
Leo keluar tepat saat Roy dan ayah Laura selesai berbicara. “Paman, boleh pinjam Roy sebentar, aku juga ingin bicara padanya.” Leo minta izin pada ayah Laura.
“Oh, tentu saja, silahkan. Aku akan masuk dulu menemui Laura sebelum pamit pergi.”
“Terima kasih, Paman.” Leo mengajak Roy untuk mengikutinya ke suatu tempat menuju lokasi orang yang meneleponnya tadi.
“Ada apa?” tanya Roy sambil berjalan di sisi Leo.
“Apa yang kalian bicarakan? Dia tidak menyuruhmu untuk segera menikah dengan Laura, kan?” tanpa basa basi Leo menanyakan hal intim secara to the point pada Roy.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Roy pada Leo. Ia heran sahabatnya itu tahu kalau ayah Laura ingin agar Roy melamar Laura secepatnya. Padahal, untuk saat ini status mereka hanyalah pura-pura pacaran.
“Tidak ada yang tidak aku tahu tentangmu. Apa kau lupa?” Leo menjawab enteng pertanyaan Roy padanya.
“Tentu saja tidak.” Roy balas tersenyum. “Ayah Laura memintaku menikahi Laura secepatnya. Tapi aku minta waktu sampai kami berdua lulus kuliah. Sepertinya ini gara-gara kau. Kau menikahi Shena tepat sebelum kalian berdua lulus sehingga ayah Laura juga menginginkan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada Shena. Beliau ingin aku menggantikan posisinya untuk menjaga Laura.” Roy menjelaskan isi dari pembicaraan antara dirinya dengan ayah Laura. Mereka berdua menaiki mobil Leo dan ke luar menuju sebuah bangunan tua tak jauh dari lokasi rumah sakit milik ayah Leo.
“Begitu, ya? Kalau begitu turuti saja? Tidak ada salahnya,” saran Leo sambil fokus menyetir.
__ADS_1
“Kau gila, apa? Laura saat ini masih membenciku. Bagaimana mungkin dia mau menikah denganku!” sergah Roy.
“Paksa saja dia, sama seperti yang kulakukan pada Shena dulu.” Leo terkekeh saat mengingat masa-masa indah dengan Shena sebelum Shena jatuh cinta padanya.
“Aku tidak sepertimu. Kau itu tidak waras!” Roy mendengus kesal.
“Kau jauh lebih gila karena berteman dengan orang yang tidak waras,” balas Leo sambil tersenyum sinis.
Begitu sampai di sebuah parkiran gedung tua, Leo dan Roy turun dari mobil karena ada banyak sekali preman bersenjata tajam sudah menanti kedatangan Leo daritadi.
“Siapa mereka?” tanya Roy tidak mengerti kenapa ada banyak preman di tempat ini. “Apa mereka mencoba cari gara-gara dengan kita?”
“Kau punya senjata?” tanya Roy yang masih terlihat tenang meski di hadaannya sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Hanya senjata api, tapi jangan bunuh mereka disini. Kita rebut saja salah satu senjata mereka. Sepertinya mereka juga tidak berniat membunuh kita.”
“Ahhh ... sudah lama aku tidak pemanasan, di pesta pernikahanmu aku hanya bisa jadi penonton, bagaimana kalau aku saja yang membereskan mereka. Kau diam dan duduk saja di sini.” Roy mulai menggerak-gerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri sambil meliuk-liukkan tubuhnya layaknya orang yang sedang pemanasan sebelum berolahraga.
__ADS_1
“Terserah kau saja.” Leopun juga tidak keberatan dengan tawaran sahabatnya. Ia juga harus hemat tenaga untuk berperang dengan Shena nanti malam.
Para preman yang berjumlah sekitar 20 orang sudah mulai bersiap-siap menunggu perintah dari bosnya.
“Jangan sampai kalian membunuh mereka. Buat patah tulang kaki dan babak belur saja. Jangan biarkan Leo menghadiri rapat darurat yang ia agendakan sendiri,” ucap seseorang yang berada di dalam mobil sedan hitam.
“Siap, Bos!” jawab ketua preman itu.
Tidak ada yang tahu wajah orang yang dipanggil ‘bos’ oleh preman itu karena kaca mobilnya tertutup rapat setelah sempat membuka sedikit kacanya ketika bos itu memberikan perintah.
Orang yang dipanggil bos itu menyalakan mesin mobilnya lalu berjalan mundur dan melesat pergi meninggalkan gedung tua yang ia gunakan untuk memberi pelajaran Leo sambil tersenyum penuh kemenangan. “Huh, siapa suruh kau merusak semua rencanaku,” gumam laki-laki itu.
Leo menatap tajam mobil sedan yang semakin jauh meninggalkan gedung ini. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Halo, selidiki pemilik plat nomer mobil yang aku kirimkan padamu, dan beritahu aku secepatnya.” Leo menutup ponselnya dan duduk diatas kap mobilnya. “Aku akan mengawasimu dari sini,” ujar Leo pada Roy yang berdiri tegak dihadapannya. “Mereka cuma 20 orang, aku akan membantumu di saat genting saja. Selesaikan dengan cepat karena aku harus menghadiri rapat.”
“Baik!” Roy maju melangkah menuju kumpulan para preman yang berkumpul dan sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang Roy dan Leo. Sementara Leo hanya mengamati aksi sahabatnya dari kejauhan. Bunyi bag bug bag bug mulai terdengar merdu di telinga Leo saat Roy mulai melayangkan bogem mentah pada setiap preman yang menyerangnya.
****
__ADS_1
bonus satu episode lagi .. seperti biasa dukung like, vote dan komentar disetiap episodenya .. love you all ..