
Byon meninggalkan Leo berdua dengan Shena dan langsung berangkat ke Jerman bersama istrinya karena ada bisnis yang harus segera mereka selesaikan. Pengawal Leo membawakan mobil Bugatti La Voiture Noire warna merah yang baru saja dibelikan ayahnya sebagai hadiah pernikahan Leo dan Shena.
Mereka berdua langsung melesat pergi dari area pemakaman untuk menjajal mobil baru Leo. Selama dalam perjalanan, Leo diam seribu bahasa, ia hanya fokus menyetir tanpa tahu kalau sedari tadi Shena terus memerhatikannya.
“Hentikan mobilnya,” pinta Shena saat mereka melintasi jalanan yang ada di tepi pantai. Pemandangan dari sini sangat indah, tapi Shena jadi ilfeel karena Leo sama sekali tidak mengajaknya bicara.
“Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba saja minta berhenti di sini?” tanya Leo.
“Ada apa? Kamu yang kenapa? Dari tadi kamu hanya diam dan tidak seperti biasanya. Apa ada yang salah? Katakan padaku! Ada apa?” Shena agak sedikit keki dengan sikap Leo yang tiba-tiba dingin padanya.
Leo hanya terdiam menatap Shena yang juga menatapnya. Sebenarnya, dari lubuk hatinya yang terdalam, Leo masih merasa sedikit bersalah atas apa yang dulu menimpa istrinya. Seandainya ia bisa memutar kembali waktu, ia ingin kembali ke masa lalu dan mengembalikan semua kebahagiaan Shena yang sempat hilang karenanya. Tapi, Leo tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini pada Shena. Karena Leo, benar-benar merasa bersalah.
“Kamu tidak mau bilang? Baik, aku akan pergi dari sini supaya kamu lebih nyaman.” Shena membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Ia terus melangkah ke depan tanpa menghiraukan panggilan Leo dari belakang.
“Sayang, jangan begitu, kembalilah!” Leo menyalakan mesin mobilnya dan melaju menyusul langkah Shena. “Naiklah, maafkan aku, aku tidak bermaksud bersikap seperti ini. Ayo! Kita pergi jalan-jalan ke pantai itu, sepertinya pemandangannya sangat indah,” bujuk Leo.
Shena pura-pura tidak mendengar Leo. Dia terus berjalan lurus ke depan. Leo sendiri sudah tidak sabaran dengan sikap ngambek Shena. Cowok itu turun dari mobil dan berlari menyusul langkah istrinya. Tanpa peringatan, Leo langsung menggendong tubuh Shena dan membawanya kembali ke mobil.
Tanpa malu, Leo merebahkan tubuh Shena di jok belakang mobil dan mengunci tubuh Shena dengan tubuhnya. Leo sengaja membiarkan atap mobilnya terbuka sehingga kaki keduanya bergelantungan di atas pintu mobil sementara tubuh mereka saling tumpang tindih di atas kursi jok belakang mobil.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan? Ini di jalanan?” tanya Shena yang mulai gugup kalau Leo bersikap seperti ini.
“Memangnya kenapa? Pemerintah saja tidak berani melarang, kalau ada yang tidak suka tinggal tutup mata saja, apa susahnya?” Seringai nakal mulai muncul di wajah Leo.
“Leo, lepaskan aku! Malu, tahu ...” Shena mengamati area sekeliling, ia takut jika ada orang yang memerhatikan mereka. Untungnya, suasanya sedang sepi dan tidak ada siapa-siapa di sini.
Leo tersenyum melihat Shena menutup wajah dengan kedua tangannya. Namun, dibalik senyumnya, tiba-tiba saja Leo kembali diserang rasa bersalah. Ia bangun dari tubuh Shena dan membantu istrinya itu berdiri. Leo mulai menjaga jarak pada Shena sambil menundukkan kepalanya dan mengamati kakinya sendiri. Keduanya kini berdiri di sisi mobil.
“Ada apa? Katakan padaku, jangan diam seperti itu?” tanya Shena yang bingung dengan perubahan sikap Leo.
“Entahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Kamu menderita karena aku selama betahun-betahun lamanya, dan aku baru tahu sekarang. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapimu karena aku merasa sangat sangat sangat bersalah padamu.”
“Aku sudah banyak menyakitimu, awal petemuan saja aku sudah sering membuatmu menangis dan bersikap kasar padamu. Jika aku tahu apa yang terjadi padamu, mungkin aku akan mencari cara lain untuk mendapatkan hatimu tanpa harus memaksamu. Aku ...”
