Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 95 Misi Penyelamatan


__ADS_3

Keesokan paginya, para mahasiswa yang terdiri dari teman-teman Evan dan Leo bergerak menuju halaman gedung persidangan di mana Maliq akan dijatuhi vonis hukuman. Mereka menyuarakan harapan mereka untuk membebaskan Zildjian Maliq Azkara dari segala macam tuduhan yang jelas-jelas tidak mungkin dilakukan oleh sorang Maliq. Karena semua orang yang ada di sini adalah orang-orang yang pernah ditolong oleh Zian dan tahu persis seperti apa Zian sebenarnya.


Tidak hanya para dokter ataupun mahasiswa yang datang, bahkan emak-emak rempong juga ikut berpartisipasi menyuarakan suara mereka untuk membebaskan Zian dari segala macam tuduhan palsu yang dituduhkan pada Zian. Yang paling menarik perhatian adalah, emak-emak itu memakai daster yang bertuliskan ‘Bebaskan tuan Malik, jangan Hukum orang Baik'.


Mereka semua juga membawa senjata andalannya, yaitu sebuah penggorengan yang mereka gunakan sebagai alat musik untuk meramaikan acara. Tindakan konyol emak-emak itu benar-benar membuat pusing orang-orang yang mendengar teriakan dan permainan musik aneh mereka.


Selain itu, ada banyak orang yang duduk di kursi roda, orang pincang dan cacatpun ikut bersorak sorai juga. Dalam kondisi sakitpun, mereka tetap memaksakan diri ikut berpasrtisipasi dalam acara ini. Semua yang mereka lakukan semata-mata hanya ingin membela kebenaran agar hukuman tidak dijatuhkan pada orang yang tidak bersalah.


Orang-orang yang datang sejak tadi pagi juga dikawal ketat oleh gabungan pasukan Leo dan Zian tanpa ada satupun yang tahu. Sebab, mereka mengawal secara diam-diam agar tidak ada yang terluka jika pasukan Alex atau kenzo mencoba menyakiti mereka.


“Kami ingin keadilan untuk tuan Malik!”


“Tuan Malik orang baik.”


“Bebaskan Tuan Malik.”


“Tuan Malik tidak bersalah.”


Begitulah bunyi sorakan dari ribuan orang yang terus menggema diluar kantor sidang.


Sementara di tempat lain, Leo berada di sebuah mobil jeep canvas milik Roy dan terparkir agak jauh dari pintu gerbang rumah Alex, tentu saja ia juga bersama dengan beberapa pasukannya. Bahkan Shenapun juga ikut bersamanya.


“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan Sayang?” Tanya Leo sambil masih menggenggam tangan Shena.


Shena mengangguk pelan. “Aku tahu, karena itu, aku memaksamu untuk mengizinkanku ikut berpartisipasi!” ucap Shena dengan penuh percaya diri. Keduanya saling melempar senyum.


Mereka menunggu Alex dan pasukannya keluar rumah menuju gedung persidangan. Shena dan Leo langsung menundukkan kepalanya begitu mobil Alex dan pasukannya mulai melintasi area intaian mereka.

__ADS_1


“Baiklah, mereka sudah pergi. berarti Kenzo pun juga pergi. Tunggu aku di sini dan jalankan mobilnya jika aku sudah mulai memberikan kode dari dalam. Jangan matikan ponselmu dan juga tetaplah berhati-hati. Pasukan Alex masih banyak yang berkeliaran di sini. Kamu tahu bagaimana cara membedakannya, kan?” Leo menatap wajah Shena yang sedang memerhatikan sekeliling mereka dengan penuh waspada.


“Ehm, aku tahu. Cepat! Pergilah, sepertinya sudah aman,” ucap Shena sambil celingukan.


Leo tersenyum simpul memerhatikan wajah Shena yang mirip dengan detektif dadakan. Cowok itu mengecup lembut bibir Shena tanpa peringatan sehingga gadis itupun hampir jantungan, tapi dia memang sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Leo. Akibatnya, Shena jadi mulai terbiasa. Setelah adegan romantis yang singkat itu. Leo pun keluar dan berlari kecil menuju kediaman Alex yang sudah ditinggal pergi oleh pemiliknya.


Leo bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah Alex tanpa kendala apapun, karena yang berjaga di pintu gerbang itu adalah anak buah Zian dari KIA grub. Tapi keadaan sedikit berbeda ketika ia memasuki pintu depan rumah Alex. Beberapa anak buah Alex mulai menyerang Leo begitu cowok itu datang.


Agar tidak menimbulkan keributan, dengan sigap Leo menangkis semua serangan para pengawal itu dengan hanya menggunakan satu pukulan dan tendangan. Mereka semua bergelut saling mengeroyok Leo bersamaan. Bunyi bag bug bag bug pun juga terdengar kuat. Namun, Leo yang jago bela diri, bisa dengan mudah menumbangkan mereka tanpa perlu mengeluarkan banyak keringat.


Begitu semua pasukan Alex sudah terkapar tak berdaya, Leo melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah tanah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dimas saat ia ditelepon kemarin.


