
“Kau sangat hebat, Kak. Kekuatanmu sungguh sangat keren. Kenapa kau tidak membunuhnya tadi, bukankah itu akan lebih menyenangkan? Kau membunuh seorang gembong mafia tersadis di dunia.” Leo tertawa riang sambil mengemudikan mobilnya.
“Ayahmu memintaku untuk tidak membunuhnya. Paman Byon hanya berpesan untuk membantumu menggertak mereka saja, karena itulah beliau menyuruhku datang kemari. Dengan kejadian tadi, aku harap mereka tidak akan berani lagi menggangumu atau orang-orang yang ada di dekatmu,” terang Refald sambil menelepon seseorang. “Halo, Sayang ... iya, urusanku sudah selesai. Aku akan secepatnya pulang, Pak po pasti sudah memberitahumu. Dia pulang lebih dulu karena tidak bisa lama-lama berpisah darimu ... apa? Mi ayam? Disaat seperti ini? Honey, bagaimana bisa aku naik pesawat sambil membawa mi ayam dari sini? Akan aku buatkan nanti di rumah. Sampai jumpa lagi, aku mencintaimu.” Refald menutup sambungannya. Ia terlihat sedikit frustasi karena Fey istrinya sedang ngidam mi ayam khas Indonesia.
“Apa itu tadi kakak ipar?” tanya Leo. “Aku tidak menyangka kau jauh lebih bucin dariku saat istrimu hamil,” ledek Leo.
“Diam kau! Kau juga akan melakukan hal yang sama jika nanti Shena hamil,” cetus Refald yang bingung dengan keinginan istrinya.
“Oh iya? Aku sangat menantikan hari itu tiba.” Leo tersenyum sendiri membayangkan perut Shena membuncit karena mengandung buah hatinya. “Shena pasti terlihat seksi,” gumam Leo pada dirinya sendiri.
“Kau selesaikan saja kuliahmu! Jangan berkhayal yang bukan-bukan. Dasar playboy mesum.” Refald menjitak kepala sepupunya.
“Berhenti menjitakku. Kalian benar-benar membuat ku iri. Cuma aku satu-satunya orang yang masih lajang dikeluarga kita. By the way siapa pak, Po? Aku tidak melihatmu datang dengan orang lain.” Leo penasaran dengan nama orang yang menurut Leo sangat aneh tapi juga familiar.
“Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Jika kau menyebut namanya, maka pak Po akan langsung datang ke hadapanmu.” Refald menyeringai penuh misteri untuk menggoda Leo.
“Kenapa terdengar menyeramkan? Kau itu gengsternya hantu, pasti berhubungan dengan itu.” Leo bergidik ngeri membayangkan Refald setiap saat di kelilingi berbagai makhluk astral tak kasat mata yang entah seperti apa wujud aslinya.
“Kau itu juga gensgter, tapi sama hantu saja takut.” Refald kembali meledek saudara sepupunya.
“Diam kau! Kenapa kau tidak menghilang saja seperti yang kau lakukan tadi agar aku tidak perlu repot-repot mengantarmu ke bandara.
“Ini dunia nyata dan aku harus mengikti prosedur yang berlaku. Jika aku datang dan menghilang begitu saja, itu namanya ilegal dan melanggar hukum,” terang Refald dengan santai.
“Aku tidak percaya orang sepertimu masih mau membicarakan soal hukum. Baiklah, terserah kau saja. Oh iya, apa kau tidak ingin bertemu dengan Shenaku? Dia sangat penasaran denganmu.”
“Aku sudah bertemu dengannya, tapi dia tidak mengenaliku. Nanti saja kalau Fey sudah melahirkan, ajak dia ke sana.”
“Oh iya? Kenapa aku tidak tahu kalau kau pernah bertemu dengan Shena? Dan juga kapan kakak ipar melahirkan?”
“6 bulan dari sekarang.”
“Itu waktu pernikahanku bodoh!”
__ADS_1
“Kalau begitu, bulan madulah di sana. Aku akan menyiapkan tempat khusus untuk kalian berdua.” Refald tersenyum mencurigakan.
“Kenapa firasatku tidak enak jika kau berkata seperti itu.” Leo meningkatkan kecepaan laju mobilnya supaya ia bisa kembali bersama dengan Shena. “Kapan kau bertemu Shena? Seingatku, aku belum pernah memperkenalkan kalian berdua.” Leo masih penasaran karena Refald bilang pernah bertemu dengan Shena.
“Saat di bandara Humburg, Jerman. Aku melihatnya membawa bunga edelweis yang kukirimkan untukmu. Saat itu aku langsung tahu, dia adalah kekasihmu.” Refald terus menjawab semua pertanyaan Leo dengan santai.
“Kenapa kau tidak bilang paaku?” Leo berteriak kesal.
“Karena aku tidak boleh mengubah takdir kalian.” Refald menatap Leo sambil tersenyum penuh makna.
“Dasar biksu, Tong!” Leo benar-benar kesal pada Refald karena tidak memberitahu keberadaan Shena lebih awal. “Tahu gitu aku tidak perlu repot-repot mencari Shena kesana kemari, dasar Tong Sam Chong!” gerutunya.
Tiba-tiba saja, ponsel Leo berbunyi dan membuat raut muka cowok itu berubah jadi serius.