Shena memotong kata-kata Leo dengan sebuah ciuman manis darinya. Shena menatap suaminya sambil memegang kedua pipi Leo. “Mungkin dulu, aku memang menderita dan juga tersiksa, tapi sekarang aku bahagia, kamu tahu kanapa? Karena aku sudah menjadi istri orang yang amat sangat aku cintai. Orang itu berjanji padaku, kalau dia akan membahagiakan aku, tidak peduli apapun yang terjadi. Aku tidak tahu apakah orang itu masih ingat apa tidak dengan janji yang sudah ia katakan beberapa jam yang lalu tepat di depan makam almarhum mertuanya sendiri.” Shena tersenyum manis pada suaminya.
Senyum mengembang terpancar di wajah Leo. Ia sungguh bahagia mendengar kata-kata dan perlakuakn manis istrinya. Leo membimbing kedua tangan Shena lalu meletakkannya di bahunya. Sementara tangannya sendiri melingkar rapi di pinggang pujaan hatinya. “Tentu saja aku ingat dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah kujanjikan padamu. Termasuk mengganti har-hari sedihmu dengan kebahagiaan tak terkira, hari-hari indahmu akan dipenuhi dengan berbagai warna.” Leo menempelkan dahinya di dahi Shena.
“Lalu, kenapa kamu bersikap dingin seperti tadi? Kamu menjauhiku karena merasa bersalah padaku. Padahal, bukan itu yang aku mau, aku tidak ingin kamu bersalah lagi padaku. Aku sudah tidak peduli dengan masa laluku. Sekarang aku ingin menjalani masa depanku bersamamu, masa depan yang hanya dipenuhi dengan kebahagiaan. Tapi, aku sangat sedih jika kamu bersikap dingin padaku. Jika kamu sampai seperti itu lagi, lebih baik aku pergi.”
__ADS_1
Leo menempelkan jari telunjuknya di bibir Shena. “Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku. Maafkan aku Sayang, mungkin aku terlalu terhanyut dalam perasan. Rasa kesalku pada Kenzo, rasa terima kasihku padamu, rasa cinta dan juga sejuta kebahagiaan, bercampur aduk dalam benakku sampai aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengendalikannya. Aku ... aku sangat mncintaimu.” Leo langsung menyapu lembut bibir Shena dan mecoba membuka mulut Shena secara perlahan. Keduanya saling mengisap bibir satu sama lain dan menikmati suasana romantis pasangan pengantin baru.
Deburan ombak pantai bergemuruh menyapu pasir putih yang terhampar indah disetiap sisinya. Suara kicauan camar menjadi saksi bisu betapa romantisnya Leo dan Shena yang sedang memadu kasih di dalam mobil barunya. Aura pengantin baru, terpancar jelas di wajah keduanya. Senyuman kebahahagiaan selalu menghiasai setiap waktu kebersamaan mereka.
“Oh tidak!” Shena melepaskan pelukan Leo dan menyudahi ciumannya. “Laura dan Roy, bagaimana dengan mereka berdua! Cepat antar aku kesana?” Tiba-tiba saja Shena jadi panik memikirkn Laura yang terakhir kali saat dia lihat, masih dalam kondisi pingsan.
“Sayang? Apa harus disaat seperti ini? Aku sedang ingin melakukannya? Kenapa kamu tiba-tiba merusak suasana romantis kita?” Leo memasang wajah kesal karena Shena menghentikan aktivitas birahinya secara mendadak tanpa pemberitahuan.
“Kita bisa melanjutkannya nanti malam, lagian aku tidak mau melakukannya di sini, punggungku sakit. Cepat antar aku, ayo ....” Shena memukul pelan lengan Leo agar cepat menyalakan mesinnya dan pergi ke tempat Laura yang entah ada di mana dia sekarang.
Leo tidak bisa menolak keinginan Shena meski ia sempat tersenyum saat Shena mengeluh punggungnya sakit. Cowok itu mengambil ponselnya dan menghubungi Roy. “Kau ada di mana?” tanya Leo pada Roy saat panggilannya sudah tersambung. “Apa?” Leo melirik Shena. “Oke, aku dan Shena akan segera kesana.” Leo menutup sambungannya.
“Ada apa?” tanya Shena yang ikut cemas melihat ekspresi suaminya.
“Laura masuk rumah sakit, Roy ada di sana untuk menemaninya.”
“Apa?” Shena terkejut. Ia tidak menyangka kejadian waktu itu bisa membuat Laura masuk rumah sakit.
****
__ADS_1
love you all . tunggu up selanjutnya ya.