
“Apa anda yakin akan melakukan semua ini, Nona?” tanya kepala polisi yang bernama Henri Aditya Pratama pada Shena. “Leo tidak akan suka ini. Sebaiknya konfirmasikan dulu dengannya, jangan sampai nanti semua kena imbasnya.” Polisi itu agak tidak setuju dengan maksud Shena yang ingin membebaskan Nunuk dan pulang bersamanya.
“Saya jamin, Leo tidak akan marah, Pak. Lakukan saja apa yang saya minta. Saya adalah korban dari kasus bibi Nunuk. Jika saya mencabut laporan itu, tidak ada alasan bagi polisi untuk terus menahannya di sini,” terang Shena dengan ekspresi datar.
Polisi itu menoleh pada Jenny dan mendapat anggukan tanda setuju dari wanita itu.
“Baiklah, jika memang anda memaksa. Tunggulah sebentar, saya akan siapkan semua berkas-berkas yang harus anda tanda tangani.” Polisi itu hendak berdiri meninggalkan Shena tapi langkahnya di tahan oleh Shena.
“Satu lagi, Pak,” ujar Shena yang membuat polisi itu mengernyitkan alisnya. “Bisakah saya bertemu dengan ibu-ibu yang membuat keributan tadi? Ada yang ingin saya bicarakan dengan mereka,” ujar Shena sambil tersenyum.
“Jika anda meminta saya membebaskan mereka, maka saya tidak bisa,” jawab polisi itu sebelum Shena mengutarakan maksudnya.
Shena langsung cemberut karena apa yang akan ia katakan bisa ditebak dengan tepat oleh polisi itu.
Nih orang canggih bener, ngalah-ngalahin dukun. Bisa tahu apa yang mau aku katakan. Pikir Shena dalam hati.
“Kenapa tidak bisa, Pak?” tanya Shena penasaran.
“Mereka baru saja diberikan obat penenang, akan merepotkan jika mereka dibebaskan sekarang. Paling tidak, mereka baru bisa bebas besok,” jelas polisi itu sambil berlalu meninggalkan Shena diruangannya. “Haduh, gara-gara mereka, kami semua juga harus lembur semalaman. Benar-benar merepotkan.” Polisi itu berjalan ke luar sambil menggerutu.
“Kalau begitu, besok aku harus datang kemari lagi, haduh ... kenapa malah jadi begini?” Shena menghela napas panjang karena tidak bisa langsung menyelesaikan rencananya sekaligus. Padahal, dia ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya agar ia bisa kembali fokus untuk ujian besok, tapi sepertinya tidak akan semudah itu.
Begitu berkas-berkas sudah selesai disiapkan, tanpa ragu lagi Shena menandatangani semuanya. Setelah semuanya beres, barulah Nunuk langsung dibebaskan dan juga di perbolehkan pulang.
Shena senang menyambut kebebasan Nunuk, begitu juga dengan Jenny yang sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan sahabatnya. Mereka berdua saling berpelukan hangat begitu Nunuk dikeluarkan dari selnya.
“Selamat datang kembali, teman.” Jenny masih memeluk sahabatnya dengan erat.
“Terima kasih, Sayang. Aku tidak mengerti, bagaimana kalian berdua bisa melakukan semua ini, maafkan aku atas semua kebodohanku. Aku sungsuh-sungguh menyesali perbuatanku.” Nunuk menangis dipelukan sahabatnya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahagia dan juga sudah mengikhlaskan kepergian putrinya, Sasa. Selama di penjara, dia sadar bahwa apa yang terjadi pada putrinya merupakan takdir yang harus dia terima. Seburuk apapun takdir itu, sebagai manusia, Nunuk harus tabah menghadapinya. Kematian putrinya yang tragis adalah suatu cobaan yang diberikan Tuhan padanya dan harus dia terima dengan ikhlas.
Kini, Nunuk mulai menyadari, bahwa mungkin almarhum putrinya sudah tenang di alam sana. Semua ini berkat Shena. Tunangan Leo itu mampu membuka hati Nunuk yang sudah dibutakan oleh dendam dan amarah. Bagi Nunuk, Shena adalah gadis sederhana yang berhati malaikat. Tidak ada kebencian di mata Shena meski Nunuk telah mencoba melukainya, bahkan gadis itu malah menganggapnya sebagai ibunya. Shena adalah wanita yang berbeda dengan yang lainnya. Tak hanya memiliki paras cantik, hati Shena juga sangat baik.
Shena sendiri sangat senang melihat persahabatan kedua orang yang berarti bagi Leo ini. Dalam hati Shena, kedua wanita paruh baya itu, sekarang menjadi berarti juga bagi Shena. Gadis itu seolah menemukan keluarga baru. Sebuah keluarga yang tidak pernah ia dapatkan semasa kecil dulu. Bila mengingat bagaimana perlakuan bibi dan pamannya di kampung, air mata Shena selalu mengalir sendiri. “Seandainya paman dan bibiku baik seperti mereka, mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini,” gumam Shena lirih.
***
Ketiganya ke luar dari kantor polisi sambil bersenda gurau layaknya keluarga. Tidak ada yang tahu bahwa mereka adalah orang asing yang baru saja memutuskan untuk menjadi sebuah keluarga. Shenapun juga tidak suka jika dia dipanggil ‘Nona’. Shena memaksa kedua wanita itu untuk memanggil namanya saja jika berada di luar rumah Leo.
