Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 37 Putus


__ADS_3

Selang beberapa menit setelah kepergian Leo, pintu ruangan Shena terbuka dan Laura muncul dengan segudang kecemasan di wajahnya.


“Shena! Apa yang terjadi padamu? Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini? Apa yang kamu pikirkan, ha? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Apa yang harus aku lakukan? Tahukah kamu betapa aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu?” Laura langsung memberondong Shena dengan berbagai macam pertanyaan begitu melihat sahabatnya terbaring lemah di tempat tidurnya.


“Salah siapa sehingga aku ada di tempat ini?” gumam Shena dengan memasang wajah cemberut pada Laura.


Laura bingung dengan jawaban Shena. “Maksudmu? Semua yang terjadi padamu, itu karena salahku?” Laura agak tidak terima jika dirinya disalahkan atas apa yang menimpa Shena saat ini.


Shena mengangguk, “Jika waktu itu seseorang tidak mematikan teleponnya, maka aku mungkin tidak akan berakhir di sini. Orang itu tidak bisa dihubungi, jadi aku terpaksa menunggu di halte sampai ia dapat dihubungi kembali. Sayangnya, penculik itu lebih cepat bergerak daripada orang yang mematikan ponselnya, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menolongku waktu itu.” Shena sengaja menyindir Laura yang pada saat kejadian, tidak dapat dihubungi sama sekali. Padahal Shena sedang dalam keadaan genting.


Laura yang merasa tersindir, langsung meminta maaf pada sahabatnya, “Maafkan aku Shena,” ucap gadis itu sambil menangis. “Jika waktu itu aku tahu kamu menghubungiku, aku tidak akan mematikan ponselku. Waktu itu ... aku sedang dalam keadaan yang tidak baik dan butuh waktu untuk menenangkan diri.” Laura mengusap air mata yang membasahi pipinya dan berusaha terlihat tegar. “Setelah aku kembali ke dunia nyataku, tanpa sengaja, aku menemukan kopermu tergeletak begitu saja di halte dekat rumahku, bahkan aku juga menemukan ponselmu berada di tengah jalan dalam keadaan rusak parah. Sejak saat itu aku mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres terjadi padamu, dan aku langsung menghubungi Roy, karena aku tidak punya nomor Leo.” Laura menatap Shena berharap penjelasannya bisa diterima oleh sahabatnya.


“Kenapa kamu malah menghubungi Roy? Kenapa tidak menghubungi polisi saja?” tanya Shena penasaran karena apa yang dikatakan Leo sebelum ia pergi meninggalkan Shena memang benar. Lauralah yang memberitahu Roy.


“Waktu itu yang ada di otakku hanyalah Roy. Dia adalah teman dekat Leo, aku rasa gerakan Leo sebagi putra konglomerat akan lebih cepat daripada polisi jika dia tahu kalau kamu sedang dalam masalah meski dia tidak ada di sini. Hanya itu yang kupikirkan waktu itu.” Laura menggenggam erat tangan sahabatnya. Gadis itu jadi merasa bersalah pada Shena yang gara-gara dirinya, Shena harus mengalami hal buruk seperti ini.


Shena mengerti maksud dari ucapan Laura, ia melihat ada kesedihan yang mendalam di wajah sahabatnya.

__ADS_1


Pasti Roy dan Laura, sedang dalam masalah saat itu. Tidak biasanya Laura mematikan ponselnya tanpa sebab. Aku yakin mereka sudah berpisah. Batin Shena.


Shena menatap Roy yang berdiri di depan pintu ruangannya. “Kenapa pacarmu tidak masuk?” Shena memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi pada hubungan Laura dan Roy.


“Dia menunggu Leo, katanya sebelum bertemu denganmu, dia harus bicara pada Leo dulu. Ada apa ini? siapa yang menculikmu? Apa kamu mengenalnya?” Laura penasaran tentang siapa orang-orang yang menyakiti Shena.


“Apa kamu sudah baikan dengan Roy?” Shena tidak menjawab pertanyaan Laura, tetapi malah balik bertanya dan mengalihkan pembicaraan.


