
Shena melamun sambil memetik daun teh yang ada disekitarnya. Tanpa terasa, wadah yang ia bawa untuk sampel sudah dipenuhi dengan daun harum tersebut. “Sepertinya ini sudah cukup,” gumam Shena. Ia berdiri dan mencari Yani untuk mengajaknya pulang, tapi ternyata, Shena tidak menemukan Yani di manapun.
“Yaniii!” teriak Shena, tapi tidak ada sahutan. “Aryaniiii!” teriak Shena lagi. Tetap saja tidak ada jawaban.
Shena mulai merasakan firasat yang buruk. Sepertinya Yani sengaja meninggalkannya saat ia sedang asyik memetik daun teh tadi. “Ah, sial! Ke mana ini anak? Apa dia sudah pulang duluan? Kenapa ia meninggalkanku sendirian di sini? Pasti ini semua sudah ia rencanakan sebelumnya! Aduh, Jalan mana yang menuju ke arah Desa, ya?” Shena kebingungan karena dia berada di tengah-tengah perkebunan teh yang dikelilingi dengan perbukitan dan juga hutan rimba.
Shena mengamati sekeliling untuk memilih jalan masuk ke kampungnya. Ia lupa jalan mana yang tadi ia ambil saat datang kemari. “Bagaimana ini? aku tidak tahu jalan mana yang harus aku pilih, mana hari sudah semakin sore, lagi?” Shena menoleh ke kanan dan ke kiri, ia bingung dan juga takut salah jalan. Tapi, jika ia tetap di sini juga percuma, tidak akan ada yang menolongnya. Apalagi, tidak ada siapapun di sini. Sekarang, posisi Shena berada di area hutan yang dikelilingi perbukitan. Tidak akan ada yang bisa mendengar teriakan Shena karena lokasinya sangat jauh dari pedesaan.
Tidak ada salahnya mencoba, pikir Shena.
“Halooooo! Apa ada orang? Jawab aku?” Shena pun mencoba berteriak sekencang mungkin berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya.
“Halooooo! Jika ada seseorang yang mendengar suaraku, tolong jawab aku!” Shena mencoba melangkah maju ke depan. Ia memutuskan berjalan lurus dan mengandalkan keberuntungan.
“Bagaimana ini, tidak ada seorangpun di sini, dan matahari juga sudah mulai terbenam,” gumam Shena sendirian. Ia mulai takut jika harus semalaman berada di tempat sepi dan gelap seperti sini. Ingin rasanya ia menangis memanggil-manggil nama Leo. Namun, niat itu ia urungkan karena akan semakin menambah kerinduannya pada Leo.
“Aku harus apa? Di sini dingin sekali?” Shena menggigil kedinginan karena jaketnya masih tertinggal di kantor KUD. “Sialan si Yani. Dia sengaja meninggalkanku di sini seorang diri.” Shena terus melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan yang Shena lewati, Shena benar-benar merutuk ulah sepupunya karena sudah meninggalkannya sendirian.
“Halooooo, apa ada yang mendengarku? Tolong jawab aku!” teriak Shena lagi, ia berharap ada keajaiban, sehingga seseorang yang entah itu siapa bisa mendengar teriakannya dan menolongnya keluar dari sini.
Shena sudah putus asa, sudah hampir satu jam ia berada di tengah-tengah perkebunan teh tanpa arah yang jelas. Rasa lapar, haus dan dahaga menyerang tubuh Shena. Langit juga sudah mulai gelap dan Shena tidak tahu kemana lagi ia melangkah, “Leooooo, tolong akuuuu!” teriak Shena seketika. Gadis itu menangis karena panik dan ketakutan.
“Leooo!” teriak Shena lagi, masih sambil menangis karena ia tahu, Leo tidak mungkin bisa mendengar teriakannya. "Apa kamu mendengarku? Aku sangat meridukanmu? Apa kamu juga merindukanku? Jawab aku, Leo! Ah ... aku lupa, kamu tidak akan mungkin bisa menjawabku.” Shena sudah mulai frustasi dan juga lelah. Ia terduduk di tanah yang dikelilingi tanaman teh. Baunya yang harum dan khas menusuk-nusuk hidung Shena meski ia sedang dalam keadaan menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus kuat meski tanpa Leo disisiku. Aku pasti bisa!” Shena menguatkan semangatnya sendiri untuk bisa mencari jalan keluar dari masalah ini. Sayangnya, Shena tidak tahu ke mana lagi ia harus melangkah. Sudah daritadi ia berjalan tapi tetap saja tidak menemukan siapapun di sini.
