
“Bisa kita mulai acaranya?” tanya seorang penghulu yang sudah duduk di depan Laura dan Roy.
Roy ingin menjawab, tapi langsung di sela oleh Laura. “Tunggu dulu, ada apa ini? Apa kau, Roy? Kau benar-benar Roy?” tanya Laura masih belum percaya, sebab saat ini ia tidak bisa membedakan mana halusinasi dan mana dunia nyata.
Sepanjang perjalanan tadi, Laura terus saja melihat Roy dimana-mana, dan sekarang ia juga melihat Roy ada dihadapannya. Laura bingung sekaligus khawatir kalau kini, dia jadi gila gara-gara insiden yang menimpa Roy.
“Ini aku, Ra! Masa kamu nggak mengenaliku?” Roy membelai pipi Laura yang masih basah karena air mata.
“Nggak! Ini nggak mungkin, banyak yang bilang kalau kamu sudah ... tunggu! Kamu ngerjain aku lagi?” Laura menatap Roy dengan penuh amarah, meski dalam hati ia juga merasa lega bahwa Roy masih hidup.
“Ehem.” Pak penghulu itu berdeham. “Saya tidak bisa lama-lama di sini untuk menonton drama perdebatan kalian. Yang mau saya nikahkan itu banyak, dan sudah ditunggu banyak orang. Bisa kita langsung saja ke acaranya?” tanya pak penghulu itu sekali lagi.
“Nikah? Siapa yang mau menikah?” Laura malah balik bertanya, ia masih saja belum mengerti.
Ayah Laura maju ke depan dan membantu menjelaskan situasi yang terjadi di tempat ini. “Tentu saja kamu Sayang, siapa lagi?”
Laura terkejut karena ia baru tahu kalau ayahnya juga sudah ada di sini. Itu artinya, semua ini sudah direncakan dan hanya Laura yang tidak tahu.
“Apa?” lagi-lagi Laura terkejut. “Kenapa, Ayah? Kenapa kalian semua seperti ini, kau juga Shena? Apa Leo yang memaksamu bersandiwara padaku?’ Laura menatap Shena yang berdiri dibelakangnya bersama Leo.
Shenapun ikut melangkah maju untuk menenangkan Laura agar tidak salah paham. “Aku akan menjelaskan semuanya, setelah akad nikahmu bersama dengan Roy selesai.” Shena memeluk Laura tapi sahabatnya itu langsung melepaskan pelukannya.
“Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini? Kenapa harus bersandiwara Roy mati?” Laura setengah berteriak.
“Laura, lusa ayah harus keluar negeri untuk perjalanan bisnis ayah. Dan kemungkinan besar ayah tidak akan kembali dalam jangka waktu 6 bulan atau bahkan bisa lebih dari itu. Ayah tidak bisa lagi meninggalkanmu sendirian. Karena itu, ayah minta Roy secepatnya mengatur pernikahan kalian sehingga ayah bisa tenang bepergian tanpa harus mengkhawatirkan dirimu. Sebab, sudah ada yang menggantikan ayah menjagamu. Maafkan ayah karena selama ini tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu. Sekarang, ayah serahkan kamu sepenuhnya pada suamimu karena ia sudah berjanji pada ayah untuk menjaga dan melindungmu.”
__ADS_1
Laura terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika ayahnya sudah mengambil keputusan seperti itu.
“Ra,” ucap Roy sambil menggenggam tangan Laura. “Aku tahu, tindakanku ini kelewatan, tapi ada alasan kuat kenapa aku harus melakukan ini, dan aku berjanji akan menjelaskan semuanya setelah acara akad nikah kita selesai. Aku memang tidak bisa seperti Leo yang sanggup membelikan pulau sebagai mahar pernikahan, tapi aku bisa memberikan nyawaku untukmu. Akan aku lakukan apapun untuk bisa membuatmu bahagia.
Dan aku berjanji, air mata ini, adalah air mata terakhir yang kau keluarkan dari mata indahmu.” Roy mengusap lembut sisa bulir air mata Laura dan tiba-tiba saja, cowok itu berlutut dihadapan Laura sambil menyerahkan sebuah cincin berlian untuk gadis pujaan hatinya. “Laura Willy Takahara, bersediakah kau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?” tanya Roy dengan serius tanpa ragu sehingga sukses membuat semua wanita yang ada di tempat ini langsung menjerit histeris tak terkecuali Shena sendiri.
