REINKARNASI DEWI PENGOBATAN

REINKARNASI DEWI PENGOBATAN
74. Perjalanan Menuju Ibukota


__ADS_3

Chang Rui mengenakan cadar dengan warna merah muda, tatapannya tajam dan mengawasi sekitar dalam diam.


Chang Rui duduk di atas kereta kuda bersama dengan Jiu Hua, mereka kali ini membawa banyak ahli bela diri bersama mereka.


Tapi, pasti akan ada banyak orang yang ingin menyerang mereka di tengah jalan. Walaupun reputasi Nangong Li buruk tapi dia masih merupakan seorang Paman Kekaisaran.


Jika orang orang bisa menikahkan putri mereka sebagai Nyonya Utama dari kediaman Nangong Li maka itu akan menguntungkan mereka.


Kekuatan Chang Rui tidak sebaik dia kehidupan lalu tapi juga tidak buruk. Paling tidak gerakannya tidak kaku dan indra pendengarannya sangat baik jadi dia bisa mendengar gerakan sekecil apapun di sekitarnya.


"Jiu Hua, jangan bertindak sembarangan di ibukota ya ?" Tanya Chang Rui dengan lembut.


"Jie jie, apakah kita akan baik baik saja ? Kakek mengatakan bahwa Ibukota adalah tempat yang mengerikan, Ayah dan Ibu meninggal disana. " Ucap Jiu Hua dengan sedikit gemetar dan memegang tangan Chang Rui.


"Tenang saja, selama kamu tidak terburu buru dan mengikuti Jie jie maka kamu akan baik baik saja. Lalu, jika ada orang yang mencoba mendekatimu maka kamu tidak bisa langsung lengah. Bisa jadi, orang yang ramah dan lembut adalah orang yang ingin menjatuhkan mu, apakah kamu mengerti ?" Tanya Chang Rui.


Chang Rui tahu, walaupun Jiu Hua adalah gadis yang polos tapi dia adalah tipe yang mudah mempelajari sesuatu dan akan mudah mengerti dengan apa yang dijelaskan padanya.


Orang seperti Jiu Hua tentunya adalah seorang gadis yang berlatih di bawah tata krama dan kesopanan keluarga kaya, jadi setiap tingkah lakunya sangat menyegarkan.


Chang Rui tahu bahwa membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk menuju Ibu Kota dan mereka mungkin akan menginap di tengah hutan dan memakan bekal yang telah mereka siapkan.


Selain beberapa penjaga yang diberikan oleh Jiu Yu untuk menemani Jiu Hua, Jiu Hua juga membawa empat pelayan kepercayaannya.


"Jie jie, kenapa kamu tidak ingin mengambil pelayan ? Di kediaman kami memiliki beberapa pelayan yang pandai dalam banyak hal, mereka juga ramah dan baik. " Ucap Jiu Hua dengan bingung.


Chang Rui yang mendengar ini tersenyum tipis dan mengenang masa lalu.


"Dulu, aku pernah memiliki begitu banyak pelayan, lebih dari 10 pelayan. Mereka semua sangat handal, tapi pada akhirnya mereka tidak bertahan. Mereka terseret karena aku adalah Tuan mereka. Kali ini, aku benar benar tidak ingin mengambil pelayan lain lagi. " Balas Chang Rui dengan tenang.


Chang Rui menekan emosinya yang bergejolak, Jiu Hua adalah orang yang sensitif.


Jika Chang Rui sedikit menaikkan nadanya saja maka akan mampu membuat Jiu Hua merasa segan.


"Di Istana nanti, kamu harus tahu siapa yang harus bisa kamu percayai atau siapa yang bisa kamu andalkan. " Ucap Chang Rui.


"Kakek memberitahu bahwa ada beberapa menteri lama yang dekat dengan Kakek dan mereka semua siap membantu untuk berbicara kepada Yang Mulia. " Balas Jiu Hua dengan sangat polos.


Chang Rui yang mendengar ini hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tidak baik untuk menjatuhkan kepercayaan diri seseorang.

__ADS_1


Karena dimata Jiu Hua, kakeknya adalah nomor satu maka apa yang dikatakan oleh kakeknya adalah hal yang mutlak.


Tapi, sayang sekali bahwa Jiu Hua tidak menyadari bahwa alasan kenapa Jiu Yu memintanya untuk menemani Jiu Hua adalah karena Jiu Yu sendiri tidak yakin dengan sesuatu yang disebut dengan 'rekan lama'.


Chang Rui telah menyiapkan ribuan rencana untuk melepaskan Jiu Hua sebagai bentuk terima kasihnya kepada keluarga Jiu Qi karena telah menyelamatkan nya.


Pada saat ini, hari sudah malam dan mereka memakan makanan yang telah mereka siapkan.


Mereka duduk membentuk melingkar di tengah api unggun, beberapa penjaga berpatroli untuk melihat kondisi sekitar.


