
Laura langsung berlari sambil berlinang air mata begitu mendengar apa yang terjadi dengan Roy. Meski dalam keadaan sakit, ia memaksakan dirinya masuk ke ruangan di mana Roy berada. Gadis itu melangkah maju mendekati tubuh Roy yang terbaring kaku di ranjang rumah sakit dengan mata terpejam.
Dengan tangan gemetar, Laura memegang lembut pipi Roy, mantan pacar yang masih sangat ia cintai ini terlihat pucat di ranjangnya. “Roy,” isak Laura. Bibirnya gemetar saat menyebut nama mantannya.
Shena yang berdiri di belakang Laura, hanya bisa diam dan ikut meneteskan air mata, tangan kiri Shena digenggam erat oleh Leo. Shena tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan Laura saat ini. Karena ia sendiri pasti tidak akan sanggup jika hal yang sama terjadi pada dirinya. Kehilangan orang yang dicintai, sama halnya seperti bom atom yang siap jatuh diatas kepalanya.
“Roy, kau dengar aku?” Laura masih saja menangis sampai suaranya terdengar parau. “Buka matamu, Roy. Kenapa kau hanya diam saja? Jawab aku! Kau ingin kita menikah bukan? Baik, kita akan menikah. Sekarang bukalah matamu. Jangan menakutiku seperti ini! Cepat buka!” Laura menggoyang-goyangkan tubuh Roy sambil menangis tersedu-sedu. Tapi, tubuh orang yang ada di depan Laura masih saja belum bergerak.
“Roy!” Laura masih belum bisa menyerah untuk membangunkan Roy. “Kau mau pergi meninggalkan aku begitu saja? Kau baru saja melamarku tadi! Dan sekarang kau mau pergi? Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Jika kamu masih tidak mau membuka matamu, Maka aku pun akan menyusulmu! Kau dengar aku!” teriak Laura. Tetap saja tidak ada balasan, mata Roy tetap terpejam.
Laura yang menyadari bahwa usahanya membangunkan Roy sia-sia, mulai menegakkan tubuhnya, dan membulatkan tekadnya. “Baik,” ucap Laura sambil berlinang air mata. Dan ia pun segera mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Kau tidak mau bangun, kau sudah pergi meninggalkanku bahkan sebelum aku menjawab lamaranmu. Kau jahat! Kau benar-benar jahat padaku!” teriak Laura diatas tubuh Roy. “Kalau begitu, tunggu aku! Aku akan segera menyusulmu!” Laura berlari ke arah jendela ruangan dan hendak melompat dari jendela itu begitu jendelanya terbuka. Tapi Shena berhasil mencegah sahabatnya berbuat bodoh dengan menarik tubuh Laura dengan paksa agar ia tidak bisa melompat.
“Tidak! Laura! Apa yang kau lakukan!” teriak Shena sambil menahan tubuh sahabatnya agar tidak bisa melompat keluar.
“Lepaskan aku, Shena. Aku akan menyusul kepergian, Roy! Untuk apa aku hidup jika dia tidak ada lagi disisiku!” Laura balas berteriak. Angin sepoi berhembus kencang menerjang dua wanita yang bersahabat dekat itu.
Dengan sekuat tenaga, Shena menarik tubuh sahabatnya sampai keduanya akhirnya sama-sama terjatuh di lantai. Shena langsung bangun dan memeluk tubuh sahabatnya yang kini sedang shock berat mengetahui apa yang terjadi pada orang yang dicintainya sekaligus mencegah agar Laura tidak berbuat nekat lagi.
“Kamu tidak bisa melakukan itu, Ra! Bagaimana denganku? Apa yang harus aku lakukan jika kamu juga meninggalkanku! Kamu tidak memikirkan aku? Kamu tidak memikirkan ayahmu? Apa yang akan terjadi padanya jika kamu pun meninggalkannya? Dua wanita yang paling berharga dalam hidup ayahmu meninggalkannya sendirian di dunia ini! Pikirkan itu!” Shena menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh Laura.
Kata-kata Shena bagaikan tamparan keras untuk Laura. Apa yang diucapkan sahabatnya itu ada benarnya. Tindakan bodoh Laura untuk mengakhiri hidupnya demi bisa menyusul Roy ternyata malah akan lebih membuat orang-orang yang dicintainya menderita. Kini gadis itu sadar dan ikut menangis sejadi-jadinya dipelukan Shena. Keduanya pun menangis bersama-sama. Shena tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya saat ini. Ia pun rela berbagi kesedihan dengan Laura, mengeluarkan seluruh isi hatinya dan mencurahkan semuanya sambil menangis bersama-sama.
Namun, ada pemandangan yang berbeda disela-sela suasana sedih yang mengharu biru antara Shena dan Laura. Leo hanya berdiri diam sambil melipat tangannya di sisi tempat tidur Roy dengan ekspresi berbanding terbalik dengan istrinya, sama sekali nggak ada sedih-sedihnya.
