
Shena ingin merengkuh Leo, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena tangan Shena sedang terikat. Tanpa sadar, Shena menangis sesenggukan melihat keadaan Leo yang babak belur dan berantakan.
“Kau ini gengster, kenapa mau saja dipukuli oleh mereka!” gerutu Shena yang tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat keadaan Leo.
Salah satu penjahat yang berdiri di sebelah Shena mau menyeret gadis itu pergi menjauhi Leo supaya ia bisa melanjutkan aksinya menghajar cowok itu. Namun, niatnya ia urungkan karena wanita yang bernama Nunuk melarangnya.
“Biarkan saja dulu, waktu mereka bersama tidak banyak,” larang Nunuk pada anak buahnya yang akan menyeret Shena. Wanita paruh baya itu mengamati Leo yang sedang menatap Shena penuh makna. “Leo, ucapkan salam perpisahan pada orang yang kau cintai sebelum dia mati,” ucap wanita itu tanpa rasa belas kasih.
Leo hanya tersenyum dan berusaha bangkit menahan segala rasa sakit. Kini, ia duduk di depan Shena lalu membantu mengusap air mata Shena yang mengalir deras membasahi pipi lembutnya.
“Jangan menangis, ini bukanlah apa-apa. Aku senang, kamu masih baik-baik saja. Maafkan aku, karena sudah membuatmu terseret dalam situasi ini.” Leo mengusap lembut pipi Shena.
Awalnya Shena memang marah sekali pada Leo atas apa yang ia alami sekarang, tapi gadis itu tidak lagi merasakan kemarahan yang sama seperti tadi. Sebaliknya, dia ketakutan dan khawatir jika terjadi apa-apa pada Leo. Apalagi Leo mengalami banyak luka lebam akibat pukulan para penculik yang sedang memerhatikan mereka saat ini.
Kenapa rasanya aneh sekali? Sebelum Leo datang kemari, aku sangat membencinya dan terus saja menyalahkannya, tapi kenapa aku mengkhawatirkannya sekarang?
“Shena, berbaliklah ... dan dengarkan aku baik-baik.” Shena tidak begitu paham dengan permintaan Leo, tapi gadis itu mau saja menuruti Leo dan langsung berbalik badan. Shena terpaku setelah mendengar kata-kata Leo yang berbisik di telinganya sambil melepaskan ikatan tali ditangannya.
“Begitu aku kasih aba-aba, cepatlah ke luar dari sini!” bisik Leo di telinga Shena.
Selang beberapa detik, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari luar pintu gudang. Tidak lama kemudian, pintu gerbang itu diterobos oleh beberapa pasukan bersenjata lengkap dan langsung menyerang para komplotan penjahat yang mengelilingi Shena dan Leo.
__ADS_1
“Cepat! Sekarang! Larilah!” teriak Leo dan mendorong tubuh Shena ke luar dari pintu begitu pintu gudang terbuka.
Shena yang terkejut dan masih setengah sadar dengan apa yang dilihatnya, langsung berlari ke luar gudang menerobos pasukan-pasukan yang tidak ia kenal di saat mereka gencar masuk ke dalam. Sedangkan Shena malah berlari ke arah sebaliknya dan ke luar dari pintu gudang yang sudah koyah akibat terobosan dari pasukan bersenjata lengkap tadi.
Shena berlari sekencang mungkin sambil mendengar suara tembakan yang menggema di telinganya. Shena terus berlari dan berlari, agar menjauh dari perang besar yang terjadi antara para komplotan penjahat dan para pasukan yang baru saja masuk melewati Shena.
Dari suara tembakan saja, pasti suasana di dalam sangat menakutkan. Mereka semua saling baku tembak dan sudah banyak yang meregang nyawa akibat serangan tembakan dari dua kubu masing-masing.
Di tengah pelarian Shena, tiba-tiba ia terhenti ketika mendengar suara tembakan yang sangat keras. Dalam benaknya ia takut Leo yang sedang terluka karena menjadi sasaran empuk amukan peluru yang ke luar dari senjata api para musuh. Dengan kata lain, Shena takut jika Leo ikut terkena tembakan nyasar, sebab kondisi Leo saat ia tinggalkan tadi tidak dalam keadaan baik meski ia dikenal sebagai gembong mafia.
Tanpa pikir panjang, Shena pun balik badan dan berlari kembali ke arah sebelumnya ia datang untuk melihat situasi yang terjadi, berharap Leo baik-baik saja. Semakin dekat, suara tembakan semakin kencang terdengar, mereka sepertinya masih baku hantam dan saling meluncurkan tembakan satu sama lain.
