
Sementara itu, Kenzo dan Dimas memerhatikan kedatangan Leo dan temannya dari balik layar monitor yang terekam kamera cctv rumahnya.
“Siapa mereka? Sepertinya salah satu dari mereka wajahnya tidak asing lagi bagiku,” tanya Kenzo pada Dimas.
“Aku juga tidak mengenalnya, Bos. Aku tidak pernah bertemu mereka sebelumnya. Apa kau ingin aku membereskannya?” tawar Dimas pada bosnya. Ia menatap dua wajah asing dari layar monitor itu.
“Tidak perlu, tempat ini sudah dilengkapi dengan senjata otomatis. Begitu mereka menyentuh jebakan yang sudah terpasang, mereka akan lenyap dengan sendirinya. Biarkan saja, mereka. Aku sangat senang hari ini. Besok aku dan Alex akan menghadiri sidang putusan Malik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa menyaksikan musuhku dihukum mati atas tindakan yang tidak pernah ia lakukan.” Kenzo tertawa keras karena merasa kemenangan sudah ada ditangannya.
Tiba-tiba saja seluruh monitor cctv mati dan mengagetkan semua operataor anak buah Kenzo.
“Ada apa?” teriak Kenzo yang terkejut karena tiba-tiba semua monitornya mati.
“Tidak tahu, Bos. Tiba-tiba saja layarnya mati. Kami sudah memeriksanya tapi tidak ada yang salah. Semuanya baik-baik saja,” terang salah satu operator Kenzo.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba layar monitor itu kembali menyala lagi seperti sedia kala. Hanya saja, isi layarnya sudah berbeda. Dua orang yang tidak lain terdiri dari Leo dan Refald tadi tiba-tiba saja sudah tidak ada di tempatnya lagi.
“Kemana dua orag tadi? Apa mereka sudah pergi?” tanya Dimas yang terkejut karena sudah tidak melihat dua orang yang berdiri di depan pintu gerbang kediaman Kenzo. Hanya mobilnya saja yang masih terparkir rapi di tempatnya.
“Mereka tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Cari mereka!” teriak Kenzo menggelegar.
Semua anak buah Kenzo, langsung berpencar untuk mencari-cari keberadaan Refald dan Leo. Sementara Kenzo sendiri masih memeriksa layar monitornya untuk mencari tahu di mana dua orang asing yang berhasil menyusup ke dalam kediamannya.
“Kau mencari kami?” tanya Leo dari balik punggung Kenzo dan Dimas. Dia bersandar di salah satu dinding ruangan Kenzo bersama dengan Refald.
Sontak Dimas dan Kenzo kaget ketika melihat dua orang laki-laki yang sedang mereka cari ternyata sudah ada di sini.
“Kalian! Bagaimana kalian bisa ada di sini?” Bentak Kenzo yang langsung menodongkan senjata apinya pada Leo dan juga Refald. Dimas dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Mereka semua sama-sama mengangkat senjata api mereka dan bersiap menembak Leo dan Refald.
“Ck ck ck, kalian agresif sekali, apa kalian tidak lihat? Kami hanya berdua dan tidak bersenjata. Kenapa kalian malah menodongkan pistol ke arah kami? Kami bahkan belum melakukan apa-apa.” Leo bicara dengan santai sedangkan Refald hanya diam menatap mata musuh-musuhnya sambil berkosentrasi.
“Jawab pertanyaanku! Bagaimana bisa kalian bisa masuk kemari tanpa mengalami kendala apapun?” Kenzo terlihat mulai marah.
“Kau pikir kami akan memberitahumu bagaimana cara kami agar bisa masuk kemari tanpa kalian ketahui? Tidak akan. Aku datang kemari hanya untuk memperingatkanmu. Jika kau tidak ingin kehilangan satu-satunya keponakan kesayanganmu, Carlos,” tandas Leo sambil menatap tajam mata Kenzo tanpa merasa takut sedikitpun.
__ADS_1
“Kau pikir kau itu siapa? Berani-beraninya kau datang kemari hanya untuk mengancamku. Huh, kau tidak tahu siapa aku. Kalian berdua mungkin bisa dengan mudah masuk kemari tapi jangan harap kalian bisa keluar dari sini hidup-hidup!” Kenzo mulai memamerkan betapa sadisnya dia yang terkenal dengan gembong mafia terkejam di dunia.
“Oh iya? Lihatlah di belakangmu? Lihat layar monitor itu!” perintah Leo.
Semua orang langsung melihat layar monitor yang sudah berganti isi dengan wajah Carlos. Ia terlihat sedang sekarat di sebuah rumah sakit dengan selang infus terpasang di mana-mana. Sontak saja mereka semua terkejut setengah mati begitu melihat layar yang entah bagaimana caranya Leo membajaknya sehingga bisa memunculkan gambar Carlos saat sedang ada di rumah sakit pada layar monitor Kenzo dengan sempurna.
“Apa itu, Carlos? Bagaimana kau bisa membuat Carlos keponakanku jadi seperti itu, ha?” Kenzo terperangah melihat Carlos terbaring lemah tak berdaya seperti itu. Kalau dipikir-pikir sudah lama ia tidak melihat keponakannya lagi setelah terakhir kali ia bilang akan pergi menghabisi seseorang. Sejak saat itu Carlos memang tidak pernah kembali.
Mungkinkah orang yang akan di habisi Carlos saat itu adalah orang ini? batin Kenzo. Orang itu semakin geram melihat Leo dan Refald yang sedari tadi hanya berdiri dalam diam tetapi menghanyutkan.
