
Shena harap-harap cemas membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam. Berkali-kali ia menggigit jarinya mengkhawatirkan keadaan Leo dan yang lainnya.
“Semoga tidak terjadi apa-apa padanya,” gumam Shena celingukan memerhatikan area sekitar.
Samar-samar Shena melihat ada seseorang sedang menggendong anak kecil sekitar berusia 2 tahunan keluar dari pintu rumah Alex. Di belakangnya ada seorang wanita dengan ekspresi ketakutan dan juga panik mengikuti laki-laki itu. Tidak lama kemudian, muncul segerombolan orang yang juga ikut keluar dari dalam. Beberapa diantaranya ada yang pernah Shena lihat.
“Itu para pengawal Leo, kalau begitu ... wanita dan anak kecil itu pasti istri dan anak tuan Malik. Apa mereka sedang dalam masalah? Aku tidak melihat Leo di manapun, apa mereka sedang di culik lagi?” Shena sedang memerhatikan pergerakan mereka untuk berjaga-jaga apakah wanita dan anak kecil itu berada ditangan lawan atau kawan.
“Cepat masuk ke dalam mobil!” pinta Dimas yang bergegas mendudukkan Deniz di bangku belakang mobil diikuti Naya yang langsung duduk disampingnya. Dimas sendiri membuka pintu tepat dibalik kemudi saat tiba-tiba sebuah ledakan besar terdengar menggelegar.
Seketika tangan Dimas bergetar tak bergerak. Laki-laki itu berdiri mematung di samping pintu mobilnya. “Tidak!” gumam Dimas sambil menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa apa yang dipikirkan Dimas itu tidaklah benar.
Sayangnya, pikiran dan apa yang disaksikan Dimas saat ini memang benar terjadi. Rumah Alex, meledak. Dan pemicu ledakan itu berasal dari ruang bawah tanah rumahnya di mana masih ada Leo dan Rama di dalamnya. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ledakan itu terperangah tak percaya, apalagi kejadian itu terjadi begitu cepat tak terkira.
Saat itu juga Dimas langsung berteriak, “Tidaaaaakkkk!” tangan laki-laki itu mengepal kuat. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dimas terhuyung ke belakang dan tersandar disamping pintu mobilnya.
Naya dan Deniz saling berpelukan satu sama lain, Naya menenangkan putranya agar tidak semakin ketakutan karena ledakan tadi. Naya sendiri tidak mengerti dengan situasi ini, tapi melihat Dimas sehisteris itu, pasti ada sesuatu hal buruk sedang terjadi.
“Ada apa Dimas? Katakan padaku? Siapa yang ada di dalam sana? Kenapa kau berteriak seperti itu?” tanya Naya yang juga ikut ketakutan.
Dimas tidak bisa menjawab pertanyaan Naya karena dirinya sendiri sedang tidak bisa berkosentrasi. Laki-laki itu hanya diam menatap tajam rumah Alex yang terbakar karena ledakan yang lumayan dahsyat tadi.
Shena sangat terkejut dan mulai sedikit memahmi situasi genting yang terjadi di depat matanya. Gadis itu langsung berlari keluar dari mobil dan berniat masuk ke dalam rumah Alex sambil berlinang air mata.
Dimas melihat gerakan Shena yang hendak masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu mengejar Shena dan menahan gadis itu agar tidak memaksakan diri masuk ke dalam. Sebab, bisa saja ledakan susulan terjadi lagi.
__ADS_1
“Hentikan, Nona. Jangan masuk ke sana!” Teriak Dimas sambil menahan tangan Shena agar tidak memaksakan dirinya masuk ke dalam rumah Alex.
“Aku harus menolong Leo! Dia masih ada di dalam sana!” Teriak Shena dengan berurai air mata. Ia tidak percaya kalau ledakan itu bisa menewaskan Leo. Shena berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Leo bisa selamat dari ledakan itu dan bermaksud menolongnya.