Semoga Leo baik-baik saja. Bagaimana jika peluru-peluru itu mengenainya? Aku harus bagaimana?
“Leo ... semoga kamu tidak apa-apa? Kenapa aku bodoh sekali, sih? Kenapa juga tadi aku tidak berlari dengan Leo saja? Tapi, mustahil juga jika aku berlari dengannya, kami berdua akan cepat tertangkap mengingat Leo yang berdiri saja sudah kesusahan. Bahkan bisa jadi kami berdua langsung kena tembak jika tidak segera berlari dnegan cepat.” Gerutu Shena sambil berlari ke arah pintu gudang. Gadis itu terlihat sangat mencemaskan kondisi Leo dan menyesali tingkahnya yang tidak berpikir dengan jernih saat memutuskan melarikan diri karena panik.
Sesampainya di bibir pintu, Shena terkejut karena wanita yang di panggilnya Bibi oleh Leo tadi berada di cengekraman Leo dan ada pistol jenis ragingbull 454 dengan kecepatan tembak 2700 joule siap melayang di kepalanya. Tidak salah lagi, bibi Nunuk ini menjadi sandera Leo.
Pantas saja suasananya jadi sepi, ternyata biang keroknya sudah tertangkap. Hebat juga si Leo, sia-sia saja aku mengkhawatirkannya. Harusnya aku tahu, Leo tidak akan semudah itu di kalahkan.
Shena langsung mengerti bahwa saat ini Leo sudah mengendalikan situasi. Dengan cepat gadis itu bergeser ke samping kanan untuk menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh siapapun sambil memantau pergerakan mereka dari jauh. Ia bersembunyi di balik tumpukan karung goni berukuran besar yang tersusun rapi di samping pintu gerbang gudang itu.
__ADS_1
Dari jauh, Shena bisa merasakan ketegangan yang ada di dalam sana. Namun, Shena merasa sedikit bisa bernapas lega karena Leo sudah tidak apa-apa. Gadis itu melihat ada banyak sekali koban yang bergelimpangan di mana-mana. Bau anyir darah dari para korban juga tercium menyengat di hidung Shena sehingga gadis itu merasa mual karena tidak tahan dengan bau darah yang berceceran di mana-mana. Sebenarnya, ia ingin melarikan diri lagi, tapi dia tidak bisa meninggalkan Leo yang terluka seperti itu di tempat ini walaupun sudah ada pasukan Leo yang membantunya melawan para komplotan penjahat itu.
Dari pantauan Shena, kebanyakan para korban yang berjauhan, berasal dari komplotan para penculik yang sebagian besar adalah anak buah bibi Nunuk. Dengan kata lain, pertarungan sengit antara dua kubu ini dimenangkan oleh kubu Leo yang sepertinya memang sudah sangat terlatih menangani para penjahat kelas kakap seperti mereka.
Ketika melihat Nunuk tertangkap oleh Leo, semua anak buahnya berhenti menembak dan meletakkan senjata mereka masing-masing. Mereka semua menyerahkan diri, dan mengangkat tangan mereka ke atas sebagai tanda bukti menyerah.
“Sudah berakhir, Bi.” Ujar Leo pada mantan pengasuhnya.
“Kenapa kau tidak langsung membunuhku, ha?” bentak Nunuk pada Leo.
“Karena partnermu belum ke luar, aku tahu mereka semua yang bekerja sama denganmu masih ada di dalam sini,” jawab Leo sambil mengamati sekeliling.
“Tidak ada siapapun di sini, kecuali aku!” Nunuk masih saja bersikap kasar pada Leo.
“Kita lihat saja, apakah orang yang bekerja sama denganmu itu mau menyelamatkanmu atau tidak. Sebab, mereka semua itu sangat licik dan bisa jadi mereka semua hanya memanfaatkan kelemahanmu demi kepentingan pribadi mereka masing-masing.” Leo menjelaskan pada mantan pengasuhnya seolah dia tahu siapa-siapa saja yang bekerja sama dengan bibinya.
Jelas saja Leo tahu, karena Xiao nailah yang memberitahu semua identitas para pengkhianat yang mencoba menjatuhkan Leo. Mereka bahkan berencana membunuh Leo dan semua orang yang berusaha menghalangi tujuan mereka. Itu semua karena dendam pribadi dan maraknya persaimgan di dunia bisnis para orang-orang kaya.
“Kalian semua! keluarlah dan jangan jadi pengecut! Tak perlu sembunyi lagi, karena aku sudah tahu semua identitas kalian!” teriak Leo. Suaranya juga terdengar jelas di telinga Shena yang bersembunyi di luar.
*****
__ADS_1