
Halooo, hadir lagi novel baruku yang rilis hanya di noveltoon. Yuk simak kisah Hesa dan Ei.
Judul novel : ISTRI PILIHAN PANGERAN NINGRAT
Leo dan Shena sebagai cameo di sini. Semoga banyak yang suka ya ... berikut cuplikan babnya
BAB 17 BERSIAPLAH JADI ISTRIKU
Ei sungguh tak bisa berkutik lagi ketika pemuda yang ia katai sebagai 'codot' itu datang dan sudah berdiri didepannya. Tadinya, gadis itu pikir, Hesa tak bisa lagi mengejarnya sampai kemari mengingat pria yang dijuluki sebagai dewa kampus itu terkenal sebagai kutu buku jenius yang tahunya cuma kampus dan buku saja.
Siapa sangka, kalau Hesa bisa menyusulnya ke tempat ini. Entah bagaimana caranya pria tampan itu tahu kalau Ei ada di desa ini. Benar-benar fakta yang amat sangat mengejutkan Ei.
"Sudah kukatakan padamu, Ei. Kau takkan pernah bisa lari dariku. Urusan kita belum selesai. Aku belum buat perhitungan denganmu karena kau terus-terusan melarikan diri dan menghilang seperti ini," ujar Hesa dengan senyum menawannya.
"Apa sih maumu?" cetus Ei sambil menatap jengkel Hesa.
"Ayo hiking bersamaku," ajak Hesa yang langsung membuat Ei terkejut bukan kepalang.
“Hah? Nggak salah? Anak mama sepertimu mau ngajakin hiking bareng? Itu gunung pak asisten dosen yang terhormat, bukan perpustakaan. Yang bakal kau temui di gunung itu bukan buku, melainkan binatang buas dan dunia perkotoran lumpur dan sebagainya," ledek Ei seolah Hesa sama sekali tidak pantas naik ke gunung yang penuh dengan rintangan dan tantangan.
Dilihat dari segi penampilan Hesa yang cenderung rapid an bersih, sudah tampak kalau pria yang menantangnya itu tidak pernah menginjakkan kakinya di lumpur, apalagi gunung. Rata-rata anak pecinta alam penampilannya cenderung kasual bahkan lebih terkesan gimbal ala preman. Bukan seperti Hesa yang selalu memakai kemeja, apalagi dia seorang asisten dosen. Tapi Ei mungkin lupa kalau penampilan itu bisa menipu.
"Kau suka naik gunung, kan? Aku ingin tahu sampai sejauh mana kemampuanmu bisa naik ke puncaknya. Kita lihat siapa yang sampai puncak duluan. Kau … atau aku. Kalau kau menang, aku takkan pernah mengganggumu lagi ataupun muncul dihadapanmu. Tapi ... jika aku yang menang, kau harus menikah denganku, saat itu juga."
“Ck ck ck.” Ei berdecak kesal. Sebuah tawaran yang menantang meski ini bukan kali pertama ia dengar. “Kau itu seperti pungguk merindukan bulan. Sebaiknya kau jangan berharap terlalu tinggi bisa menang dariku. Gunung adalah bagian dari hidupku. Meski aku tak secepat Refald, aku bisa sampai ke sana lebih cepat dari singa. Bersiaplah untuk kalah!” Ei mengatakan kalimat tersebut dengan kepercayaan diri tingkat tinggi dan Hesa jadi semakin tertantang.
“Kita lihat saja nanti, bersiaplah jadi istriku!” ledek Hesa.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya, Hesa mengajak Ei taruhan. Di taruhan pertama, Ei memang kalah telak dari Hesa karena keonengannya. Namun kali ini, Gadis itu yakin dialah yang akan menang karena ia sudah biasa naik gunung di waktu senggang. Bisa-bisanya pemuda yang tahunya cuma buku doang menantangnya balapan naik gunung. Itu sama saja dengan kura-kura balapan lari melawan kelinci.
Bila dibandingkan dengan si kutu buku, pengalaman mendaki gunung di medan apapun, lebih banyak Ei ketimbang Hesa tanpa gadis itu tahu kalau sang dewa kampus adalah pendaki kelas kakap. Dengan keyakinan dan kemampuan yang Ei miliki, gadis itupun memenuhi tantangan pria yang entah mengapa terus saja mengganggu kehidupannya sampai membuatnya terpaksa melarikan diri kemari.
Sepertinya, Ei sudah tidak bisa lari lagi dari Hesa. Sampai ke ujung dunia sekalipun, Hesa pasti bisa menemukan Ei di manapun ia berada.
"Okeh, aku penuhi tantanganmu ini. Ingat, jika aku menang, jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi didepanku dan anggap kita tidak pernah bertemu," ucap Ei dengan penuh percaya diri.
"Baik, tapi jika aku yang menang ... kau harus menikah denganku begitu kita turun gunung!" Hesa sengaja menambah tantangannya untuk menjadikan wanita di depannya ini miliknya seutuhnya dengan cara yang tidak biasa.
Tentu saja Ei tak gentar, sudah dipastikan kalau dialah yang akan menang karena wanita cantik itu memang hobi naik gunung. Hampir semua gunung yang ada di Indonesia ini pernah Ei jelajahi. Kalau ia ditantang siapa yang akan lebih dulu sampai, maka Ei-lah orangnya.
Mata kedua sejoli ini saling menatap tajam satu sama lain. Diantara mereka berdua, seakan terdapat kilatan petir menyambar-nyambar karena mereka sama-sama berambisi untuk memenangkan kompetisi cinta yang mereka sepakati sendiri.
