
Chang Rui berbincang dengan Janda Permaisuri lumayan lama, mulai dari membicarakan rakyat sampai hubungannya dengan Nangong Li.
Jika hanya mendengar percakapannya maka orang orang akan bisa merasakan bahwa Janda Permaisuri adalah seorang nenek yang sangat perhatian pada cucu dan istri cucunya.
Tapi, bagi Chang Rui yang waspada, setiap kata kata dari Janda Permaisuri penuh dengan jebakan. Jadi, untuk setiap pertanyaan, Chang Rui tidak berani untuk menjawab dengan buru buru.
Chang Rui harus berterima kasih pada pengalamannya yang berlimpah ketika harus menghadapi orang merepotkan semacam Janda Permaisuri.
"Sudah sore, cucu ini akan pamit dari hadapan Janda Permaisuri. Harap gunakan pakaian yang lebih tebal di saat saat seperti ini, karena musim dingin tahun ini berjalan lebih panjang. " Ucap
Chang Rui.
"Tunggu sebentar. " Janda Permaisuri menghentikan Chang Rui.
"Karena kamu telah datang jauh jauh dan memberikanku barang bagus, maka tidak cocok untukmu kembali dengan tangan kosong. Ah - Bing, catat perintah ku. " Ucap Janda Permaisuri.
"Ya, Nyonya. " Ucap Ah - Bing, pelayan Janda Permaisuri.
"Berikan 20 perhiasan emas, 50 perhiasan giok, 30 gulungan sutra terbaik, setengah kilogram teh kuan yin, lalu yang terakhir adalah 1.000 Tael. " Ucap Janda Permaisuri.
"Terima kasih atas kebaikan Janda Permaisuri. " Ucap Chang Rui bersujud pada Janda Permaisuri.
"Bangunlah, ini semua hanyalah hadiah yang sudah seharusnya aku berikan kepada kalian. " Janda Permaisuri membantu Chang Rui bersujud.
Chang Rui tersenyum penuh haru dan air mata mengalir di matanya, lalu dia mengatakan beberapa hal lain.
Setelah keluar dari kediaman Janda Permaisuri, ekspresinya menjadi datar dan dia menyeka air mata palsunya.
Nangong Li ini...... benar benar membuatnya geram !
Sekarang, ribuan tael telah mengalir ke tempat Nangong Li, pria itu pasti akan tersenyum lebar lalu tiba tiba menjadi datar lagi.
Hanya memikirkan nya saja membuat Chang Rui merasa lelah, baik secara fisik maupun secara pikiran.
Nangong Li benar benar tahu bagaimana cara untuk mengalahkan nya sampai ke titik dia harus mengemis pada orang lain untuk pria itu !!
"Nona, apakah anda kesal ?" Tanya Qinlin.
"Tidak." Jawab Chang Rui berbohong.
Chang Rui tidak terbiasa untuk mengatakan apa yang di rasakan olehnya kepada orang lain , bahkan kepada Qinlin atau Qiaoling sekalipun.
Chang Rui kembali dengan kereta kuda Kekaisaran dan perasaannya sangat berbeda, bahkan terkesan sangat nyaman.
__ADS_1
Chang Rui menyenderkan kepala dan punggungnya di dinding kereta kuda yang dihiasi oleh kain sutra terbaik.
Bajingan Nangong Li itu benar benar telah mengerjainya dengan memberikan kereta kuda yang begitu buruk.
Chang Rui seketika tersadar, kenapa hampir setiap kejadian maka dia akan memikirkan Nangong Li ? Ini tidak baik.
Sesampainya di kediaman Jiu Wang, disana pelayan telah menerima banyak barang yang telah diperoleh olehnya.
"Wangfei, Tuan menunggu anda di dalam ruangannya. " Ucap Long Yu.
Chang Rui mengangguk dan berlari ke dalam kediaman Nangong Li lalu mulai menangis dan berlutut di samping ranjang Nangong Li.
Pria itu sedang terbaring lemah dengan denyut nadi yang sedang diperiksa oleh Tabib Kekaisaran Qin.
"Bagaimana dengan kondisi Wangye ?" Tanya Chang Rui dengan kesedihan yang mendalam.
"Huft, Wangfei, Jiu Wang perlu beristirahat untuk waktu yang lama. Tabib ini akan meresepkan obat yang harus diminum oleh Jiu Wang setiap 3 kali sehari. " Ucap Tabib Kekaisaran Qin.
"Terima kasih, Tabib Kekaisaran Qin. Kebaikan ini tidak akan pernah bisa ku balas. " Ucap Chang Rui.
"Wangfei boleh berdiri, bagaimanapun melayani keluarga Kekaisaran adalah tugasku. Sekarang, aku akan keluar dan Wangfei bisa menemani Jiu Wang. " Ucap Tabib Kekaisaran Qin.
"Terima kasih, terima kasih banyak, Tabib Kekaisaran Qin !"Chang Rui menangis dengan haru.
Setelah mengetahui bahwa Tabib Kekaisaran Qin telah pergi, tangisan Chang Rui sepenuhnya berhenti dan Chang Rui menyeka matanya dengan kasar.
Menangis cukup lama membuatnya muak, tidak hanya itu bahkan wajahnya menjadi pegal.
"Wangye, tidak ada gunanya untuk terus mempertahankan wajah sakit sakitan mu itu. Tabib Kekaisaran telah pergi, kepada siapa kamu akan memamerkan wajah itu ?" Tanya Chang Rui dengan acuh tak acuh.
