Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 139 Aksi Konyol Leo


__ADS_3

Di sisi lain, Leo dan Shena bingung dengan apa yang dikatakan Ayahnya mengenai anak perempuan yang dibicarakan tadi, apalagi ini ada sangkut pautnya dengan Kenzo. Pasti ada sesuatu yang terjadi mengingat tuan Malik dan ayahnya sama-sama memiliki musuh bebuyutan yang sama, yaitu Kenzo.


“Ada apa, ini? Siapa yang kalian bicarakan ? Apa hubungannya dengan Kenzo? Anak perempuan mana yang Ayah maksud?” Leo penasaran dengan apa yang disampaikan ayahnya pada Zian.


“Aku akan menjelaskannya padamu nanti begitu acara makan malam kita ini selesai. Sementara itu, Bibi Jenny akan mengantar tuan Azkara sekeluarga pulang kerumahnya untuk bertemu dengan seseorang yang sudah lama mereka cari-cari selama ini. Bagaimana menurutmu tuan Azkara?” Byon beralih menatap Zian untuk mengetahui apa pendapatnya.


“Tentu saja tuan Byon, terima kasih banyak atas pertolongan anda selama ini. Sungguh saya tidak akan melupakan apa yang sudah tuan lakukan terhadap keluarga saya. Dan saya harap anda mengundang kami semua untuk datang di acara resepsi pernikahan Leo dan Shena nanti,” ujar Zian pada Byon dan beralih ke arah Leo. “Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua, semoga rumah tangga kalian samawa.” Zian menatap Leo dan Shena bergantian diikuti anggukan bahagia dari pasangan pasutri yang baru saja menikah.


“Terima kasih tuan Azkara, kami senang bisa bertemu dengan anda lagi. Tentu saja aku akan mengundangmu sebagai tamu VVIP di acara resepsi Leo dan Shena nanti.” Byon pun mempersilakan tamunya agar mengikutinya ke suatu tempat yang di pandu oleh bibi Jenny.


Sedangkan Leo mengekor di belakang ayahnya. Shena sendiri masih bergelut manja bersama dengan ibu mertuanya.


“Sayang, kamu tidak ikut suamimu?” tanya Biyanca yang merasa aneh karena Shena terus saja menggandeng lengannya sejak tadi.


“Tidak, Ibu. Hari ini aku ingin bersama Ibu saja, biarkan saja Leo mengurus urusannya sendiri.”


“Baiklah, terserah kau saja. Biyanca merangkul menantunya dengan senang dan ikut mengantar tamu spesialnya menuju ruang depan.


Sambil berjalan, Leo mengajak Evan membicarakan suatu hal yang serius. “Evan, sepertinya aku butuh bantuanmu soal rumah sakit ayahku yang kini sedang kekurangan banyak staf. Aku tahu kau juga belum lulus, begitu juga aku. Tapi, bisakah kau membantuku mengurus rumah sakit ayahku sampai kami mendapat staf baru?” pinta Leo pada Evan penuh harap.


“Ehm, tentu saja aku mau, aku juga bisa mengadakan penelitianku di sana. Itupun jika kau setuju.”


“Terserah apapun yang ingin kau lakukan? Aku sangat senang jika kau mau membantuku. Aku bukan dokter, jadi aku tidak bisa membantu banyak untuk rumah sakit yang didirikan ayahku. Syukurlah kalau kau bersedia membantu mengurus semuanya. Jika ada waktu, datanglah ke rumah sakit lusa, karena aku akan mengadakan rapat darurat kepemimpinan sementara rumah sakit itu.”


Evan menepuk pelan bahu Leo. “Tentu, akan aku usahakan datang.”


“Terimakasih, sampai ketemu lagi,” ucap Leo sebelum Evan dan keluarganya pergi dari kediaman Leo menuju rumah bibi Jenny.


****


Leo menatap Shena yang masih saja bergelendot manja di lengan ibunya.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Shena pada Leo yang berdiri di depannya setelah mengantar kepergian tamu spesial mereka.

__ADS_1


“Sedang apa, kamu?” Leo menatap tangan Shena yang menempel erat di tangan ibunya.


“Berdiri, memang apalagi?” jawab Shena dengan wajah polosnya.


“Aku tahu kamu sedang berdiri? Bukan itu maksudku! Tapi tanganmu itu, aku perhatikan dari tadi kamu terus menggandeng lengan ibuku, apa kau tidak risih?”


“Kenapa aku harus risih? Aku senang menggandeng lengan ibu, ibu bahkan tidak keberatan jika aku seperti ini. Kenapa malah kamu yang jadi sewot?” Shena mengajak ibunya masuk ke dalam meninggalkan Leo yang terkejut mendengar jawaban Shena.


“Aku saja tidak pernah digandeng seperti itu olehnya, kenapa ibu mau saja di gelondoti Shena begitu, sial!” Leo menendang-nendangkan kakinya sambil ngedumel tidak karuan.


Tiba-tiba saja, Leo mendapat sebuah ide untuk mengerjai Shena. Tanpa sepengetahuan istrinya, Leo mengendap-ngendap berjalan di belakang Shena dan langsung menggendong gadis itu dari belakang sehingga membuat Shena terkejut sampai menjerit-jerit. Leo berlari sangat kencang membawa Shena masuk ke dalam kamar mereka begitu pegangan tangan Shena dan ibu mertuanya terlepas.


Aksi Leo itu jelas membuat kaget seisi rumah yang tiba-tiba saja menculik istrinya sendiri tanpa peringatan.


“Dasar si Leo nggak ada akhlak! Bikin kaget saja! itu anak habis kerasukan setan apaan, sih?” gerutu Biyanka yang terkejut melihat aksi konyol putranya.


