Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 46 Penyesuaian


__ADS_3

Leo membawa Shena pulang kerumahnya dan memaksa Shena untuk tinggal dengannya di rumah Leo yang sangat-sangat mewah dan megah. Awalnya, Shena protes tapi Leo lagi-lagi mengancamnya. Padahal, Shena ingin tinggal sementara di rumah Laura sampai ia mendapatkan tempat tinggalnya yang baru.


Aku harus memikirkan cara untuk kabur dari rumah itu nanti, bagaimana bisa aku tinggal di rumah sebesar itu? Pikir Shena dalam hati setelah mereka tiba di depan rumah Leo.


“Jangan coba-coba untuk kabur dari sini jika aku tidak ada, kamu akan dijaga ketat oleh para pengawalku,” ujar Leo seolah tahu apa yang ada di pikiran Shena.


Gadis itu hanya tersenyum karena sudah ketahuan duluan sebelum bertindak.


“Apa tidak ada tempat lain?” tanya Shena saat Leo membukakan pintu mobil untuknya. Shena masih tidak percaya bahwa ia akan menuruti kemauan Leo untuk tinggal seatap dengannya.


“Ada, tapi ... aku yang tidak bisa,” jawab Leo.


“Tidak bisa apa?” tanya Shena semakin penasaran. Leo menatap Shena dan membelai lembut pipinya,


“Tidak bisa membiarkanmu tinggal sendirian tanpa pengawasan ketat dariku. Di rumah ini hanya ada kita berdua dan para pelayan serta pengawalku saja, kedua orang tuaku sedang berada di luar negeri dan entah kapan mereka pulang. Akan lebih baik jika kamu tinggal di sini daripada di tempat lain. Selain itu juga akan menghemat biaya, aku harus menabung untuk menghidupi semua kebutuhan istriku nanti.” Leo memamerkan pesona senyumannya yang begitu menawan sambil menuntun Shena masuk ke dalam istananya.


Shena tidak bisa berkata apa-apa. Menurutnya, terlalu dini jika Leo harus membicarakan masalah pernikahan dengannya. Malangnya, sekarang ini Shena memang tidak punya uang sepersenpun. Begitu sembuh nanti, Shena bermaksud untuk bekerja paruh waktu agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan tidak mau bergantung pada Leo. Sebab, ia tidak ingin dianggap cewek matre yang hanya mengejar-ngejar kekayaan Leo saja.


“Baiklah, aku hanya akan tinggal di sini sampai aku benar-benar pulih dan bisa melakukan aktivitasku sendiri. Setelah itu, biarkan aku hidup mandiri, aku tidak ingin orang-orang menganggapku hanya memorotimu dan bergantung padamu.”


“Tidak, aku tidak setuju, kamu tunanganku, wajar jika kamu bergantung padaku. Aku sama sekali tidak keberatan. Apalagi kita akan segera menikah begitu ujian skripsimu selesai.” Ucapan Leo terdengar serius.

__ADS_1


“Haaa? Kamu benar-benar serius?” tanya Shena.gadis itu masih belum percaya kalau Leo benar-benar ingin menikah dengannya.


“Tentu saja, aku tidak pernah seserius ini,” ucap Leo sambil menatap mata Shena.


Gadis itu langsung lemas seketika. Ia sama sekali belum siap jika harus berumah tangga dengan Leo. Saat ini saja Shena masih dalam tahap penyesuaian menjadi pacar Leo, ia tidak yakin akan bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya jika harus menikah dengan Leo secepat ini.


Kedatangan Leo dan Shena di sambut hangat oleh pelayan rumah Leo. Mereka semua berbaris dan berjajar rapi di samping kanan dan kiri Leo yang berjalan beriringan dengan Shena.


“Selamat datang kembali tuan muda Leo, dan nona Shena,” ucap seorang wanita paruh baya. Wanita dengan ekspresi datar itu memakai dress hitam putih sambil membungkukkan badannya di depan Shena dan Leo. Gerakannya itu langsung diikuti oleh pelayan-pelayan lainnya yang berseragam sama dengan wanita paruh baya yang ada di depan Shena saat ini.


Leo hanya mengangguk dan menatap Shena, “Shena, kenalkan ... dia adalah kepala pelayan yang baru, menggantikan bibi Nunuk. Dia adalah bibi Jenny, beliau juga yang mengasuhku sejak aku masih kecil bersama bibi Nunuk. Mereka berdua teman dekat, tetapi memiliki kepribadian yang berbeda. Kamu akan mengetahuinya sendiri nanti.” Leo memperkenalkan kepala pelayan barunya pada Shena.