Ketika sedang asyik bercanda, Shena sangat terkejut setelah ia melihat ada sesosok laki-laki berdiri dan bersandar di depan mobil yang tadi dikendarai bibi Jenny. Saking terkejutnya, Shena sampai cegukan. Jenny dan Nunuk yang bersenda gurau di belakang Shena juga langsung terkejut setelah melihat lak-laki yang juga sedang dilihat Shena. Keduanya berhenti bercanda dan berubah sikap menjadi tegang.
Leo menatap tajam Shena dan dua orang yang ada dibelakangnya. Perlahan, laki-laki yang membuat Shena cegukan itu datang mendekatinya dan berdiri tegak di depannya. Leo memerhatikan Shena yang masih cegukan.
“Kenapa kamu bisa cegukan begitu?” Leo khawatir dengan kondisi Shena. “Apa lukamu tidak sakit?” tanyanya.
Karena terlalu terkejut, Shena tidak sadar bahwa cegukannya bisa membuat luka tembak yang ada di perutnya kembali terasa perih. Dia langsung memegangi perutnya, ia juga bingung harus bagaimana karena dia sendiri tidak bisa menghentikan cegukannya. Gadis itu sedikit merintih kesakitan karena menahan sakit akibat dari cegukan yang menekan tubuhnya.
Leo langsung berlari meninggalkan Shena dan hilang dibalik mobil-mobil yang terparkir rapi di parkiran. Shena semakin tidak mengerti dengan Leo, tiba-tiba dia pergi begitu saja. Sedangkan Jenny dan Nunuk memegangi tubuh Shena agar gadis itu tidak ambruk.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Jenny penuh khawatir. Nunuk pun juga sangat cemas. ia menyangga tubuh Shena yang membungkuk dan memegangi perutnya sebelah kiri.
Shena menggelengkan kepalanya masih menahan sakit karena cegukannya juga belum reda. “Ugh uh .... ugh uh ....” Shena memegangi perutnya yang masih terasa sakit akibat cegukannya.
Secepat kilat Leo berlari dan kembali datang membawakan sekeresek botol minuman. Dengan cepat ia membuka botol minuman itu dan meminumkannya pada Shena. “Minumlah ini pelan-pelan, supaya cegukanmu hilang! Wajahmu pucat sekali.” Leo meminumkan air mineral itu pada Shena dengan hati-hati.
Setelah menghabisakan hampir satu botol air, akhirnya cegukan Shenapun menghilang. Tapi gadis itu langsung lemas dan hampir saja ambruk jika Leo tidak segera menangkap tubuh Shena. Tanpa bicara apa-apa Leo langsung menggendong Shena dan membawanya masuk ke dalam mobil.
“Apa yang kalian lakukan? Cepat naik ke mobil dan kita pulang,” ujar Leo pada Jenny dan Nunuk.
__ADS_1
Keduanya saling pandang dengan cemas melihat Shena. Tapi mereka juga langsung menuruti perintah Leo. Sebenarnya Nunuk masih ragu untuk ikut naik ke dalam mobil atau tidak, karena Leo belum bicara atau menatapnya. Makanya ia hanya berjalan pelan di belakang Jenny.
Rupanya Leo datang kemari tidak membawa mobil. Jadi, dia masuk ke dalam mobil yang tadi dikendarai Jenny bersama Shena. Entah bagaimana caranya Leo bisa ada di ditempat ini.
Leo memangku Shena yang masih setengah sadar dengan wajah pucat pasi dan penuh keringat dingin. Dengan telaten, Leo mengusap peluh yang mengalir di wajah Shena. Tapi mobilnya masih juga belum jalan karena menunggu Nunuk yang berjalan pelan.
“Cepatlah Bibi ... kenapa lamban sekali?” teriak Leo pada Nunuk yang membuat wanita paruh baya itu terkejut sekaligus senang karena Leo ternyata mau menerimanya kembali. Wanita itu langsung berlari dan duduk di samping Jenny yang sudah standby di balik kemudi.
“Apa kita akan pergi ke rumah sakit, Tuan muda?” tanya Jenny sebelum menancapkan gas.
“Tidak!” jawab Shena dengan cepat sebelum Leo berbicara. “Aku ingin pulang ke rumah, aku ingin istirahat saja, lagipula aku tidak apa-apa. Cegukanya sudah hilang dan tidak terasa sakit lagi.” Shena berbohong, tapi ia memang tidak ingin ada di rumah sakit lagi. Shena sangat tidak suka dengan bau obat rumah sakit.
Leo yang menatap Shena, menuruti apa yang diinginkan Shena. “Jalan, Bi,” pinta Leo.
Mobil itu melesat pergi pulang kembali ke rumah Leo.
Sesampainya di rumah, Leo masih menggendong Shena dan membawanya ke kamarnya. Lalu meletakkan tubuh Shena tepat di atas kasur yang berukuran besar. Leo menyandarkan badan Shena di sandaran kasur yang sudah di pasangi bantal untuk mengganjal punggung Shena.
“Kenapa kamu memaksakan dirimu seperti ini?” tanya Leo yang duduk di samping Shena.
Shena hanya dia menunduk tanpa mau menatap Leo yang sedang menatapnya penuh cemas.
“Buka bajumu!” ucap Leo.
“Apa? Kenapa kamu menyuruhku buka baju? Nggak! Aku nggak mau!” Shena sangat terkejut dan refleks menutup dadanya dengan kedua tangannya.
“Cepat buka!” paksa Leo, “Atau ... aku sendiri yang buka.”
Shena terkejut melihat Leo yang tiba-tiba saja menyuruhnya membuka bajunya.
__ADS_1
Apa yang cecunguk ini mau lakukan? Gila apa?
****