Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)

Playboy Jatuh Cinta (The King In Love)
episode 147 Sosok Misterius


__ADS_3

Tempat wisata berikutnya yang dikunjungi Shena dan Leo adalah London Eye, yaitu tempat wisata paling laris yang ada di ibu kota. Objek ini berupa roda raksasa yang berputar dengan anggun. Letaknya di South Bank tepatnya di tepi sungai Thames menghadap istana Westminster dan Big Ben yang ada diseberangnya.


London Eye termasuk ferris wheel terbesar di Eropa, dengan ketinggian 135 m. Terdapat 32 kapsul mewah dan nyaman yang akan berotasi di tepi sungai Thames dan akan memakan waktu 30 menit. Setiap pengunjung yang menaiki wahana ini, bisa menikmati pemandangan kota London yang menakjubkan.



“Apa kamu mau naik itu, Sayang?” tanya Leo saat Shena terpukau melihat betapa tingginya ferris wheel itu.


“Tidak, aku takut ketinggian, dan aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu. Bukankah kamu sendiri juga punya? Dan dekat sekali dengan rumah kita, di atas tebing lagi, dan kita bisa menikmati suasana pantai yang tak kalah indah di sana.” Shena menatap suaminya yang juga menatapnya.


“Benar, tapi tidak setinggi itu. Ya sudahlah kalau begitu, aku juga tidak begitu suka, kalau begitu kita sama, biar anak kita saja nanti yang menaikinya. Bagaimana kalau sekarang kita lanjutkan jalan-jalan lagi.” Leo berusaha menyenangkan hati istrinya.


“Sudah cukup, Sayang. Aku lelah sekali, dan juga lapar. Bagaimana kalau kita cari makan dulu?”


Leo memeriksa arlojinya. “Dua jam lagi kita akan makan malam, Sayang. Tidak enak dengan yang lain kalau kita makan terlebih dulu. Bagaimana kalau kita cari camilan saja sambil mengganjal perutmu.”


“Aku ingin mi ayam,” rengek Shena dan bergelut manja di lengan suaminya.


Leo langsung tertawa terpingal-pingkal cukup lama sampai akhirnya ia berkata, “Sayang, ini London, bukan Indonesia, jangan buat aku sakit perut dengan leluconmu itu. Mana ada mi ayam di sini!” Leo kembali tertawa sehingga membuat Shena cemberut akut.


“Kenapa kamu tidak buka bisnis mi ayam saja di sini, pasti banyak yang suka.” Shena mulai ngelantur kemana-mana.

__ADS_1


Leo sudah tidak bisa menghentikan tawanya, entah apa yang terjadi dengan Shena. Leo merasa istrinya itu berbeda dari biasanya. Namun, Leo tetap mencoba memahami apa yang diinginkan Shena. “Lidah orang di setiap negara itu berbeda-beda, Sayang. Apa kamu mau memakan makanan semua orang yang ada di sini jika mereka menjualnya di Indonesia? Tidak, kan? Sudahlah, jangan ngelantur kemana-mana. Haishh, sepertinya aku terlalu kuat menggenjotmu sampai otakmu jadi kongslet begitu, lain kali aku akan hati-hati jika kita melakukan ritual lagi.” Leo memegang dahinya sambil melirik istrinya yang lagi kesal.


“Tapi aku benar-benar ingin mi ayam, ayo kita pulang ke Indonesia, dan makan mi ayam.” Wajah Shena masih terlihat kesal. Sesekali ia memonyongkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan mainan.


Leo hanya memerhatikan Shena mulai dari atas hingga bawah. Ada yang aneh dengannya, apa mungkin ... pikir Leo sambil terus mengamati bentuk tubuh Shena yang sudah mulai berisi sejak keduanya menikah 3 minggu yang lalu.


“Pokoknya aku mau mi ayam, titik! Aku tidak mau pergi dari sini sampai kau membelikanku mi ayam. Kalau kau memaksaku, maka aku tidak mau bersamamu lagi.” Shena melipat tangannya di depan dada dengan ekspresi ngambek tingkat tinggi.


Leo mengotak atik ponselnya untuk mencari-cari informasi apakah ada yang jual mi ayam disekitar sini dan tentu saja hasilnya nihil. “Bagaimana kalau pasta, kan hampir sama dengan mi ayam?” bujuk Leo.


