Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 10


__ADS_3

POV KIRAN


Perlahan, aku mulai mengerjab, mencoba terbangun dari tidur nyenyak yang sudah lama sekali tak ku rasa.


Terbuka, meski belum sempurna, mataku menangkap tempat yang sama sebelum aku tertidur tadi, mobil Aslan. Alunan musik itu masih terdengar merdu, seolah sengaja diputar untuk pengantar tidurku.


Tunggu, kenapa dari tadi lagu ini terus yang diputar? apa pria cupu ini tahu, jika ini adalah lagu kesukaanku?


Ah, terserahlah, aku tidak peduli.


Kuraskaan mobil ini masih terus berjalan, entahlah, kenapa perjalanan ini terasa begitu lama. Padahal rumah mbak Riri tidak terlalu sejauh.


"Kenapa masih disini? harusnya kita sudah sampai dari dua jam yang lalu?" tanyaku dengan suara serak, ternyata tadi aku benar-benar tidur dengan nyenyak.


Si supir tak menjawab, malah menyerahkan sebotol air meneral padaku.


Cih, aku berdecih, sok baik sekali.


Aku tak sudi menerima itu, aku menepisnya.


"Tadi ada perbaikan jalan, aku harus putar balik dan memilih jalan lain. Lalu ada pula kecelakaan yang menyebabkan macet total. Kamu enak hanya tidur, aku yang lelah sedari tadi menyetir." jawab Aslan tanpa melihat ke arahku, kedua matanya lurus terus menatap jalanan.


Ku lihat wajahnya memang sedikit lelah, apa iya semua yang dikatakannya itu benar?


Ku lihat jam ditangan, jam setengah 10 pagi. Ya Allah, lama sekali dan kami belum juga sampai, padahal kami sudah berangkat dari subuh.


Padahal jika perjalanan normal, tak sampai 1 jam kami sudah sampai di rumah mbak Riri.


"Turunkan aku disini." Kata ku memerintah, aku tak ingin memiliki hutang budi pada orang lain, apalagi jika orang itu adalah Aslan.


Lebih baik aku meneruskan perjalanan menggunakan taksi. Ya, begitu lebih baik.


"Kamu tuli atau bagaimana? aku bilang turunkan aku disini." ucapku lagi dengan sedikit kesal.


Berbicara dengan Aslan selalu saja membuatku darah tinggi.


Bukannya menjawab, ku dengar dia malah berdecih. Sialan.


"Lebih baik kamu tidur lagi, jika kamu bangun malah membuatku kesal." jawab Aslan dengan menatapku tajam.


Aneh, tapi entah kenapa, kini tatapannya itu sedikit membuatku takut. Seolah kini dia bukan lagi Aslan yang dulu.


Kini aku tak mengenal Aslan.


Aku memilih diam, sama, Aslan pun juga mendiamkanku.


Drt drt drt

__ADS_1


Ponselku bergetar, entah bagaimana ceritanya, ponselku itu kini berada diatas dashboard.


Aku hendak mengambilnya, namun dengan lancang, Aslan lebih dulu menjangkau ponsel itu.


"Kembalikan." pintaku dengan pelan, suaraku nyaris habis daritadi berdebat terus. Bahkan kini kerongkonganku terasa kering sekali.


Ku lihat dia menolak panggilan di ponselku.


Apa itu mas Alfath?


"Aku baru tahu kalau kamu ternyata selancang itu." ucapku sinis.


Tapi seolah tak peduli, dengan gampangnya ia mengembalikan ponsel itu padaku. Saat ku periksa, ternyata benar. Tadi mas Alfath yang menelpon.


"Bukankah laki-laki itu sudah menikah, kenapa dia masih menghubungimu?" tanya Aslan dengan suara datar.


"Itu bukan urusanmu." jawabku acuh, ini bukanlah masalah yang ingin ku bagi dengan siapapun.


"Jelas urusanku, karena sekarang kamu adalah calon istriku." jawabnya tegas.


Lagi-lagi aku berdecih, aneh ketika menyadari Aslan, adik kelasku bersikap seperti ini.


Seperti tidak pantas, aku tekekeh sendiri. Lucu.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanyanya sambil menoleh kearahku sekilas.


