
Xukun terhuyung ke belakang akibat pukulan keras dari Byon. Laki-laki itu agak sedikit terkejut karena tiba-tiba ia diserang oleh orang yang tidak ia kenal. “Siapa kau? Kenapa tiba-tiba memukulku?” tanya Xukun, ia tidak ingin membalas karena pria yang memukulnya jauh lebih tua darinya.
“Dasar anak tak tahu diri!” teriak Byon menggelegar. Suara baritonnya membuat siapa saja yang mendengarnya jadi sakit telinga. “Kau bahkan pura-pura lupa pada ayahmu sendiri, ha!” Byon hendak melayangkan tinjunya pada Xukun tapi langsung dihadang dengan cepat oleh kekasihnya, Xaio Lung.
“Hentikan, Tuan!” sergah wanita cantik itu.
“Minggir kau, jalang!” bentak Byon.
Xukun yang tidak terima wanitanya disebut jalang langsung ikut naik pitam. “Jaga bicaramu, Tuan!” suaranya sudah mulai meninggi.
“Apa? Dasar berengsek, kau! Mulai sekarang kau bukan anakku lagi!” Byon ingin menyerang Xukun tapi lagi-lagi tangannya dihalau oleh Xiao Lung.
“Tuan, anda salah paham, dia bukan putra Tuan, ia artis papan atas China, namanya Cai Xukun!” Xiao Lung mencoba menjelaskan.
Alih-alih terkejut mendengar penjelasan kekasih Kun, Byon malah tertawa kemekal. “Kau pikir aku percaya dengan karangan ceritamu untuk menutupi kesalahannya? Minggir, kau! Akan aku bunuh baajingan tengik itu!” suara Byon masih menggelegar penuh amarah. Ia sama sekali tidak menyangka Leo bakal bertindak segila ini. Walau kenyataannya, Byon memang salah paham.
“Tuan, percayalah! Tolong lihat baik-baik, apa benar laki-laki yang ada dibelakangku ini putra Tuan atau bukan. Jika benar ia adalah putra Tuan, maka aku bersedia mati ditanganmu.” Xiao Lung terlihat serius dengan ucapannya.
Kata-kata Xiao Lung, berhasil menghentikan amarah Byon. Pria paruh baya itu mulai menurunkan tangannya dan mengamati wajah Xukun dengan baik. Memang agak sedikit berbeda dari Leo yang biasanya, tapi Byon harus memastikannya sendiri. Ia berjalan pelan mendekati Xukun yang berdiri tegap didepannya. Wajah tampan artis itu langsung benyok akibat pukulan darinya tadi.
Sebelum Byon benar-benar memastikan siapa laki-laki yang ada dihadapannya ini, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu berasal dari nomer Leo, putranya yang asli. Mata Byon langsung terbelalak tak percaya.
“Ada apa ini?” tanyanya, Byon tetap menatap wajah Xukun lekat-lekat.
“Angkat saja Tuan, itu pasti dari putramu yang asli. Seperti yang anda lihat, aku tidak membawa ponsel.” Xukun mengangkat kedua tangannya.
Byon pun juga penasatan, untuk membuktikan semuanya, ia harus mengangkat telepon dari putranya.
“Halo,” jawab Byon. Pandangan matanya, tak pernah lepas dari Xukun, begitu juga sebaliknya.
“Ayah! Kau dimana?” tanya Leo dari seberang sana.
Deg!
__ADS_1
Seketika Byon shock mendengar suara putranya sendiri. Sedangkan orang yang ia kira Leo tidak bersuara sedikitpun.
“Dikamarmu!” jawab Byon dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan saking shocknya.
“Dimana?” Leo terdengar bingung.
“Didepanmu!” jawab Byon ambigu.
“Ayah! Apa yang Ayah katakan? Aku tidak melihat ayah dimana-mana. Halo? Ayah! Kau dengar aku!”
Byon mematikan sambungannya sambil terus menatap wajah Xukun yang sangat mirip dengan putranya. “Tidak mungkin. Kalian berdua benar-benar mirip, bagaimana bisa? Siapa kau?” tanya Byon kemudian.
Xukun tidak menjawab, laki-laki itu hanya diam menatap tajam mata Byon Pyordova.
****
Sementara Leo jadi bingung dan heran dengan sikap ayahnya yang tiba-tiba saja menutup teleponnya tanpa sebab. Ia ingin pergi mencari ayahnya tapi tidak tega meninggalkan Shena yang msih belum sadar juga. Sedangkan Roy dan Laura sedang pergi keluar untuk mencari makan.
“Sayang, bangunlah. Jangan membuatku khawatir. Sudah lebih dari dua jam kamu belum sadar juga. Buka matamu, Sayang. Aku sangat merindukanmu.” Leo mengusap lembut rambut istrinya sambil mencium keningnya.
“Kamu sudah sadar, Sayang. Aku sangat mencemaskanmu.” Leo tak henti-hentinya mencium punggung tangan Shena. “Kenapa kamu menangis?” Leo mengusap lembut sisa bulir air mata Shena. “Apa yang kamu rasakan? Katakan padaku?”
