Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 165 Rencana


__ADS_3

Leo menatap lurus sahabatnya karena memang ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan Roy. “Banyak hal yang akan terjadi sebentar lagi, dan juga ... ada seseorang yang sangat berbahaya, sedang mengincar nyawamu,” terang Leo.


“Nyawaku? Kenapa?” Roy mengerutkan dahinya.


“Karena kau yang telah menembaknya dua kali waktu itu?”


“Carlos?” tebak Roy.


“Ehm.” Leo mengangguk. “Saat ini, tidak ada yang tahu dimana dia sekarang, tapi aku berhasil mendapatkan berkas-berkas tentang riwayat kesehatannya.” Leo mengambil berkas yang ia taruh di laci dan memberikannya pada Roy. “Dalam data itu, dia pernah menulis namamu. Aku tidak memberitahu Shena karena aku takut dia khawatir dan berpengaruh pada kehamilannya. Kau tahu apa itu artinya, bukan? Tidak menuntut kemungkinan aku dan Shena juga akan jadi sasaran berikutnya. Aku takut, Laura juga akan kena imbasnya mengingat kalian berdua sekarang sudah begitu dekat. Refald bilang, Carlos akan menghancurkan semua musuh-musuhnya, dan kita ... hanya menunggu giliran saja.


Sayangnya, aku tidak suka menunggu, sebelum si brengsek itu sampai pada kita, aku ingin kau melakukn sesuatu, untuk menyambut kedatangannya. Aku sudah menyuruh Xiao nai melacak keberadaannya saat ini, dia memakai identitas palsu ketika pergi keluar negeri dan sangat sulit melacak keberadaannya karena bergonta ganti identitas. Mungkin akan memakan waktu lama agar bisa menemukan di mana pastinya keberadaan Carlos saat ini.


Sambil menunggu informasi dari Xiao nai, aku ingin kau membereskan seseorang dulu. Aku sudah mengirim foto orang itu di ponselmu. Namanya Rafly, pria paling menyedihkan yang pernah ku kenal.”


“Siapa Rafly dan bagaimana bisa kau mengenalnya?” Roy menutup berkas-berkas berisi data tentang Carlos dan membuka ponselnya untuk melihat foto orang yang dimaksud Leo.


“Sebenarnya, aku tidak mengenal Rafly, tapi dokter Arya, kenalanku, sedang butuh bantuanku. Dia memintaku membunuh pria itu. Aku ingin kau dan anak buahku yang lainnya, menculik orang itu dan bawa dia ke gudang tempat eksekusi keluargaku. Kau tahu tempatnya, kan?”


“Iya aku tahu, tapi kenapa bukan kau saja yang melakukan semua ini? malah menyuruhku!”


“Aku tidak ingin membunuh seseorang selama Shena mengandung anakku, aku ingin jadi ayah yang baik untuk putraku nanti. Apa kata dunia jika suatu hari nanti anakku tahu, ayahnya suka membunuh penjahat?”


“Huh, sok alim! Bagaimana dengan dirimu sendiri, ha? Bukankah kau bangga pada ayahmu walaupun dia seorang mafia!”


“Dia juga melakukan hal sama seperti yang kulakukan sekarang saat ibuku mengandung diriku. Dia berhenti mejadi mafia begitu tahu aku akan hadir ke dunia. Karena itu aku mengikuti jejaknya, lagi pula aku sedang dalam masa ngidam. Akan sangat memalukan bagiku jika aku muntah-muntah ketika melihat darah. Tidakkah kau trenyuh padaku?” Leo memasang wajah sok melas.


“Apa? Kau? Juga muntah melihat darah?” Roy langsung tertawa. “Apa kau sedang melucu? Kau itu gengster? Kau putera mantan mafia? Dan sekarang kau muntah melihat darah? Kau ingin aku percaya?” Roy kembali tertawa.


Leo melempar wajah Roy dengan bantal. “Aku sedang tidak bercanda, bod0h! Mencium bau parfummu saja sudah membuatku puyeng. Apalagi darah! Dokter bilang ini hanya sementara, setelah 3 bulan aku bisa kembali normal.”

__ADS_1


Roy kembali bersikap biasa. “Bagaimana bisa? Apa karena kau terlalu mencintai Shena sampai saat dia hamilpun kau ikut merasakan ngidamnya?”


