
Kedua pasang sejoli yang sedang dimabuk asmara keluar dari kamar setelah diberitahu oleh pelayan kalau ada tamu yang sedang mencari mereka di bawah. Dengan wajah sumringah, Leo menggenggam erat tangan Shena sambil berjalan bersama. Siapapun yang melihat Shena dan Leo pasti ikut merasa bahagia karena dua sejoli ini begitu romantis dan sweet habis.
Saat tiba di anak tangga, Shena langsung melepas genggaman tangan suaminya begitu melihat Laura sedang duduk di ruang tamu keluarga bersama dengan Roy.
“Ra!” panggil Shena seketika.
Laura pun menoleh dan berlari menghampiri sahabatnya. Keduanya pun saling berpelukan untuk mencurahkan kerinduan masing-masing.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Shena, karena terakhir dia bertemu Laura, sahabatnya ini masih terbaring lemah di rumah sakit Leo.
“Ehm, aku baik-baik saja,” jawab Laura sambil melepas pelukannya dan memerhatikan Shena dari kepala sampai bawah. “Kamu makin cantik saja sejak menjadi nyonya Leopard Bay Pyordova,” puji Laura dengan tersenyum ikut senang melihat temannya kini kelihatan lebih bahagia dari terakhir yang dia lihat.
“Iya, dong. Itu karena aku menjaga dan merawatnya dengan sangat baik,” jawab Leo dari belakang punggung Shena dan langsung memeluk pinggang istrinya. Shena sendiri hanya melirik sinis wajah suaminya yang sedang terkekeh padanya. Lagi-lagi, keduanya pamer kemesraan di depan Laura dan Roy. Seperti biasa, Leo mencium mesra Shena di hadapan kedua sahabat mereka masing-masing.
“Dasar! Sifat nggak ada akhlaknya mulai kumat! Apa ini cara mereka menyambut tamu yang datang, ha?” gumam Laura sambil melirik Roy yang sudah berdiri disebelahnya dan mati-matian menahan tawa mendengar gerutuan pujaan hatinya.
Bagi Roy, ia tidak kaget sama sekali jika Leo bersikap seperti itu pada istrinya kapanpun dan dimanapun mereka berada. Berbeda dengan Laura yang baru kali ini melihat Leo benar-benar jadi gila cinta seperti itu.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Laura sewot.
Roy menggelengkan kepalanya. “Tida ada!” ujarnya dan mulai bersikap biasa saja.
“Apa kau meminta kami datang kemari hanya untuk ini, ha? Melihat kalian bercumbu mesra, gitu? Ini, namanya porno aksi, tahu! Dan kalian berdua merusak mataku,” cetus Laura yang hendak pergi tapi ditahan oleh Roy. Gadis itu juga mendapat ciuman dari Roy, sama seperti yang dilakukan Leo pada Shena.
“Wah, sekarang siapa yang sedang melakukan porno aksi di sini!” sindir Leo sambil memeluk pinggang istrinya. “Kalian belum sah menikah, jangan pamer kemesraan di tempat lain kalau tidak mau digerebek orang.” Leo sok memberi nasihat padahal dia sendiri malah jauh lebih parah dari Roy.
“Kau jauh lebih parah dai kami!” balas Roy.
Tiba-tiba saja Leo merasa mual mencium bau parfum Roy dan dia langsung berlari ke belakang dan mulai muntah-muntah lagi.
Hueeek! Hueeek!
Semua orang yang ada di dapur dikejutkan dengan aksi Leo yang mendadak aneh itu. Sedangkan Roy dan Laura langsung bingung dan tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja, Leo muntah-muntah begitu.
__ADS_1
“Ada apa dengan Leo? Kenapa dia? Apa di sakit?” tanya Roy dan Laura hampir bersamaan.
Shena tidak langsung menjawab, ia khawatir dengan suaminya. “Pasti dia mencium bau parfum Roy yang menyengat itu. Lepaskan saja bajumu, Roy! Jika Leo mencium bau parfummu lagi, maka dia bisa muntah lagi?” jelas Shena dan berlalu pergi menyusul suaminya ke belakang.
“Ha? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan Leo jadi muntah hanya karena mencium bau parfumku? Sebelumnya dia baik-baik saja, tidak ada keluhan apapun selama kami bersama, kenapa sekarang bisa begitu?” tanya Roy yang tidak mengerti dengan maksud kata-kata Shena.
Awalnya, Laura juga bingung sama seperti Roy, tapi ia mengamati tubuh Shena yang agak berbeda dari sebelum dia menikah. Keduanya sudah bersama sejak awal kuliah, jadi Laura langsung tahu kalau ada perubahan dalam tubuh Shena. “Hanya ada satu jawaban kenapa Leo bisa jadi seperti itu.” Laura tersenyum menatap sahabatnya yang sudah mulai hilang ditikungan.
“Kenapa kamu tersenyum? Memangnya ada yang lucu?” Kini, Roy yang bingung dengan ekspresi kekaksihnya karena mendadak senyam senyum sendiri.
“Setelah ini, antar aku ke toko perlengkapan bayi!” bukannya menjawab pertanyaan Roy, Laura malah mengalihkan pembicaraan.
