Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
Episode 151 Perjanjian


__ADS_3

Setelah berkata demikian, Raython pamit undur diri. Menatap bergantian kepada semua orang yang malam itu memeriahkan makan malam yang ia buat. Cukup sudah pesta itu, kini sudah waktunya membicarakan bisnis.


Saat tuannya berkata pamit undur diri, Jakson segera bangun dari kursinya. Membungkukkan tubuhnya beberapa detik, sebelum kemudian beranjak pergi mengikuti tuannya yang perlahan menghilang di balik pintu ganda ruangan VVIP.


“Apa ucapanku salah, ya?” Shena kembali bertanya. Kali ini raut wajahnya terlihat sedih. Ia merasa telah keterlaluan meledek seorang seperti Raython. Walau bagaimanapun, Raython adalah kunci untuk dapat menemukan orang yang sedang di cari suaminya.


“Tidak, Sayang.” Leo berusaha menghibur istrinya. “Dia memang tidak begitu menyukai acara semacam ini. Jangan khawatir oke, sekarang kamu tahu, kan? Kenapa aku memanggilnya es kimo?” Leo mengecup kening istrinya sembari mendengar yang lainnya beceloteh soal Raython.


“Kak Dimas, kak Anita, setelah ini kalian mau kemana?” tanya Leo untuk mencairkan suasana setelah kepergian Raython selaku tuan rumah acara ini.


“Kami akan pulang, aku sudah tidak betah berada di sini,” jawab Anita.


“Baiklah, kalau begitu, kita bisa ketemu lagi di Indonesia nanti, jangan lupa untuk datang ke pesta resepsiku dan Shena nanti.”


“Oke!” jawab Dimas singkat sambil menikmati hidangannya.


“Kau tidak mengundangku?” tanya Rendy.


“Tentu saja! Undangan ini juga berlaku untukmu. Kabari aku kalau kau pulang ke Indonesia.”


“Tentu! Aku akan langsung ke rumahmu begitu tiba di sana! Sambut kedatanganku dengan meriah!” Rendy meminum wine nya dan mengajak Leo bersulang.


“Tentu,” ujar Leo sambil tersenyum ramah. Ia beralih menatap istrinya kembali yang diam dengan pandanga mata kosong. “Tunggu di sini sebentar, Sayang. Aku akan bicara dengan Raython sebentar.” Leo mengusap lembut rambut istrinya. “Kalian nikmati saja hidangannya.” Leo bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan Raython.


“Kau marah pada istriku?” tanya Leo saat memasuki ruangan Raython.

__ADS_1


Cowok itu berjalan sambil memasukkan satu tangannya ke kantung celana yang ia kenakan dan menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang tempatnya mengisi nutrisi tadi.


“Jakson, ambil semua berkas yang kau kumpulkan.” Raython membuang pandangannya dari Leo.


Leo sendiri berdecak karena heran melihat Raython yang ternyata bisa sebaper ini hanya karena celotehan receh dari mulut Shena.


Dasar manusia es kimo! Batin Leo.


“Berapa korban yang menjadi santapan lezat Ramdani?” Leo menaikkan satu kakinya di atas pahanya. Menatap Raython yang tengah berdiri sambil memandangi jendela kaca besar.


“Puluhan, atau mungkin ratusan.” Tubuh Raython berbalik, berjalan mendekati Leo dan duduk di sofa single bentuk L. “Rumah sakitmu, bukanlah satu-satunya tempat untuk menjadi markasnya. Anak buahku menemukan sebuah panti asuhan yang ia pakai untuk menarik para korban-korbannya.”


“Jangan bilang, dia menjual tubuh anak-anak yang ...”


“Ya, mereka yang dititipkan di panti tersebut adalah calon-calon korban Ramdani. Karena kau tahu sendiri harga organ tubuh anak-anak jauh lebih mahal.”


“Dia bukan manusia. Bahkan dia juga tidak pantas disebut sebagai binatang,” gumam Leo.


