
Shena masih tertidur pulas saat Leo pulang dari olah TKP jatuhnya Roy ke jurang. Perlahan, Leo mendekat ke arah Shena dan mengelus lembut pipi istrinya. Sentuhan Leo yang hangat membuat Shena yang memang sejak tadi menunggu kedatangan Leo langsung terjaga seketika.
“Apa aku membangunkanmu, Sayang?” tanya Leo dengan ekspresi datar sedatar permukaan air kolam.
Melihat wajah suaminya yang tak biasa dari biasanya, Shena bangun dan bersandar di sandaran tempat tidurnya. “Tidak, Sayang. Aku memang sedang menunggumu. Apa ... kau baik-baik saja?” Shena memerhatikan suaminya yang diam menunduk. Tangan Leo dengan lembut mengelus perut rata Shena.
“Besok, kita harus membawa Laura kesana. Saat ini, mungkin dia sudah mendengar berita kecelakaan Roy, dan kamu harus berada di sisinya mulai besok pagi.” Leo memerhatikan jam dinding yang sudah menujukkan pukul 03.00 dini hari.
Dengan wajah tak kalah murung, Shena merebahkan kepalanya di dada Leo. “Aku mengerti, ini pasti sangat berat bagi Laura. Antarkan aku ke rumah Laura sebentar lagi, aku tidak ingin dia sendirian. Aku takut dia akan bertindak nekat jika tidak ada orang lain bersamanya. Laura pasti sangat terpukul mendengar kabar soal Roy.”
“Apa kamu yakin kamu baik-baik saja, Sayang? Kamu masih dalam masa pemulihan, kamu juga butuh banyak istirahat. Aku tidak ingin kamu dan Leo junior kita kenapa-napa. Istirahatlah sebentar, baru kita akan pergi ke rumah Laura.” Leo membelai lembut rambut Shena yang masih betah bersandar dipelukannya.
“Aku dan Leo tengil kita akan baik-baik saja Sayang, jangan khawatirkan kami. Aku sudah minum banyak vitamin, nutrisi dan memakan semua makanan yang bergizi agar Leo junior kita berkembang dengan baik di dalam.” Shena beralih menatap suaminya. “Semua ini demi kebaikan Laura. Dan sebagai sahabatnya, aku harus berada disisinya saat ini. Laura membutuhkanku, dan aku tidak akan membiarkan sahabatku terpuruk sendirian. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk sahabatmu, sekarang giliranku.”
Leo menghadiahi Shena sebuah kecupan manis. “Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi, Sayang. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu, setiap hari rasa cinta itu tumbuh dan terus bertambah. Tak sedetikpun perasaan cinta yang kurasakan padamu ini berkurang. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa aku bisa merasa seperti itu? Tapi sekarang, aku tahu apa alasannya. Itu karena kamu punya hati yang baik dan mulia. Aku beruntung memiliki istri sebaik dirimu.” Leo memeluk Shena dan menciuminya dengan mesra.
“Aku juga beruntung punya suami tampan dan tangguh sepertimu.” Shena membalas ciuman suaminya. “Aku harus bersiap-siap, dan antar aku ke rumah Laura. Aku tidak bisa membiarkan dia lama-lama sendirian.” Shena bangun dari tempat tidurnya untuk bersiap-siap setelah suaminya mengangguk pelan.
****
Laura sedang termenung di dekat jendela kamarnya saat Shena datang. Gadis itu memandang iba sahabatnya yang terlihat murung dan berantakan. Berita kecelakaan Roy yang begitu tiba-tiba pasti membuatnya terpukul dan juga shock. Namun pagi ini, Laura harus ikut bersamanya untuk datang ke tempat di mana Roy mengalami kecelakaan, karena sampai detik ini, jenazah Roy masih belum juga ditemukan. Polisi juga masih berusaha mencari-cari, tapi jika sampai petang nanti pencarian mereka tidak membuahkan hasil, maka berita kematian Roy, akan segera diumumkan secara resmi.
Sebelum itu terjadi, Shena dan Leo berencana mengajak Laura ke loakasi dimana Roy jatuh ke jurang dengan harapan Laura bisa mengikhlaskan segala kemungkinan yang terburuk tentang apa yang sudah menimpa calon suaminya.
Dengan langkah pelan, Shena mendekat ke tempat sahabatnya yang sedang melamun. Raganya ada di sini, tapi pikirannya entah ada dimana. Shena duduk di depan Laura dan memegang tangan sahabatnya sambil berkaca-kaca seolah ikut merasakan apa yang saat ini Laura rasakan.
__ADS_1
Laura sendiri tersentak kerena baru menyadari keberadaan Shena di sini. Gadis itu langsung memeluk Shena dan menangis sejadi-jadinya. Laura meluapkan semua amarahnya dipelukan Shena. Siapapun yang melihat situasi ini, pasti juga akan ikut trenyuh menyaksikan dua wanita cantik sedang menangis bersama-sama.
“Roy! Dia ... jahat padaku, Shena! Dia ... berbohong padaku! Dia bilang tidak akan pernah meninggalkanku! Tapi nyatanya, dia benar-benar meninggalkan aku untuk selamanya. Apa yang harus aku lakukan? Katakan, apa yang harus aku lakukan sekarang?” isak Laura terbata-bata dipelukan Shena. Air matanya tak henti-hentinya mengalir deras membasahi pipi lembutnya.
