
Laura benar-benar malu habis karena dilihatin banyak orang, gadis itu hanya bisa menunduk menuruti apa yang Roy inginkan.
Roy menggandeng tangan Laura menuju sebuah kafe kopi. Mereka berdua duduk saling berhadapan satu sama lain. Roy memesankan kopi kesukaan Laura. Cowok itu menatap Laura yang hanya diam tanpa mau memandang ke arahnya.
“Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu, dan tolong ... jawablah dengan jujur.” Roy memulai pembicaraan sementara Laura masih saja enggan menatap mantan pacarnya itu.
“Katakan, aku tidak punya banyak waktu di sini. Masih banyak hal yang harus aku lakukan daripada membuang-buang waktuku bersamamu.” Laura terdengar ketus dan benci sekali dengan Roy, padahal dulu gadis ini tergila-gla pada cowok yang kini duduk di hadapannya.
“Pertama, kenapa kamu terus saja menghindariku? Bukankah kamu sangat mencintaiku?”
Laura tersenyum sinis mendengar pertanyaan Roy, “Bukankah sudah jelas? Untuk apa mempertahankan sebuah hubungan jika salah satu diantara kita tidak ada rasa cinta? Bukankah lebih baik diakhiri daripada saling menyakiti satu sama lain?”
Pelayan datang dan membuat keduanya diam. “Ini kopinya, Tuan.” Pelayan itu bersikap centil pada Roy tapi Roy sama sekali tidak menghiraukan aksi pelayan itu. Roy hanya menatap Laura tersenyum getir melihat tingkah laku pelayan yang genit pada mantannya.
Setelah memberikan kopi, pelayan itu pergi dengan perasaan kecewa karena dicueki oleh Roy, lalu bergunjing di belakang bersama dengan teman-temannya.
“Dasar pelayan ganjen!” gumam Laura tanpa mau menyentuh kopinya.
“Kamu bilang apa?” tanya Roy.
“Tidaka apa-apa.” Laura membuang muka dan melihat jalanan yang mulai ramai.
__ADS_1
“Apa tidak ada lagi yang kamu tanyakan? Kalau tidak ada, aku pergi.” Laura bangkit dari kursinya tapi tangannya di tahan sama Roy.
“Tunggu, masih ada pertanyaan lagi, duduklah. Aku akan mengantarmu pulang nanti, aku janji,” pinta Roy.
Laura sendiri juga ingin tahu pertanyaan apa yang ingin ditanyakan Roy padanya. “Katakan, apalagi yang ingin kamu tanyakan.”
“Jika kamu sudah tahu aku tidak mencintaimu, kenapa kamu masih mau bersikap sok mesra denganku di depan Leo dan Shena?”
Pertanyaan Roy yang satu ini sudah di duga oleh Laura sebelumnya. Gadis itu menatap mantannya lekat-lekat. “Karena ... aku sudah tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak sengaja mendengar percakapan antara Leo dan Shena sewaktu dia masih di rumah sakit karena luka tembak.”
Roy tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Laura itu. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Percakapan apa?”
“Shena adalah sahabatku, dia teman dekatku yang sudah aku anggap seperti saudara kandungku sendiri. Demi kebahagiaanku, dia mempertaruhkan hidupnya dan mau menjadi boneka sohib kamu itu, meski pada akhirnya mereka berdua memang saling mencintai. Tapi tetap saja, gara-gara aku, Shena mengalami banyak kesulitan. Karena itu, aku tidak akan membuat Shena sedih gara-gara aku. Apapun akan aku lakukan asal Shena bahagia meski aku harus berpura-pura pacaran lagi denganmu,” jelas Laura.
“Jangan membuatku tertawa. Kamu bilang kita pacaran, tapi kamu berkencan dengan banyak wanita, kamu pikir aku tidak tahu?” Laura mulai emosi menghadapi Roy.
“Oke ... oke, kita dulu pernah berdebat soal ini, dan aku tidak mau membahasnya lagi. Jadi kesimpulannya, jika ada Shena, kamu berpacaran denganku. Tapi kalau dia tidak ada, aku adalah mantanmu? Begitu?” Roy memperjelas hubungan antara Laura dan dirinya.
Laura hanya mengangguk. “Seperti yang kamu lakukan dulu, demi kebahagiaanku kamu bersedia berpura-pura mencintaiku. Tapi sekarang, demi kebahagaiaan Shena, aku juga akan berpura-pura pacaran denganmu.” Laura tersenyum manis yang sengaja ia buat-buat.
Roy tidak percaya, biasanya dia yang mempermainkan perasaaan wanita, tapi sekarang giliran dia yang dipermainkan. Roy sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang dulu tergila-gila padanya kini hanya menjadikannya tameng untuk membuat orang lain bahagia. Sulit sekali di percaya.
__ADS_1
“Apa ada yang lain?” tanya Laura yang terlihat puas melihat ekspresi kesal Roy.
“Apa kamu akan pergi menemui Shena?”
Pertanyaan Roy membuat Laura terhentak, ia ingin sekali bertemu dengan Shena tapi ia tidak tahu alamat rumah Leo. “Apa aku bisa menemuinya? Kamu bisa mengantarku ke rumah Leo?” Laura sedikit bersemangat.
“Kamu tidak tahu di mana Shena?” Roy jadi bingung sekarang.
Leo mengira Shena sudah kembali dari Jerman dan tinggal bersama dengan Laura. Karena itu, tadi Leo menelepon dan meminta Roy untuk memastikan di mana keberadaan Shena, sekaligus mencari tahu bagaimana kondisinya. Namun, Roy jadi panik karena ternyata, Laura sama sekali tidak tahu di mana Shena berada saat ini.
“Tentu saja dia ada di rumah Leo. Di mana lagi?” jawab Laura tak kalah bingung. Tapi, melihat gelagat Roy yang terlihat panik, Laura mulai menyadari sesuatu, “Tunggu! Jangan bilang Shena sudah tidak ada lagi di rumah Leo. Ada di mana dia sekarang? Katakan!" bentak Laura sampai berdiri menatap Roy yang juga menatapnya.
Apa yang terjadi dengan Shena? Apa yang sudah Leo lakukan padanya? tanya Laura dalam hati yang langsung khawatir pada Shena.
****
Nantikan kisah Shena dan Leo selanjutnya ya ...
Jangan lupa like, vote, rate bintang 5 dan juga komentarnya ya ...
Terimakasih karena sudah suka dengan visualnya...
__ADS_1
Salam manis dari penulis ♥️♥️♥️♥️