“Ada di mana dia sekarang? Siapa kalian sebenarnya?” teriak Kenzo menggelegar dan penuh emosi.
“Aku akan membawanya padamu, jika kau bersedia melakukan satu hal untukku. Jika kau melanggar, maka nyawa keponakanmu akan melayang begitu saja di udara layaknya burung-burung terbang di atas awan.” Leo menyeringai senang karena merasa bisa sok puitis juga meskipun ia bukanlah mahasiswa sastra.
“Apa maksudmu?” Kenzo mulai geram dengan Leo.
“Berhentilah menekan Tuan Maliq untuk terus mengakui sesuatu yang yang tidak pernah dia lakukan! Jika kau terus saja menekannya, maka akan aku pastikan anggota keluargamu akan menerima paket mayat Carlos saat itu juga,” tegas Leo dengan nada mengancam.
Tanpa peringatan apapun, Kenzo langsung menarik pelatuk senjata apinya yang ia arahkan pada Leo, peluru itupun melesat tanpa peringatan, tapi peluru itu seketika berhenti begitu saja tepat di depan mata Leo tanpa bisa menembus kulitnya, peluru itu malayang dan hanya berputar-putar saja. Leo sempat terkejut saat melihat timah panas itu tidak jadi masuk ke dalam kepalanya dan hanya berhenti tepat di depan matanya.
Anak buah Kenzo dan juga Dimas melakukan aksi yang sama seperti yang dilakukan bosnya. Mereka semua memberondong Leo dan Refald dengan peluru, tapi lagi-lagi peluru-peluru itu bernasib sama seperti peluru Kenzo yang hanya bisa melayang tepat di depan tubuh sasarannya.
Semua peluru-peluru itu tidak bisa menembus Refald dan Leo. Untuk sesaat, semuanya terbujur kaku karena terlalu terkejut melihat hal yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Semua yang terjadi saat ini sungguh tidak masuk akal. Bagaimana bisa peluru-peluru itu tidak bisa menembus tubuh Leo dan Refald.
“Ap-apa yang sedang terjadi ini? Ba-bagaimana bisa? Peluru-peluru itu berhenti di situ?” tanya Kenzo tak percaya pada apa yang sudah dia lihat.
Tidak hanya Kenzo, semua orang termasuk Dimas juga terkejut pada keajaiban yang mereka saksikan di depan mata mereka. “Wah, hebat!” gumam Dimas tanpa sadar.
Refald yang dari tadi hanya diam, mulai melangkah maju ke depan mendekati peluru-peluru malang yang hanya bisa melayang-layang didepannya. Ia memutar kembali peluru-peluru itu dan mengarahkannya untuk menyerang balik pemilik pelurunya.
Dengan kecepatan yang tak terhingga, peluru-peluru itu menembus semua betis pasukan Kenzo dalam sekejap mata dan hanya menyisakan Dimas dan Kenzo saja yang tidak terkena peluru-peluru nyasar itu.
Semakin heboh dan paniklah mereka semua karena tiba-tiba saja betis seluruh anak buah Kenzo terkena timah panas dari senjata mereka sendiri. Semuanya langsung ambruk sambil mengerang kesakitan. Bau anyir darah langsung tercium menyengat karena mulai berceceran di mana-mana.
__ADS_1
Hanya Kenzo dan Dimas saja yang masih bisa tegak bediri sambil kebingungan melihat situasi aneh yang terjadi di sekitar mereka. Seketika Kenzo agak sedikit takut melihat kejadian diluar nalar manusia ini.
“Siapa kalian sebenarnya? Aku sama sekali tidak punya urusan dengan kalian? Kenapa kalian membuat kekacauan di sini?” teriak Kenzo penuh amarah.
“Ini hanya peringatan untukmu! Lakukan apa yang aku bilang tadi! Jika tidak, maka kau akan mendapat perlakuan yang jauh lebih mengenaskan dari apa yang dialami anak buahmu itu, plus bonus mayat keponakanmu!” tandas Leo dengan raut muka serius.
Setelah mengatakan kalimat penuh ancaman tersebut, Leo dan Refald pun langsung menghilang tanpa jejak. “Sampai ketemu lagi besok! Tuan Kenzo “ teriak Leo dengan kencang tapi tubuhnya sudah tidak lagi terlihat. Mereka berdua sudah tidak ada di ruangan ini.
“Apa itu tadi? Apa mereka hantu?” tanya Kenzo pada Dimas yang juga sedikit ngeri menyaksikan kejadian ini, tapi ia berusaha tenang untuk bisa mencerna semuanya.
Para pasukan Kenzo yang tersisa kembali masuk ke ruangan dan terkejut melihat seluruh rekan-rekannya terkapar dan merintih kesakitan.
“Cepat cari keberadaan orang tadi sampai dapat! Aku ingin mereka ditangkap, hidup ataupun mati!” teriak Kenzo menggelegar.
Semua anak buahnya pun kembali pergi menuruti apa yang diperintahkan Kenzo tanpa mereka ketahui bahwa Refald dan Leo sudah ada di luar kediaman Kenzo dengan aman dan selamat. Leopun langsung menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi dari kediaman gembong mafia Kenzo.
*****
maaf genrenya jadi masuk fantasi karena ada Refald di sini. Semoga tidak membuat bingung ya .. tapi itulah kekuatan yang dimiliki Refald.
trimaksih untuk semuanya .. berkat kalian semua penulis jadi semakin bersemangat membuat cerita yang menarik.
ini visual Refald
gaya Leo hehehe ...
jangan bosan menunggu up selanjutnya ya... dan juga dukung penulis dengan like, vote dan komentarnya.
love you all
__ADS_1
salam manis dari penulis