"Kalian berdua bisa makan, aku akan memantau sekitar. " Ucap Chang Rui.


Chang Rui melihat api unggun itu yang penuh dengan orang orang dan berjalan ke balik balik pohon.


"Untuk apa terus menyembunyikan diri , hm ?" Tanya Chang Rui pada orang yang bersembunyi di pohon.


Tiba tiba dua orang penyerang datang dengan pedang lengkung, Chang Rui mengambil pedang pendeknya dan menghindari serangan kedua orang itu.


Chang Rui menekan kakinya di pohon yang menjadi penopang baginya sebelum akhirnya melakukan gerakan salto di udara.


Chang Rui melihat pedang kedua orang itu yang menancap di pohon karena ingin mengejarnya.


Keduanya di bersihkan oleh Chang Rui tanpa suara dan tiba tiba Chang Rui mendengarkan teriakan Jiu Hua.


Chang Rui langsung berlari ke arah api unggun dan melihat enam orang penjaga yang seharusnya menjaga Jiu Hua justru mencoba untuk melakukan hal yang tidak pantas kepada Jiu Hua.


Chang Rui melempar pedang pendeknya dan menembus kepala orang yang mencoba untuk menyentuh Jiu Hua.


"Aaaaa !" Teriak Jiu Hua dengan ngeri ketika melihat orang di depannya meninggal begitu saja.


Chang Rui mendekat dan mengambil pedangnya untuk melihat kelima orang yang ada , masing masing memegang satu pelayan Jiu Hua kecuali satu memiliki tangan kosong.


"Mencari kematian.... " Lirih Chang Rui.


Chang Rui menerjang ke depan dan membunuh keenam penjaga itu tanpa berkedip.


Jiu Hua masih belum bisa pulih dari kejadian sebelumnya dan menderita tekanan mental yang sangat besar.


"Jie jie.... apa yang mereka coba lakukan ? Kenapa mereka mencoba untuk melakukan itu ?" Tanya Jiu Hua tergagap.

__ADS_1


Tatapan Chang Rui masih kelam dan penuh dengan kebencian, orang orang semacam ini mendapatkan kematian yang terlalu mudah.


"Aku akan melaporkan ini kepada Guru, Adik Hua, kamu sebaiknya kembali ke Kereta kuda." Ucap Chang Rui.


"Aku takut..... "Lirih Jiu Hua.


Chang Rui menganggukkan kepalanya dan meminta ke empat pelayan Jiu Hua untuk membawa Jiu Hua pergi.


Chang Rui menulis sebuah surat dan mengambil sebuah sangkar dari kereta kuda, itu berisi burung merpati.


Chang Rui mengikatkan pesan miliknya lalu melepaskan merpati yang dipelahara oleh Jiu Hua.


Chang Rui merasa bahwa tidak aman untuk tinggal disini, tapi karena tidak ada lagi yang bisa mengendalikan kereta kuda maka dia yang akan melakukannya.


"Jiu Hua, kamu diam diam di dalam gerbong ya. Aku akan mengendalikan kereta kuda, kita mungkin tidak akan berhenti untuk waktu yang lama. " Ucap Chang Rui pada Jiu Hua.


"Ya, Jie. " Ucap Jiu Hua.


Chang Rui menganggukkan kepalanya dan memacu kudanya untuk berjalan cepat. Kedua kuda mulai berlari dan menyisakan jejak.


Chang Rui menyipitkan matanya dan melirik ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mendekatinya.


Bahkan jika dia tidak tidur dua hari maka itu akan baik baik saja, Chang Rui jadi ingat dengan kehidupan Dokter miliknya.


Dimana seringkali dia mendapat Shift malam dan harus menjaga sepanjang malam, belum lagi jika ada banyak pasien.


Chang Rui benar benar tidak bisa duduk diam jika banyak pasien, baru saja beristirahat maka sudah akan ada yang memanggilnya.


Chang Rui terus memacu kudanya sampai akhirnya mereka keluar dari hutan, jika tidak salah membaca peta maka seharusnya mereka tinggal melewati satu hutan lagi sebelum akhirnya sampai ke Ibukota.


Kuda mereka mulai kelelahan jadi Chang Rui berhenti sejenak untuk memberi minum kepada kuda.


"Jie, kenapa kita berhenti ?" Tanya Jiu Hua dengan gugup dari dalam gerbong.


"Kuda kelelahan, aku akan memberinya minum sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kita. " Balas Chang Rui menenangkan Jiu Hua.


Setelah memberi minum kepada kedua kuda lalu memberi masing masing makanan, Chang Rui membiarkan mereka beristirahat selama 10 menit.


Setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Ibukota, karena selanjutnya adalah Hutan lagi maka ini akan menjadi perjalanan yang panjang.

__ADS_1


__ADS_2