
Leo terkejut menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat ketika memasuki kamarnya.
"Ada apa ini?" tanya Leo sambil mengamati banyak sekali benda-benda perlengkapan bayi dan juga berbagai macam mainan serta makanan memenuhi ruangan.
"Leo, jelaskan pada ibu, aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Saat ini aku emang tidak menginginkan apapun. Karena yang mengalami ngidam bukan aku, melainkan kamu," ujar Shena begitu melihat suaminya datang.
"Ibu," panggil Leo pada ibunya yang duduk di sebelah Shena. "Shena baru hamil beberapa minggu, kenapa ibu membelikan semua ini seolah dia akan melahirkan saja. Dia akan mengatakan apapun yang dia inginkan jika dia mau. Tidak perlu repot-repot seperti ini." Leo langsung stres berat karena kamarnya jadi berantakan. apalagi melihat semua perlengkapan bayi yang menurutnya terlalu berlebihan ini.
"Mungkin Shena akan jauh lebih rileks jika melihat semua benda-benda ini," elak Biyanca.
Leo merangkul pundak ibunya dan mengajaknya berdiri lalu mengarahkannya keluar pintu kamarnya sambil berkata, "Aku tahu niat Ibu baik, tapi semua ini belum saatnya, sebaiknya ibu istirahat dulu di kamar, biar aku yang menjaga Shena sekarang, bye Ibu!" Leo tersenyum sambil melambaikan tangan dan menutup pintu kamarnya setelah ibunya ada diluar ruangannya.
"Dasar anak nggak ada akhlak. Berani-beraninya dia mengusir ibunya sendiri! Untung aku hanya punya satu putra, jika tidak aku cincang kau jadi daging giling." Biyanca meninggalkan kamar Leo dengan kesal dan menuju kamarnya sendiri.
"Kamu jahat sekali, mengusir ibu seperti itu," komentar Shena.
"Siapa suruh dia membuat kamar kita yang indah jadi berantakan begini." Leo tertawa melihat semua benda-benda yang baru saja dibeli ibunya untuk cucu yang belum hadir ke dunia.
"Dia terlalu, bahagia Leo. Awalnya aku juga terkejut, tapi kini aku mulai mengerti seperti apa perasaan ibu. Oh iya, apa semuanya sudah beres? Cepat sekali kamu kembali." Shena mengamati Leo yang terlihat lebih murung dari biasanya. Suaminya itu duduk di sebelah Shena sambil mencium mesra keningnya.
"Sudah," jawab Leo singkat.
"Ada apa? tidak biasanya wajahmu murung begitu. Apa terjadi sesuatu lagi?"
"Tidak ada, istirahatlah. Aku akan menemanimu." Leo memeluk Shena dalam dekapannya Sampai istrinya itu tertidur lelap.
Bahaya besar sedang mengancam kita Sayang. Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu atau keluarga besar kita yang lainnya. batin Leo.
"Xiao nai! Bagaimana? Kau sudah menemukan Carlos?" Tanya Leo yang sedang menelepon sepupunya di samping istrinya yang sedang tidur.
"Aku harus datang ke Indonesia. Dia menggunakan jaringan khusus yang sulit untuk dilacak, satu-satunya cara untuk bisa menemukan keberadaannya, aku harus menggunakan sistem jaringan yang ada di negaramu. Aku dan Wei Wei akan berangkat lusa, Siapkan kamar megah untuk kami bedua. Dan juga ... Selamat untuk kalian berdua, akhirnya kau berhasil menyusul kami menjadi ayah, " jawab Xiao nai dari seberang.
__ADS_1
"Pasti Refald yang memberitahumu. Dia juga akan pulang ke Indonesia sebulan lagi. Ayah juga mempercepat resepsi pernikahan kami. Keluarga besar kita akan berkumpul sekali lagi."
"Ehm, dan aku harap tidak akan ada pengacau lagi di pesta resepsimu seperti waktu itu." Terdengar tawa kecil dari seberang.
"Mudah-mudahan saja, Kalaupun ada, aku tidak akan membiarkan siapapun mengacau pestaku. Sampai lagi ketemu lusa. Salam untuk kakak ipar." Leo menutup panggilannya.
"Siapa yang datang, Sayang?" Tanya Shena yang sudah terjaga dari tidurnya.
Leo tersenyum sambil mengecup kening Shena. "Para idolamu akan datang."
"Kak Xiao nai dan nona Wei Wei?" Shena terlihat girang.
"Ehm, aku heran sama kamu. Bukannya suami sendiri yang diidolakan, malah orang lain." Leo pura-pura cemberut.