“Tenangkan dirimu, Nona. Di sana sangat berbahaya, kau tidak boleh ke sana!” Dimas masih menahan tangan Shena dengan kuat agar gadis itu tidak kabur ke dalam.
“Lepaskan aku, Tuan! Aku tidak bisa membiarkan Leoku ada di sana sendirian. Dia pasti masih bisa selamat! Dia tidak mungkin mati semudah itu! Aku harus ke sana!” rengek Shena sambil meronta-ronta minta dilepaskan. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
“Dengarkan aku Nona, sebaiknya kita pergi dari sini untuk mencari bantuan, ayo menjauh dari sini, tempat ini tidak aman.” Dimas masih berusaha membujuk Shena agar mau ikut dengannya.
“Tidak! Aku tidak akan pergi tanpa Leo, anda saja yang pergi, biarkan aku masuk ke sana! Tuan Malik pasti sudah menunggu Anda. Sebaiknya anda cepat pergi dari sini!” Shena tetap bersikukuh pada pendiriannya agar bisa masuk ke dalam dan menemukan keberadaan Leo.
“Kau tidak mengerti, situasi saat ini sangatlah berbahaya. Kita tidak tahu ada berapa banyak bom yang terpasang di sana. Kuatkan hatimu Nona, kita akan mengurusnya begitu bala bantuan datang, sekarang ini keselamatanmu juga sangat penting. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika sesuatu terjadi pada dirimu juga.” Dimas tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Zian mengenai situasi darurat tak terduga seperti ini. Zian pasti akan memarahinya karena telah gagal menunaikan misinya.
Dimas sendiri juga merasa iba pada Shena yang masih belum bisa menghadapi kenyataan pahit bahwa sulit kemungkinan bagi Leo dan Rama untuk bisa selamat dari Ledakan itu. “Sadarlah Nona. Tidak akan ada yang bisa selamat dari ledakan itu,” lirih Dimas dengan ekspresi sedih yang mendalam.
Naya dan Dimas serta semua pasukan gabungan antara Leo dan KIA grub hanya terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa saat melihat drama ikan terbang menyedihkan ini, merekapun tidak sadar kalau sekarang semuanya sudah ikut terhanyut ke dalam suasana sedih yang mengharu biru.
Naya mulai mengerti sedikit tentang siapa gadis yang berusaha ditenangkan oleh Dimas meski baru kali ini ia melihat Shena. Orang yang masih ada di dalam sana, pastilah orang yang sangat spesial bagi gadis itu, batin Naya.
“Apa yang terjadi, Ibu? Kenapa tante itu menangis?” tanya Deniz yang masih polos di pelukan ibunya.
“Tante itu sedang sedih, Sayang. Kita juga harus menghibur dia agar tidak sedih lagi,” terang Naya yang mulai bisa merasakan apa yang Shena rasakan. Karena ia sudah berkali-kali merasakan seperti apa perasaan Shena sekarang. Kehilangan orang yang ia cintai memang benar-benar sangat menyakitkan bagaikan hati yang tersayat-sayat benda tertajam yang pernah ada. Sampai kapanpun, luka itu tidak akan pernah bisa hilang dan akan menjadi kenangan terpahit sepajang hidup.
“Apa yang membuat tante itu sedih, Ibu?” tanya Deniz lagi.
__ADS_1
Kali ini Naya tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Deniz, karena tanpa terasa air matanya pun ikut mengalir membasahi pipinya juga. Sebagai sesama wanita, Naya sangat mengerti betul bagaimana perasaan Shena saat ini. “Kasihan sekali dia, aku tidak bisa membayangkan bagaimana gadis itu akan melalui hari-hari berikutnya, entah kenapa aku seolah melihat diriku sendiri dalam gadis itu,” gumam Naya sambil mengusap bulir air matanya.
