
Dahi Raython mengernyit, melihat Leo yang tertunduk sambil menahan gelak. "Apa yang kau tertawakan? tanya ketus Raython.
"Tidak ada. Aku dan istriku sangat lapar, bisa kita memesan makanan lebih dulu sambil menunggu yang lain? Kepala Leo terangkat, menatap wajah dingin Raython sambil menyunggingkan senyum sebagai kamuflase menutupi gelaknya karena ucapan Shena barusan. Sungguh, Leo benar-benar dibuat bingung sekaligus terhibur dengan ucapan Shena yang melantur kemana-mana. Sebab, Shena sedang mengandung. Jadi, secara tidak langsung kepribadian Shena juga mulai berubah.
Tangan Raython terangkat, "Pelayan."
Pelayan wanita tadi pun mendekat dengan sebuah buku menu di pelukannya. "Sudah siap memesan, Tuan Corp?"
"Hmmm... Bawakan kami sebotol Barrossa Valley Shiraz, dan pesan sirloin steak yang dimasak setengah matang, kalau ada dengan saus bearnaise, kentang goreng, dan sayuran hijau apapun yang menu terbaik restoran ini punya. Dan, kau?" Raython menunjuk Leo dengan tatapan matanya.
“Aku juga pesan minuman yang sama dengannya. untuk makanannya, aku ingin ravioli dengan saos tomat terenak di tempat ini, tapi untuk Shena, aku ingin Spicy Curry.”
Pelayan wanita itu mengerutkan dahinya mendengar pesanan Leo untuk Shena. “Maaf Tuan, tapi itu ...”
“Aku tahu,” Leo memotong kata-kata pelayan itu seolah tahu apa yang akan ia bicarakan. “Pokoknya buatkan saja, tidak susah, kan? Meskipun itu tidak ada dalam daftar menu masakan kalian, tapi aku yakin para chefs di hotel semewah ini, bisa menghidangkan apapun yang dipesan tamu spesialnya. Bagaimana menurutmu manusia, es kimo? Kau setuju denganku?”
Dasar kampret ini orang! Beruntung kau adalah putra tunggal kolegaku. Jika tidak, akan aku cincang kau hidup-hidup! Gerutu Raython dalam hati.
Pelayan itu menatap Raython meminta pendapat darinya selaku pemilik restoran ini.
“Buatkan saja apapun yang dimintanya,” terang Ray.
"Baik." Pelayan itu mencatat semua pesanan mereka dan berlalu pergi.
****
Di tempat lain, Dimas dan Anita sudah bersiap datang ke tempat yang diberitahukan Leo tadi pagi setelah keduanya melakukan ritual ular kobra masuk kandang.
“Kau sudah siap, Sayang?” tanya Dimas pada istrinya. Raut wajahnya begitu tenang dan bahagia setelah puas menuntaskan hasratnya.
“Ayo,” ajak Anita.
Keduanya berjalan beriringan keluar dari hotel dan menuju restoran yang diberitahukan Leo sebelumnya.
Sementara itu, Rendy juga bersiap berangkat bersama dengan Elena di susul dengan Kei yang selalu mengekornya kamana-mana. Kei menghentikan mobil Koenigsegg CCXR Trevita tepat dipinggir jalan atas permintaan tuan mudanya.
__ADS_1
Rendy berjalan beriringan bersama Elena menuju restoran yang di beritahukan Leo pada Kei tadi pagi. Namun, sebelum mereka sampai di pintu masuk, Rendy menerima telepon penting yang harus membuatnya menjauh dari Elena.
Elena sendiri hanya bisa menunggu sampai Rendy selesai dengan acara teleponnya. Tidak mungkin ia masuk ke dalam sendirian tanpa Rendy. Sebab, ia tidak mengenal siapapun orang-orang yang akan di temui Rendy di tempat ini.
***
Pesanan yang Leo pesan sudah datang. Begitu juga dengan sebotol Barrossa Valley Shiraz yang sudah ditunggu Raython dan Leo sejak tadi.
“Aku juga mau minum itu,” ujar Shena saat pelayan menuangkan minuman wine berkelas itu ke dalam gelas Leo.
“Tidak! Kamu tidak boleh minum ini. Apa kamu tidak ingat terakhir kali minum wine? Kamu langsung tidak sadarkan diri. Dan itu membuatku ingin memakanmu saat itu juga. Aku tidak ingin bujang lapuk yang ada di depanku ini melihat kamu mabuk. Cukup aku saja yang tahu.” Leo mencoba mencegah Shena agar ia tidak makan atau minum yang tidak sesuai dengan kondisinya saat ini.
“Kamu benar juga, sih. Entah kenapa aku kehilangan mood melihat minuman itu. Baiklah, aku ingin teh herbal saja kalau begitu.”
“Bagus, Sayang. Kamu memang istriku yang pengertian.” Leo langsung menghujankan ciuman manisnya di bibir Shena dengan mesra tanpa malu dilihat oleh dua orang yang memandang jijai tingkah laku Leo di depannya.
Dasar bocah tengik nggak ada akhlak! Beraninya dia pamer kemesraan di depanku!
Kata-kata itu keluar dari dalam hati dua orang yang sedang kesal melihat Leo dan Shena sengaja memadu kasih di depan mereka.
Tak berselang lama, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar restoran. Tentu saja hal itu mengundang perhatian Leo dan yang lainnya.
