Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
184 Berhasil Kabur


__ADS_3

Saat Shena sedang sibuk melancarkan aksi rencana yang sudah disusun Laura, Roy datang menemui istrinya untuk melihat apa yang sedang dilakukan Laura.


"Kau cantik sekali, Ra." Roy memeluk tubuh Laura dari belakang dan memerhatikan istrinya yang sedang berdandan.


"Tentu saja, aku memang sudah cantik dari dulu, oh iya .. minumlah jus itu. Sangat aku sudah menyiapkannya untukmu." Laura berdiri dan mengambilkan Jus dari berbagai buah yang di campur jadi satu kesukaan Roy.


Sambil tersenyum senang, Roy pun meminum habis jusnya tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Selang beberapa menit, Roy pun merasa pusing. "Kenapa kepalaku pusing sekali, ya?" Roy kliyengan menatap Laura yang ada di depannya.


Laura pun memampah tubuh suaminya agar rebahan di atas ranjang. "Mungkin ku kelelahan. Istirahatlah sebentar, nanti aku akan membangunkanmu jika pesta resepsi kita dimulai."


Itupun juga kalau aku ingat, hehe. Batin Laura.


Sementara di ruangan lain, Shena juga mengamati suaminya yang sedang terkapar tak berdaya di atas ranjang sambil menggigit jari.


"Maafkan aku Leo, aku terpaksa melakukan ini karena aku tahu, kau pasti tidak akan pernah mengizinkanku melihat konser idolaku. Aku bersedia menerima hukuman apapun darimu begitu aku selesai melihat konser. Sampai jumpa lagi, Sayang. Aku pergi dulu." Shena menciumi wajah suaminya lalu mengambil tas dan semua perlengkapan yang dia butuhkan untuk bisa pergi ke China melihat konser idolanya bersama Laura.


Tak lupa Shena juga mencomot dompet dan semua ponsel Leo agar suaminya itu tidak bisa melacak keberadaannya jika Leo tersadar nanti.


Tanpa rasa berdosa, Shena pun pergi keluar ke tempat yang sudah ditentukan Laura sebelumnya, yaitu di bandara. Hatinya benar-benar senang karena untuk pertama kalinya, Shena bisa menikmati masa-masa kebersamaan bersama dengan sahabatnya yang sebelumnya jarang mereka lakukan.


****


Kembali ke saat sebelum Leo datang menemui Shena di ruangan Laura.


"Ra? Kamu gila, ya? Untuk apa bawa obat ginian segala? Dan bagaimana bisa kamu punya obat tidur? Kamu sakit insomnia?" Shena terkejut Laura mengeluarkan sebotol kecil obat tidur yang ia dapatkan dari dokternya.

__ADS_1


"Saat tahu mendengar Roy tiada, aku sempat ingin menghakhiri hidupku dan menyusul kepergiannya, tapi aku teringat dirimu. Aku tidak mau mati dulu sebelum bertemu denganmu.


Tidak kusangka, kau malah mengajakku ke tempat dimana Roy terjatuh. Aku pikir setelah kau mengajakku kesana, aku akan meminum obat ini dan menjatuhkan diriku ke jurang. Dengan begitu, aku tidak akan merasa sakit lagi. Namun ternyata, Roy masih hidup dan aku tidak jadi menggunakan obat ini.


Tadinya mau aku buang, tapi setelah kupikir-pikir lagi, obat ini bisa membantu kita kabur dari duo somplak itu, dan kita bisa pergi melihat konser idola kita. Bagaimana? Ide bagus, kan?" Laura tesenyum senang menatap Shena.


"Wah kamu kayaknya stres berat deh. Leo bisa menemukan kita dengan mudah sebelum kita menginjakkan kaki kita di China. Kau tidak tahu seberapa hebatnya Leo dalam melacak orang. Dia punya banyak teman yg mengerikan. Aku tidak mau cari gara-gara dengannya." Shena agak ragu dengan rencana Laura ini. Resikonya terlalu tinggi untuk dilalui.


