
Shena semakin marah pada Leo, karena tiba-tiba Leo memaksa membuka pakaiannya, “Dasar mesum! Mau memanfaatkan kesempatan, ya?” bentak Shena yang kembali membuat perutnya sakit akibat tekanan suaranya. “Auww,” rintih Shena.
Leo menyentil pelan kening Shena. “Mesum apanya? Aku akan memeriksa lukamu! Lihatlah, jangan banyak bergerak, dan jangan bersuara tinggi. Itu akan membuat perutmu semakin sakit karena mendapat banyak tekanan yang memicu gerakan jika kamu terlalu heboh begitu.” Leo mencoba membantu Shena untuk membuka pakaiannya.
“Mau apa kamu?” tanya Shena yang menepis tangan Leo dengan kasar saat akan menyentuh bajunya.
“Tetu saja membuka pakaianmu, mau apalagi? Aku ingin tahu bagaimana lukamu sekarang.” Leo mengamati luka yang ada di perut Shena sebelah kiri.
“Aaahhhh, tidak. Biar bibi Jenny saja yang memeriksanya, kamu pergilah ke kamarmu, badanku pasti berat tadi. Kamu pasti kelelahan habis menggendongku sampai ke sini.” Shena sangat takut kalau Leo harus membuka pakaiannya untuk memeriksa lukanya. Itu artinya Shena harus memberikan tontonan gratis bagian tubuhnya pada Leo.
“Kenapa harus bibi Jenny, aku tidak yakin dia bisa membantu merawat luka tembak, aku lupa hari ini kamu belum ganti perban. Buka bajumu! Jika tidak, aku sendiri yang akan membukanya,” ancam Leo karena sudah terlalu gemas pada Shena.
“Nggak!” Shena bersikukuh untuk tidak membuka pakaiannya di depan Leo.
Enak saja dia, bisa melihat gratis tubuh bagian atasku.
Wajah Shena cemberut akut. Dia tidak rela jika Leo harus mengganti dan meraba-raba perutnya.
“Baiklah, jangan di buka semuanya, angkat saja sampai dada, aku akan melihat lukamu.” Leo benar-benar sudah tidak tahu bagaimana cara meyakinkan Shena agar mau membuka tubuh bagian atasnya.
Shena ragu apakah Leo benar-benar hanya akan memeriksa lukanya, Shena takut kalau Leo akan kehilangan kendali dan menyerangnya.
“Aku tidak akan menyerangmu, Shena. Aku juga punya jurus pengendali diri. Jadi jangan khawatir, oke.” Leo meyakinkan Shena karena dia tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
Shena pun mulai percaya pada Leo dan perlahan mengangkat bajunya hingga sampai bawah dada.
“Naikkan lagi!” pinta Leo.
“Ini juga sudah naik,” jawab Shena yang enggan menaikkan lagi bajunya. Sebab, jika dinaikkan lagi, pakaian dalam Shena yang digunakan sebagai wadah gunung mungilnya pasti akan terlihat. Shena tidak ingin Leo melihatnya.
“Perbanmu akan sulit dibuka jika bajumu masih ada yang menutupinya, naikkan lagi, aku sudah tahu ukuran br4 itu, lain akali aku akan membelikannya untukmu!” goda Leo.
“Apa?” Shena terkejut sehingga wajahnya memerah antara marah dan juga malu.
__ADS_1
“Tidak perlu malu lagi Shena, cepat atau lambat, semua bagian tubuhmu ini akan menjadi milikku, tinggal tunggu waktu saja.” Leo sangat suka membuat Shena merasa malu padanya.
Tidak ada yang bisa Shena katakan lagi, gadis itu benar-benar seolah tenggelam di dasar laut yang dalam. Leo sangat tau bagaimana cara membuat Shena tak bisa berkutik sedikitpun.
“Diam dan jangan bergerak, aku akan mulai membukanya.” Leo menatap Shena dengan lembut.
Awalnya Leo tergoda melihat perut rata Shena yang putih mulus dan menggiurkan mata itu. Namun, Leo berusaha megendalikan birahinya agar hasrat lelakinya tidak ke luar berlebihan. Leo menatap perban yang melekat di perut Shena sebelah kiri.
Dengan hati-hati cowok itu membuka perbannya, lalu memeriksa luka bekas operasinya. “Ehm ... luka luarnya tidak apa-apa. Mungkin luka dalamnya belum kering, kamu tidak boleh banyak bergerak dan juga jangan bicara dengan nada terlalu tinggi. Otot-ototmu akan menegang dan itu membuat luka bagian dalam yang belum kering terasa sakit.” Leo menutup kembali luka Shena dengan perban yang baru. Cowok itu begitu telaten melekatkan perbannya pada Shena.
Sebenarnya Shena merasa gugup karena ini pertama kalinya, perut rata Shena di raba-raba oleh Leo. Ada perasaan aneh yang muncul di hati Shena. Sebuah perasaan yang belum pernah Shena rasakan sebelumnya.
Shena memerhatikan Leo yang begitu serius mengganti perban lukanya. Dalam hati, Shena benar-benar terpesona dengan wajah tampan Leo jika dia bersikap lembut seperti ini. Tidak ada keraguan sama sekali pada diri Leo saat merawat luka Shena, tangannya begitu terampil membalut kembali perbannya dengan hati-hati.