“Besok, saat Alex keluar dari kandangnya, selamatkan seseorang yang bernama Rama, dia adalah saksi kunci semua kejahatan yang pernah dilakukan Alex. Dia disekap di gudang bawah tanah dan dijaga ketat oleh pengawal kepercayaannya. Pasukan Bos Zian atau pasukanmu tidak boleh datang ke sana. Tugasmu besok adalah membebaskannya, dan aku akan membebaskan Naya serta Deniz lalu membawanya ke pengadilan,” terang Dimas di telepon.


Itulah pembicaraan singkat yang dilakukan Dimas dengan Leo kemarin.


Leo mengeluarkan sebuah senapan yang sudah ia siapkan di dalam tas kecil yang ia kalungkan dari balik punggungnya. Tas kecil itu adalah milik Refald yang sengaja diberikan pada Leo kemarin. Tas kecil yang dibawa Refald ternyata bersisi senjata api kiriman langsung dari Ayah Leo, yaitu Byon pyordova agar putra tunggal kesayangannya bisa menggunakan senjata itu dengan baik.


Dengan senjata api yang ada di tangan Leo, tidak akan ada senjata manapun yang bisa menandingi kecepatan peluru senjata api milik Leo.


Leo langsung menembaki pasukan Alex yang berjaga di depan pintu ruang bawah tanah tanpa ampun atau peringatan sebelumnya. Begitu semuanya tumbang, Leo mendobrak keras pintu ruang bawah tanah itu. semua pasukan membrondonginya dengan tembakan, tapi Leo dengan gesit langsung bersembunyi di balik tembok untuk menunggu kesempatan menyerang balik.


Leo mengambil ancang-ancang dan menghitung berapa banyak pasukan ada dalam ruangan itu melalui tembakan beruntun yang ditujukan padanya.


“Huh, hanya 20 orang.” Leo segera mempersiapkan pelatuknya untuk menembak.


Dalam hitungan ketiga, Leo keluar dari balik tembok dan memberondongi musuhnya dengan senjata apinya tanpa belas kasih. Kecepatan senjata api Leo memang tidak ada tandingannya. Semuanya terkapar karena kalah cepat dari peluru Leo. Alhasil satu per satu mulai tumbang tak berdaya.

__ADS_1


Sementara itu, Dimas dan para pasukan Leo dan KIA grub naik ke lantai atas di mana Naya dan Deniz berada.


“Ayo cepat, kita pergi dari sini?” Teriak Dimas mengagetkan Naya yang sedang menggendong Deniz sambil bermain.


“Kita akan pergi kemana?” tanya Naya dengan penuh waspada, sebab ia tidak tahu ada di posisi mana Dimas saat ini.


“Ke tempat suamimu! Cepatlah kita tidak punya banyak waktu! Percayalah padaku, akan aku jelaskan semuanya nanti di jalan. Kita tidak boleh datang terlambat, Ayo!” Dimas masuk ke dalam dan membantu menggendong Denis keluar dengan dikawal semua pasukan gabungan KIA grub dan pasukan Leo.


Saat mereka menuruni anak tangga, terdengar suara tembakan beruntun dari ruang bawah tanah dimana Leo sedang beraksi membasmi semua pasukan Alex yang tersisa.


“Suara apa itu?” tanya Naya panik dan ketakutan.


“Abaikan saja, kita harus bergegas,” ucap Dimas yang terus fokus berjalan keluar sambil menggendong Deniz yang juga ketakutan mendengar suara tembakan.


Bukannya Dimas tega meninggalkan Leo sendirian, tapi itulah pesan yang diminta Leo agar tidak ikut campur saat ia sedang beraksi menyelamatkan Rama. Sebab Leo akan sangat brutal tak kenal ampun ketika sedang memegang senjata api. Jika sudah seperti itu, Leo jadi tidak bisa membedakan mana yang teman dan mana yang lawan. Karena itu, Leo meminta Dimas membawa Naya dan Deniz keluar lebih dulu sampai ia selesai menyelematkan Rama, seperti yang sudah diminta Dimas padanya.


“Semoga berhasil, Leo. Cepatlah susul kami,” gumam Dimas yang sudah berhasil keluar dari rumah Alex dan bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan untuk segera melaju ke persidangan dimana Zian berada.


Kembali ke ruang bawah tanah, Aksi penyelamatan Leo tak hanya berhenti sampai di lorong saja. Ia masih harus mencari-cari keberadaan sosok Rama yang disebutkan Dimas padanya. Leo mencari ke setiap sudut ruangan dan menembak semua hal yang bergerak di depannya bahkan seekor tikus sekalipun. Sampai akhirnya, Leo berada di suatu ruangan tertutup tak berpenghuni. Bahkan penjaga pun juga tidak ada, tapi tempat ini ternyata sudah dipasang dengan beberapa jebakan, salah satunya adalah bom peledak.


“Sial!” umpat Leo dengan kesal.


****


terima kasih karena sudah bersedia membaca tulisan amburadulku....


jangan lupa terus dukung penulis dengan like, vote dan komentarnya ...

__ADS_1


love you all


salam manis dari penulis


__ADS_2