__ADS_1
“Oey, Roy! Puas lo bikin istri gua nangis kayak gitu, ha! Nangisin elo, lagi! Mau gua bogem lo, ha!” geram Leo yang sedang memelototi Roy.
“Sorry, gua nggak nyangka bakal sedramatis ini!” Roy cuma meringis kuda. Cowok itu bangun dari tempat tidurnya dan bersandar disandaran ranjangnya.
Dua wanita yang tidak sadar kalau ternyata mereka sedang dikerjai oleh Roy bingung sekaligus tidak mengerti dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Roy sudah membuka matanya dan menyaksikan keduanya berpelukan di lantai. Tidak hanya itu, laki-laki itu bahkan juga bisa duduk bersandar. Tentu saja Laura dan Shena langsung bangun tegak berdiri tak percaya.
Laura berlari ke arah Roy dan langsung memeluk tubuh pria itu. “Kau masih hidup? Kau tidak mati? Benar kau masih hidup?” tanya Laura masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat ini. Roy benar-benar masih hidup.
“Tentu saja aku masih hidup. Siapa yang bilang aku mati?” Roy menyeringai senang karena kini ia tahu kalau Laura sangat mengkhawatirkannya bahkan ia rela akan menyusul Roy jika memang benar cowok itu mati.
“Tunggu, jadi kau mengerjaiku?” tanya Laura yang baru sadar kalau dirinya sedang dikibuli.
“Kenapa kau lakukan itu, ha!” teriak Laura sambil memukul-mukul bahu Roy.
“Aaauuww! Sakit, Laura!” erang Roy karena Laura memukul bagian yang habis dioperasi karena luka tembak.
“Maaf, aku tidak sengaja, sakit banget, ya?” tanya Laura penuh khawatir.
“Sakitlah, yang kau pukul adalah luka tembaknya! Kalau sampai aku pendarahan bagaimana?” Roy pura-pura marah tapi ia tidak tega karena melihat Laura kembali berlinang air mata. Cowok itu merentangkan salah satu tangannya untuk memeluk tubuh Laura karena tangan kirinya masih disangga perban. “Jangan menangis lagi oke. Aku terpaksa bersandiwara mati karena kau tidak mau menikah denganku. Tapi aku senang, kini aku tahu kalau kau juga sangat mencintaiku.” Roy tersenyum manis pada Laura.
“Dasar gila kau, Roy!” teriak Shena yang daritadi sudah menahan emosi karena secara otomatis ia juga tertipu oleh sandiwara yang Roy mainkan untuk Laura. “Bisa-bisanya kau membodohiku, ha! Leo saja tidak pernah membuatku menangis sampai seperti ini! Akan aku bunuh kau sekarang juga!” Shena yang sudah mengeluarkan sepuluh tanduknya hendak menghampiri Roy dan memberi pelajaran cowok itu karena sudah membuatnya menguras emosinya. Namun, belum sempat Shena menjangkau Roy, tiba-tiba saja Leo menggendong tubuh Shena dari belakang dan membawanya keluar dari ruangan Roy sebelum istrinya itu benar-benar ngamuk. “Lepaskan aku, Leo! Akan aku beri kampret itu pelajaran! Dia benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia mengerjai ku dan Laura dengan pura-pura mati seperti itu!” Teriak Shena dan berusaha berontak dari gendongan suaminya.
__ADS_1
“Tidak! Lebih baik kita jangan ganggu mereka. Kita pergi ke kamar dan main bulan tertusuk ilalang lagi saja. Kamu sedang emosi, lampiaskan semuanya padaku di atas ranjang kita!” itulah jawaban Leo yang terdengar samar-samar dari luar ruangan Roy dan Laura.
“Mereka berdua pasangan yang aneh,” gumam Laura.
“Leo hanya sedang berusaha buat anak dengan Shena.” Roy malah terkekeh.
“Kau jangan seperti Leo,” ancam Laura.
“Tidak! Aku berbeda dengannya. Leo gila, sedangkan aku masih waras,” Roy menyapu bersih bibir Laura seketika sehingga gadis itu terkejut. Setelah itu, Roy kembali berbaring dengan hati lega dan perasaan bahagia yang tak terkira. Roy menarik tubuh Laura agar ikut berbaring diranjangnya. “Temani aku, aku ngantuk sekali,” gumam Roy sambil memeluk tubuh kekasihnya. “Aku sangat mencintaimu, Laura. Aku tidak akan mati meninggalkanmu sendirian. Mulai sekarang, kita akan bersama-sama selamanya,” ucap Roy sebelum ia benar-benar terlelap.
Laura pun hanya bisa tersenyum menatap wajah Roy. “Aku juga mencintaimu.” Laura mengecup pelan bibir Roy dan ikut tertidur dipelukannya.
****
Dilarang baper!
Terus dukung penulis dengan like, vote dan komentarnya ya ... jangan bosan menunggu up selanjutnya, love you all.
__ADS_1