“Hentikan bicara tentang aku Shena, aku bicara tentangmu? Kenapa kamu malah balik bertanya tentang diriku? Jawab dulu semua pertanyaanku, baru aku akan menjawab pertanyaanmu.” Kali ini Laura tidak bisa bersabar lagi mendengar penjelasan dari Shena.


Shena hanya menjelaskan kronologi penculikan dan penembakan yang terjadi padanya minus tentang Bibi Nunuk yang ternyata adalah ibu kandung almarhum Sasa. Salah satu teman sekelas mereka yang juga teman dekat mereka pula.


“Lalu, bagaimana dengan orang yang menembakmu? Apa dia sudah tertangkap?” tanya Laura masih penasaran.


“Aku tidak tahu, saat aku sadar, aku tidak melihat Leo disisiku. Lalu aku pingsan lagi dan tahu-tahu sudah ada di sini.”


“Bagaimana dengan Leo? Pergi ke mana dia? Kenapa dia meninggalkanmu sendirian? Harusnya dia menjagamu setelah apa yang terjadi padamu.” Laura masih saja penasaran ada di mana Leo disaat seperti ini.

__ADS_1


“Dia tidak ingin kamu melihat seperti apa Leo sebenarnya, makanya dia mau memakai topengnya dulu sebelum bertemu denganmu di sini.” Shena asal menjawab, sebab Leo memang terlihat sangat menakutkan dengan pakaian yang dipenuhi banyaknya noda darah hampir diseluruh tubuhnya. Entah itu darah siapa saja.


Laura semakin tidak mengerti dan bingung dengan apa yang dikatakan Shena.


Shena sendiri juga masih berpikir tentang Roy yang tidak benar-benar mencintai Laura. Namun, melihat mereka datang bersama kali ini, Shena ingin memastikan sesuatu agar bisa merencanakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Karena bagaimanapun juga, Shena harus segera memenangkan taruhan yang sudah ia sepakati dengan Leo.


“Sekarang giliranmu, Ra. Apa yang terjadi pada kalian berdua. Kenapa waktu itu kamu mematikan ponselmu? Apa kamu sedang bertengkar dengan Roy?” tanya Shena pada Laura. Gadis yang ditanya hanya menundukkan kepala karena sedang berusaha merangkai kata-kata yang pas untuk disampaikan pada Shena, sahabat baiknya.


“Kami memutuskan untuk berpisah.” Laura berusaha tegar saat mengatakannya.


Shena terkejut mendengar hubungan sahabatnya ini berakhir lebih cepat dari yang ia duga. Sambil memejamkan mata, Shena mencoba menekan perasaannya agar tak terlihat oleh Laura bahwa ia sudah mengetahui akhir dari kisah cinta sahabatnya yang jauh lebih parah dari kisah cinta Shena sendiri.


Tunggu! Jika hubungan mereka berakhir sekarang, berarti otomatis aku kalah taruhan dengan Leo? Itu artinya, selamanya aku harus berada di sisi Leo? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Bagaimanapun juga, Laura tidak boleh putus dengan Roy sebelum waktunya. Tapi tidak mungkin, hubungan mereka sudah berakhir. Dan sebenarnya itu lebih baik daripada harus menjalani hubungan yang dipenuhi dengan kebohongan. Tapi, bagaimana dengan nasib hidupku sekarang? Selamanya aku akan terjebak dengan Leo? Aku sudah kalah taruhan! Gawat.


Shena menelungkupkan wajahnya karena stres memikirkan apa yang terjadi saat ini.


“Shena, apa kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanya Laura yang cemas dengan sikap Laura setelah ia memberitahu bahwa hubungannya dengan Roy telah berakhir.

__ADS_1


“Jika aku tahu hubunganmu sudah berakhir dengan Roy, lebih baik aku mati tertembak saja waktu itu.” gumam Shena dengan ekspresi penuh frustasi karena membayangkan hari-harinya yang akan terperangkap dalam belenggu cinta Leo.


***


__ADS_2