Shena mengangguk tanda memberi hormat pada wanita paruh baya yang dipanggil Leo bibi Jenny. Begitu juga dengan bibi Jenny yang membalas anggukan Shena.


“Baik, Tuan muda.” Wanita yang bernama Jenny itu menunduk tanda mengerti tentang semua yang diperintahkan Leo padanya.


“Sayang, ikutlah dengan bibi Jenny, jangan sungkan, selama kamu ada di sini dia dan anak buahnya akan melayanimu,” ucap Leo sambil mengecup kening Shena lalu pergi ke ruangan lain. Semua barang-barang Shena juga sudah ditaruh di sebuah kamar yang sudah disiapkan untuk Shena.


“Mari nona Shena, ikut saya.” Bibi itu membawa Shena menaiki lift ke lantai 4 dan langsung menuju kamar Shena.


Gadis itu hanya bisa menurut sambil mengamati setiap sudut ruangan rumah Leo yang didesain dengan gaya klasik modern. Shena sangat kagum dengan semua lukisan dan benda-benda antik lainnya yang terpajang rapi disetiap dinding rumah Leo. Meski ini bukan pertama kali Shena datang kemari, gadis itu tetap saja terkagum-kagum dengan semua keindahan yang ada di istana ini.

__ADS_1


Rumah Leo, mirip dengan istana kerajaan yang ada di luar negeri. Sebelas dua belas dengan istana Schloss Gottesaue Karlsruhe, Jerman. Bedanya, bangunan ini jauh lebih tinggi saja. Keluarga Leo benar-benar kaya raya. Membayangkan seberapa banyak kekayaannya saja tidak akan sanggup. Entah berapa banyak uang yang sudah mereka keluarkan untuk membangun istana sebesar ini.


Shena berusaha menghafal jalan yang ia lewati bersama dengan bibi Jenny dan beberapa pelayan yang membawakan barang-baranya di belakang Shena.


Ruangan Shena berada di tengah tengah bangunan di lantai tiga. Begitu pintu ruangan kamarnya di buka, Shena sangat terkejut karena kamarnya sangat luas dan megah. Berbeda dengan ruangan yang ada di luarnya, kamar Shena lebih mirip dengan hotel ala bintang 5 dengan desain modern benuansa biru telur asin.


Apa tidak salah? Kamar ini benar-benar bagus sekali?


Shena dan yang lainnya masuk ke dalam kamar. Mata Shena langsung tertuju pada pemandangan menakjubkan yang ada di balkon kamar ini. Shena melangkah ke luar menyambut hembusan semilir angin menyapu tubuhnya. Rupanya, kamar Shena menghadap langsung ke sebuah pantai nan luas. Shena baru tahu kalau rumah Leo ini ternyata sangat dekat dengan pantai. Di samping kanan, ia bisa melihat sedikit puncak menara taman hiburan milik keluarga Leo, sedangkan sebelah kiri, terdapat banyak bungalow besar nan megah dekat dengan lapangan golf yang dulu sempat di datangi Shena saat Leo menyiksa wanita-wanita yang pernah membullynya.


“Sugoiii,” gumam Shena senang. “Kamar ini, sangat berbeda dengan kamar yang ada di kamar Leo waktu itu. Benar-benar indah, apalagi aku bisa melihat langsung matahari terbenam di sini.”Shena serasa berada di negeri dongeng melihat betapa indahnya panorama pantai di depan matanya.


“Nona, saya akan menyiapkan makanan untuk anda, apa anda menginginkan sesuatu yang lain?” tanya bibi Jenny yang berdiri di belakang Shena.


“Tidak Bibi, terima kasih.” Shena menoleh kepada bibi Jenny sambil tersenyum.


“Barang-barang anda sudah kami rapikan, jika anda membutuhkan sesuatu, panggil saja kami, ujar bibi Jenny yang hendak melangkah pergi.


“Tunggu, Bibi.” Shena menghentikan langkah kepala pelayan itu. “Ehm ... jika tidak ada siapapun, jangan terlalu formal pada saya. Bagaimanapun juga, saya lebih muda dari anda dan saya tidak terbiasa diperlakukan seperti ini. Selain itu ... apakah ... anda ... bisa menyetir?” tanya Shena agak ragu sambil menatap tajam bibi Jenny.


Bibi Jenny jadi bingung dengan pertanyaan Shena, tapi ia mencoba bersikap seperti biasa.

__ADS_1


****


__ADS_2