"Hm, kerjamu cukup baik. Tapi, masih kurang banyak, tidak apa apa. Masih ada banyak kesempatan untuk melakukan nya lagi di masa depan. " Ucap Nangong Li tanpa tahu malu.
Chang Rui menekan emosinya dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum lalu menatap Nangong Li dengan sengit.
"Wangye memang penuh dengan ide, sekarang aku tidak akan membahas hal ini lagi denganmu. " Ucap Chang Rui dengan kemarahan yang ditekan.
"Jika tidak membicarakan ini lagi, maka apa yang ingin kamu bicarakan denganku ? Pernikahan kita ? Atau kamu ingin memiliki seorang anak ? Maaf, tapi aku tidak tertarik. " Nangong Li benar benar tahu bagaimana cara membuat orang marah.
"Wangye, tidak baik terlalu percaya diri seperti itu. Apakah kamu benar benar berpikir bahwa aku menginginkan itu ? " Tanya Chang Rui dengan senyum mengerikan.
Ekspresi Chang Rui saat ini sangat kelam seolah olah ingin menelan Nangong Li kedalam kemarahan.
Hanya saja, Chang Rui tahu bahwa kemarahan tidak akan baik untuk kesehatan dan Nangong Li tidak layak untuk merusak kesehatan yang telah dengan susah payah didapatkan olehnya.
__ADS_1
"Apakah Wangye tahu sesuatu tentang Kasim Han dan Kasim Jiu ? " Tanya Chang Rui.
Mendengar ini membuat Nangong Li tersenyum tipis dan tidak terburu buru untuk menjawab pertanyaan Chang Rui, seolah olah tidak antusias dengan pertanyaan tersebut.
"Apa yang kamu harapkan dari Pangeran penyakitan sepertiku ? Setelah kakak tertua ku naik takhta maka aku akan menjadi seorang paman Kekaisaran yang kaya dan menganggur. " Jawab Nangong Li.
Jawaban Nangong Li sudah jelas, itu berarti pria itu tidak ingin mencampuri urusan Istana. Tapi, Chang Rui tahu bahwa ini hanyalah alibi pria itu.
"Orang sepertiku akan percaya bahwa Wangye adalah orang yang lembut dan tanpa ambisi, tapi bagaimana dengan Putra Mahkota ? Apakah dia akan berpikiran sama ?" Tanya Chang Rui dengan lembut.
Nangong Li yang mendengar ini tertawa dan bertepuk tangan sebelum akhirnya wajahnya langsung berubah menjadi datar lagi, seolah olah tidak pernah tertawa dan bertepuk tangan sebelumnya.
Chang Rui mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Nangong Li yang ada rambut menutupi hidungnya.
"Sebagai tabib pribadi mu, maka aku harus meminta mu untuk lebih mengatakan yang sebenarnya. Jika kamu marah maka kamu harus merah dan jika kamu senang maka kamu harus tertawa. Wangye selalu menanggung semuanya di batas yang ambigu, itu pasti tidak akan nyaman bagimu. " Ucap Chang Rui dengan kasihan.
Nangong Li menahan tangan Chang Rui dan menatap ke arah mata Chang Rui dengan tatapan tajam.
"Hak apa yang kamu miliki untuk merasakan kasihan padaku ? Kamu bahkan tidak bisa menyelamatkan kehidupan mu sendiri. " Ucap Nangong Li lalu menghempas tangan Chang Rui menjauh.
Chang Rui yang mendapat perlakuan kasar semacam ini tidak marah bahkan tertawa ringan lalu melihat pergelangan tangannya yang memerah tapi tidak melakukan apapun.
Rasa sakit di pergelangan tangannya masih menyisakan sisa tapi tidak menganggu Chang Rui sama sekali.
"Tentu saja, Wangye harus tahu jika kamu meninggal di usia muda, maka bukan hanya kamu yang akan meninggal maka aku juga. Bahkan jika tidak ada perintah besar di kediaman mu untuk mengikuti kematian Suami, Istana pasti tidak akan melepaskan aku jika kamu meninggal dengan mudah. " Ucap Chang Rui dengan seringaian.
"Ada berapa banyak selir Istana yang dikuburkan hidup hidup untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada mendiang Kaisar ?" Tanya Chang Rui.
Nangong Li yang mendengar ini tersenyum lalu mengulurkan tangan dan mencengkram dagu Chang Rui.
"Jadi, apakah kamu tidak ingin mati bersama denganku dan bermain main denganku di dalam kematian ?" Tanya Nangong Li.
"Wangye...... apa yang baik dengan bermain main di dalam kematian ? "Tanya Chang Rui dengan lembut.
Tangan kasar milik Nangong Li terasa sangat ganjil di kulit halus milik Chang Rui, ibu jari Nangong Li mengelus bibir Chang Rui dengan lembut.
"Bibir ini, sangat cantik dan tajam. Kamu bisa memperdaya siapapun dengan bibir ini. " Ucap Nangong Li.
Chang Rui tersenyum tipis dan tidak terburu buru menjawab kata kata Nangong Li.
"Terima kasih atas pujian, Wangye. Rui'er, pasti tidak akan melupakan ini di masa depan. " Ucap Chang Rui lalu melepaskan diri dengan paksa.
Nangong Li meninggal kan bekas kemerahan di sekitar tempat Nangong Li mencengkram dagu Chang Rui.
__ADS_1