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir lagi, oke.”
“Kamu tidak baik-baik saja. Aku suamimu, aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, karena aku juga bisa merasakannya. Sama halnya denganmu, Sayang. Akupun sangat marah begitu aku tahu orang itulah yang sudah membunuh mertuaku. Selama hidupku, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku sudah lama menantikan semua ini, Sayang. Sebenarnya aku tidak ingin kamu tahu dan ikut terlibat karena inilah yang aku takutkan. Kamu jadi shock berat, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai.” Leo mencium lembut bibir Shena dan kembali menggenggam erat tangannya.
Shena semakin menangis, air matanya tak bisa berhenti mengalir. Leo berganti tempat agar bisa memeluk tubuh istrinya, sebisa mungkin Leo berusaha menenangkan Shena.
“Aku sangat membencinya Leo, orang itu ternyata adalah orang yang membuat orangtuaku meninggalkan aku sendirian, orang itu ... aku ... aku sangat membencinya. Bagaimana bisa dia tega mendorong mobil orang tuaku masuk ke dalam jurang? Apa yang ada dalam pikirannya? Apa dia tidak punya hati? Apa dia tidak berpikir bagaimana kalau hal itu terjadi juga pada keluarganya? Aku tidak habis pikir ada orang sejahat dia!” Shena masih menangis dalam pelukan suaminya.
“Aku tahu Sayang, karena itu aku berjanji padamu akan aku buat hidup orang itu menderita sampai ia sendiri lupa bagaimana caranya tertawa. Jangan pikirkan orang itu lagi, fokuslah pada kesehatanmu dan Leo junior kita. Lihatlah, perutmu semakin lama semakin membuncit, dan kamu semakin terlihat seksi.” Leo berusaha membuat Shena melupakan peristiwa yang bisa membuatnya sedih.
Jika Shena terlalu larut dalam kesedihan maka hal itu tidak baik untuk kesehatan Shena. Secara otomatis, berpengaruh juga pada janin yang dikandung Shena. Dan Leo tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
Shena mengusap lembut perutnya yang memang mulai terlihat buncit, ia tersenyum bahagia menatap wajah suami tampannya yang begitu mencintainya. Apa jadinya Shena jika Leo tidak ada disisinya. Meskipun banyak hal yang sudah terjadi, saat ini Shena merasa gembira kerena memiliki suami seperti Leo yang tidak ada tandingannya di dunia ini.
“Kamu benar, Sayang. Aku memang harus fokus pada kesehatanku dan buah hati kita. Aku memang sedih, tapi aku juga bahagia karena sebentar lagi kita akan menjadi orang tua.” Shena memantapkan hati untuk mengesampingkan luka hatinya ketika kehilangan kedua orangtuanya untuk selamanya. Sebisa mungkin Shena harus tetap tegar dan terus menjalani kehidupan yang penuh cinta bersama dengan suaminya.
“Terimakasih Sayang, karena sudah menyelamatkan aku untuk kesekian kalinya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya kamu tidak ada disana. Kau adalah malaikat pelindungku.” Lagi-lagi, Leo mencium kening Shena.
“Sama-sama. Aku senang bisa menjadi pelindung suamiku.” Shena menenggelamkan kepalanya dipelukan Leo.
“Kamu sudah tidak sedih lagi?” tanya Leo sambil membelai lembut pipi istrinya.
“Jika kamu tidak ada disini mungkin aku akan sedih.”
Leo tersenyum dan hendak mencium bibir pucat Shena. Sayangnya, sebelum niatnya itu kesampaian, pintu ruang inap Shena tiba-tiba saja terbuka dan membuat orang yang melihat keduanya jadi salah tingkah.
Laura dan Roy langsung terpaku melihat adegan romantis ala Leo dan Shena di atas ranjang rumah sakit.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan di jam seperti ini?” tanya Laura tanpa bisa berkedip menatap sahabatnya berada dalam terkaman harimau Leopard.
“Jangan bilang, kalian mau membuatkan adik untuk anak kalian yang belum lahir.” Roy semakin memperkeruh suasana.
Bukannya malu karena aksinya ketahuan, Leo malah semakin merekatkan pelukannya pada Shena dan mencium Shena tepat di depan kedua sahabatnya. Tentu saja hal itu membuat pasangan suami istri yang baru saja menikah jadi emosi tingkat tinggi melihat kegilaan Leo yang memang terkenal dengan julukan ‘gengster nggak ada akhlak’.
“Huh, Dasar! Aku tidak tahan ada di sini! Sebaiknya aku keluar mencari udara segar! Disini pengap sekali” tukas Laura sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Gadis itu langsung pergi meninggalkan ruangan Shena.
“Kau sinting, Leo!” gumam Roy. Ia pun mengejar kepergian istrinya.
Leo tertawa keras setelah puas melihat wajah shock Laura dan Roy. “Kamu lihat wajah mereka tadi, Sayang? Sangat lucu sekali!” Leo semakin tertawa terbahak-bahak.
“Yang mereka berdua katakan memang benar, kamu sudah gila!” Shenapun setuju dengan pendapat temannya soal Leo.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1