“Hah? Ngapain kesana? Kau kan tidak hamil?” tanya Roy sok plos.
“Bukan aku bod0h! Tapi temanku, Shena yang hamil.”
“Apa? Secepat itu? Wuaaah, Leo top cer banget.” Tanpa sadar, Roy pun ikut senang mendengar kabar bahagia ini. “Oke! Setelah urusanku dengan raja mesum itu selesai, aku akan mengantarmu ke toko perlengkapan bayi, dan setelah itu, kita ke butik!”
“Cari sepaket baju pengantin untuk kita berdua! Aku juga tidak mau kalah! Lagian ayahmu ingin aku menikah denganmu secepatnya gara-gaara cecunguk gila itu.”
Laura hanya tersenyum melihat Roy.
Shena membawa Leo ke ruang peristrihatan yang ada di dekat ruang tamu tempat Roy dan Laura menunggu. Mereka berdua juga mengikuti Shena dan jadi cemas juga melihat Leo lemas habis muntah-muntah.
Shena mengeluarkan vitamin yang diberikan dokter sewaktu memeriksakan kondisinya di Swiss tempo hari. gadis itu membantu suaminya meminumkan vitamin itu dan merebahkan tubuh Leo agar dia bisa istirahat sejenak. Setelah meminum vitamin yang diberikan Shena, kondisi Leo jadi semakin membaik, meski wajahnya masih pucat.
“Kamu sudah baikan, Sayang?” tanya Shena sambil mengusap lembut pipi suaminya.
“Ehm, tidak apa-apa. Terimaksih, Sayang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika ini yang terjadi padamu. Untunglah, aku yang mengalaminya. Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkanmu.” Leo mencoba bangun dan duduk menghadap wajah istrinya. “Leo junior kita, tahu siapa yang dia pilih untuk mengalami masa sulit di trimester pertama kehadirannya.” Leo mengusap lembut perut Shena sambil tersenyum.
“Tunggu! Jadi benar dugaanku! Shena hamil? Dan kau yang mengalami ngidamnya? Wah, daebak! Kau hebat Leo!” untuk petama kalinya Laura memuji Leo.
“Selamat untuk kalian berdua!” Roy hendak mendekat dan mengulurkan tangan untuk memberikan selamat, tapi Leo melarangnya.
__ADS_1
“Jangan mendekat! Aku bisa muntah lagi! Buang bajumu itu! Baunya benar-benar membuatku pusing!” bentak Leo pada saahabatnya sendiri. “Keluarlah dulu, lepaskan bajumu itu dan masuklah lagi kemari karena ada yang ingin aku bicarakan,” perintah Leo seenaknya sendiri pada Roy.
Roy pun menuruti kata-kata sahabatnya karena melihat Leo hendak mual lagi. “Sial! Si Leo, sinting! Masa aku disuruh lepas baju gini?” gumam Roy setelah berada di luar kamar. Ia pun melepaskan baju beserta kaosnya dan hanya menyisakan celana jinsnya saja.
Di depan para pelayan yang berlalu lalang, Roy bertelanjang dada dan malu sendiri karena tiba-tiba saja, dirinya ditatap aneh oleh para pelayan-pelayan Leo, terutama yang wanita. Buru-buru dia masuk ke dalam dan langsung mengagetkan Laura kerena melihat Roy sedang tidak memakai baju dan memamerkan tubuh bagian atasnya begitu saja.
“Kenapa kau tidak memakai baju, ha?” bentak Leo yang langsung memeluk tubuh Shena agar tidak melihat dada bidang Roy.
“Kau sendiri yang menyuruhku untuk membuang bajuku supaya kau tidak muntah karena mencium aroma parfumku!”
Leo berdecak kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu bertelanjang setengah badan di depan Shena. “Apa kau tidak lihat? Ada Shenaku di sini! Dasar brengsek kau! Pakai kaosmu! Kau merusak mata istriku!” Leo masih menenggelamkan Shena dalam pelukannya supaya tidak bisa melihat Roy.
Sambil memakai kembali kaosnya, Roy melirik Laura yang hanya menunduk karena malu sendiri melihat pacarnya tidak memakai baju. Entah kenapa Laura tiba-tiba saja gugup melihat dada bidang kekasihnya sendiri.
“Sudah! Kau puas?” tukas Roy.
Leo tidak menjawab, ia menatap wajah istrinya sambil berkata, “Sayang, pergilah keluar bersama dengan Laura. Aku harus bicara empat mata dengan Roy.” Nada bicara Leo berubah lembut saat bicara dengan Shena.
“Apa ini soal musuh dokter Arya?” tanya Shena yang juga membalas tatapan mata suaminya.
“Ehm, ini soal dia.” Leo mengangguk.
“Baiklah, aku akan mengajak Laura jalan-jalan keliling rumah ini. Sebab, ia baru pertama kali datang kemari. Aku pergi dulu.” Shena mencium mesra kening Leo dan disambut senyuman penuh makna dari Leo.
Kedua wanita cantik itu pun keluar kamar dan hanya tinggal Roy dan Leo saja yang ada di dalam ruangan itu.
“Ada apa? Sepertinya serius sekali?” tanya Roy yang langsung mendapat sambutan tatapan elang dari Leo.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1