Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
183 Intimidaisi Leo


__ADS_3

Setelah Leo berghibah ria dengan jones ditelepon. Ia pun mencari-cari keberadaan istrinya yang diculik oleh pengantin Roy. Siapa lagi kalau bukan Laura.


Lama juga Leo melacak keberadaan Shena, sampai akhirnya Leo menemukan ada di mana Laura dan Shena sekarang.


Mereka berdua ada di hotel bintang 5 yang nanti malam bakal dipakai sebagai tempat resepsi acara pernikahan Roy dan Laura.


Tanpa pikir panjang, Leo pun langsung meluncur ke gedung tersebut.


Sesampainya di sana, Leo malah tidak diperbolehkan Laura masuk menemui Shena dengan alasan Laura ingin menghabiskan waktunya dengan Shena sebagai hadiah pernikahan sampai acara resepsi tiba.


"Ra, kau kejem amat sih? Aku kangen banget sama istriku, Ra!" Rengek Leo dari luar pintu.


"Salah sendiri, kau itu sudah nyulik Shenaku dari sekian lama. Apa salahnya jika hari ini aku meminta Shena untuk menemaniku sehari saja." Laura dan Shena cekikikan di dalam sambil menyiapkan segala keperluan yang mereka butuhkan untuk nanti malam.


"Baiklah, aku tidak keberatan kalian menghabiskan waktu bersama, tapi izinkan aku melihat istriku sebentar saja."


"Gimana?" tanya Laura yang tidak tega juga mendengar rengekan Leo.


"Sebaiknya aku temui dia sebentar daripada dia nanti kalap dan merusak segalanya. Kamu tunggu disini, oke." Shena bangun berdiri untuk menemui suaminya.


"Ingat apa yang sudah kita rencanakan." Laura mengingatkan Shena soal rencana mereka.


Shena sendiri hanya mengangguk pelan dan bergegas menemui suaminya.


Begitu pintu terbuka, Leo langsung memeluk istrinya dengan erat seolah mereka sudah lama berpisah dan baru dipertemukan kembali.


"Lepaskan aku Leo, aku tidak bisa bernapas," ucap Shena sambil sekuat tenaga melepaskan pelukannya dari Leo


"Oh, maaf Sayang. Aku terlalu merindukanmu. Kamu lama sekali di dalam, apa saja yang kamu lakukan? Apa Laura masih marah?" Leo melepaskan pelukannya dan menatap Shena.


"Sepertinya begitu, aku akan menemaninya sampai ia kelihatan lebih baik." Shena hendak menutup pintunya tapi ditahan oleh tangan Leo.


"Tunggu, Sayang. Bisakah kamu menemaniku sebentar? Sudah dua hari aku tidak makan dan tidak minum gara-gara masalah ini. Aku juga tidak mendapat jatah nutrisi dari kamu. Aku merasa sangat lemah sekali." Leo berakting lemah letih lesu supaya Shena juga iba padanya dan mau menemaninya.


Shena menoleh ke belakang untuk meminta pendapat Laura. Dan Laura pun menatapnya sambil menggunakan kode tangan.


Turuti saja permintaanya, tepat pukul 18.00 kita bertemu lagi di tempat yang sudah kita sepakati tadi. Begitulah arti dari tatapan Laura.

__ADS_1


Shena pun mengangguk dan memeluk tubuh Leo kembali. "Sebaiknya kita pesan kamar sendiri untuk kita berdua." Shena mulai berjalan sambil memeluk pinggang suaminya.


"Aku sudah memesan kamar untuk kita dan ini kuncinya." Leo menunjukkan sebuah kartu pintu kamar hotel pada Shena.


"Kapan kau memesannya?" Shena agak terkejut Leo punya kunci hotel ini.


Artinya, pasti Leo sudah menyiapkan segala sesuatunya dari jauh-jauh hari sebelum pernikahan ini dilangsungkan.


"Beberapa hari yang lalu ketika aku dan Roy menyiapkan semua rencana ini."


Nah kan, benar tebakan Shena. Sekarang, gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Leo memang luar biasa.


****


Leo menutup pintu kamar yang sudah ia pesan dan menguncinya rapat-rapat. Begitu keduanya di dalam, raut wajah Leo berubah menakutkan sekaligus menyeramkan. Cowok itu terus saja menatap Shena lekat-lekat tanpa bicara sepatah katapun.


"Kau ingin makan apa, Sayang? Akan aku pesankan untukmu," tanya Shena sambil melihat sekeliling ruangan tanpa sadar bahwa mata elang Leo sedang memerhatikannya.


