
Para pengawal Leo masuk ke dalam ruangan Laura secara tiba-tiba dan berjaga-jaga untuk melindungi Shena dan sahabatnya dari hal-hal yang tidak diinginkan mengingat Leo sekarang sedang menghadapi bahaya karena ada seseorang yang berusaha mencelakainya. Untungnya, ayah Laura sedang tidak ada di tempat. Kalau ada, mungkin dia akan menjadi panik sama seperti Laura saat pertama kali melihat adegan menegangkan saat pesta pernikahan Shena dan Leo yang membuatnya harus masuk rumah sakit ini.
“Ada apa ini, dimana Leo?” tanya Shena yang terlihat bingung karena pengawal Leo datang bersenjata lengkap ala densus 88 dan langsung berdiri tegak di sisi jendela untuk memeriksa keadaan. Sedangkan sisanya membimbingnya ke tempat yang jauh dari jangkauan jendela kamar. Tempat tidur Laura juga perlahan digeser dari posisinya semula.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Shena karena mereka semua sedang fokus pada satu hal dan berpusat di jendela yang tadi sempat ditatap tajam oleh mata Leo.
Dugaan pengawal itupun benar, dari kejauhan, tepatnya di gedung seberang sudah ada seorang penembak jitu yang siap menembak Shena dan Laura yang berada dalam ruangannya. Ketika peluru ditembakkan, para pengawal Leo dengan sigap menyingkirkan keduanya dari target tembakan dan balas menyerang untuk membunuh penembak jitu itu.
Dor!
Dor!
Tembakan pertama gagal, penembak jitu itu masih bisa selamat dari tembakan para pengawal Leo. Penembak jitu yang tahu kalau target tembakannya juga masih selamat berusaha melarikan diri sebelum ia ketahuan, tapi belum sempat ia lari dan turun dari gedung, salah satu pengawal Leo sudah mengepungnya sehingga penembak jitu itu tidak bisa kabur kemana-mana alias tertangkap.
Shena yang panik dengan kejadian tadi langsung memberondong pertanyaan pada pengawal Leo. “Apa yang terjadi? Di mana suamiku? Kenapa ada orang yang mencoba membunuh kami? Jelaskan padaku! Ada apa ini?” tanya Shena.
“Tuan muda Leo sedang ada urusan penting, Nyonya. Beliau menyuruh kami untuk menjaga Nyonya dan nona Laura dari ancaman musuh.”
“Kenapa ia tidak datang sendiri melindungiku! Dasar gengster!” Shena marah sekali pada Leo karena ia tidak memberitahunya kalau bakal ada bahaya di sini. Shena mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Telepon pun tersambung dan Shena sangat terkejut ada suara keributan saat Leo mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Halo, Sayang! Ada apa?” tanya Leo sambil memukul kepala preman yang berusaha menyerangnya.
“Kenapa berisik sekali? Kamu ada di mana?” tanya Shena penasaran.
“Sudah ku bilang, aku sedang membereskan kecoak tidak berguna ini. Sebentar lagi selesai, dan aku akan kesana. Kamu baik-baik saja, Sayang?” tendangan kuat Leo tujukan pada Preman yang berusaha menyerangnya saat ia sedang sibuk bertelepon ria dengan istrinya.
Para preman itu terus-terusan mengambil kesempatan untuk menyerang Leo selama ia sibuk bicara dengan Shena ditelepon.
“Ada yang berusaha menembakku?” jawab Shena tanpa tahu bahwa suaminya yang bertelepon dengannya sedang dikepung banyak preman.
“Oh iya? Apa kamu baik-baik saja? Bukankah di sana ada pengawalku yang melindungimu, Sayang?” Leo menangkis serangan dari musuh hanya dengan satu tangan.
“Aku akan kesana begitu urusanku di sini selesai, Sayang. Jangan marah, oke! Aku mencitaimu.” Satu bogem mentah mengenai kepala preman yang berusah mendekati Leo. Kali ini Leo agak sedikit kualahan karena ia harus menghajar para preman sambil bertelepon dengan Shena.
Dan yang membuat Leo naik pitam adalah, ponsel Leo terlempar jauh akibat pukulan preman sehingga sambungan teleponnya dengan Shena tiba-tiba saja terputus.
“Haisssh, breeengsek kalian! Berani-beraninya kalian menggangguku saat aku berbicara dengan istriku, ha!” sebuah tinju keras mengenai wajah siapapun yang menyerang Leo.
Pukulan dan tendangan kuat ia hujamkan berkali-kali lipat pada setiap preman yang menyerangnya tanpa ampun. Bila tadinya Leo hanya menggunakan satu tangan untuk menghajar para preman itu, kali ini Leo menggunakan kedua tangannya silih berganti untuk membantai semua preman yang sudah merusak ponsel dan memutus sambungan teleponnya dengan Shena dengan membabi buta.
__ADS_1
Hanya dalam hitungan detik para preman yang jumlahnya puluhan itu terkapar dilantai tak berdaya akibat serangan gila dari Leo. Padahal cowok itu tidak menggunakan senjata apapun. Roy yang melihat sahabatnya kalap seperti sedang kerasukan setan pun hanya geleng-geleng kepala karena ia sendiri juga sudah membereskan para peman yang tersisa.
“Selesai!” ucap Leo sambil merapikan kembali rambutnya. Ia memerhatikan para preman-preman yang mengerang kesakitan dan tak sedikit dari mereka sudah pingsan. “Hah, aku ingat. Tenyata mereka semua adalah preman yang dulu hampir saja mencelakai Shena. Tidak ku sangka akhirnya bisa bertemu lagi di sini.” Leo menatap tajam semua preman yang tak berdaya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Roy.
“Tinggalkan saja mereka, para pengawalku yang akan mengurus para kecoak ini. Sepertinya aku harus segera kembali ke rumah sakit. Aku tidak ingin Shena marah karena sambungan teleponnya terputus tiba-tiba.” Leo merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan akibat perkelahian tadi. Ia juga menyisir rambutnya dengan tangan agar tak terlihat berantakan. “Bagaimana? Apa aku terlihat tampan lagi?” tanya Leo pada Roy yang tersenyum sinis melihat tingkah konyol sahabatnya ini.
“Kau gila!” jawab Roy sambil membuka pintu mobil dan duduk di bangku kemudi. “Ayo cepat, Shena pasti menunggumu! Kau bisa kehilangan jatah jika datang terlambat,” teriak Roy pada Leo yang masih asyik merapikan penampilannya.
“Hah, kau benar,” Leo bergegas naik ke dalam mobil dan pergi meninggalkan gedung tua ini untuk menyusun rencana selanjutnya.
****
maaf buru-buru ... kalimatnya mungkin belibet gak karuan . tapi nanti aku revisi lagi kalau senggang .. visual menyusul ya .. love you all .. semoga kalian semua suka ...
Shena yang lagi telepon suaminya, Leo xixixi
__ADS_1