"Leo sangat mencintaimu, tidak mungkin dia membunuhmu hanya karena pergi melihat konser."


"Bukan aku yang aku takutkan. Tapi idolaku yang bakal terancam nyawanya." Shena hampir saja menjerit.


"Bukankah kau bilang Leo tidak akan membunuh siapapun selama kau mengandung anaknya?"


"Dia memang tidak bisa, tapi temannya bisa. Sudah kubilang teman-teman Leo itu mengerikan." Wajah Shena terlihat cemas memikirkan akibat jika ia membuat Leo marah.


"Jangan takut, kita gunakan saja obat ini. Ambil semua dompet dan ponsel Leo agar ia tidak bisa menghubungi siapapun ketika tahu kita kabur dari sini. Kalaupun ia menemukan kita, konsernya pasti sudah selesai. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada Roy." Laura benar-benar yakin kalau rencananya.


"Aku yakin, percayalah padaku. Biar nanti aku yang menghadapi Leo jika dia marah padamu."


Shena mengangguk senang. Sudah lama ia ingin melihat lagi konser idolanya apalagi bersama dengan Laura.


Shena dan Laura tiba di bandara dengan hati riang gembira tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah membuat kekacauan besar yang memancing si singa Leopard dan macan tutul Roy kalap.


***


Roy terbangun dari tidurnya setelah mendengar ketukan pintu kamar dari luar. Setengah sadar, ia mengamati sekitar ruangannya dan mengingat-ingat apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Tuan, pestanya sudah dimulai, semua tamu sudah menunggu anda." Terdengar suara pelayan hotel dari luar.


Roypun langsung bangun dan terkejut mendengar suara itu. "Apa?" Ia memeriksa arlojinya dan mencari-cari keberadaan Laura, tapi Roy tidak menemukan istrinya dimanapun. Roy juga mencari-cari ponselnya yang tiba-tiba saja juga hilang tanpa jejak. Begitu juga dengan dompetnya.


Roy jadi kelabakan sementara pelayan diluar masih saja menunggu jawaban dari Roy.


Dengan cepat Roy membuka pintu dan langsung menatap tajam mata pelayan itu sampai wanita muda tersebut ketakutan. "Dimana Leo?" tanya Roy dengan kilatan api kemarahan yang berkobar.


Roy masuk ke dalam kamar Leo dan melihat sahabatnya itu masih teler di kasur.


"Leo! Bangun, woy! Ini gawat!" Roy pun mengguncang-guncang tubuh sahabatnya.


"Apaan sih lu Roy, gangguin tidur gua ma Shena aja. Pergi Sono!" Rupanya Leo masih belum sadar dengan apa yang sudah terjadi.


"Wah parah nih orang. Istri kita berdua raib dan elu masih enakan molor disini?" teriak Roy ditelinga Leo sehingga cowok itu terbangun seketika. Bukan karena suara teriakan Roy yang memekikkan telinga, tapi karena hilanganya Laura dan Shena.


setengah tidak percaya Leo mencari-cari keberadaan Shena, Leo langsung berlari kesana kemari dan memang tidak menemukan Shena dimanapun. Leo juga mencari-cari semua ponselnya yang juga entah hilang kemana. Dompetnya pun juga tidak ada.


"Ada apa ini?" Leo jadi bingung sekaligus heran.


Roy yang dari tadi diam di atas kasur mulai bersuara lagi. "Hanya ada satu hal yang pasti, mereka berdua pasti pergi melihat konser idola mereka." Roy menundukkan kepalanya untuk menahan amarah.


"Apa?" Tangan Leo mengepal kuat. Mata merah menyala Leo terlihat sangat menakutkan. "Habislah kau, Sayang. Beraninya kau melakukan ini padaku. Tunggu aku disana! Akan aku pastikan itu adalah konser terakhir yang kau lihat." Leo memukulkan tangannya ke dinding kamar tak berdosa hingga retak tak karuan.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


mampir juga di cerita baruku ya ... dukung like, vote dan komentarnya juga ... love you all ...



__ADS_2