
Tepat saat akan memasuki pintu rumah, ayah dan ibu Leo baru saja keluar dari mobil limosin mereka. Shena sendiri langsung melompat turun dari gendongan Leo dan berlari menyongsong mertuanya yang baru saja tiba.
“Ayah, Ibu!” teriak Shena sambil tersenyum senang.
“Sayang, hati-hati, jangan lari ...!” teriak Leo yang mengkhawatirkan kondisi istrinya.
Bianca langsung memeluk Shena begitu juga dengan Byon. “Ada apa ini? Kau terlihat sangat senang sekali,” tanya Biyanca sambil melepaskan pelukannya.
“Ayo kita masuk ke dalam dan bicara. Aku yakin ada kabar bahagia yang ingin mereka sampaikan pada kita,” ajak Byon yan diikuti Leo dari belakang sambil terus mengamati Shena yang berjalan dengan ibunya dibelakangnya.
“Ayah, aku tidak melihat bibi Jenny, dimana dia?” tanya Leo saat keduanya sudah memasuki ruang tamu keluarga.
Byon berhenti berjalan dan menoleh ke arah Leo. “Apa tidak ada yang memberitahumu?” Byon balik bertanya.
“Memberitahu apa?” Leo bingung sampai dahinya berkerut.
“Bibi Jenny, sudah pensiun. Sekarang dia tinggal bersama putrinya di keluarga besar Malik Azkara,” terang Byon yang heran karena Leo belum tahu kabar soal pengasuhnya.
“Apa?” Leo terkejut begitu juga Shena. Tiba-tiba saja, Shena terjatuh dan pingsan tak sadarkan diri.
“Shena!” teriak Biyanca sehingga membuat semua orang langsung kaget melihat Shana terkapar di lantai.
Leo langsung berlari ke arah Shena dan menggendong istrinya lalu membaringkannnya di sofa. Leo berlutut sambil menggengam erat tangan Shena. “Sayang, kamu tidak apa-apa.” Leo menggosok-gosok lembut telapak tangan Shena.
Biyanca menyuruh salah satu pelayannya untuk memanggil dokter agar memeriksa kondisi Shena. “Cepat panggil dokter kemari!” perintah Biyanca.
“Tidak perlu, Ibu,” larang Leo.
“Kenapa? Istrimu pingsan! Kenapa kau melarang ibu memanggil dokter untuknya!” Biyanca memelototi putranya karena mengira Leo tidak perhatian pada Shena.
“Shena baik-baik saja, Ibu. Dia hanya shock, aku akan mencoba membangunkannya.” Leo kembali menatap wajah pucat istrinya. “Ambilkan minyak kayu putih saja, dan cepat bawa kemari!” perintah Leo pada pelayan yang berdiri di belakangnya.
“Baik, Tuan muda!” pelayan itu membungkuk dan berlari mengambilkan apa yang diminta Leo.
Leo mengoleskan sedikit minyak kayu putih di jari telunjuknya dan meletakkan jarinya di bawah hidung Shena supaya gadis itu tersadar. Usaha Leo pun berhasil, Shena mulai sadar kembali. Segera, Leo ber[indah tempat dan menopangkan kepala istrinya agar bersandar di dadanya. “Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Leo sambil mengamati Shena dan meminumkan segelas air yang sudah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
Shena sendiri masih merasa pusing dan bersandar di bahu Leo, ia sedikit lebih baikan setelah meminum segelas air dari tangan suaminya. “Pusing sekali,” ujar Shena lirih.
“Itu karena tadi kamu berlari, aku sudah bilang batasi gerakanmu. Kondisi setiap wanita itu berbeda-beda. Kamu tidak boleh bertindak gegabah, mulai sekarang aku akan menggendongmu kemana-mana. Aku tidak mau kamu pingsan lagi.” Leo mulai bersifat over protektif pada Shena
“Apa yang sedang kalian bicarakan ini? Memangnya Shena sakit apa? Sampai kau harus menggendongnya kemana-mana?” tanya Byon yang jadi was-was melihat kondisi Shena begitu lemah.
“Ayah, Ibu Shena tidak sedang sakit. Tapi dia ...,” Leo menggantungkan kalimatnya. “Dia ... aka memberikan cucu pertama kalian!” Leo tersenyum bahagia menatap wajah istrinya dala dekapannya.
“Apa?” Byon terkejut, begitu juga dengan Biyanca. “Kau bilang apa?” tanyanya lagi.
“Kalian berdua, akan jadi kakek dan juga nenek!” terang Leo lagi.
“Hah!” Biyanca langsung memeluk Shena sehingga tubuh Leo yang menopang tubuh istrinya itu ikut terdorong juga. Sedangkan Byon sendiri, tanpa sadar menitikkan air mata untuk pertama kalinya selama dia hidup.
“Ibu! Hati-hati!” protes Leo pada Ibunya. “Dan Ayah, kau menangis?” tanya Leo pada Ayahnya yang langsung buru-buru menyeka air matanya.
Biyanca tak henti-hentinya menciumi wajah menantunya. Wanita anggun nan elegan itu terlalu bahagia. “Terimakasih, Sayang, Ibu tak pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini. Kau benar-benar cahaya permata kami. Asal kalian tahu, ini pertama kalinya ayahmu menangis. Dia hanay terharu bahagia ketika mendengar aku hamil Leo. Tapi berbeda dnegan kabar bahagia ini, aku rasa ayahmu terlalu bahagia.” Biyanca kembali memeluk tubuh Shena sehingga gadis itupun pun ikut menangis juga karena terharu melihat betapa bahagianya ayah dan ibu mertuanya setelah mendengar berita kehamilannya.