Raython memberikan sebuah berkas yang berisi tentang perjanjian keduannya. “Aku sudah memenuhi apapun yang kau inginkan, sekarang giliranmu!”


“Apa ini?” tanya Leo sambil membuka berkas-berkas yang diberikan Raython padanya.


“Baca saja!”


Leo membaca berkas-berkas itu. Setelah selesai membacanya, Leo hanya tersenyum simpul dan menatap Ray. “Aku ada satu syarat untukmu sebelum aku menandatangani perjanjian kita ini.”

__ADS_1


Raython menatap tajam Leo, ia tersenyum sinis pada putra salah satu koleganya yang memang aneh dan unik ini. “Apa? Aku tidak akan memberitahu Shena kalau kau pernah berkencan dengan wanita seksi yang ada di foto itu.”


Leo tertawa getir. “Keluargaku sudah membunuh ayah beserta seluruh anak buahnya dari wanita seksi yang kau sodorkan padaku ini. Shena juga mengenalinya. Aku bahkan sudah pernah menggampar wajah wanita ini dua kali karena sudah berani menyentuh Shena. Jadi, bukan ini yang aku minta.”


“Oh iya? Wauuuw, ku kira otakmu itu cuma berisi mesum dan vulgar saja. Ternyata kau bisa sadis juga rupanya.”


“Jangan memujiku terlalu berlebihan tuan es kimo! Kau jauh lebih mengenal ayahku dan keluargaku lebih dari yang lainnya. Tapi sejujurnya, aku senang ayahku memliki kolega sepertimu yang berbeda dengan para koleganya yang lain.”


“Katakan apa syarat yang kau inginkan!” tanpa Raython sadari, ia juga tertarik dengan kepribadian Leo yang sulit ditebak, dibalik sifatnya yang nggak punya akhlak dan tak punya saraf malu. Ada sisi jiwa gengster yang luar biasa tersimpan dalam diri Leo. Dan tentu saja, itu adalah warisan dari ayahnya, Byon Pyordova.


“Pastikan Ramdani dan semua komplotannya, tak lagi mengganggu keluargaku lagi. Jika sampai itu terjadi, maka perjanjian kita batal,” tegas Leo sambil mengangkat berkas yang ia bawa dan meletakannya di meja sembari menunggu keputusan dari Raython.


Raython tak bergeming dari posisinya dan mengamati berkas yang diletakkan Leo. “Oke! Akan aku pastikan dia tidak akan berani mengganggu keluargamu. Kau senang sekarang?”


“Oke!” Leo mengambil berkas itu dan menandatanganinya. “Baiklah, tuan es Kimo. Urusanku di sini sudah selesai. Sekarang aku harus ke Swiss untuk bertemu dengan kakakku, Refald. Senang bisa bertemu denganmu dan maaf atas semua kekacauan yang sudah aku buat, termasuk kata-kata Shena yang terlalu pedas untukmu. Biasanya dia tidak seperti itu, mungkin saja karena dia sedang hamil, jadi dia ...”


“Tertular sifatmu. Aku khawatir anak kalian nanti akan jauh lebih parah darimu!” Raython memotong kata-kata Leo.


“Aku sangat menantikan hal itu tuan es Kimo! Dan saranku jangan pernah jatuh cinta. Karena jika playboy jatuh cinta, maka akan jadi gila sepertiku!” Leo tertawa seolah menertawai dirinya sendiri.


“Itu tidak akan terjadi, karena aku sangat berbeda denganmu! Selamat untukmu karena sebentar lagi, kau akan jadi ayah!”


“Terimakasih!” Leo menjabat tangan Raython dan mereka pun berpisah. “Aku menunggu kedatanganmu ke Indonesia! Jangan lupa hubungi aku segera setelah kau tiba disana!” teriak Leo dari balik pintu sebelum dia benar-benar menghilang.


“Dasar bocah tengik! Tapi dia hebat juga, diusianya yang masih muda sudah akan menjadi ayah, huh!” Raython tersenyum sendiri menatap jendela ruangannya.

__ADS_1


****


__ADS_2