“Dasar si kutu kupret Roy, dia jauh lebih romatis dari Leo,” gumam Shena yang ikutan takjub melihat aksi romantis Roy.
“Dia belajar dengan baik, dariku.” Leo malah ikut membanggakan diri dan seketika mendapat lirikan tajam dari Shena.
Wanita mana sih, yang sanggup menolak jika kekasihnya mengajaknya menikah dengan cara seperti itu? Pasti nggak akan ada yang kuat nolak ajakan nikah ala Roy, yang ada malah langsung diterima. Namun, tidak demikian dengan Laura, agar dia tidak tertipu untuk kesekian kalinya, Laura mengajukan syarat pada Roy.
“Aku mau menikah denganmu dan menjadi ibu dari anak-anakmu, tapi ada beberapa syarat yang harus kau penuhi,” ucap Laura.
“Jangan pernah lagi kau bersandiwara padaku sekalipun untuk kebahagiaanku, jika kau melakukannya, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan juga, jauhi Leo, aku tidak ingin kamu jadi gila ketularan dia. Kau benar-benar mirip dia sekarang? Sama-sama nggak ada akhlak!”
“Syarat pertama, aku bisa memenuhinya. Aku janji ini adalah sandiwara terakhirku, tapi untuk syarat kedua, maaf aku tidak bisa menjauhi sahabatku. Karena Leo, adalah orang yang juga berarti bagiku, meski dia orang terbodoh dan tergila yang pernah kutemui. Namun, hatinya sangat baik dan juga sangat mencintai istri dan keluarganya. Leo dan aku adalah satu, kami sudah bersama sejak kami masih anak-anak hingga sekarang, dia sama seperti Shena bagimu. Jika aku memintamu menjauhi Shena, apa kau juga sanggup melakukannya? Tidak, kan? Jadi untuk syarat ke dua, aku tidak bisa memenuhinya.” Roy terlihat frustasi.
Laura terdiam sesaat menatap ekspresi Roy. “Baiklah, kalau begitu kita akhiri semua ini,” jawab Laura yang langsung disambut dengan tatapan tajam semua orang.
“Apa maksudmu mengakhiri?” tanya Roy mulai was-was kalau Laura menolak menikah dengannya.
Laura tidak langsung menjawab. Dia memasukkan jari manisnya sendiri di cincin berlian yang diberikan Roy padanya. “Ayo kita menikah sekarang,” ucap Laura sambil tersenyum manis.
Semua orang yang mendengar jawaban Laura pun ikut merasa lega, sebab mereka juga berpikir sama seperti apa yang Roy khawatirkan. Namun, sepertinya situasi ini berakhir bahagia.
__ADS_1
“Dasar Laura! Bikin aku jantungan saja!” gumam Shena yang kini berada dalam rangkulan Leo.
“Akhirnya mereka menikah setelah si bodoh Roy itu sempat membuatku terharu dengan ucapannya. Kalau saja aku tidak memelukmu mungkin aku sudah berlari menciumnya. Dia benar-benar bodoh! Beraninya dia berkata seperti itu!” Leo tersenyum haru.
Shena tersentak mendengar kata-kata Leo, ini pertama kalinya Shena melihat Leo jadi sebaper ini.
“Sayang, apa aku tidak slah lihat? Kau gengster? Dan kau bisa baper? Ada apa denganmu? Apa kau sedang kerasukan setan cinta?” tanya Shena.
Leo menatap Shena dan langsung menciumnya. “Iya, dan setan cinta itu membuatku tergila-gila padamu,” Leo menempelkan dahinya di dahi Shena. Mereka berdua terlihat begitu mesra mengalahkan pasangan pengantin yang ada didepannya.
Mereka semua yang ada di sini menyaksikan bagaimana sakralnya akad nikah Roy dan Laura yang berlangsung lancar tanpa ada kendala. Setelah selesai mengucapkan ijab kabul, akhirnya Roy dan Laura, dinyatakan sah sebagai suami istri.
BERSAMBUNG
***
Terus ikuti kisah mereka ya, bulan madu Roy dan Laura serta kegilaan Leo dan Shena ... love you all ...
Roy
Leo
__ADS_1