“Aku sangat mencintainya.” Shena mulai meracau, “Aku sungguh-sungguh mencintainya,” gumam Shena sambil menunduk lemah di tanah. Pakaian Shena jadi ikut kotor. Shena baru sadar kalau selama ini, dirinya tidak pernah mengungkapkan cinta pada Leo meski berulang kali Leo menyatakan cinta pada Shena. Kini mereka sudah tidak bisa bertemu lagi. Secara otomatis, dia juga tidak akan bisa lagi menyatakan perasaannya pada Leo untuk selamanya. Di tambah saat ini, Shena sedang dalam keadaan yang tidak baik. Entah ia bsia keluar dari tempat ini atau tidak.
Shena menyesal karena ia tidak bisa lagi melihat wajah Leo untuk terakhir kali sebelum memutuskan berpisah dari Leo karena menuruti permintaan ayah Leo. Padahal, Shena ingin Leo tahu bahwa dia juga sangat mencintainya.
“Shena!” panggil seseorang.
Shena tersentak, ia sangat tahu suara siapa itu, tapi Shena tidak ingin tertipu dua kali. “Itu pasti cuma khayalanku lagi,” gumam Shena. “Tidak mungkin kalau itu suaranya.” Shena berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terlalu terbawa perasaan karena kerinduannya pada Leo.
“Shena! Aku datang!” ucap seseorang itu lagi.
Shena kembali tersentak, ia langsung bangun berdiri dan megamati sekeliling. Samar-samar dari arah barat daya ia melihat ada sosok yang berjalan mendekat ke arahnya. Shena mengusap air matanya untuk memastikan penglihatannya. Kali ini, Shena tidak bisa percaya pada apa yang dilihatnya.
Orang yang berjalan itu, sosok yang tadi memanggil namanya, mirip sekali dengan Leo. Tidak salah lagi, orang itu memang Leo. “Apa itu kamu, Leo?” tanya Shena pada orang itu, jarak mereka kini hanya sekitar 5 meter.
Shena terhuyung sejenak ke belakang karena terlalu shock dan tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Shena masih ragu apakah orang yang ada di depannya saat ini memang benar-benar Leo atau bukan. Untuk membuktikannya, Shena berlari ke arah Leo dan memeluk kekasihnya yang sangat ia rindukan selama ini.
Tubuh Leo terhentak kebelakang karena Shena menabraknya dengan Kencang. Tapi cowok itu masih bisa menahannya karena fisik Leo jauh lebih kuat dari Shena. Keduanya saling berpelukan dengan erat untuk melepas kerinduan masing-masing.
Shena menangis sejadi-jadinya di pelukan Leo. Ia tidak menyangka bakal bisa bertemu lagi dengan Leo dengan cara seperti ini. Perlahan, Shena melepaskan pelukan Leo dan menatap wajah orang yang amat sangat dicintainya.
“Apa ini mimpi? Aku bertemu lagi dengan Leoku?” tanya Shena yang masih belum percaya pada orang yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Leo mencubit kedua pipi tirus Shena. “Ini bukan mimpi Sayang, apa kamu lupa dengan wajah suamimu sendiri?” Leo masih sempat-sempatnya menggoda Shena.
Shena memeluk tubuh Leo lagi, dan dia juga masih menangis dipelukan Leo. Gadis itu sangat senang karena akhirnya ia bisa kembali bertemu Leo.
Leo melepaskan pelukan Shena dan menatap wajah Shena dengan lembut. Perlahan, Leo mendekatkan wajahnya pada Shena dan mencium bibir gemetar Shena dengan mesra. Keduanya saling mencurahkan perasaan masing-masing ditengah-tengah hamparan perkebunan teh di malam yang syahdu dan indah penuh dengan taburan bintang tepat di malam bulan purnama.
Kedua insan saling beradu kasih setelah lama tak bertemu. Mereka saling mencurahkan perasaan masing-masing. Ketakutan Shena yang tadi ia rasakan mendadak hilang dan diganti dengan kebahagiaan tak terkira. Shena tidak lagi peduli ada di mana dirinya saat ini. Asal ada Leo bersamanya, gadis itu sudah tidak takut lagi.
****
Sudah puas kan .. karena Leo yang ditunggu-tunggu sudah datang ...
nantikan terus kesruan kisah Shena dan Leo selanjutnya ya ... mulai masuk seru soalnya ....
Leo yang lagi menatap Shena 🤭🤭
Shena yang lagi menatap Leo 🤭🤭
jangan lupa dukung penulis dengan like, vote, dan komentarnya ya ..
__ADS_1
terimakasih semuanya .. love you all 😘😘
salam manis dari penulis ♥️♥️♥️♥️