di sini tak kuasa menghadapi mereka. Kami sedang memanggil dokter untuk menyuntikkan obat penenang untuk mereka. Dimanapun kami meletakkan mereka, meski secara terpisah, mereka tetap saja membuat keributan dan membuat semua orang yang ada di sini tidak nyaman,” terang polisi tadi dan langsung pergi terburu-buru.
Shena terkejut mendengar penjelasan polisi itu. Ia penasaran siapakah ibu-ibu yang di maksud pak polisi tadi. Shena mencoba mendekat ke ruangan itu untuk mencari tahu, dan dia sangat terkejut ternyata ibu-ibu itu adalah bibi Nunuk dan bu Nurhayati and the gengnya. Mereka semua saling beradu mulut, hanya saja, ada pemandangan yang berbeda. Teman-teman bu Nur, tak lagi memihak ketua gengnya sendiri. Mereka malah membela bibi Nunuk dan saling melemparkan kata-kata kasar yang ditujukan pada bu Nur. Mereka semua sangat berisik dan tak henti-hentinya saling menyalahkan.
Nunuk, yang melihat kedatangan Shena langsung berhenti berbicara dan menatap Shena penuh haru. Dia senang bisa bertemu dengan Shena lagi, sebab selama ia di penjara, wanita yang sudah kehilangan putri satu-satunya itu tak henti-hentinya memikirkan keadaan Shena yang tertembak karena melindungi nyawanya.
Shena meminta kepada kepala polisi di sini agar diizinkan bicara dengan Nunuk dan polisi itupun memberikan izin.
Kini keduanya ada di ruangan pengunjung. Shena duduk saling berhadapan dengan Nunuk.
“Bagaimana keadaanmu? Apa lukamu baik-baik saja?” tanya Nunuk yang memulai pembicaraan. Shena menatap bibi Nunuk sambil tersenyum karena wanita yang baru saja di kenalnya sudah tidak memiliki aura dendam lagi.
Shena mengerti alasan kenapa bibi Nunuk tadi berkelahi dengan bu Nur. Bibi Nunuk tahu bahwa putri bu Nurlah yang telah menyebabkan Sasa meninggal bunuh diri.
“Tuan muda pasti tidak suka jika kamu datang kemari, sebaiknya pergilah dari sini. Aku senang karena kamu baik-baik saja. Terima kasih sudah mau mengunjungiku kemari.” Nunuk hendak beranjak pergi, tapi langkahnya tertahan karena Shena mengatakan kalimat yang mengejutkannya.
“Kita pulang kembali, Bibi. Tempatmu, bukan di sini. Leo dan aku, sangat membutuhkan Bibi.”
__ADS_1
Nunuk menoleh ke arah Shena dengan ekspresi terkejut yang amat sangat sekaligus tidak percaya.
“Bibi adalah orang pertama yang aku kenal di rumah Leo.” Shena melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak mengenal siapapun di rumah itu. Aku ingin Bibi menemaniku selama aku tinggal di rumah Leo bersama dengan bibi Jenny. Aku dengar, kalian berdualah yang sudah merawat Leo sejak dia masih kecil. Karena itu, Bibi harus pulang bersamaku.” Shena mengatakan kata-kata itu dengan tulus berharap Nunuk mau pulang kembali bersamanya.
“Kamu bilang apa? Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Tuan muda Leo tidak akan menyetujuinya. Lagipula aku tidak mau, tempatku memang ada di sini.” Nada suara Nunuk mulai meninggi.
“Aku yakin dia akan setuju, jika dia tidak setuju, maka aku yang akan tinggal dengan bibi kemanapun bibi pergi.” Shena berusaha meyakinkan Nunuk agar mau pulang dengannya. “Bibi, Sasa adalah teman baikku, dia selalu menceritakan ibunya yang baik hati dan selalu sabar menghadapi tingkahnya. Selama ini, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, sejak kecil aku ikut bibiku dan dia tidak menyukaiku. Aku sangat iri pada Sasa kerena memliki ibu yang selalu menyayanginya. Karena itulah aku ... sangat senang bertemu dengan Bibi waktu itu, saat aku sangat marah pada Leo, bibi dengan sabar meredam kemarahanku. Sejak kecil, aku tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Mereka meninggalkanku saat usiaku baru 5 tahun. Kata-kata bibi yang menenangkanku, membuatku merasa menemukan sosok ibu dalam diri Bibi. Apalagi setelah aku tahu bahwa Bibi ... adalah ibu dari sahabatku sendiri. Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan seorang ibu yang aku kagumi.” Shena tak kuasa menahan air matanya agar tidak tumpah ke luar, tapi ia harus terus mengungkapkan niatnya agar Nunuk, mau pulang bersamanya ke rumah Leo.
Nunuk hanya diam dan berdiri terpaku melihat Shena. Sejak gadis itu rela mengorbankan nyawanya demi dirinya, ia seolah melihat kembali jiwa putrinya yang sudah tiada. Sebenarnya Nunuk juga terkejut bahwa Shena adalah teman dekat Sasa, putrinya.
“Bibi, aku punya permintaan untukmu, maukah Bibi ... jadi ibuku?” Shena menangis saat meminta Nunuk menjadi ibunya.
Tanpa terasa, air mata Nunuk juga mengalir membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa gadis yang ingin dicelakainya malah menganggapnya sebagai ibunya sendiri. Nunuk terjatuh lunglai karena sekali lagi, ia menyesali perbuatannya yang telah dikuasai oleh dendam dan amarah sehingga ia membiarkan kebencian besar merasukinya.
Jenny yang berada di luar ruangan juga tak kuasa menahan air matanya. Ia pun ikut menangis mendengar pembicaraan antara Shena dan rekan sekerjanya.
“Anda baik sekali, nona Shena,” gumam Jenny sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
****