
Leo sedang berbicara dengan salah satu penghuni kosan yang merupakan salah satu teman sekelas Shena. Setelah beberapa menit mereka berbicara, gadis itu berlari ke dalam kosan dan menutup rapat kamar kosnya. Semua jadi heran dengan tingkah aneh gadis yang baru saja selesai bicara dengan Leo, mereka jadi takut dan juga ikut masuk ke dalam kamar mereka masing-masing mengikuti jejak temannya. Sementara itu, Leo mulai datang ke arah emak-emak rempong itu berkumpul.
Alih-alih takut dengan kedatangan Leo yang terkenal dengan kesadisan dan kekejamannya. Para emak-emak rempong itu malah terkagum-kagum dengan gaya dan pesona Leo saat berjalan mendekati mereka.
“Ternyata cowok itu lumayan ganteng dan tajir juga, ya? Pantes aja si Shena mau diapa-apain sama dia. Keren gitu bocahnya ...” komentar ibu-ibu yang berambut keriting.
Para emak-emak rempong itu berlagak sok centil saat Leo sudah berdiri di depan mereka. Leo melepas kacamata hitamnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket hitamnya.
“Siapa diantara kalian pemiliki kosan itu?” tanya Leo blak-blakan tanpa basa basi.
Emak-emak yang berbadan gempal dan berdandan paling menor diantara ibu-ibu yang lainnya maju ke depan dengan gaya sok kecakepan.
“Aku, kenapa? Kamu mau cari tempat kosan, juga? Di sini khusus kosan wanita, tapi kalau kamu ... bisa diaturlah, akan aku sediain tempat khusus buat cowok cakep kayak kamu,” ujar emak-emak itu dengan gaya kecentilan yang di buat-buat sehingga membuat reaksi heboh teman-teman yang ada disekeliling emak-emak rempong berdandan menor itu.
Leo hanya menyunggingkan senyumnya. Ia menatap arloji Rolex berwana silver yang berharga puluhan juta. Mata emak-emak yang melihat jam tangan Leo langsung berubah jadi kinclong saking terpesonanya dengan jam tangan limited edition yang dipakai Leo itu.
“Itu bocah ternyata tajir melintir banget, liat aja jam tangannya, itu pasti mahal sekali, pasti harganya puluhan juta,” bisik emak-emak rempong berambut keriting pada temannya.
“Gila! Jamnya aja harganya segitu, itu mah bisa buat beli motor beat 3 biji!” jawab yang lainnya diikuti anggukan teman-temannya.
__ADS_1
Leo hanya menatap tajam emak-emak tukang gosip itu, “Aku beri waktu 15 menit untuk kalian bersiap-siap meninggalkan tempat ini secepatnya.” Leo menatap wajah emak-emak yang langsung berubah jadi tegang dengan senyum liciknya.
Para ibu-ibu dan emak-emak rempong itu bingung dengan apa yang baru saja dikatakan Leo. “Apa? Barusan ini bocah ngomong apa? Kita nggak salah dengar, kan?” tanya ibu-ibu berbadan gempal kepada teman-temannya yang lain. Semuanya juga bingung jadi mereka hanya saling pandang satu sama lain.
“Ada apa ini? Apa maksudnya?” Tanya ibu-ibu yang berambut keriting.
“Siap-siap apanya?” tanya ibu-ibu yang lainnya, sedangkan sisanya masih saling menatap dan berbisik-bisik.
“Pak Bas ... kemarilah! Jelaskan pada emak-emak tak tahu diri ini!” panggil Leo pada seorang pengacara paruh baya yang memakai setelan jas hitam mahal bermerek Armani . Gayanya saat berjalan mendekati kerumunan emak-emak itu tak kalah nyentrik dengan pengacara kondang yang paling terkenal di Indonesia, yaitu Hotman Paris Hutapea.
“Dasar bocah tengik tak tahu sopan santun! Berani-beraninya kamu bicara begitu sama orang tua? Sekolah tinggi tapi nggak punya otak!” emak-emak berbadan gempal itu tersinggung dengan kata-kata kasar Leo.
“Eee ... dasar anak nggak tahu diri .. sini lu kalau berani,” Emak-emak berbadan gempal itu mau menyerang Leo tapi tubuhnya di halangi oleh emak-emak yang lain.