“Nggak! Aku nggak mau apapun, aku maunya mi ayam. Pokoknya mi ayam!” tandas Shena. “Suruh saja pengawalmu membawakan mi ayam kemari,” usul gadis itu walaupun ia tahu keinginannya tidak akan mungkin terwujud.


Shena terlihat sedih karena apa yag dikatakan Leo memang benar, tapi saat ini yang sangat diinginkannya hanyalah mi ayam. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia sangat menginginkan makanan itu. Shena bahkan tidak mau menunggu nanti ataupun besok untuk memakan makanan favoritnya. Pokoknya harus hari ini, detik ini juga.


Raut wajah Shena yang melas, membuat Leo menjadi iba. “Begini saja, setelah kita makan malam bersama, aku akan mengajakmu ke rumah Refald dan kakak ipar, dia bisa membuat mi ayam sendiri untuk istrinya. Aku akan meminta bantuannya dan membuatkan mi ayam untukmu. Bagaimana? Jangan cemberut lagi oke.”


Tentu saja wajah Shena berubah berseri karena senang mendengar apa yang dikatakan suaminya. Shena seolah mendapat hadiah kejutan besar karena Leo mau mengajaknya ke tempat para idolanya berada. “Benarkah kamu akan membuatkan mi ayam sendiri untukku? Di rumahnya kak Refald dan kak Fey?”


“Tentulah Sayang. Apapun akan aku lakukan untukmu. Jangankan cuma buat mi ayam, bulan dan bintangpun pasti akan aku ambilkan jika kamu yang meminta.” Sebuah ciuman manis dari Shena langsung mendarat mulus di bibir Leo.


“Terima kasih, Sayang. Janji, ya? Kamu akan mengajakku ke rumah kak Refald dan istrinya setelah kita makan malam.” Shena tersenyum bahagia. Wajah yang tadinya melas mendadak hilang seketika.

__ADS_1


“Tentu saja, aku janji.” Leo langsung menggendong istrinya dan mengajaknya berputar-putar. Keduanya saling tertawa bahagia setelah drama konyol yang mereka lakukan. Untung saja ini di London, sehingga tak banyak orang yang peduli dengan kelakuan mereka.


Pandangan mata Leo tanpa sengaja menangkap sosok berbaju hitam berkaca mata dengan warna serupa, berjalan melewati mereka dengan tatapan sinis dan senyum yang mencurigakan. Perlahan, Leo menurunkan tubuh Shena dan penglihatannya terfokus pada laki-laki itu.


Leo langsung berlari meninggalkan Shena begitu saja dan mengejar laki-laki tersebut, tapi Leo sudah kehilangan jejak. Laki-laki yang dia cari sudah tidak terlihat lagi. Cowok itu memutuskan untuk kembali lagi ke tempat Shena berdiri dengan perasaan heran dan penasaran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba saja berlari meninggalkannya.


“Ada apa, Sayang? Apa yang kamu lihat? Siapa yang kamu cari?” tanya Shena saat Leo sudah kembali lagi dihadapannya setelah suaminya itu sempat berlari kesana kemari. Untung saja Leo tidak meninggalkannya terlalu jauh dan hanya berputar-putar disekitar sini.


“Aku yakin, barusan aku melihat seseorang yang sangat aku kenal, tapi dia menghilang begitu saja.”


“Mungkin kamu salah lihat.” Tanpa sadar Shena memeluk tubuh suaminya yang terlihat cemas sehingga membuat Leo berhenti celingukan dan kembali memerhatikan Shena.


“Kamu benar, mungkin tadi cuma bayanganku saja.” Leo mencoba menghibur dirinya sendiri agar Shena juga tidak mencemaskannya. Meski ia sangat yakin kalau Leo melihat orang yang bakal mengancam kebahagiaannya dengan Shena.


Bagaimanapun juga, Leo harus segera menemukan orang itu sebelum sesuatu yang buruk menimpanya dan seluruh anggota keluarganya. “Kita kembali ke hotel saja dan bersiap makan malam, setelah itu kita akan ke Swiss bertemu dengan Refald dan kakak ipar.” Leo menatap tajam ke segala arah dan bersikap waspada.


****



__ADS_1


__ADS_2