
Byon sampai di depan rumahnya bertepatan dengan dua mobil yang datang dari arah belakang tepat saat laki-laki paruh baya itu keluar dari mobil Limosinnya bersama istrinya, Biyanca.
Tentu saja Byon langsung tahu mobil siapakah yang datang itu. “Selamat datang di kediamanku, Tuan Azkara.” Byon menyapa Zian yang berjalan menghampirinya. Disusul dengan kedatangan Naya dan anaknya, Dennis serta Evan, Fahri dan juga istrinya, Elma.
“Selamat malam Tuan Byon, maaf jika kami sekeluarga mengganggu waktu anda dengan kedatangan kami kemari.” Zian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Byon.
“Aku senang anda dan sekeluarga bersedia singgah kemari, Tuan Azkara. Sudah lama juga aku ingin sekali bertemu denganmu, terlepas dari hutang budiku padamu karena dulu, kau sudah menyelamatkan nyawa putraku, Leo. Aku rasa, kau juga sudah bertemu dengannya.” Byon membalas uluran tangan Zian dengan senang hati.
“Akulah yang harusnya berterimakasih pada anda, Tuan, karena telah mengirim Leo membantu menyelesaikan masalahku. Dia benar-benar mirip dengan anda. Sama-sama luar biasa.”
“Aku juga merasa begitu, aku harap dia tidak merepotkanmu dengan tingkahnya yang suka bertindak ceroboh.” ujar Byon sambil tertawa. “Mari kita masuk ke dalam,” ajak Byon yang berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Zian sekeluarga.
Kedatangan mereka semua langsung disambut oleh para pelayan rumah Byon yang berjejer rapi diruang tamu sambil membungkukkan seluruh badan mereka begitu majikan dan tamu spesialnya masuk ke dalam.
“Silahkan duduk, dan anggap saja seperti rumah kalian sendiri. Leo dan Shena mungkin sudah ada di dalam, aku akan menyuruh pelayanku untuk memanggil mereka. Sementara itu, tuan Azkara, mari ikut saya ke ruangan saya agar kita bisa berbicara lebih santai.”
Zian mengangguk pelan dan mengajak Fahri serta Evan untuk ikut dengannya ke ruang kerja Byon.
“Tunggu di sini Naya, aku harus bicara dengan tuan Byon dulu.” Zian beralih menatap Dennis dan mengecup kening putranya. “Jangan nakal ya Dennis, temani ibu dan ibu Elma di sini.” Zian mengusap lembut kepala putranya.
“Baik, Ayah.” Denis tersenyum senang. Sepertinya ia mulai betah berada di rumah Byon.
Zian, Fahri dan Evan masuk ke sebuah ruangan besar di mana Byon sudah menunggu di balik kursi kebesarannya.
__ADS_1
Mereka bertiga dipersilakan duduk dikursi panjang tepat di depan meja kerja Byon. “Tuan Azkara, jujur aku sangat terkejut mendengar bahwa anak perempuan yang aku beli dari anak buah Kenzo adalah adikmu. Seseorang membawa gadis itu padaku untuk dijual dan aku memang membelinya 15 tahun yang lalu. Dan gadis itu sekarang tumbuh menjad gadis yang luar biasa karena diasuh dan dirawat dengan baik oleh orang kepercayaanku yang dulu juga sempat mengasuh Leo. Aku rasa, sebelum kau bertemu dengan anak perempuan itu, akan lebih baik jika kau bertemu terlebih dulu dengan wanita yang mengasuhnya dan memberikan kasih sayang seorang ibu pada adikmu. Apa kalian semua keberatan?” tanya Byon dengan ramah.
Hati Zian dan saudaranya bergetar begitu mendengar penjelasan panjang dari Byon. Untuk sesaat, ketiganya saling pandang satu sama lain. “Sama sekali tidak, Tuan,” jawab Zian dengan tegas.
Tak berselang lama, Bibi Jenny masuk ke dalam ruang kerja Byon yang juga sudah dinanti-nanti oleh trio azkara sambil harap-harap cemas. perasaan mereka campur aduk antara tegang dan juga bahagia.
“Anda memanggil saya, tuan Besar?” tanya bibi Jenny sambil membungkukkan badannya.