"Kapan kita mulai hiking? Sekarang?" tanya Ei sudah tak sabar mengalahkan Hesa. Ia ingin sekali menunjukkan betapa hebatnya dirinya saat sudah memasuki hutan. Dengan begitu, nyali Hesa bakalan ciut dan tidak akan mengganggu hidupnya lagi.
"Ini sudah malam, bahaya kalau kita naik gunung sekarang. Besok pagi setelah sarapan, kita berangkat!" jawab Hesa tegas penuh perhitungan.
"Kita bantu Refald dan Fey menangkap Kuyang. Sekaligus membuktikan bahwa kau bukan kuyang jadi-jadian ..." ledeknya sembari melepas senyum.
"Tunggu ... bagaimanaa ... kau bisa mengenal Fey dan Refald?" Ei memotong kata-kata Hesa karena ia kaget pemuda kutu buku itu bisa mengenal pasangan sejoli paling fenomenal di kelompok stranger mereka.
Hesa tidak menjawab dan malah mengambil currier yang tadi sempat ia letakkan saat mendekati Ei. “Kau akan tahu kalau kau sudah menikah denganku. Sebelum kau jadi istriku, aku tak punya hak bicara apapun padamu terutama soal kehidupan pribadiku.” Hesa berjalan lebih dulu dan Ei mengekor dibelakangnya sambil mendengus kesal.
Kalau Ei mau, ia bisa kabur lagi mumpung Hesa lengah. Tapi sepertinya itu percuma. Tempat terpencil ini saja Hesa bisa muncul secara tiba-tiba apalagi lubang semut sekalipun. Dengan kata lain, Ei sungguh tidak bisa lari lagi sekarang. Ditambah, ia harus meluruskan masalah dengan para penduduk desa ini dan membuktikan bahwa ia manusia tulen, bukan kuyang jadi-jadian seperti yang orang-orang di sini tuduhkan.
Lagian juga, para penduduk desa di sini juga aneh, hanya persoalan nama saja. Ei langsung dijadikan tersangka tanpa sebab.
“Kenapa kau pakai nama kuyang? Apa jadinya dirimu jika tidak ada Fey dan Refald selagi aku sedikit terlambat datang,” tanya Hesa karena melihat wanita yang berjalan disampingnya berkali-kali menghela napas panjang.
__ADS_1
“Untuk mengecohmu agar kau tidak bisa menemukanku, tapi sepertinya percuma. Bukannya lolos darimu, aku malah dapat masalah besar,” jawab Ei lirih. Ia mulutnya manyun karena ia kesal tapi tak bisa ia lampiaskan.
“Kau tidak tanya kenapa aku bisa menemukanmu?” tanya Hesa.
“Tidak perlu, pasti kau bakal jawab karena aku milikmu, kau bagaikan magnet bagiku. Mau sembunyi dimanapun aku pasti bisa menemukanmu. Gitu, kan?”tabak Ei ngasal tanpa sadar bahwa yang ia katakana itu memang benar.
“Wuah, bagaimana kau bisa tahu?” Hesa langsung kagum pad Ei.
“Yak karena semua pria model sepertimu pasti bakalan bilang begitu dasar Bayi Marmut. Aku sudah hafal seperti apa tipikal buaya sepertimu.”
“Kau tidak bisa mengataiku buaya!” sanggah Hesa tak terima dirinya dibilang buaya oleh Ei.
“Huh, mana ada buaya ngaku buaya!” cibir Ei.
“Serius, kaulah satu-satunya wanita yang kudekati dan kurayu sampai mati tapi hatimu nggak bisa kudapatkan dengan mudah. Aku harus memutar otak setiap kali berhadapan denganmu. Mencoba berbagai macam cara supaya kau bisa bersamaku. Aku tak mau wanita lain lagi selain dirimu. Kau menarik Ei. Aku rasa semua pria yang mengenalmu pasti tertarik padamu. Hanya saja, kau bisa membaca pikiran mereka, makanya mereka tidak pernah bisa mendekatimu. Tapi aku berbeda. Akan kudapatkan kau bagaimanapun caranya sekalipun aku harus kehilangan nyawa.” Hesa tersenyum manis dan menatap lembut wajah cantik Ei.
Seketika Ei tertegun mendengar ucapan Hesa dan tanpa sadar, ia berhenti berjalan. Sepertinya, kata-kata Hesa bagian terakhir sukses membuat Ei terkejut. Gadis itu melihat punggung Hesa yang ternyata jauh lebih menawan bila dilihat dari belakang.
Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku jadi pengen meluk punggung cowok itu? Kok dia tinggi banget! Aduh ei sadar Ei, eling woy! Jerit Ei dalam hati sampai ia mengipas-kipas wajahnya sendiri yang seolah kepanasan.
“Ada apa? Kenapa berhenti berjalan?” tanya Hesa baru sadar kalau wanita yang berhasil mencuri hatinya tertinggal di belakang.
“Tidak apa-apa, tadi gerah aja!” cetus Ei berjalan cepat dan sengaja meninggalkan Hesa. Jangan sampai pria tampan itu tahu kalau wajah Ei sedang merah merona.
Malam itu, adalah malam panjang antara Ei, Hesa, Refald dan Fei. Untungnya, Refald yang diberkahi kekuatan supranatural diluar nalar manusia bisa membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi para penduduk desa sekaligus mengembalikan nama baik Ei. Dengan tertangkapnya kuyang yang asli, Ei sudah tidak jadi tersangka lagi.
Tinggal urusannya dengan Hesa untuk menjalani kompetisi cinta mereka berdua. Kisah dua sejoli Tom and Jerry ini sungguh bikin siapa saja yang menyaksikan jadi geleng-geleng kepala. Demi mendapatkan Ei, Hesa rela melakukan apa saja. Sampai-sampai, gunungpun di daki juga asalkan Ei bersedia menikah dengan Hesa.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***