
Shena tersadar dari pingsannya dan perlahan mulai membuka matanya. Gadis itu memeriksa keadaan yang ada disekelilingnya, karena kondisi terakhir yang dia ingat adalah ada yang tiba-tiba saja membekap mulutnya sampai Shena tidak sadarkan diri.
“Ada di mana aku?” Shena memerhatikan seluruh ruangan di sekitarnya.
Tempat ini tidak sama dengan kamar yang ia tinggali saat berada di rumah Leo. Shena bangun dari ranjangnya supaya ia lebih yakin dengan keberadaannya saat ini.
Ada banyak lukisan raja-raja luar negeri terdahulu yang terpajang rapi di dinding ruangan ini. Benda-benada klasik dan antik juga tersusun rapi di tempatnya. Ruangannya juga sangat luas sama seperti yang ada di ruangan Leo. Hanya saja, desain ruangan ini lebih klasik, tapi tetap lebih megah dan elegan.
Seseorang berseragam putih masuk dan membawakan makanan di atas nampan berwarna emas. “Nona, sudah bangun, silahkan sarapan dulu, setelah itu bersihkan diri Nona.” Pelayan itu meletakkan nampan tersebut di atas meja sambil tersenyum sendiri menatap Shena.
Awalnya, Shena bingung kenapa wanita muda itu menertawainya sampai akhirnya Shena tersadar bahwa dilehernya masih ada bekas tato buatan Leo yang ditinggalkannya di leher Shena.
Sontak Shena kelabakan menutupi lehernya dengan tangan dan mencari-cari sesuatu yang bisa ia kenakan unuk menutupi lehernya. Wanita yang ternyata adalah pelayan rumah ini mengerti gelagat Shena sehingga ia menyodorkan sebuah syal putih agar bisa dipakai Shena.
Shenapun langsung menyambar syal itu dan menutupi lehernya, “Terimakasih,” ucap Shena dengan gugup dan agak sedikit malu juga.
“Sama-sama Nona, tapi ... percuma Nona menutupinya karena semua orang yang ada di istana ini sudah melihat tanda merah-merah itu saat anda di bawa kemari. Tuan dan Nyonya besar pun juga sudah tahu.” Pelayan wanita muda itu tersenyum melihat Shena terjekut mendengar penjelasannya.
“Ap-apa? Tuan dan Nyonya? Maksudmu ... orang tua Leo?” Shena tercengang karena mulai menyadari ada di mana dia sekarang. Rumah yang mirip dengan istana ini adalah rumah orang tua Leo.
Bagus! Matilah aku sekarang, dan ini semua gara-gara Leo. Tunggu! Apa Leo tahu kalau aku ada di sini? Shena bertanya pada dirinya sendiri.
Pelayan wanita itu mengangguk pelan, kemudian mendudukkan Shena di sebuah kursi agar Shena menyantap sarapannya.
__ADS_1
“Silahkan nikmati sarapannya Nona, karena dari kemarin Nona belum makan apa-apa. Oh iya, selamat datang di istana milik keluarga Pyordova.” Wanita itu terlihat ramah dan akrab pada Shena sehingga kecemasan Shena sedikit berkurang.
Hanya saja yang menjadi pikiran Shena adalah, jika memang orang tua Leo ingin bertemu dengannya, kenapa mereka harus repot-repot menculiknya? Bukankah mereka bisa menemuinya langsung atau mengirim seseorang untuk menjemputnya? Kenapa ia malah diculik dari rumah Leo secara diam-diam tanpa sepengetahuan Leo. Saat ini Leo pasti sedang kelabakan untuk mencarinya. Apa reaksi Leo selanjutnya jika cowok itu tahu bahwa yang menculik Shena adalah orang tuanya sendiri?
Apa seperti ini cara gengster memperlakukan calon menantunya? Kenapa aku merasa kalau ada yang tidak beres di sini. Apa Leo sudah tahu kalau aku ada di sini? Ahhhh ... tidak, Leo pasti tidak tahu, jika dia tahu saat ini pasti ia datang menemuiku. Gumam Shena dalam hati sambil menikmati sarapan yang dibawakan pelayan wanita itu.
“Kenapa kamu menatapku? Apa aku terlihat aneh?” tanya Shena yang mulai risih karena pelayan wanita yang entah siapa namanya itu terus saja melihatnya daritadi.
Wanita itu menggeleng, “Tidak ada yang aneh Nona, saya hanya merasa terhormat karena diberi kesempatan untuk melayani Nona, apalagi Nona adalah calon istri tuan muda Leo.” Pelayan itu tersenyum senang. Shena jadi teringat salah satu pelayan Leo yang juga selalu ceria dan senang jika bersama Shena.
