
Jika Roy dan Laura berbahagia dengan keputusan tentang pernikahan mereka, berbeda dengan Leo yang dipusingkan dengan keberadaan Carlos karena tak kunjung ketemu jua. Hal itu sangat meresahkan hati dan pikiran Leo. Untunglah Xiaonai bersedia datang dan membantu mencari ada dimana Carlos sekarang.
Pagi ini, Leo mengantar istrinya pergi ke kampus karena Shena ada janji temu dengan dosen pembimbing yang memang sengaja diminta ayahnya supaya mempercepat sidang skripsi Leo dan Shena.
Namun, untuk sementara hanya Shena saja yang akan berkonsultasi, sedangkan Leo harus menjemput Xiaonai dan Wei Wei di bandara hari ini.
"Apa kamu keberatan jika aku meninggalkanmu sendirian, Sayang. Aku harus menjemput Xiaonai sekarang." Leo masih menggenggam erat tangan Shena ketika keduanya ada di parkiran kampus.
"Iya, aku sama sekali tidak keberatan. Aku akan masuk dulu." Shena mau membuka pintu mobil tapi di tahan oleh Leo.
"Jangan pergi kemanapun sebelum aku datang menjemputmu." Leo menatap serius wajah Shena sehingga membuat istrinya itu merasa Leo sedang ada masalah.
"Sebenarnya, apa yang sedang terjadi Sayang. Katakan padaku, jangan sembunyikan apapun dariku. Aku perhatikan dari kemarin, kamu sangat berbeda dari biasanya. Tidak bisakah kamu berbagi denganku? Aku istrimu, aku berhak tahu masalah apa yang sedang mengganggu pikiran suamiku." Shena menatap suaminya penuh harap agar Leo mau menceritakan semua kerisauannya.
Leo pun juga ingin sekali mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya, tapi ia takut kekhawatirannya ini bisa berimbas pada kesehatan Shena mengingat dia sedang hamil muda.
"Aku hanya ingin kamu fokus pada kesehatanmu, Sayang. Aku tidak ingin kamu pingsan. Aku janji akan menceritakan semuanya padamu begitu kita di rumah nanti. Sekarang masuklah, jangan sampai terlambat." Leo mengusap lembut pipi istrinya dan mencium kening Shena.
Shena mengangguk pelan dan mencium lembut bibir suaminya sebelum berlalu pergi. Leo hanya tersenyum menatap kepergian istrinya dan baru meninggalkan kampus setelah memastikan Shena masuk ke dalam gedung fakultasnya.
Xiao nai dan istrinya Wei Wei pun tiba di Indonesia. Leo menjemput keduanya di bandara saat Xiao nai turun dari jet pribadinya.
"Selamat datang kembali, Kak. Terimakasih sudah mau membantuku." Leo memeluk sepupunya yang baru saja turun dari pesawat. "Kau semakin luar biasa kakak ipar," sapa Leo pada Wei Wei.
"Kau juga, dimana Shena?" Tanya Wei Wei.
"Dia tidak bisa ikut karena ada rapat dengan dosen pembimbingnya, setelah ini aku akan menjemputnya ke kampus. Kalian berdua istirahat saja dulu di rumah."
__ADS_1
Leo pun membuka mobil Ferrarinya dan langsung melesat cepat supaya lekas sampai di rumah dan pergi menjemput Shena di kampus mereka.
Leo tidak bisa meninggalkan Shena sendirian di luar tanpa pengawasan ketat darinya mengingat Carlos masih berkeliaran dimana-mana.
****
Semua orang memandang heran Shena yang datang sendiri ke kampus tanpa ditemani Leo. Berita pernikahan Leo dengan Shena memang masih simpang siur karena tidak ada teman sekampus Shena yang diundang dalam acara pernikahannya kecuali Laura dan Roy. Kebetulan, hari ini keduanya juga tidak bisa datang karena terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.
"Shena, tumben kamu sendirian, mana Leo?" Tanya Chica yang kebetulan juga baru saja datang.
"Dia sedang menjemput saudara sepupunya di bandara. Nanti dia juga bakal menjemputku kalau urusanku di sini selesai." Shena tersenyum pada Chica.
"Oh, gitu. pagi ini aku sangat kesal dengan semua gosip yang beredar soal kamu dan Leo. mereka semua bilang kalau kamu dan Leo sudah putus. Apalagi tiba-tiba saja kamu datang sendirian begini. tapi syukurlah kalau gosip itu tidak benar, aku lega mendengar kalau kalian masih baik-baik saja."
