
“Kenapa kamu lakukan itu, Suamiku? Lihatlah! Kita sudah tidak punya apa-apa lagi!” teriak wanita yang bernama Nurhayati disela-sela tangisannya. Sedangkan suaminya masih saja tidak mau menatap istrinya.
“Sudah terlambat bagi kalian semua untuk menyesal. Anggap saja ini hukuman atas perbuatan yang sudah kalian lakukan!” ujar Leo sambil melipat tangannya di dada, sambil menatap tajam sekumpulan emak-emak yang sedang meratapi nasib mirisnya.
“Apa tujuanmu, ha? Bagaimana bisa tanah dan bangunan ini menjadi miliki Shena?” tanya bu Nur dengan penuh emosi lagi. Ia tidak terima jika semua aset berharganya menjadi milik mantan anak kosannya yang sudah diusirnya dengan paksa. “Apa yang gadis itu berikan padamu? Apa dia sudah menjual tubuhnya padamu? Huh, aku sudah curiga gadis nakal seperti Shena pasti sudah mengajakmu tidur bersama sehingga sekarang kau jadi bucinnya dia!” teriak emak-emak itu.
“Beraninya kau ....” Leo mengangkat tangannya dan hampir saja menggampar wanita yang sudah menghina Shena, tapi Leo mengurungkan niatnya karena tidak mau mengotori tangannya. Sedangkan semua orang yang melihatnya terkejut dan was-was jika Leo benar-benar akan memukul emak-emak itu. “Dasar sialan kau, udah salah masih aja nyalahin orang! Kalian semua sudah membuat Shenaku menderita, aku sudah peringatkan kalian sebelumnya, tapi kalian tetap saja membuat dia hampir saja kehilangan nyawa. Apa yang kalian terima ini masih belum setimpal dengan apa yang kalian lakukan pada Shena. Shenaku tidak bersalah, dia gadis suci dan lebih terhormat daripada kalian yang kerjaannya hanya mengghibahin orang, tapi kalian semua selalu menyalahkannya tanpa bukti. Akulah yang selalu mengejar-ngejar cinta Shena, dia selalu menjaga harkat dan martabatnya yang juga akan aku lindungi dengan segenap jiwa dan ragaku! Aku jugalah yang sudah menjebloskan putrimu ke penjara, kenapa kau malah menyalahkan Shena? Dia gadis baik-baik, tidak seperti putrimu yang kelakuannya sama persis sepertimu! Aku rasa polisi juga sudah menjelaskan padamu alasan kenapa putrimu itu dipenjara!” mata merah Leo membuat takut ketua geng rempong emak-emak itu. Wanita itu terlihat panik karena belangnya sudah diketahui banyak orang.
“Bukankah sudah jelas? Putri masuk penjara karena difitnah oleh Shena.” Bentak bu Sari berusaha membela ketua geng rempongnya, meski ia sendiri agak ragu setelah mendengar kebenarannya.
Leo menahan napas agar emosinya tidak lagi ke luar. “Kalian tidak tahu? Oke! Akan aku beritahu. Putri, anak dari wanita yang kalian bela ini sudah membunuh mantan anak kosnya sendiri, kau ingat? Aku rasa kau sudah melihat videonya.” Leo menatap marah wanita yang bernama Nurhayati. Wanita itu hanya diam terpaku. Sedangkan teman-temannya yang ada di belakang bu Nur, tercengang tak percaya.
“Video? Video apa?” tanya salah satu temannya.
“Entahlah,” jawab yang lainnya.
Selama ini ketua geng rempongnya bilang bahwa Putri masuk penjara karena sudah di fitnah oleh Shena. Sebab itulah mereka semua mau membantu mengusir Shena karena sudah terprovokator oleh wanita licik berlagak baik yang bernama Nurhayati ini.
“Jadi, selama ini kita dibohongi?” komentar bu Sari pada bu Sagita yang berdiri di sebelahnya.
“Benar, aku jadi merasa bersalah pada Shena. Aku sudah curiga, tidak mungkin gadis baik dan pintar seperti Shena bisa memfitnah orang, sekarang kita semua sudah kena imbasnya.” Bu Sagita menangis mengingat bagaimana Shena yang tidak berdosa waktu itu mereka usir dengan paksa tanpa mau mendengar dulu penjelasan darinya. Bahkan tak ada seorangpun yang mau membantu Shena waktu itu. Kini kedua ibu-ibu ini menyesal dan semakin bersalah pada Shena.
Leo hanya tersenyum kecut mendengar penyesalan yang menurutnya sudah tidak ada artinya. Gara-gara ulah para emak-emak yang tidak tahu diri ini, Shena harus mengalami banyak kesulitan dan hampir saja meregang nyawa. Tentu saja Leo tidak bisa tinggal diam begitu saja, apalagi setelah Leo tahu bahwa Shena sempat juga dilempari kerikil oleh wanita-wanita menyebalkan ini.
“Huh, orang-orang seperti kalian itu memang tidak punya malu, tapi aku akan berbaik hati pada kalian semua agar kalian, tidak tidur di jalanan. Sebaiknya ....” Leo menggantungkan kalimatnya sehingga membuat beberapa ibu-ibu itu semakin tegang. “Kalian temani suami kalian ke penjara, itu akan lebih baik dibandingkan jika kalian harus tidur dijalanan,” tandas Leo yang langsung membuat ibu-ibu itu semakin lemas tak berdaya bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Leo pergi meninggalkan lokasi dan menyerahkan semuanya pada Roy serta pasukannya untuk menyelesaikan semua urusan yang ada di sini. Yaitu menjebloskan semua keluarga emak-emak rempong yang sudah mengusir paksa kekasihnya dan membuat Shena menderita untuk masuk ke dalam penjara.