“Kalau boleh tahu, ada di mana kita sekarang? Apa Leo juga ada di rumah ini?” tanya Shena penuh selidik untuk mengurangi rasa penasarannya.
Senyum mengembang yang terpancar di wajah pelayan tadi langsung hilang begitu mendengar pertanyaan Shena. “Maafkan saya Nona, saya dilarang berbicara apapun mengenai tempat ini pada Nona, tapi ... nanti Nona akan tahu sendiri. Karena setelah ini, Tuan dan Nyonya besar ingin bertemu dengan anda. Jadi, saya harap anda segera bersiap-siap. Oh iya, panggil saja saya Bela.” Pelayan itu tersenyum manis pada Shena sambil membungkukkan badannya.
Shena semakin bingung dengan situasi ini. ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Keadaan Shena saat ini tidak bisa dibilang disandera atau diculik, karena ia diperlakukan sangat baik di sini. Namun, tetap saja, Sejuta pertanyaan memenuhi kepala Shena, dan jalan satu-satunya untuk menjawab semua pertanyaannya adalah, secepat mungkin bertemu dengan orang tua Leo dan mencari tahu alasan kenapa ia di bawa kemari.
Shena sangat gugup saat akan bertemu dengan orang tua Leo untuk yang kedua kalinya. Meski pertemuan pertama tidak ada yang berkesan, entah kenapa untuk kali ini, Shena benar-benar merasa cemas dan khawatir. Apalagi, tidak ada Leo di sampingnya, kecemasan Shena semakin bertambah 100 kali lipat dari biasanya. Sebab, sampai saat ini Shena masih belum tahu apakah orangtua Leo menyukainya atau tidak, mengingat hubungannya dengan Leo semula berawal dari sebuah keterpaksaan, bukan atas dasar suka sama suka meski sekarang semua itu sudah berubah.
Dari kejauhan, Shena melihat ada sosok laki-laki tinggi memakai setelan jaz hitam sedang berdiri di tengah-tengah balkon aula. Laki-laki itu melihat ke arah danau yang ada di depannya.
Karena terlalu cemas, Shena baru menyadari bahwa istana ini dikelilingi oleh deretan bukit yang indah dan bangunannya ternyata menghadap langsung sebuah danau berwarna biru tua. Sebuah pemandangan langka yang menakjubkan khas negeri dongeng ala Frozen. Shena begitu terpukau sampai ia tidak sadar bahwa kainya sudah sampai juga di balkon yang sama dengan sosok laki-laki yang Shena yakini sebagai ayah Leo. Dari postur tubuhnya,laki-laki paruh baya itu memang mirip sekali dengan Shena.
Laki-laki itu berdiri membelakangi Shena yang masih takjub dengan pemandangan mengesankan di depan matanya.
__ADS_1
Waauw ... tempat apa ini? Indah sekali, aku benar-benar tidak percaya ada tempat menakjubkan seperti ini? Bukit-bukit hijau dan juga pemandanagn danau terindah ala Sigriswil. Apa aku sedang mimpi? Jerit Shena dalam hati.
Ingin rasanya gadis itu melompat dan menari-nari di tempat ini, tapi ia urungkan karena melihat sosok laki-laki tinggi besar itu berbalik ke arahnya.
“Tuan besar, Nona Shena sudah datang,” ujar Bela, pelayan wanita yang menuntun Shena datang kemari.
Laki-laki yang dipanggil Tuan besar itu menatap Shena dengan raut muka datar tanpa ekspresi. “Pergilah!” perintah ayah Leo.
Suara baritonnya yang juga hampir mirip dengan suara Leo membuat Shena semakin terpaku dan tidak berani menatap laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
“Baik, permisi Tuan,” Bela membungkukkan badan dan pamit undur diri tanpa menoleh ke arah Shena. Dalam hitungan detik pelayan itu hilang di balik lorong.
Kecemasan Shena semakin memuncak karena kini hanya ada ayah Leo dan dirinya saja. Suasana canggung menyelimuti hati Shena. Beribu pertanyaan muncul di benak Shena tetapi gadis itu tidak berani mengutarakannya.
Seandainya Leo ada di sini, mungkin aku bisa sedikit bernapas lebih lega. Batin Shena.
“Leo tidak akan datang kemari,” ucap Ayah Leo seolah tahu apa yang ada di pikiran Shena.
Mereka berdua memang ayah dan anak, mudah sekali menebak apa yang aku pikirkan. Atau memang akunya saja yang gampang ditebak? Pikir Shena sambil memainkan jari jemari Shena sendiri agar ia tidak semakin gugup berhadapan dengan calon mertuanya secara langsung.
****
nantikan lanjutan kisah Shena dan Leo selanjutnya ya...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komentarnya...
salam manis dari penulis ♥️♥️♥️♥️♥️