“Bisa jadi, aku memang sangat mencintainya melebihi nyawaku sendiri. Makanya, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.”


“Dasar bucin!” gumam Roy lalu kembali menatap serius Leo. “Oke, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Tapi ... aku punya rencana yang bisa membantumu untuk menangkap Carlos secepatnya.”


“Apa itu?” Leo menatap serius wajah Roy penuh tanda tanya.


*****


Sementara itu, Fey mengajak Laura jalan-jalan menikmati taman indah istana Leo. Mereka berjalan bersama sambil bercanda ria.


“Aku turut senang kalian akhirnya bisa terus bahagia. Apalagi, ternyata orang yang dulu paling kamu benci adalah pacar masa kecilmu sendiri. Sungguh kalian memang berjodoh,” ujar Laura sambil terus melangkah mengitari jalan setapak dimana di setiap sisi jalan yang mereka lewati, tumbuh berbagai macam jenis bunga yang sedang mekar.


“Aku juga senang, akhirnya kau dan Roy bisa bersama dan saling mencintai satu sama lain. Oh iya? Kapan kalian akan menyusul kami?” tanya Shena yang langsung mengejutkan Laura.


Belum sempat Laura menjawab pertanyaan sahabtnya itu, tiba-tiba saja Roy datang dan menghadang jalan Laura.


“Hah?” mulut Laura langsung menganga.


“Ayo!” Roy menarik paksa tangan Laura dan pergi meninggalkan Shena. “Kami pergi dulu Shena, dan kami akan datang lagi sambil membawa oleh-oleh untuk calon buah hati kalian! Sampai ketemu lagi.” Roy berlalu pergi mengajak Laura tanpa menunggu balasan dari Shena


“Tapi ...,” Laura berontak karena tidak paham dengan sikap Roy yang tiba-tiba jadi aneh gini. “Kita mau kemana?” tanyanya.


“Bertemu ayahmu supaya kita cepat dinikahkan!” jawab Roy sambil terus menyeret tangan Laura.


“Hah? Kau sudah gila apa? Apa Leo yang menyuruhmu? Apa kau sedang ketularan jiwa nggak warasnya Leo?” ucap Laura, sedangkan Shena sendiri masih bisa mendengar percakapan mereka walaupun keduanya sudah jauh di depan.


“Kenapa kamu melamun, Sayang?” sebuah kecupan kecil mendarat mulus dipipi Shena sehingga Shena jadi terkejut.

__ADS_1


“Kamu? Sejak kapan kamu ada di sini?” Shena kaget karena yang menciumnya adalah Leo, suaminya sendiri.


“Sejak tadi! Kamu aja yang terlalu serius memerhatikan mereka sampai tidak sadar kalau suamimu sendiri sudah mengamatimu daritadi.” Leo melingkarkan tangannya dipinggang Shena.


“Apa yang kamu katakan pada Roy sampai dia jadi gila begitu? Masa dia ngajakin Laura nikah sekarang? Dia pikir pernikahan itu bisa dibuat mainan apa?”


“Kenapa kamu menuduhku, Sayang? Aku tidak bilang apa-apa?” sanggah Leo tapi hal itu malah membuat Shena semakin curiga.


“Bohong, pasti kamu yang menghasut dia supaya Roy cepet-cepet nikahin Laura.” Shena tidak percaya.


“Bukan aku Sayang, itu keinginan Roy sendiri, lagian ayahnya Laura yang ingin Roy cepat menikahi putrinya supaya ada yang menggantikannya menjaga Laura.” Leo menjelaskan yang sebenarnya.


“Darimana kamu tahu?”


“Aku tidak sengaja sempat mendengar obrolan mereka waktu itu, jadi aku tahu.”


“Dan kamu yang menyarankan pada Roy untuk menyetujui apa yang diinginkan ayah Laura, iya kan?” tebak Shena.


“Apa salahnya? Toh kita berdua akhirnya menikah juga, kenapa mereka tidak?”


“Bukan begitu, hah sudahlah, aku malas berdebat denganmu! Bukankah kamu bilang akan membereskan musuh dokter Arya? Kenapa malah masih di sini?” Shena mulai mengubah topik pembicaraan.


“Aku sedang menunggu telepon.” Leo menujukkan seringai nakalnya. Cowok itu mulai menggendong Shena untuk masuk ke dalam rumah.


BERSAMBUNG


****


__ADS_1



__ADS_2