“Ehm, ada yang ingin bertemu denganmu, kemarilah! Aku akan mengenalkannya padamu siapa mereka.” Byon mengitari mejanya dan berdiri tepat di depan trio Azkara yang sejak tadi juga ikut berdiri dan menatap kedatangan bibi Jenny dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
“Mereka adalah keluarga Azkara, saudara kandung dari anak perempuan yang kau asuh sejak 15 tahun yang lalu,” terang Byon masih dengan sikap tenang setenang permukaan air di kolam.
Bibi Jenny langsung terkejut mendengar apa yang dikatakan majikannya padanya. Dia shock tapi juga mendadak senang mengetahui fakta yang mencengangkan ini. Sebisa mungkin ia menguasai dirinya agat tidak terlewat lepas dihadapan majikannya yang sangat ia hormati ini.
Byon mengangguk, “Benar, mereka datang kesini, karena ingin memastikan apakah anak perempuan yang dulu kutitipkan padamu itu benar saudara kandung mereka atau bukan.”
Bibi Jenny tidak bisa berkata-kata. Matanya mulai digenangi air mata. Wanita paruh baya itu menunduk untuk menyembunyikan air matanya dan mengusapnya perlahan dengan tangannya. Ia memantapkan hati untuk sekali lagi menatap ketiga pria tampan yang berdiri didepannya. Tiba-tiba saja bini Jenny terhuyung mundur kebelakang. ia benar-benar terkejut melihat ada Zian di depannya.
"Ada apa, Jenny?" tanya Byon yang penasaran karena melihat pelayannya tiba-tiba terkejut seperti itu saat bertemu Zian.
"Zian?" sapa bibi Jenny.
"Bibi Jenny? Bagaimana anda bisa ada di sini?" tanya Zian yang juga terkejut melihat orang yang dikenalnya.
__ADS_1
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Byon
"Beliau adalah tetangga saya, Tuan. Dulu, rumah kami saling berhadapan ketika saya menyamar menjadi montir selama satu tahun. Saya tidak menyangka kalau bibi Jennylah yang anda bicarakan."
“Waow, ini kebetulan yang menakjubkan." Byon ikut terkejut mendengar penjelasan dari Zian.
“Iya, Tuan. Ini sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka, adikku masih hidup. Dan yang lebih mengejutkanku lagi, ia berada di tangan orang yang tepat. Terimaksih sudah membiarkan adikku tetap hidup.” Zian tak bisa lagi membendung air matanya karena terlalu bahagia mengetahui fakta adiknya memang benar-benar masih hidup dan baik-baik saja. Fahri dan Evan pun juga tidak bisa menutupi ekspresi kebahagian mereka.
“Dimana dia sekarang, Nyonya? tanya Fahri yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik kandungnya.
“Tenanglah tuan Azkara, kita makan malam dulu, baru kau boleh menemui adikmu dan akan aku minta bibi Jenny mengantar kalian kesana setelah selesai makan malam. Kalian tidak ingin melihat pengantin baru dulu? Mereka berdua pasti senang bertemu dengan kalian.”
“Pengantin baru? Apa maksudnya?” tanya Evan.
“Maafkan aku karena tidak memberitahu kalian lebih awal. Leo dan Shena sudah menikah seminggu yang lalu dan aku hanya mengundang keluarga dan kerabat dekatku saja untuk memeriahkan acara pernikahannya. Tak ada satupun orang lain yang aku undang. Tapi aku berjanji akan mengadakan pesta resepsi untuk mereka berdua begitu mereka lulus kuliah nanti. Saat ini, aku ingin keduanya fokus dengan skripsinya.”
“Wah, kalau begitu selamat tuan Byon, saya tidak menyangka Leo akan menikah secepat itu dengan Shena. Mereka berdua memang pasangan yang serasi.” Zian ikut senang mendengar berita pernikahan Byon.
“Pasti Leo yang sudah memaksa Tuan agar cepat menikahkannya dengan Shena.” Evan ikut menebak.
Byon tiba-tiba saja tertawa mendengar tebakan Evan yang sepenuhnya memang benar. “Cecunguk itu memang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikahi wanita yang dicintainya. Sebagai orang tua aku hanya bisa mendukung mereka. Mari, kita ke ruang makan, mungkin yang lainnya sudah menunggu.” Byon mempersilakan tamunya keluar ruangan untuk menikmati makan malam.
****
__ADS_1
nanti kalau senggang aku lanjutin lagi deh ... tapi gak janji ya ...