Perlahan, Shena mencoba bangun sambil berpegangan pada suaminya, Leo. Gadis itu berjalan mendekati ayah mertuanya. Shena merebahkan kepalanya di dada Byon sambil berkata, “Jangan menangis, Ayah. Aku akan menjaga cucumu dengan baik. Mulai hari ini, aku akan sangat berhati-hati. Supaya Leo juniorku selalu sehat sampai ia siap hadir di tengah-tengah keluarga kita.”
“Tidak, Ayah. Setelah melahirkan nanti, aku ingin fokus merawat anakku. Aku akan menjalani sidang skripsi kapanpun itu. Lebih cepat, lebih baik.”
“Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan meminta rektor kampus untuk mempercepat jadwal sidang skripsi kalian berdua. Sekarang, kau harus banyak-banyak istirahat.” Byon beralih menatap Leo yang berdiri di belakang Shena. “Antar istrimu istirahat di dalam.”
“Baik, Ayah.” Leo menggendong tubuh Shena dan membawanya masuk ke kamar.
Setelah meletakkan Shena di atas kasur, tiba-tiba ponsel Leo berbunyi. “Iya, halo ... aku tahu, aku akan kesana sebentar lagi.” Leo menutup sambungannya.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu lagi?” tanya Shena.
Leo mengecup kening Shena dengan mesra. “Tidak ada, aku harus menemui orang yang sudah membuat kekasih dokter Arya koma. Aku akan segera kembali.”
“Apa, kamu akan membunuhnya?”
“Tidak, Sayang. Aku hanya akan memberi dia pelajaran dan hukuman yang setimpal atas perbuatan keji yang dia lakukan. Aku akan segera kembali, percayalah padaku. Semua baik-baik saja. Istirahatlah, panggil bibi Nunuk jika kamu butuh sesuatu.” Leo bangkit berdiri dan hendak pergi keluar.
__ADS_1
“Ehm, masalah bibi Jenny ...,” Shena ragu untuk melanjutkan kata-katanya mengingat kabar tentang bibi pengasuh Leo yang mengejutkan sampai membuat Shena pingsan.
“Kita akan membahasnya setelah aku kembali, jangan berpikiran aneh-aneh, Sayang. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu sakit.” Leo tersenyum manis menatap wajah Shena sebelum menghilang dari balik pintu.
***
Leo masuk ke dalam sebuah gudang khusus yang biasa digunakan oleh keluarganya untuk mengeksekusi seseorang atau penjahat kelas kakap yang mencoba mengusik kehidupan dan menghancurkan keluarga Leo. Cowok itu duduk di depan orang yang berhasil diculik oleh anak buahnya.
“Kau yang bernama Rafly?” tanya Leo dengan tatapan mata yang sangat tajam setajam silet. Ia duduk disebuah kursi besar tepat di depan Rafly.
“Kenapa kau menculikku? Apa yang kau inginkan dariku? Aku bahkan tidak mengenalmu!” teriak orang yang bernama Rafly itu. Dia berusaha berontak melepaskan ikatan yang mengikatnya di kursi kayu.
Dengan santai Leo menjawab, “Aku juga tidak mengenalmu! Tapi aku dimintai tolong temanku untuk membereskanmu karena kau sudah banyak menyiksa dan menyakiti wanita yang disukai temanku. Laki-laki macam apa kau? Tega berbuat jahat pada wanita lemah yang tak berdaya. Kecemburuanmu telah membutakan segalanya. Kau sendiri yang salah tapi kau lampiaskan pada orang yang tidak bersalah. Karena itu, kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu.” Leo memberikan tatapan intimidasi pada pria itu.
“Kau mengenal Alma?” tanya Ralfy dengan penuh emosi.
“Sudah ku bilang, aku tidak kenal denganmu ataupun Al-Al siapa, tadi? Pokoknya aku tidak kenal. Ah, aku punya teman sekampusku yang bernama Rafli juga, tapi dia tidak sekejam dan sesadis dirimu. Karena itulah, hari ini para algojoku akan mengeksekusimu. Bersiap-siaplah! Apa kau punya keinginan terakhir?” Leo menyeringai sambil menatap sinis wajah pria yang sudah berani menyiksa wanita baik-baik sampai membuatnya trauma.
“Lepaskan aku! Apa untungnya kau menyekapku seperti ini?” teriak Ralfy sambil terus memberontak mencoba melepaskan diri dari ikatan kursinya.
“Ada! Kau ingin tahu?” Leo menekankan suaranya. “Memberimu pelajaran atas apa yang sudah kamu lakukan sekaligus mengurangi beban dosamu yang akan kau pertanggungjawabkan jika kau mati sebentar lagi. Bersiap-siaplah untuk mati jika tidak ada keinginan terakhir.” Leo pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar sambil menutup pintu ruangan eksekusi.
“Tunggu! Mau kemana, kau! Lepaskan aku!” teriak Rafly tapi Leo sama sekali tidak peduli.
“Apa yang akan kami lakukan padanya setelah ini, Bos.” tanya pengawal Leo yang berjalan mengikuti tuan mudanya begitu mereka ada di luar ruangan.
“Asingkan dia ke Antartika! Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa kembali ke tempat ini lagi,” terang Leo sambil berlalu pergi. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Arya. “Hai, Bro. Sudah kubereskan!” Leo menutup sambungannya dan pulang kembali ke istananya untuk bertemu Shena.
BERSAMBUNG
****
jangan lupa kumpulkan vote sebanyak-banyaknya ya ... love you all ....
__ADS_1