"Mereka bukan orang lain, Sayang. Mereka bagian dari keluargamu. Jika keluargamu saja aku kagumi, suamiku sendiri juga lebih dari itu. Aku tidak hanya mengagumimu, tapi juga sangat mencintaimu." Tanpa peringatan seperti biasa, Leo menghadiahi Shena dengan ciuman mesranya.
"Terimakasih, Sayang ... sudah membuat semua orang bahagia."
"Sama-sama. Kamu juga memberikan kebahagiaan yang lebih dari cukup untukku." Shena membalas ciuman mesra suaminya.
****
Sementara itu, Roy masih berdebat dengan Laura soal pernikahan mereka. Bahkan Laura langsung ngambek saat Roy mengajaknya mencari baju pengantin untuk keduanya.
Laura keluar butik dan berjalan cepat meninggalkan Roy yang sedang asyik memilah-milah baju pengantin untuknya dan Laura.
"Ra!" Teriak Roy yang berlari menyusul Laura. "Ada apa?" Tanya Roy setelah berhasil menghadang langkah kekasihnya.
"Aku nggak tahu kamu kerasukan setan darimana, sampai kamu harus memaksakan diri menikah denganku secepat ini. Bila ini karena keinginan ayahku, aku tidak mau menikah denganmu."
"Kenapa? Bukankah harusnya kamu senang? Apa kamu tidak mencintaiku? Atau kau hanya bermain-main denganku?"
__ADS_1
"Justru aku yang sedang kau permainkan!" Laura menahan suaranya agar tidak menjerit terlalu keras. "Kau menikahiku bukan atas kemauanmu sendiri, tapi atas permintaan ayahku! Aku tidak menginginkan pernikahan yang dipaksakan. Aku mau menikah denganmu jika kau dan aku sama-sama siap dan atas inisiatifmu sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain." Laura menatap Roy yang diam terpaku mendengar kata-kata Laura.
Sungguh ucapan Laura bagaikan tamparan keras untuk Roy. Namun, bukan itu alasan Roy mempercepat rencana pernikahannya dengan Laura. Melainkan ada sesuatu hal yang harus dia lakukan dan Roy ingin menjadikan Laura bagian dari hidupnya sebelum ia melakukan sesuatu.
Tapi sepertinya, Laura salah paham dengan apa yang dilakukan Roy sekarang, dan dia tidak bisa menjelaskan semua pada Laura sampai waktunya tiba.
Hanya ada satu cara supaya Laura mau menikah denganku. batin Roy.
"Ra!" Teriak Roy memanggil kekasihnya yang berjalan mendahuluinya. "Jika kamu nggak mau nikah sama aku, maka aku akan lompat ke tengah jalan, saat ini juga!" ancam Roy.
Laura tersentak dan seketika menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik badan dan menatap tajam Roy yang juga menatapnya.
Roy tidak terlihat ragu dengan ucapannya, cowok itu mulai berjalan ke pinggir jalan dan hendak maju ke depan tanpa peduli banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di depannya.
Laura pun langsung berlari dan menarik lengan Roy agar kembali ke trotoar tempat Laura berdiri. "Apa yang kau lakukan, ha? Apa kau benar-benar bodoh?" Teriak Laura sehingga membuat semua orang yang ada di sekitar situ terkejut mendengar suara teriakan Laura. Kini, keduanya pun juga menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Manikahlah denganku. Jika tidak ...,"
"Oke!" jawab Laura cepat. "Tapi jangan lakukan hal gila kayak gitu lagi! Apa yang harus aku lakukan kalau kau mati meninggalkanku!" Laura mulai terisak.
Roy pun langsung memeluk tubuh kekasihnya dengan erat dan disaksikan banyak orang. "Aku tidak akan meninggalkanmu, aku bahkan akan selalu melindungimu. Aku janji." Tepuk yangan meriah langsung menyambut mereka dari orang-orang yang menyaksikan adengan live streaming paling romantis ala Roy-Laura.
Walaupun awalnya mereka terkejut dan penasaran dengan apa yang terjadi pada dua pasangan sejoli itu. Namun, setelah melihat ending yang bahagia, mereka pun ikut bahagia juga.
"Wah, Daebak! Aku juga mau melamar kekasihku dengan cara seperti itu." komentar netizen yang berdiri tak jauh dari Roy dan Laura yang masih berpelukan.
"Aku juga!" ucap yang lainnya tak mau kalah
"Aku pun!" yang lainnya juga ikutan. Alhasil semua laki-laki dan perempuan yang ada di situ mulai sibuk menghubungi pasangan mereka masing-masing.
BERSAMBUNG
__ADS_1
*****
Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. .. love you all