“Elu semua kenape, sih? Ngapain ngalangin gua, ni anak perlu dikasih pelajaran supaya tahu cara bersikap baik sama orang tua, percuma punya muka cakep, berduit, tapi kagak punya sopan santun! Pasti dia salah satu korban broken home.” Cerocos wanita berbadan gempal itu dengan penuh emosi.
“Malu Mak, masak berantem di sini? Sama bocah lagi, Tak baik juga berantem di tempat yang sudah dilihatin banyak orang, Mak.” Ibu-ibu keriting itu berusaha menenangkan ketua geng rempongnya agar tidak tersulut emosi. Mereka semua juga sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang beralu lalang di depan tempat mereka.
Leo sama sekali tak gentar dan tidak bergeming dari tempatnya. Puluhan penjahat saja bisa dikalahkannya hanya dengan tangan kosong, apalagi cuma menghadapi emak-emak rempong yang kelebihan lemak. Mereka semua bukanlah tandingan Leo.
__ADS_1
Pengacara kondang yang bernama Baskoro maju ke depan Leo, berlagak sok keren agar sama dengan gaya stay coolnya Leo. Dia membuka tas hitam yang ada ditangannya lalu mengeluarkan beberapa berkas dan membacakannya di depan para emak-emak rempong ini.
“Dengan surat ini menyatakan bahwa, pemilik kosan ini yang bernama Nurhayati binti Slamet dan juga para tetangga-tetangganya yang bernama Yutri binti Tejo, Sumarni binti Parno, Lasmi binti Suwoto, Sari binti Purnomo, Sagita binti Asep, dan Utami binti Ilham, tidak diperbolehkan lagi tinggal di kosan ini dikarenakan, semua aset tanah dan bangunan bersertifikat sudah resmi beralih kepemilikan menjadi milik Nona Shena Maililiani. Demikian isi surat pernyataan resmi dari pengadilan yang diterbitkan tadi pagi tepat pukul 10.00 pagi dan sudah ditandatangani oleh pihak yang bersangkutan. Berkas-berkas yang ada di tangan saya ini adalah bukti pengesahannya. Jadi, silahkan pergi dari tempat ini karena kalian sudah tidak lagi diperbolehkan tinggal di sini. Jika masih melanggar, maka kalian akan dijebloskan ke penjara dan wajib membayar denda.” Pengacara itu memasukkan kembali berkas-berkasnya ke dalam tas hitam yang ditentengnya.
Bagai disambar petir di siang bolong, beberapa ibu-ibu dan emak-emak rempong langsung pingsan seketika setelah mendengar pengacara itu membacakan surat pernyataan dari pengadilan yang intinya mereka semua sudah di usir dari tempat ini tanpa peringatan sebelumnya.
“Heh! Pengacara gadungan! Jangan bercanda lu, ya? Gua sama yang lainnya gak pernah merasa tanda tangan apapun di berkas-berkas yang lu bawa itu! Jangan mengada-ngada deh, di kira kami semua b3go apa?” bentak ibu-ibu berbadan gempal itu dengan wajah tak kalah emosi dari sebelumnya.
“Bukan elu yang tanda tangan! Tapi suami-suami elu? Mereka semua pada hilang, kan? Tahu nggak mereka semua ada di mana? Mereka juga sudah dipecat dari pekerjaan mereka karena sudah menggelapkan dana perusahaan. Uang hasil penjualan rumah kalian juga sudah raib dihabisin sama suami-suami kalian itu.” Leo menatap tajam dengan penuh kemenangan pada semua ibu-ibu yang masih sadar dan tidak pingsan. Mereka semua melongo dan tidak percaya, tapi juga penasaran dengan keberadaan suami mereka yang memang sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah karena alasan pergi ke luar kota.
“Lu jangan bohong! Suami kita-kita sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota!” bentak ibu-ibu yang berdandan menor.
Leo hanya menatap sinis para ibu-ibu itu dan menertawai kebodohannya karena sudah memercayai suami-suami br3ngsek mereka.
****
NB: ini hanya cerita fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama, tokoh, dan karakter sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata, dan sebagai penulis saya mohon maaf, jangan ada yang tersinggung saat membacanya karena ini hanya sebuah cerita agar terlihat menarik saat dibaca dan hanya sebagai penghibur saja. terimakasih untuk semua yang bersedia membaca dan menunggu up selanjutnya.
salam manis dari penulis ♥️♥️♥️♥️
__ADS_1