Leo menutup pintu dengan kasar lalu merebahkan Shena di atas tempat tidur dan mengunci tubuh gadis itu agar tidak bisa berontak.


“Menculikmu! Kau melupakanku sejak ibu dan ayahku datang, aku tidak terima itu!” Leo menjelaskan aksi yang dilakukannya.


“Kau cemburu pada orangtuamu sendiri?” tanya Shena terkejut dengan kata-kata Leo.


“Aku hanya tidak suka diduakan!” tegas Leo sambil menatap tajam mata istrinya.


Shena mencoba menahan napas untuk menguji kesabarannya dalam menghadapi perilaku gak ada akhlak suaminya. “Leo Sayangku, suamiku, cintaku ... mereka itu orangtuamu, mana ada anak cemburu pada orangtuanya sendiri? Yang benar saja? Lagipula mereka hanya sebentar di sini, pasti mereka akan pergi lagi setelah ini. Aku tidak bisa bertemu mereka setiap hari, jadi wajar selagi mereka ada di rumah ini, aku ingin menghabiskan waktuku dengan mereka. Apa itu salah?” tanya Shena yang menatap lembut wajah suaminya.


Leo menunduk dan mulai menyunggingkan senyumnya. “Kau benar, Sayang. Tidak seharusnya aku cemburu pada orangtuaku sendiri. Maafkan aku, sekarang istirahatlah.” Leo mengecup bibir Shena sebentar lalu ia bangun berdiri, tapi Shena langsung menarik tangan Leo hingga cowok itu jatuh tepat diatas tubuh Shena. Gadis itu langsung menyerang Leo dengan ciuman maut ala khas Shena yang ia pelajari dari suaminya sendiri. Kali ini Shenalah yang bertindak agresif terhadap Leo.


Dengan sigap, Shena melepas semua pakaian suaminya dan mengajaknya bergumul di atas ranjang. Leo yang tidak menyangka kalau istrinya bisa seganas ini dengan senang hati melayani hasrat Shena agar bisa tersalurkan dengan baik.


Leopun juga beraksi diatas ranjang bergoyang mereka. Keduanya bercinta dengan penuh gairah yang membara. Desahan-desahan ringan terdengar merdu ditelinga sehingga semakin menambah nafsu birahi keduanya.


“Kamu semakin pintar, Sayang. Aku sangat menyukainya.” Gumam Leo sambil mengisap leher Shena dan meninggalkan banyak gigitan kecil disana.

__ADS_1


“Aku juga belajar banyak darimu, kamu yang sudah membuatku seperti ini.” Shena mulai mendesah manja di telinga Leo dan keduanya saling menikmati setiap adegan hot hot pop yang mereka lakukan. Aksi Leo benar-benar membuat Shena kualahan. Kali ini, mereka bercinta agak sedikit lebih lama dari biasanya sehingga membuat napas Shena menjadi ngos-ngosan.


Leo berbaring di sisi Shena setelah keduanya mengalami pelepasan yang luar biasa nikmat. Seperti biasa, Leo mencium kening istrinya dengan mesra dan memeluk erat tubuh istrinya yang berlindung di balik selimut.


“Apa kamu bahagia, Sayang?” tanya Leo tiba-tiba.


“Tentu saja aku sangat bahagia, aku memilikimu, aku juga memiliki ayah dan ibu. Rasanya semua sudah lengkap dan aku tidak menginginkan apapun lagi.”


Sekali lagi Leo mencium kening Shena. “Berapa anak yang nanti kamu inginkan, Sayang?” tanya Leo yang langsung mengagetkan Shena.


“Kenapa kamu tiba-tiba saja bertanya seperti itu? Kita baru saja menikah. Rasanya terlalu jauh jika kita membicarakan soal anak.” Shena agak merasa aneh jika ia harus menjadi ibu di usia yang menurutnya masih sangat muda.


“Tidak harus sekarang Sayang, tapi cepat atau lambat kita pasti akan memilik Leo junior.”


“Ehm, aku ingin dua saja, Leo tengil dan Shena mungil.” Shena geli sendiri menjuluki anak-anak mereka yang belum jadi.


“Aku ingin 20 anak, pasti akan sangat ramai nanti, dan rumah ini jadi banyak penghuninya. Kau tahu betapa aku sangat kesepian karena tidak punya saudara? Kita akan membuat 20 anak nanti.” Dasar Leo yang seenak jidatnya membuat keputusan konyol seperti itu.


“Kalau begitu, kau saja yang melahirkan!” geram Shena. “Kau pikir punya banyak anak itu mudah apa?” Shena memasang wajah cemberut.


“Nggak bisa dong Sayang, mana bisa aku melahirkan? Mau dikeluarin di mana?” Leo mulai menyeringai nakal. “Hah, dasar! Kau membuat etalibunku bangun lagi. Sekarang, kau harus bertanggung jawab!”


“Hah? Secepat itu? tunggu! Kau sudah mengerti maksud istilah kata itu?” tanya Shena malu-malu.


“Ehm.” Leo mengangguk sambil tersenyum. “Dan itu semua gara-gara kamu!” Leo mulai beraksi menyerang Shena dan keduanya bergumul di bawah selimut untuk melancarkan ronde kedua mereka di atas ranjang yang bergoyang-goyang dengan kuat.


****


Entah kenapa jari dan otakku malah nyasar ke adegan itu, hedeuhh. Tapi ya sudahlah, udah terlanjur jadi mau gimana lagi. Maaf ya ... up nya telat. Terus dukung vote, like dan komentarnya. Terimaksih buat yang sudah ngasih aku tips banyak banget kemaren, bikin tambah semangat lagi hari ini. Setelah ini, aku coba lanjutin lagi supaya bisa up 1 episode lagi. Tapi gak janji ya ... love you all.



__ADS_1


__ADS_2