****
Sementara di kediaman Kenzo, terjadi kehebohan yang luar biasa di sana. Kenzo sangat marah karena orang aneh yang menyerang pasukannya tidak bisa ditemukan dimanapun. Bahkan mobil mereka yang tadinya terparkir rapi di depan gerbang juga sudah menghilang.
“Baik Bos, aku akan membantu mengawal mereka, permisi!” Dimas pun pergi ke kediaman Alex untuk membantu memperketat penjagaan.
Namun di tengah perjalanan, Dimas menelepon seseorang untuk memberikan informasi penting tentang apa yang akan dilakukan besok. “Halo, ini aku ... lakukan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan.” Dimas menutup sambungan teleponnya dan kembali melanjutkan perjalananya.
***
Shena sedang berada di ruangan Leo untuk menunggu kekasihnya pulang. Gadis itu mengamati seluruh sudut kamar calon suaminya yang bernuansa clasic modern dengan dekorasi ruangan yang di dominasi warna putih.
Shena duduk di ranjang Leo dan mengingat kembali kenangan saat ia dulu dikerjai Leo di kamar ini. Waktu itu, Shena mengira bakal mengakhiri hidupnya jika saja Leo benar-benar menodainya. Namun sekarang, ia malah jatuh cinta sungguhan pada pria yang dulu pernah amat sangat dibencinya. Shena bahkan tidak menyangka kalau ia bakal kembali lagi ke tempat ini dan akan menjadi bagian dari pemilik rumah ini. Gadis itu tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu.
Pandangan mata Shena terpaku pada sebuah bingkai foto kecil yang terpajang rapi di meja Leo. Gadis itu berjalan mendekat ke arah meja itu dan betapa terkejutnya ia setelah melihat ada foto siapa di situ.
“Ini kan, fotoku?” tanya Shena pada dirinya sendiri. Ia mengambil bingkai foto itu untuk mengamatinya lebih dalam lagi. “Tidak salah lagi, ini adalah foto masa kecilku. Leo benar-benar Bayu. Anak laki-laki yang aku dan ayahku selamatkan waktu itu, anak itu dalah Leo.” Shena tersenyum sendiri memandangi foto itu.
Pintu kamar terbuka dan Leo masuk ke dalam, “Kau di sini rupanya. Aku mencarimu ke kamarmu.” Leo memeluk pinggang Shena dari belakang dan mengecup lembut pipi Shena.
__ADS_1
“Kamu sudah pulang, di mana kak Refald? Kenapa pulang sendirian?” tanya Shena.
“Dia harus cepat kembali pulang karena istrinya ngidam mi ayam.” Leo jadi terkekeh membayangkan hal konyol yang dilakukan oleh seorang Refald terhadap istrinya yang sedang hamil muda.
“Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Shena heran melihat sikap Leo yang aneh.
“Apa semua wanita hamil akan merepotkan seperti itu, Sayang? Aku tidak percaya kakak sepupuku yang sangar itu bisa bucin lebih parah dariku. Apa semua wanita hamil memang aneh?” Leo semakin mengeratkan pelukannya pada Shena.
“Mana aku tahu? Aku kan nggak pernah hamil? Tanya saja pada bibi Nunuk yang sudah pernah hamil dan melahirkan. Kenapa kamu malah tanya padaku?” Shena berusaha melepas pelukan Leo tapi Leo tidak mau melepasnya.
“Sebentar lagi kamu juga akan merasakan jadi wanita hamil, Sayang. Aku hanya harus belajar bersiap-siap menghadapi keanehanmu nanti.” Leo kembali mengecup pipi Shena.
“Urus dulu skripsimu dan berhenti bicara yang bukan-bukan!” Shena memaksakan tubuhnya menjauh dari Leo dan hendak pergi keluar ke kamarnya.
“Mau kemana kamu, malam ini kamu nggak boleh kemana-mana.” Leo menarik tangan Shena hingga gadis itu jatuh kepelukan Leo lagi, kali ini mereka saling berhadap-hadapan. “Malam ini kita tidur bersama,” ucap Leo sambil menatap tajam mata Shena.
Leo hendak mencium Shena tapi mulut Leo ditempeli Shena dengan bingkai fotonya yang ia pegang daritadi. Leo baru sadar kalau Shena sedang memegang foto masa kecilnya. “Tidak sekarang, Sayang. Aku akan menyerahkan semuanya padamu, ketika saatnya tiba, tepat di malam pertama pernikahan kita. Sebelum malam itu, aku tidak bisa melakukannya denganmu sekalipun aku sangat mencintaimu, karena aku ... adalah gadis baik-baik, Oke!” Shena mengecup lembut bibir Leo lalu berlalu pergi meninggalkan Leo yang berdiri mematung sambil tersenyum simpul.
Leo hanya menatap kepergian Shena. “Kamu memang sangat baik, Sayang. Saking baiknya aku sampai tidak tega mau memakanmu. Akan aku tunggu sampai hari itu tiba,” gumam Leo dan mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
“Halo, siapkan semuanya untuk besok, perketat penjagaan karena malam ini aku akan mulai bergerak, membebaskan mereka semua.” Leo menutup sambungan teleponnya dan berdiri di depan jendelanya. “Pertunjukan akan dimulai,” gumam Leo.
***
episode selanjutnya bakal lebih seru ...
mohon sabar menunggu ya.... maaf telat up nya
jangan lupa like, vote, dan komentarnya supaya penulis lebih semangat lagi nulisnya...
love you all
salam manis dari penulis
__ADS_1