Shena sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Laura dengan erat sambil menepuk pelan punggung sahabatnya. Seperti halnya Laura, air mata Shena juga mengalir melihat sahabatnya menangis dan hancur seperti ini. Dalam hati, Shena benar-benar merutuk orang yang bernama Roy itu, tapi saat ini bukan itu yang terpenting sekarang. Shena ingin membawa Laura ke suatu tempat agar ia bisa melupakan kesedihannya.
“Kau harus melakukan satu hal, dan itu adalah pesan terakhir yang disampaikan Roy pada Leo,” ucap Shena lirih sambil mengusap air matanya sendiri.
Sementara Laura langsung terkejut dan bingung karena tidak mengerti maksud ucapan Shena. “Apa maksudmu?”
Shena menatap wajah sahabatnya dan mengusap sisa bulir air mata Laura. “Roy tahu, cepat atau lambat kejadian seperti ini akan menimpanya, karena itu dia selalu berpesan pada Leo, jika suatu hari apa yang Roy khawatirkan ini terjadi, dia ingin kau datang ke suatu tempat dimana dia tiada. Itu adalah pesan terakhir yang diinginkan Roy supaya kamu bisa melepaskan kepergiannya,” terang Shena sambil berurai air mata.
Laura terpaku mendengar penjelasan sahabatnya. Dia tidak tahu bagaimana menanggapi pesan dari Roy yang disampaikan Shena untuknya. “Haruskah aku kesana? Aku takut aku akan jadi gila dan nekat mengikutinya, bagaimana jika aku malah semakin tidak bisa menerima kepergiannya?” tanya Laura yang juga mulai menangis lagi.
Laura beralih menatap perut rata sahabatnya dan mencoba mengelusnya. Laura semakin kencang menangis, disisi lain dia merasa hancur karena Roy sudah lebih dulu meninggalkannya bahkan disaat dia baru akan memulai kehidupan barunya bersama dengan Roy. Sedangkan di sisi lainnnya, Laura ikut bahagia mendengar sahabat terbaiknya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Itu artinya, ia juga akan menjadi seorang bibi.
Perasaan Laura tidak menentu saat ini, tubuhnya terasa lemah tak berdaya, semangat hidupnya juga hilang entah kemana. Namun demi Shena, Laura berusaha kuat dan tegar untuk menghadapi semua ini.
“Baiklah, ayo kita pergi!” ucap Laura lirih sambil mengusap air matanya. Shenapun langsung memeluk sahabatnya.
***
Shena memapah tubuh Laura keluar rumah setelah keadaannya mulai tenang. Leo yang sedari tadi menuggu di bawah, langsung membukakan pintu mobil untuk keduanya. Selama perjalanan, Laura hanya diam, dan Shena menggenggam erat tangan sahabatnya.
Bayang-bayang Roy, selalu memenuhi isi kepala Laura. Di sepanjang jalan, Laura terus seolah melihat Roy dimana-mana. Bahkan ketika menyadari kala orang yang dia lihat ternyata bukan Roy, Laura langsung menangis sejadi-jadinya. Dan yang bisa Shena lakukan hanyalah menenangkannya.
__ADS_1
Leo sendiri hanya terdiam dan fokus menyetir sampai akhirnya mereka tiba disebuah tempat terbuka dimana sudah banyak orang berkumpul di tempat ini. Leo membukakan pintu mobil untuk Laura dan istrinya.
Laura sendiri masih menunduk saat dia keluar dari mobil Leo bersama Shena. Tanpa bicara panjang lebar, Shena menuntun sahabatnya menuju sebuah tempat di mana, ada seseorang yang sudah sejak lama menunggu kedatangan Laura.
Sayangnya, Laura tidak menyadari apapun yang terjadi di tempat ini. Begitu tiba di lokasi, Laura seolah kehilangan semangatnya. Bagaikan hidup enggan matipun tak mau. Hati dan pikiran Laura melayang kemana-mana karena terlalu larut dalam kesedihan sampai tanpa ia sadari, Shena sudah mendudukannya di tempat yang menurut Laura sangat aneh.
Perlahan, Laura mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya ia setelah tahu ada dimana ia sekarang. Yang lebih mengejutkan Laura lagi adalah ada seseorang yang sudah duduk disebelahnya, dan orang itu, siapa lagi kalau bukan orang yang telah membuatnya jadi berantakan seperti ini.
“Roy!” Mata Laura langsung terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
BERSAMBUNG
****
Netizen yang aku sayang: “Eh ... itu Roy bukan sih?”
Author: “Iya, itu Roy.”
Netizen yang aku sayang : “Asem kamu thor, suka banget bikin penasaran. Ngapain Roy pakek acara pura-pura mati segala? Terus itu ngapain mereka duduk berdua gitu?”
Author: “Enaknya ngapain ya .... hehehehe.”
Bercanda, ya ... ngilangin stres. Hehehe ....
Semoga suka dengan ceritaku ya ... maaf sudah buat penasaran, dan doa kalian semua sudah terkabul, Roy masih hidup. Hehehe ... love you all.
__ADS_1