“Ayo kita pergi dari sini, Nona. Jika Leo masih hidup dia pasti akan datang menyusul kita. Aku tidak akan membiarkanmu berada di sini sendirian, apalagi tempat ini berbahaya. Apa yang harus aku katakan pada Leo nanti. Percayalah, semoga saja ada keajaiban,” ujar Dimas yang ikut berjongkok di depan Shena.
Kata-kata Dimas membuat Shena menjadi pasrah akan keadaan. Ia sadar bahwa takdir tidak bisa di rubah. Bagaimanapun juga memang hanya keajaibanlah yang bisa membawa Leo kembali pada Shena.
Dimas membantu Shena berdiri, ia memegangi pundak gadis itu agar tidak oleng mengingat saat ini Shena terlihat sangat syok berat dengan kejadian tadi. Tidak ada yang bisa dilakukan Dimas selain membiarkan gadis itu menangis tersedu-sedu.
“Kamu tunggu di sini dulu ya Sayang, Ibu akan membantu tante itu.” Naya mendudukkan kembali anaknya di bangku mobil, lalu keluar menyongsong kedatangan Dimas dan Shena. “Apa yang sedang terjadi?” tanya Naya dengan penuh khawatir, ia mengambil alih tugas Dimas memegangi tubuh Shena yang lemah tak berdaya.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam mobil, akan aku jelaskan semuanya di sana.” Dimas memerintahkan pasukan gabungannya untuk segera ikut bergerak tetap sesuai rencana begitu juga dengan pasukan Leo meski keadaan Leo masih belum diketahui secara pasti, apakah ia masih hidup atau tidak. Seandainya dia masih hidup, maka itu adalah sebuah keajaiban yang luar biasa.
Wajah Shena terlihat pucat saat ia berada di dalam mobil yang dikemudikan Dimas. Gadis itu duduk di samping Naya. Pandangan mata Shena kosong meski ia tak lagi menangis tersedu-sedu seperti tadi. Meski begitu, butiran-butiran air matanya masih saja terus mengalir membasahi pipi lembutnya. Sama sekali tak pernah terbayangkan di benak Shena kalau peristiwa mengenaskan ini bakal dialaminya secepat ini.
Shena tidak bisa membayangkan kalau Leo sudah tidak ada di dunia ini lagi. Shena masih belum bisa percaya dengan kenyataan yang ada. Di dalam relung hatinya yang terdalam, Shena masih berharap apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi dan besok pagi, Shena akan kembali bersama dengan Leo lagi. Sayangnya, itu hanyalah angan-angan Shena saja. Shena merasa tidak sanggup jika harus menghadapi kemungkinan yang terburuk, tentang kematian Leo.
Shena menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali terisak saat memikirkan masa-masa indah bersama dengan Leo. Gadis itu bahkan sampai kesulitan bernapas saking sesaknya. Ia sampai memegangi dadanya sendiri untuk menekan rasa sakitnya karena kehilangan orang yang paling ia cintai di dunia ini. Bahkan Shenapun ingin mengakhiri hidupnya jika memang benar Leo sudah tiada.
Naya yang melihat betapa sedihnya Shena menjadi trenyuh dan ikut menangis bersama Shena. “Kuatkan hatimu, Sayang, kamu harus kuat.” Naya merengkuh Shena dalam pelukannya untuk menengkan Shena yang sedang menangis pilu.
Aku tidak percaya Leo tiada, aku yakin dia masih hidup, dia tidak akan meninggalkanku seperti ini. Leo ... apa kamu bisa mendengar suara hatiku? Kembalilah padaku! Kamu sudah janji kita akan menikah dan hidup bahagia bersama selamanya. Kamu tidak boleh mengingkari janjimu. Shena terus saja menangis dalam pelukan hangat Naya.
****
karena ada yang sudah tebar poin penulis kasih bonus satu episode lagi dengan catatan tetap like, vote dan komen setiap episode nya ya .. terimakasih untuk semuanya yang sudah bersedia mampir ke tulisan acak kadulku.
__ADS_1
Love you all
salam manis dari penulis