Aura gengster yang ada dalam diri Leo tampak menyeramkan di mata Roy. “Elu bener-bener kejem, Bro!” komentar Roy sebelum Leo pergi. Leo hanya tersenyum simpul sambil memakai kembali kacamata hitamnya lalu masuk ke dalam mobil Ferrarinya, Leopun menyalakan mesin dan melesat pergi.
****
Hari ini adalah hari terakhir Shena berada di rumah sakit. Setelah check up terakhir, Shena sudah diperbolehkan pulang. Hanya saja, ada suatu hal yang mengganjal di pikiran Shena setelah ia ke luar dari rumah sakit.
Tinggal di mana aku setelah ini? apa Laura mau menampungku sampai ujian akhir semester selesai?
Leo datang sambil membawa sebuket bunga. Shena pura-pura tersenyum menyambut kedatangannya dan menyembunyikan kegalauannya. Leo menghampiri Shena dan memberikan seikat bunga mawar merah sambil mengecup kening Shena.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Sayang?” tanya Leo sumringah.
Leo menyapu bibir Shena dengan lembut dan mesra. Untuk beberapa menit, mereka asyik menikmati suasana syahdu yang baru saja terjalin diantara mereka berdua. Agar tidak lepas kendali, Leo menyudahi ciuman mautnya dan langsung membantu membereskan semua barang-barang Shena sebelum mereka pergi meninggalkan rumah sakit ini.
“Kapan check up terakhirnya?” tanya Leo.
“Sebentar lagi, mungkin masih menunggu dokter yang merawatku datang untuk memeriksaku, kenapa? Apa kamu sedang ada urusan lagi?” tanya Shena untuk mengurangi rasa malu dan kegalauannya.
“Tidak ada, sebagian urusan sudah aku selesaikan.” Leo tersenyum senang. “Aku suka sekali melihat wajahmu yang merah merona itu. Kamu benar-benar cantik, Sayang ....” Leo mengecup bibir Shena lagi sehingga gadis itu menjadi gugup.
“Apa aku boleh tahu urusan apa yang sedang kamu selesaikan sampai merasa sesenang itu?” tanya Shena penasaran sembari menghilangkan rasa gugupnya karena Leo terus saja menggodanya.
Leo menatap wajah Shena lekat-lekat, “Balas dendam,” jawab Leo singkat.
__ADS_1
Entah kenapa Shena tidak merasa senang ketika Leo mengatakan kalimat yang terdengar menakutkan itu. “Apa maksudmu? Balas dendam pada siapa lagi? Dan juga ... balas dendam apa yang sudah kamu lakukan?” meski Leo belum menjawab, tapi Shena sudah merasa takut jika Leo mengucap kata ‘balas dendam'. Itu terdengar mengerikan.
“Balas dendam pada orang-orang yang sudah mengusirmu dari kosan. Jangan khawatir, Sayang, aku tidak melakukan apa-apa. Menyentuh mereka saja juga tidak.” Leo memang berkata jujur, Leo sama sekali tidak menyentuh siapapun.“Sekarang, mereka semua sudah hidup bahagia ... di dalam penjara.” Leo tersenyum ramah pada Shena, tapi matanya terlihat sangat menakutkan.
“Apaa?” Shena terkejut mendengar kata-kata Leo.
Meski ini bukan kali pertamanya Shena mendengar perlakuan sadis Leo terhadap orang-orang yang tidak disukainya, tetap saja hal itu membuat Shena terkejut. Gadis itu tidak merasa senang dengan tindakan yang dilakukan Leo, apalagi terhadap orang-orang yang menyakiti Shena.
Leo memeluk Shena yang diam terpaku. Cowok itu tahu betul bahwa Shena adalah gadis yang sangat baik, makanya Shena pasti merasa sangat keberatan dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap orang-orang yang menyakiti Shena.
“Aku hanya memberi mereka pelajaran, agar mereka tidak melakukan hal yang sama seperti yang sudah mereka lakukan padamu,” ujar Leo sambil memeluk erat tubuh gadis mungil yang kini sudah menjadi tunangannya.
“Tetap saja, aku tidak suka dengan semua yang kamu lakukan pada mereka,” gumam Shena.
Leo melepaskan pelukannya dan memberikan berkas-berkas penting kepemilikan tanah yang sudah ia beli untuk Shena.
“Apa ini?” tanya Shena tidak mengerti.
“Itu adalah surat-surat tanah milik emak-emak rempong yang sudah menyakiti dan memfitnahmu, rumah dan tanah mereka, sudah menjadi milikmu. Kamu tidak bisa menolaknya, jika kamu menolak, maka aku akan semakin menyiksa mereka.”
Shena semakin tertegun, bukan karena berkas-berkas yang Leo berikan pada Shena, melainkan kerena sikap Leo yang selalu mengancam Shena jika ia tidak menuruti kata-katanya.
Mau tidak mau, Shena memang harus menerima semua berkas-berkas itu tanpa bisa berkomentar apa-apa lagi. Namun, ia sudah memiliki rencana lain dari apa yang sudah Leo berikan padanya.
***
__ADS_1