Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 174 Misi Penyelamatan


__ADS_3

Pasukan Carlos, tergabung jadi satu dengan para pasukan Kenzo yang tersisa. Mereka semua sedang mengepung Zian dan Leo. Sayangnya, Carlos sudah tidak ada diantara mereka. Sepertinya, dia sudah benar-benar kabur dari tempat ini. Shena sendiri juga sudah terlihat sangat pucat. Ia hampir kehilangan kesadaran. Tiba-tiba saja, ponsel Leo berdering dan Leo langsung tertegun dengan apa yang disampaikan oleh orang yang meneleponnya.


Zian mengetahui ada yang tidak beres dari gelagat Leo, langsung menawarkan sebuah solusi. “Cepat bawa istrimu keluar dari sini, berdirilah di belakangku! Aku akan melindungimu.” Zian memeriksa kondisi Shena yang semakin lemah. Ia tidak ingin apa yang menimpa Anita, menimpa Shena juga.


“Tidak tuan Malik, anda tidak mungkin bisa melawan mereka semua, tapi tolong lindungi aku sementara aku akan menyelamatkan nyawa istri dan anakku. Kita mundur sebentar, aku harus membaringkan Shena di sebuah tempat.” Leo melangkah mundur dengan hati-hati. “Kalian semua! masuklah, cepat kepung mereka sekarang!” perintah Leo pada anak buahnya yang ternyata sudah siap menunggu perintah Leo dari tadi.


Rupanya apa yang terjadi pada Leo saat ini, sudah diprediksi Leo sebelumnya. Makanya ia membagi pasukannya menjadi dua bagian. Tim pertama maju bersamanya dan tim kedua menunggu perintah selanjutnya jika rencana pertama Leo gagal. Dan prediksi Leo sangat tepat.


“Kau masih punya pasukan cadangan?” tanya Zian yang juga berusaha menghubungi pasukannya untuk membantu Leo. Saat ini, pasukan Zian sebentar lagi juga akan sampai.


“Sedikit, jumlah mereka jauh lebih banyak dari pasukanku, tapi itu cukup untuk mengulur waktu.” Leo menatap tajam pasukan musuh yang ada di depan mereka.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara tembakan dari arah belakang pasukan musuh Leo. Semua perhatian, beralih pada asal suara tembakan itu yang sebagian besar berhasil menumbangkan pasukan gabungan Kenzo-Carlos.


Tentu saja, suara tembakan itu berasal dari pasukan Leo yang tadi sudah siap siaga menyerang musuh Leo. Akhirnya terjadilah baku tembak antara kubu Leo dan juga kubu gabungan pasukan Carlos-Kenzo.


Leo berlari masuk ke dalam sebuah ruangan diikuti Zian untuk melindungi Leo sementara cowok itu disibukkan dengan urusannya menyelamatkan Shena. Zian sendiri juga tidak mengerti apa yang akan dilakukan Leo pada Shena, ia hanya fokus dan berjaga-jaga jika ada musuh yang mendekat.


Sebenarnya, telepon tadi berasal dari Refald, dia tahu situasi yang dihadapi Leo saat ini, tapi Refald tidak bisa datang membantu karena Fey, tiba-tiba saja merasakan keram perut, sama seperti yang dirasakan Shena. Refald meminta Leo untuk mengikatkan selendang pelangi yang masih menempel di perut Shena lebih erat lagi supaya Shena dan bayinya bisa selamat dengan catatan, ada harga yang harus dibayar. Itulah yang membuat Leo jadi tertegun waktu mendengar penjelasan Refald karena Leo harus membuat pilihan. Harga yang arus dibayar Leo adalah nyawa orang yang dia cintai.

__ADS_1


“Kau harus memilih, siapa yang kau selamatkan! Seperti yang kuhadapi saat ini, aku pun harus memilih antara datang menolongmu, atau menyelamatkan Fey dan anakku yang sedang kesakitan, mereka semua terhubung dengan istri dan anakmu! Semua tergantung pilihanmu!” itulah kata-kata terakhir Refald pada Leo sebelum menutup sambungan teleponnya, dan Leo ... memilih menyelamatkan semuanya. Ia tidak akan mengorbankan nyawa siapapun.


Leo meletakkan Shena yang sudah pucat di atas sebuah meja panjang jauh dari keramaian di sudut ruangan. Untungnya, Leo masih bisa melihat selendang pelangi yang dimaksud Refald. Leo mengikatkan dengan erat selendang itu dan kondisi Shena langsung membaik meskipun masih terlihat lemah. Paling tidak, rasa sakitnya berkurang dari yang tadi dan Shena tidak merintih lagi.