“Jangan menatapku seperti itu, aku bisa kehilangan arah,” ujar Leo sambil membalut luka Shena.
Shena langsung memalingkan wajahnya dari Leo karena gugup telah ketahuan melihatnya.
“Kenapa tanganmu masih melingkar di perutku?” tanya Shena heran.
Br3ngsek si Leo, padahal dia sudah selesai mengganti perbannya, tapi tetap saja tidak mau melepaskan perutku.
“Entahlah, tiba-tiba saja aku suka melingkarkan tanganku diperutmu.” Leo tersenyum licik pada Shena.
“Lepaskan, aku mau menurunkan pakaianku.” Tangan Shena mencoba melepaskan tangan Leo tapi Leo tidak mau beranjak dari pinggang dan perutnya.
“Turunkan saja,” jawab Leo masih sambil tersenyum.
“Tapi tanganmu mengganjal bajuku!” Shena mulai kesal juga dengan Leo.
Leo hanya tersenyum menatap wajah Shena. Perlahan, cowok itu mendekatkan wajahnya pada Shena lalu mengecup keningnya dengan lembut. Shena hanya memejamkan matanya saat Leo bersikap sok sweet padanya.
Tak hanya mencium kening Shena, Leo juga bergerak turun untuk mengecup kedua pipi Shena dengan mesra lalu bergeser cepat ke bibir Shena yang sudah mulai gemetar karena gugup. Tanpa ragu lagi, Leo menyapu bibir merah delima itu dengan lembut dan melum4tnya. Leo membuka paksa mulut Shena agar bisa memasukkan lidahnya ke dalam, memainkan lidah Shena sehingga membuat gadis itu kehabisan napas.
__ADS_1
“Bernapaslah Sayang,” bisik Leo disela-sela serangan ciumannya pada Shena yang dipenuhi dengan gairah menggelora.
Shena serasa di atas awan, pikirannya melayang oleh ciuman maut yang dilancarkan Leo padanya. Kini Leo mulai lebih ganas lagi, tidak hanya menciumi bibir Shena tapi juga mulai menggigit kecil leher Shena sehingga ke luar desahan yang tak terduga dari mulut Shena.
Gadis itu langsung mendorong Leo karena terkejut dengan perasaan yang baru saja ia rasakan. Shena takut akan kenikmatan yang Leo berikan sehingga Shena tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
“Ak-aku ... ingin istirahat,” gumam Shena karena terlalu gugup menghadapi situasi yang semakin tidak terkendali ini.
Leo menegakkan punggungnya sambil menatap Shena. “Maaf, aku hampir hilang kendali, kamu sungguh membuatku bergairah Shena, aku tidak pernah merasakan perasan seperti ini sebelumnya. Banyak wanita yang berbaju seksi dan bertubuh semok selalu mendekatiku, tapi aku sama sekali tidak tertarik pada mereka semua. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi ... bersamamu, terasa sangat berbeda. Kamu selalu membuatku ingin ... hahhh ... sudahlah, lupakan. Cepatlah sembuh, oke!” tanpa Leo sadari, ia mengutarakan kejujurannya pada Shena sehingga membuat gadis itu tersenyum geli mendengar pengakuan Leo.
“Bina ... eh maksudku, playboy sepertimu tidak tergoda dengan wanita seksi? Aku tidak percaya.” Shena menertawakan pengakuan Leo
“Kamu bisa tanyakan bibi Jenny jika tidak percaya. Aku memang suka gonta ganti pacar, tapi ... cuma kamu yang aku perlihatkan di depan semua orang. Dan juga cuma kamu yang bisa membuatku ... bergairah.” Leo serius dengan ucapannya.
“Oke, oke aku percaya,” ucap Shena tapi masih sambil tersenyum.
Leo hendak mencium Shena lagi tapi Shena menghalangi niat Leo dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Leo.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, lalu tanpa Leo duga Shena mengecup lembut bibir tunangannya untuk yang pertama kalinya sehingga cowok itu terkejut melihat Shena yang tiba-tiba saja bersikap seperti itu.
“Terima kasih, sudah mau menerima bibi Nunuk kembali, aku sangat senang.” Shena menyudahi ciumannya dan menatap Leo.
Leo hanya tersenyum melihat wajah Shena yang tampak bahagia. “Sama-sama, lain kali jika ada yang ingin kamu lakukan, katakan saja padaku. Jangan memaksakan diri seperti ini. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu.”
“Kamu tidak marah?”
“Aku tidak akan pernah marah padamu, aku janji. Apapun yang mau kamu lakukan, aku tahu itulah yang terbaik, karena kamu adalah gadis yang sangat baik.” Leo memeluk Shena dengan erat sambil mengecup rambutnya. “Terima kasih sudah mau menerima cintaku, Shena. Aku benar-benar sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu, tetaplah disisiku selamanya,” ucap Leo dengan sepenuh hati.
Shena hanya tersenyum mendengar kata-kata Leo, gadis itu membenamkan kepalanya di pelukan Leo untuk menyembunyikan kebahagaiannya.
Aku juga mencintaimu Leo. Batin Shena.
***
__ADS_1