“Biar aku pastikan, sepertinya aku kenal dengan salah satu orang yang bikin ribut di sana.” Leo bangkit dari kursinya. “Kamu tunggu di sini, Sayang,” ujar Leo pada Shena.
“Hati-hati.” Shena pun hanya bisa mengamati suaminya yang berjalan dengan keren menuju pintu keluar diikuti Jakson dari belakang untuk melihat situasi sekaligus bersiap-siap jika Leo kembali membuat kekacauan.
Leo membuka pintu keluar restoran tepat saat Kei si tangan kanan Rendi memotong salah satu jari seseorang yang tidak mereka kenal tanpa ampun sampai benar-benar putus. Bukan hal baru lagi bagi Leo menyaksikan adegan sadis seperti ini didepannya, sebelumnya ia juga pernah menyaksikan adegan lebih parah dan kejam dari apa yang dia lihat saat ini.
Namun, kali ini agak sedikit berbeda. Leo, si gengster yang jago berkelahi dan tak takut dengan peluru jenis apapun, tiba-tiba saja mual dan muntah melihat darah berceceran di mana-mana tepat di depan matanya.
Tentu saja adegan itu mengundang perhatian banyak orang termasuk Jakson yang kebetulan berdiri di belakang Leo. Ia mengerutkan dahinya karena heran melihat Leo bisa muntah-muntah layaknya wanita yang sedang hamil begitu melihat darah.
Hueeeek! Hueeeek!
Leo membungkukkan badannya di depan Jqkson dan memuntahkan semua isi perutnya sampai tubuhnya lemas tak berdaya. “Kenapa denganku? Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya? Apa yang terjadi?” gumam Leo sambil menguatkan dirinya sendiri. Ini pertama kalinya Leo mengalami hal aneh semacam ini. dia bahkan jarang sekali sakit, tapi ia langsung muntah begitu melihat darah. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah seperti itu.
__ADS_1
Shena yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya langsung berlari keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Dan ternyata benar, pemandangan langka sedang ada di depan mata. Tepat di hadapan Shena, Leo membungkuk dan memuntahkan semua isi perutnya di sembarang tempat. Sementara yang kekacauan yang diakibatkan Rendy, langsung di urus oleh Jakson.
Dimas dan Anita yang kebetulan baru saja datang juga terkejut melihat hal aneh yang terjadi dengan si gengster gak ada akhlak Leo.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Dimas saat Shena menepuk-nepuk punggung suami Leo.
Hueeeek! Hueeek!
Belum sempat Leo menjawab pertanyaan Dimas, dia kembali muntah-muntah. Dimas dan yang lainnya ingin tertawa tapi tidak tega menyaksikan seorang Leo lemah tak berdaya tiba-tiba. Lagipula, sangat tidak baik juga menertawakan orang yang sedang kesusahan, terlebih lagi dia adalah Leo. Secara, Leo merupakan gengster terkuat dan tak bakal mudah dikalahkan. Namun, hanya dengan melihat darah, Leo jadi muntah dan itu adalah hal yang tak dapat dipercaya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa? Apa kamu sakit?” tanya Shena yang mencemaskan keadaan suaminya.
“Aku tidak apa-apa, Sayang. Bawa aku pergi dari sini,” pinta Leo.
Shena langsung membawa Leo dalam rangkulannya dan memapahnya masuk ke dalam restoran lalu mendudukkannya di kursi. Shena meminta pelayan mengambilkan air putih untuk Leo agar suaminya itu tidak lemas lagi.
“Ada apa?” tanya Raython yang datang menghampiri keduanya. Sedangkan Dimas dan Anita hanya diam menyaksikan pemandangan langka yang terjadi pada Leo sambil menerka-nerka apa yang sedang terjadi.
“Sepertinya, suamiku sedang sakit tuan, Cerop. Apakah tidak ada ruangan lain yang bisa kami buat untuk istirahat. Aku sangat mengkhawatirkannya. Tidak biasanya dia seperti ini.” Shena terlihat gelisah dan tak tenang. Gadis itu terus memeluk suaminya.
Sebenarnya Raython ingin protes dengan panggilan Shena padanya, tapi ini bukan saatnya untuk protes mengingat keadaan Leo memprihatinkan begitu.
“Tentu, ikutlah denganku. Apa dia kuat berjalan? Apa perlu aku menggendongnya?” tanya Ray menawarkan jasa.
“Aku masih kuat berjalan, es Kimo! Aku tak selemah yang kau lihat! Jangan coba-coba menyentuhku selain istriku!” geram Leo meski ia sedang dalam kondisi lemas, tapi berlagak sok kuat.
“Terserah!” Ray pun pergi dulu untuk menunjukkan jalan di mana ruang VVIP yang bisa dibuat Leo untuk memulihkan tenaganya setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
“Apa kau memikirkan apa yang sedang aku pikirkan?” tanya Dimas pada Anita.
“Sepertinya, iya,” jawab Anita singkat.
“Si bocah tengik itu telah menuai apa yang dia tanam,” gumam Dimas sambil melirik tajam istrinya berharap hal yang sama terjadi padanya.
***
__ADS_1
terus dukung dan kasih semangat aku ya .. dengan like, vote dan komentar nya..
kalian suka gak sih kalau aku kolabs sama author kece seperti mereka ... jangan bosan menunggu up selanjutnya ya ... love you all