
Leo membawa Shena duduk disebuah meja yang sudah ia siapkan sejak jauh-jauh hari. Di tengah-tengah meja itu terdapat bunga edelweis yang terlihat masih fresh. Seperti baru saja dipetik dari akarnya.
“Apa kamu habis hiking?” tanya Shena yang terkejut karena melihat bunga edelweis tertata rapi di tempatnya. Ia bisa mengenali bunga itu karena bentuknya yang khas walau agak berbeda dari yang pernah ia lihat di foto.“Bukankah bunga ini tidak boleh di petik sembarangan? Bunga ini termasuk salah satu bunga yang dilindungi, bagaimana bisa bunga ini ada di sini?” Shena bingung sekaligus juga senang karena bisa melihat bunga langka yang ia sukai.
“Tenanglah Sayang, bunga ini di petik langsung dari Eropa, tepatnya di Swiss, oleh salah satu sepupuku yang tinggal di sana. Aku akan mengenalkanmu padanya nanti,” jelas Leo.
Shena lagsung menutup mulutnya dengan tangan karena tidak percaya bakal bisa melihat bunga edelweis lain selain dari edelweis yang tumbuh di Indonesia. “Pantas saja bentuknya berbeda dan aku baru pertama kali ini melihat secara langsung bunga edelweis yang seperti ini,” girang Shena tak henti-hentinya mengagumi bunga abadi ini.
“Ini adalah bunga edelweis jenis leontopodium alpinium. Mirip dengan namaku, kan? Ini legal, Sayang ... dan alasanku memilih bunga ini saat momen spesial kita adalah karena bunga ini melambangkan cinta suci yang sama seperti cinta suciku padamu.” Leo mengambil bunga edelweis itu dan menyerahkannya pada Shena.
Shena mencium kelopak bunga edelweis yang runcing berwarna putih dan dikelilingi daun beludru disekitar bunganya.
Merupakan kehormatan besar bagi Shena bisa melihat bunga abadi yang luar biasa indah ini. Jika pasangan lain akan memberikan sebuket bunga mawar merah ketika melamar kekasihnya, lain dengan Leo yang malah memberikan bunga edelweis sebagai lambang kesucian cintanya. Bukan karena namanya yang terkenal dengan bunga abadi, tetapi bunga ini tidak mudah di dapat di sembarang tempat layaknya bunga-bunga lain yang bisa di jual pada umumnya.
Untuk mendapatkan bunga edelweis, mereka harus mendaki sebuah gunung yang tinggi. Itupun jika mereka bisa langsung bertemu dengan bunga ini. Sebab, bunganya sangat sulit dicari. Tidak semua pendaki bisa menemukan di mana bunga ini tumbuh. Tanpa Shena tahu, Leo tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan bungan abadi itu, karena yang mengambil bunga itu adalah Refald. Sebagai imbalannya, Leo memberikan paket liburan gratis untuk Refald ke Maldives agar bisa honeymoon bersama istrinya.
Sungguh semua yang dilakukan Leo pada Shena diluar dugaannya. Dulu, Shena sangat membenci cowok yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, tapi kini malah sebaliknya. Shena semakin jatuh cinta pada Leo.
Bunga edelweis yang diberikan Leo padanya, sudah cukup membuktikan bahwa apa yang dipikirkan Shena terhadap Leo waktu itu ternyata salah, meski sampai saat ini Shena sendiri tidak tahu apa yang menjadi alasan Leo hingga cowok itu mencintainya seperti ini.
“Terima kasih, Leo.” Shena mengecup bibir Leo dengan mesra. Shena sangat bahagia, karena Leo benar-benar mencintainya.
Leopun menarik pinggang Shena semakin erat padanya. Mereka saling beradu lidah dan menikmati suasana haru yang begitu romantis seolah jiwa mereka bersatu ke dalam indahnya lantunan alunan lagu.
***
Leo menggendong Shena menuju kamarnya setelah makan malam romantis mereka selesai. Sambil berjalan, Leo memandangi Shena terus tanpa memerhatikan jalan yang ada di depannya.
“Perhatikan jalanmu, kenapa kamu menatapku terus seperti itu? Bagaimana kalau kita berdua jatuh jika kamu melihatku seperti itu,” tukas Shena sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Leo.
__ADS_1
“Apa kamu tahu, Sayang ... malam ini kamu sangat seksi sekali.” Leo menyeringai sambil menatap nakal dua gundukan kecil milik Shena yang setengah terbuka.
Sontak Shena sangat terkejut dan refleks menutup dadanya dengan satu tangan kanannya, “Jadi daritadi kamu melihatnya?” teriak Shena yang marah dan bercampur malu.
“Ehmmmm,” Leo mengangguk senang tanpa merasa bersalah sedikitpun, tapi tidak dengan Shena.
Dasar si Leo mesumm! Jerit Shena dalam hati.
Ingin rasanya Shena melompat turun dari gendongan Leo tetapi dekapan cowok itu semakin mengerat sehingga tidak mungkin Shena bisa lepas dari jeratannya.
Dia sengaja membuatku malu habis seperti ini.batin Shena.
“Aku sudah pernah melihatnya Sayang, dan aku sudah tidak terkejut lagi. Lagipula, sebentar lagi ... kamu akan menjadi milikku seutuhnya, kamu tidak perlu merasa malu,” ujar Leo seolah tahu apa yang ada di pikiran Shena.