"Bagaimana kondisimu dan Leo junior kita?" tanya Leo yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Tentu saja sikap Leo yang seperti ini sangat mengagetkan Shena.


"Aku baik-baik saja. Tadi aku dan Laura banyak sekali makan. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Katanya 2 hari kamu belum makan? Kamu ingin makan apa? Ravioli kesukaanmu?"


Leo menatap Shena dengan kilatan mata yang amat sangat tajam seolah ada hasrat yang terpendam.


"Kenapa ... kamu menatapku seperti itu?" Shena jadi gugup melihat Leo yang tiba-tiba berubah drastis dari sebelumnya. Entah kenapa Shena merasakan firasat buruk dengan tatapan Leo kali ini.


"Katakan padaku, siapa idola kamu? Sebelum bersamaku, kau suka cuci mata dengan Laura melihat konser para idola K-Pop, kan?" Leo mulai menginterogasi Shena.


Deg!


Darimana Leo bisa tahu? batin Shena sambil menelan salivanya.


"Cepat jawab aku, Sayang. Atau aku akan mengunjungi Leo juniorku sekarang juga," ancam Leo.


"Ehm, yang suka K-Pop bukan aku, tapi Laura," jawab Shena dengan jujur.


Laura memang menyukai K-Pop dan idolanya adalah Cha Eun Wo ASTRO. Sedangkan Shena mengidolakan artis China.

__ADS_1


Kebetulan, besok ada konser kolaborasi antara China dan Korea. Kesempatan seperti ini sangat langka. Shena dan Laura bisa bertemu dengan idolanya dalam satu panggung.


Sayangnya, harapan itu sepertinya akan kandas mengingat Leo sudah tahu mengenai idola mereka saat ini.


"Lalu, kamu? Siapa? Selain sepupuku dan teman masa kecilmu? Siapa lagi yang kamu idolakan?" Nada suara Leo masih terdengar menakutkan. Salah bicara saja, sudah bisa dipastikan apa yang akan segera terjadi.


"Ehm, tentu saja kamu, Sayang." Shena harus memutar otak agar Leo tidak tersinggung dengan jawabannya.


"Siapa lagi?" tanya Leo dengan tatapan intimidasi.


"Ayah dan ibu," jawab Shena sambil berusaha bersikap setenang mungkin.


"Siapa lagi?"


Aduh, kenapa Leo jadi serem gini, sih? Bagaimana ini? Kalau sampai dia tahu idolaku, pasti Leo bakal nyincang orang itu.


"Jawab Sayang, aku sudah tidak sabar karena perutku sedang lapar. Katakan siapa lagi idolamu?" Leo mendaratkan sebuah ciuman mesra di leher Shena sehingga membuat Shena jadi mendesah. Bahkan Leo banyak meninggalkan gigitan kecil di leher istri tercintanya.


"Hentikan, Leo aku geli. Bagaimana kalau kita makan dulu, aku janji akan memberitahumu siapa artis idolaku begitu kamu selesai makan." Shena berusaha mengalihkan pembicaraan sekaligus melaksanakan rencana yang disarankan Laura.


"Kamu janji?" tanya Leo.


"Iya, aku janji." Shena mengangkat kedua tangannya sampai membentuk huruf V untuk meyakinkan Leo.


Leo bangkit berdiri dan mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang. "Halo, Rendy ... kau sudah selesai dengan urusanmu?" tanya Leo yang sedang menelpon Rendy.


"Aku sedang mengulitinya." Suara Rendy jadi terdengar mengerikan.


"Kau benar-benar pantas dijuluki sebagai gengster algojo. Kejam dan sadis, huh tapi aku suka dengan orang sepertimu. Cepat lanjutkan pekerjaanmu karena mungkin kita akan segera bertemu dengan Reza. Tapi aku masih menunggu kabar darinya. Kau bilang kau akan memberinya hadiah."


"Tunggu, aku selesaikan dulu hadiahnya. Nanti aku hubungi lagi jika hadiahnya selesai kusiapkan." Rendi menutup teleponnya.


"Dasar psikopat. Untung aku tidak disana, aku bisa muntah lagi jika melihat kesadisan cecunguk itu," gumam Leo.


Shena hanya melongo menatap wajah suaminya.


"Ayo kita pesan makanan sekarang," ajak Leo yang tersenyum simpul menatap ekspresi Shena.

__ADS_1


BERSAMBUNG


****


__ADS_2