Shena tersenyum mendengar ocehan sahabatnya. Dia sudah tidak kaget dengan semua berita miring mengenai dirinya dan Leo. "Biarkan saja mereka mau bergosip apapun tentang aku dan Leo. yang penting mereka tidak mengganggu teman-temanku."
"Kamu tidak merasa terganggu? Banyak sekali junior kita yang mengidolakan Leo, loh. Mereka bahkan berencana mau merebutnya darimu kalau seandainya gosip itu benar. Secara, Leo kan dulu terkenal playboy kelas kakap yang suka gonta-ganti pasangan. Mereka pikir hubunganmu dengannya juga sudah berakhir karena kalian sudah jarang muncul bersama."
Tiba-tiba dari kejauhan, dia melihat Evan melintas di depan Chica dan Shena.
"Kak Evan!" Sapa Shena dan Evan pun menoleh ke arahnya.
"Hai, Shena. Kau di sini juga? Mana Leo?" Evan berjalan mendekati Shena.
Chica yang sebenarnya ngefans berat dengan Evan terkejut karena ternyata Shena kenal dengan idolanya. Bahkan keduanya malah terlihat akrab.
"Leo sedang ada urusan, tapi nanti dia pasti akan menjemputku. Apa kakak ada kuliah hari ini?" tanya Shena.
__ADS_1
"Ehm, baru saja selesai. Aku akan ke rumah sakit Leo untuk melakukan penelitianku. Kebetulan aku bertemu denganmu, bisakah kau mintakan izin padanya? Soalnya sulit sekali menghubunginya. Sepertinya ia sibuk sekali."
"Tentu, nanti aku akan bilang sama dia. Kakak langsung saja datang ke rumah sakit. Leo pasti tidak akan keberatan. Oh iya, kenalkan ini teman sekelasku boling kece, nanya Chica, keren kan namanya, hehe." Entah mengapa Shena ingin menjodohkan Chica dengan Evan.
"Oh, hai Chica. Aku Evan, salam kenal," sapa Evan sambil mengulurkan tangan kanannya.
Mata Chica memelototi Shena yang sudah membuat dia malu dan salting tiba-tiba. Namun, dengan senyuman manis, Chica menyambut uluran tangan Evan. "Hai juga, kak Evan. Senang bisa mengenal Kakak." Chica hanya bisa menunduk sambil mencuri pandang idolanya.
"Terimakasih, senang juga mengenalmu." Evan pun melepaskan uluran tangannya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi, Chica." Evan tersenyum manis pada teman Shena yang bernama Chica dan langsung beranjak pergi. "Jangan lupa sampaikan salam ku pada Leo." Evan melambaikan tangannya pada Shena.
Chica tidak percaya kalau Evan masih ingin bertemu dengannya lagi. "Shena, ini bukan mimpi, kan? Oh my God, kak Evan tersenyum sama aku." Chica menepuk lembut pipinya berharap apa yang ia alami ini adalah nyata. Shena mencubit pipi Chica sehingga gadis itu kesakitan. "Auwww, sakit tahu," protes Chica.
"Berarti ini bukan mimpi Chica, kak Evan memang berharap kalian bisa bertemu lagi. Wuah, kayaknya aku mencium bau bau dua insang sedang dilanda kasmaran." Shena sengaja menggoda Chica karena dia tahu kalau sahabatnya itu mengagumi sosok Evan.
"Ih, apaan sih kamu? Sudah masuk sana! Ntar kena semprot dosen baru tahu rasa kamu," omel Chica.
Shena pun tertawa pelan dan masuk ke dalam ruangan sambil memerhatikan wajah merah merona sahabatnya.
Sudah satu jam lebih Shena berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya dan dosen tersebut langsung menyetujui skripsi yang Shena ajukan. Sekarang, gadis itu hanya menunggu jadwal sidang skripsinya.
Shena hendak meninggalkan gedung fakultasnya dan menunggu suaminya di depan jalan utama fakultasnya. Namun, pandangan matanya teralihkan oleh sesuatu hal yang membuat Shena, jadi emosi tingkat dewa.
BERSAMBUNG
***
masih ada satu episode lagi khusus hari ini ... ditunggu ya ...
__ADS_1