Shena hanya bisa membenamkan wajahnya di dada Leo untuk menyembunyikan rasa malunya. Gadis itu tidak sanggup lagi menatap Leo.
“Kenapa kamu masih menatapku seperti itu?” tanya Shena yang semakin gugup melihat Leo saat melihatnya.
“Aku hanya bahagia, aku sudah tidak sabar untuk ....”
Shena menempelkan jari telunjuknya di bibir Leo sehingga cowok itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya. “Bersabarlah sampai hari pernikahan kita, pasti akan indah pada waktunya,” ucap Shena dengan lembut.
Leo menatap mesra wajah Shena yang begitu cantik dan memesona, lalu mengecup lembut kening Shena. Leo hanya tersenyum melihat wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta sampai sejauh ini. Ingin rasanya Leo menyerang Shena malam ini, tetapi hasrat kelelakiannya ia tahan seperti yang diinginkan Shena.
“Bagaimana kalau aku sangat menginginkannya?” tanya Leo yang mulai menggoda Shena.
“Ehmmm ... akan aku panggilkan wanita penggoda untukmu supaya dia mau melayanimu,” Shena balas menggoda Leo dan berhasil. Leo bangun dari tidurnya dengan raut wajah kesal.
“Apa kamu sudah gila? Kamu meminta wanita lain untuk melayani calon suamimu sendiri?” nada suara Leo mulai meninggi tapi Shena malah terkekeh saja melihat kemarahan Leo. “Kanapa kamu malah tertawa, apa kamu senang, ha?” Leo berdecak kesal pada Shena.
__ADS_1
Shena ikutan bangun dari tidurnya dan memeluk punggung Leo dari belakang, “Aku tidak bisa melayani birahi seseorang yang belum terikat sah denganku, baik secara agama ataupun secara hukum negara. Tubuhku hanya akan aku serahkan pada suamiku di malam pertama. Itulah impian semua wanita. Dan aku ... adalah wanita baik-baik, aku tidak ingin mengecewakan almarhum kedua orang tuaku hanya karena menuruti hawa nafsuku. Aku tahu kita akan segera menikah, tapi sebelum hari sah itu tiba, aku harus menjaga diri dan kehormatanku sebagai wanita demi suamiku. Apa kamu tidak suka wanita yang seperti itu?” Shena menatap wajah Leo.
Cowok itu melepas genggaman erat tangan Shena yang melingkar di perutnya. Leo menggeser tubuhnya menghadap Shena dan langsung memeluknya. “Tentu saja aku suka, itulah kenapa aku jatuh cinta padamu, tidak ada wanita lain yang sepertimu, bagiku kamu adalah wanita sempurna yang pantas menjadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti.” Leo mengecup kening Shena dan mereka berdua kembali berbaring di tempat tidur. Keduanya saling berpelukan dengan kepala Shena bersandar di dada Leo.
“Besok kita akan pulang ke kampungmu dan mengurus semua yang kita perlukan untuk pernikahan kita. Lebih cepat lebih baik.” Leo mengelus lembut pipi Shena.
“Apa sebaiknya aku pulang sendiri, paman dan bibiku ... pasti tidak suka dengan rencanamu ini.”
“Aku tidak butuh mereka, bagiku mereka bukanlah keluargamu. Kenapa kamu masih menganggap mereka paman dan bibimu padahal mereka sudah berlaku sangat kejam padamu?”
Shena kaget karena Leo tahu seluk beluk keluarganya. “Bagaimana kamu bisa tahu? aku tidak pernah menceritakan apa-apa tentang mereka? Bahkan teman-temanku pun tidak tahu?”
“Sayang, kamu lupa siapa aku? Aku tahu semua yang terjadi padamu dari lahir sampai detik ini. Bahkan akupun sangat tahu, bagaimana paman dan bibimu selalu menyikasamu. Kamu bisa datang kemari karena pertolongan dari guru-gurumu di sekolah SMA mu yang dulu. Tidak sulit bagiku untuk mengumpulkan informasi tentangmu.” Leo memeluk Shena dengan erat.
Shena menatap wajah Leo. Cowok itu langsung menyerang bibir Shena dengan lembut. Keduanya saling menyesap bibir masing-masing. Kecupan-kecupan lembut menghujani seluruh wajah dan bagian leher Shena. Mereka berdua menikmati malam yang syahdu bersama.
Lewat tengah malam, Leo baru keluar dari kamar Shena setelah ia memastikan Shena sudah tertidur pulas di kasurnya. Leo meninggalkan kamar calon istrinya sambil tersenyum senang, tapi juga sedikit mencurigakan.
****
Mohon dukungan rate bintang 5 ya ... penulis sempat down karena ada yang nurunin rate, hampir saja hari ini gabut dan nggak bisa up. Tapi sayang banget kalau kisah Leo harus berhenti hanya karena rate turun.
Demi semua yang suka dengan kisah ini, penulis akan usahakan up tiap hari karena sudah akan memasuki konflik utama kisah ini.
Terimakasih bagi yang mau menunggu up selanjutnya dari kisah Shena dan Leo.
Terima kasih juga telah bersedia memberikan like, vote dan komentarnya. Semua itu sangat berarti untuk menambah semangat penulis, love you all.
Salam manis dari penulis♥️♥️♥️♥️
__ADS_1