Terbukti, saat ia tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan mendadak.


Terparkir dengan asal di pinggir jalan.


Aku bahkan sampai terkejut di buatnya.


"Jangan parkir sembarangan!" bentak ku kesal, ku tatap netranya dengan penuh kebencian.


"Aku dan Maya, apa yang bagimu lucu?" tanyanya dengan suara dingin.


Baiklah, sepertinya Aslan ingin bicara serius. Ayo lakukan.


"Kalian memang lucu, menginginkan seorang anak tapi malah memilihku untuk jadi istri keduamu." jawabku tak kalah dingin.


"Semua orang juga tahu kalau usiaku jauh lebih tua daripada kalian, apa menurutmu itu tidak lucu?" tanyaku menggebu, kali ini akan ku katakan semua kekesalan dihatiku.


"Apa kalian hanya ingin menjadikanku pencetak anak? apa dimata kalian aku serendah itu? kalian itu keluarga badjingan." ucapku sarkas, rasanya puas sekali setelah aku mengatakan itu.


"Apa aku serendah itu dimatamu?" tanya Aslan dengan suara dingin, dingin sekali sampai entah kenapa bulu kudukku jadi merinding.


"Apa bagimu tidak memiliki anak dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang lucu?" tanyanya lagi dan membuat hatiku benar-benar tak nyaman.

__ADS_1


Kenapa dia pintar sekali mengintimidasi aku.


"Kamu merasa yang paling merana, tapi nasib yang kamu jalani saat ini belum apa-apa. Bagaimana dengan Maya? yang selama pernikahan ini tiap hari tiap malam ia selalu berdoa untuk bisa segera hamil ..."


"Bagaimana denganku? Umi Abi? kami semua selalu berdoa agar bisa mendengar tangisan bayi ..."


"8 tahun kami menikah dan selama itu pula kami menanti ..."


"Kamu bilang aku dan Maya lucu? kamu yang lucu, hanya karena Alfath, lelaki yang bukan siapa-siapamu, kamu nyaris merusak rumah tangga orang lain. Bermusuhan dengan kakak mu sendiri. Kamu yang lucu."


Aku terdiam, sementara air mata sudah mengalir dan jatuh ke pangkuan. Ternyata Aslan lebih jahat daripada mas Fahmi.


"Jahat." jawabku sesenggukan.


Hening,


Hanya terdengar isak tangisku saja.


Bahkan lagu yang indah tadi sudah hilang entah kemana.


"Sedikitpun aku tidak pernah menatapmu hina, apalagi Maya. Jadi ku mohon, mari kita hidup bersama dengan damai. Aku akan berusaha adil diantara kalian berdua." ucap Aslan memecah keheningan.


"Kenapa tidak adopsi?" tanyaku dengan sisa-sisa isak tangis.


"Jika aku mandul pasti kami akan adopsi." jawabnya yang masih terdengar dingin.


Berarti yang mempunyai masalah adalah Maya. Mungkin karena itu Maya mengizinkan Aslan untuk menikah lagi.


Tapi aku tahu rasa sakitnya berbagi cinta, apa iya Maya setegar itu?


Lalu kenapa harus aku?


"Baiklah, ayo kita menikah. Tapi kamu tidak perlu bersikap adil padaku. Aku tahu sakitnya melihat orang yang dicintai bersama wanita lain. Aku tidak mau Maya merasakan itu ..."


"Lagipula aku tidak mencintaimu, jadi jangan coba membagi cintamu. Maya adalah istrimu. Anggaplah aku hanya orang baik yang mau membantu kalian," kataku Final. Begini lebih baik. Karena jujur, harga diriku tak terima ketika aku harus hadir diantara mereka.


Orang-orang yang bagiku asing.


Ku lihat, Aslan tak langsung menjawab. Ia malah menggelengkan kepalanya pelan.


Kenapa? bukankah dia harusnya senang?


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Pernikahan bukanlah kesepakatan, menikah juga bukan hanya antara aku dan kamu. Tapi ada Allah diantara kita. Menikah itu juga ibadah, aku tidak mau ibadahku rusak hanya karena keinginanmu ..."


"Adil itu adalah kunci poligami, dan aku akan berusaha untuk melakukan itu."

__ADS_1


__ADS_2