“Sayang, kamu dengar aku?” tanya Leo sambil membelai lembut pipi Shena. Istrinya hanya bisa mengangguk karena banyak sekali peluh membasahi seluruh tubuh Shena, tubuhnya serasa lemah tak berdaya. Leo memeluk istrinya dan menenangkannya. “Tidak akan terjadi apa-apa padamu! Aku janji akan selalu melindungimu dan juga anak kita. Kau memiliki selendang milik kakak ipar dan beruntungnya selendang ini masih mau melekat di perutmu. Semua akan baik-baik saja, jangan khawatirkan apapun.” Leo mencium kening Shena sebentar.


Sedangkan Shena hanya mengangguk pelan dipelukan Leo tanpa bisa bicara. Air matanya menetes membayangkan kemungkinan terburuk jika ia sampai harus kehilangan Leo juniornya. Shena harus menguatkan diri dari sekarang. Walaupun ia tidak akan pernah rela jika kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi.


“Kita harus segera pergi dari sini, apa istrimu kuat berjalan?” tanya Zian yang sudah mulai khawatir karena pasukan Kenzo mulai mencari-cari keberadaan mereka.


“Ehm, kita pergi sekarang!” Leo menggendong Shena dipunggungnya sementara Leo juga mengambil senjatanya untuk membantu Zian baku tembak dengan pasukan Kenzo-Carlos yang tersisa.


Akhirnya, mereka sampai di halaman vila. Lagi-lagi mereka dikepung. Pasukan gabungan Kenzo dan Carlos tak ada habis-habisnya. Mereka berhasil mengepung Zian dan Leo yang hendak menuju mobil Leo. Namun, dewi fortuna masih berpihak pada Leo dan Zian. Saat mereka terkepung dan tidak bisa berbuat apa-apa, Byon datang sambil menodongkan pistolnya pada Carlos.


“Letakkan semua senjata kalian, atau kepala bos kalian akan aku hancurkan sekarang juga!” teriak Byon mengejutkan semua orang termasuk Leo dan juga Zian.


****


Sementara di Dieng, Roy sudah tiba dilokasi dan memeriksa situasi bersama dengan setengah pasukan Leo. Dia juga mendapat pesan kalau Jakson dan Rendy akan datang membantunya. Sebenarnya, Roy tidak kenal siapa orang-orang ini, tapi Leo bilang, mereka adalah para mafia kejam dan terkenal sadis, terutama Rendy. Jadi, Roy harus bekerja sama dengan mereka untuk membasmi para anak buah Carlos dan menyelamatkan Xiaonai.

__ADS_1


Saat memasuki kawasan hutan, Roy melihat ada sekumpulan orang yang ia yakini sebagai orang-orang Rendy dan Jones seperti yang dikatakan Leo padanya. Roy datang mendekat dan bergabung dengan para mafia itu.


“Maaf, saya baru datang. Saya Roy, teman Leo. Saya sudah menunggu kalian daritadi. Jadi, apa rencana kita selanjutnya?”tanya Roy penuh waspada.


“Oh, hallo Roy. Kau lebih barakhlak ketimbang Leo. Aku Jakson." Jakson langsung memberikan komentarnya mengenai Roy. Roy sendiri hanya diam tak mengerti menatap orang yang lebih tua darinya ini. "Ehm, maksudku senang bertemu denganmu." Jakson mengalihkan pembicaraan karena risih juga ditatap Roy seperti itu.


“Halo, Mr, Jakson,” Roy akhirnya balas menyapa.


“Aku Rendy, Leo menyuruhku membasmi orang-orang yang sudah menculik saudaranya. Kebetulan sekali, tanganku juga gatal ingin menguliti orang.”Rendy mulai menunjukkan wajah beringasnya.


“Oh, halo, Sir. Apa kita mulai beraksi sekarang?” tanya Roy yang tidak ingin membuang-buang waktu. Walaupun dalam hati ia bingung, bagaimana bisa Leo mengenal orang-orang sangar seperti mereka.


“Ayo!” ajak Rendy dan Jakson bersamaan.


Mereka pun mulai beraksi membantai habis-habisan pasukan Carlos tanpa sisa dan membebaskan Xiaonai.


****


Love you all...

__ADS_1



__ADS_2