
Laura tidak langsung masuk ke dalam rumah begitu Roy berlalu pergi setelah mengantarnya pulang. Gadis itu mengambil kunci mobilnya dan keluar menuju tempat kos Shena yang dulu dengan harapan, ia bisa menemukan Shena di sana.
Saat Laura turun dari mobilnya, Shena melihat pintu kamar kos Shena masih tertutup rapat. Namun, ia tetap mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamar kos yang pernah di huni Shena tanpa tahu bahwa Shena sudah lama di usir dari tempat ini.
“Cari siapa Neng,” tanya emak-emak rempong pemilik kosan yang sudah dibebaskan Leo dari penjara. Hanya saja, surat-surat tanahnya, masih belum selesai diurus karena Shena mendadak hilang.
“Saya mencari Shena, Bu. Apa dia ada di dalam?” tanya Laura.
Emak-emak itu langsung menunduk, ekspresinya terlihat sedih seolah-seolah ia merasa sangat bersalah.
“Nona Shena sudah tidak tinggal di sini lagi, Neng. Mungkin sekarang dia bersama dengan tuan muda Leo.” Jawaban emak-emak pemilik kosan langsung membuat Laura tercengang.
Emak-emak itu terlihat aneh kalau memasang ekspresi sedih seperti itu. Padahal selama ini, setahu Laura, ia terkenal sebagai orang yang paling judes di sini. Laura juga pernah memergoki emak-emak ini memarahi anak kosnya jika telat membayar kosan. Tapi sepertinya, sikap emak-emak ini memang sedikit berubah, penampilanya juga berbeda, hampir saja Laura tadi tidak mengenalinya. Kali ini, emak-emak itu lebih kalem dari biasanya.
Kerasukan setan apa emak-emak ini sampai memanggil Shena dengan sebutan ‘Nona’ dan Leo dengan sebutan ‘Tuan’. Apa emak-emak ini habis lihat film Angling Dharma dan membayangkan mereka berdua adalah pemainnya? Apa yang sudah dilakukan Leo dan Shena pada emak-emak ini. Pikir Laura heran karena sikap pemilik kosan seolah memuliakan Shena dan Leo dengan memanggil mereka ‘nona’ dan ‘tuan’.
“Ehmmm ... jadi Shena tidak akan kembali lagi kemari? Apa barang-baarangnya sudah ia pindahkan juga?”
__ADS_1
Emak-emak itu menggeleng. “Saya tidak tahu Neng, saya juga menunggu kedatangan Nona Shena untuk meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan padanya.” Emak-emak itu menceritakan kronologi singkat saat ia mengusir Shena sehingga membuat Shena hampir saja meregang nyawa karena ulahnya, plus pembalasan Leo pada dia dan seluruh keluarganya serta teman-temannya. Apa yang sudah Leo lakukan sudah membuatnya sadar bahwa dirinya memang telah banyak bersalah pada Shena.
Laura sampai menganga tak percaya. Selama ini ia sudah ketinggalan berita jauh tentang sahabat dekatnya. Sebenarnya, Laura bertanya-tanya alasan kenapa Shena bisa sampai diculik dan terkena luka tembak hingga ia harus dirawat intensif di rumah sakit saat itu. Laura pikir itu semua gara-gara Leo. Tapi ternyata, itu gara-gara emak-emak rempong ini. Shena shock karena sebagai sahabatnya, ia tidak tahu apapun yang terjadi pada Shena. Dia terlalu sibuk mengurusi Roy yang ternyata sama sekali tidak mencintainya.
Ini semua gara-gara Roy breengsek itu! Gara-gara dia aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada sahabatku! Kau benar-benar bukan sahabat yang baik untuk Shena, Laura. Bodohnya dirimu yang terlalu diperbudak oleh cinta palsu Roy itu. Laura merutuki dirinya sendiri.
“Apaaaa ... yang terjadi dengan Nona Shena, Neng. Kalian kan sahabat dekat? Kenapa kamu malah mencari Nona Shena kemari?” tanya emak-emak rempong itu sehingga membuat Laura jadi semakin bersalah pada Shena.
Laura tidak langsung menjawab dan malah mengeluarkan kertas kecil dan bulpoin lalu mencatat nomer ponselnya untuk diberikan pada emak-emak rempong itu. “Jika Shena datang kemari, cepat hubungi saya di nomer ini. Saya permisi dulu. Tolong bantuannya.” Laura langsung masuk ke dalam mobilnya setelah memberikan kertas itu pada pemilik kosan yang bingung dengan Laura.
Laura tidak tahu harus pergi kemana untuk mencari Shena. Semua teman-teman sekelas Shena sudah ia tanyai satu persatu, tapi tetap saja mereka semua tidak ada yang tahu di mana Shena berada saat ini. Kekhawatiran dan kecemasan Laura semakin memuncak ketika tiba-tiba ada telepon dari nomer tak dikenal masuk ke ponsel Laura. Gadis itu menghentikan mobilnya dan mengangkat telepon itu.
“Halo, siapa ini?” tanya Laura.
“Ra, ini aku, Shena,” jawab seseorang yang tidak lain adalah Shena dari seberang sana.
Laura langsung terperanjat mendengar suara sahabatnya. “Shena? Ini benaran kamu? Ini bener-bener kamu, kan? Halo? Shena?” teriak Laura saking paniknya sekaligus senang juga karena ia masih bisa mendengar suara Shena lagi.
__ADS_1
"Ini aku," jawab Shena lagi.
****
penulis kasi visual Leo dan Shena lagi ya ...
Leo yang lagi mikirain Shena.
Shena yang lagi mikirin Leo 😎😎😎
nantikan kisah yang lebih seru lagi ya ...
terimakasih atas semua dukungannya ..
__ADS_1
salam manis dari penulis ♥️♥️♥️♥️♥️