Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 56


__ADS_3

Sebelum pertemuan mereka, waktu bagi Kiran dan Aslan seolah berjalan begitu lama. Malam seperti tak ada habisnya dan siang merayap begitu lambat.


Namun kini, setelah bersama, rasanya berbeda.


Baru semalam mereka terlelap, kini tiba-tiba pagi sudah menyapa.


Sehabis shalat subuh, Aslan mengemas semua baju sang istri, dimasukkan ke dalam satu koper.


Jam 8 pagi nanti, mereka akan kembali ke Indonesia.


"Mas Fahmi dan mbak Tika pulang jam berapa ya sayang?" tanya Aslan, karena dia ingin berpamitan dengan layak.


"Jam 7 Mas, tadi mbak Tika kirim pesan," jawab Kiran apa adanya dan Aslan mengangguk kecil.


Cukup lama berkutat di koper itu, akhirnya tugas Aslan selesai.


"Maaf ya Mas, jadi kamu yang kemas-kemas," ucap Kiran merasa tak enak hati. Karena tugasnya malah jadi sang suami yang mengerjakan.


Dengan tersenyum, Aslan menghampiri Kiran, berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan sang istri yang sedang duduk di kursi roda.


"Ini tidak gratis," jawab Aslan dengan tersenyum menggoda.


Jika di digoda seperti ini, Kiran malah jadi geli sendiri. Tapi jika ia yang memulai, rasanya begitu berani.


Dengan mendengus kesal, Kiran memukul tangan sang suami yang sedang mengelus pahanya.


Diperlakukan seperti itu, Aslan malah terkekeh, lucu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 7 pagi lewat 10 menit, Fahmi dan Tika pulang ke apartemen. Raka dan Rian yang ikut bersama mereka pulang dengan wajah yang begitu ceria.


Bagaimana tidak, selama 2 hari ini mereka seperti sedang berlibur, menginap di hotel dan berkeliling Malaysia.


"Om Aslan, Bulek," sapa Rian dan Raka pada Aslan dan Kiran. Keduanya memeluk Kiran dengan sayang, sedangkan Aslan memperhatikan dengan tersenyum.


"Senang banget sih kalian," ucap Kiran dan kedua keponakannya mengangguk mengIyakan.


"Nanti ceritanya, sekarang ayo kita bereskan barang-barang ini," sela Tika sambil mengangkat beberapa paper bag di tangannya, semua itu adalah barang milik Raka dan Rian.


Kedua bocah ini pun menurut, keduanya lalu pamit untuk masuk ke dalam kamar mereka, diikuti oleh Tika.


Kini, tinggalah Fahmi, Aslan dan Kiran di ruang tengah ini, mendadak canggung diantara ketiganya.


Tidak langsung menjawab, Fahmi lebih dulu menatap sang adik.


"Bagaimana Ran? apa kamu mau ikut pulang bersama Aslan?" tanya Fahmi lirih, selama 2 hari pergi ia merenungkan semua yang sudah terjadi. Termasuk menyadari kesalahanannya sendiri yang terlalu ototiter pada Kiran.


Selalu memutuskan apapun tanpa bertanya lebih dulu.


"Iya Mas, aku akan ikut mas Aslan," jawab Kiran sendu, melihat sang kakak yang begitu diam membuatnya merasa sedih. Entah kenapa, ia malah merasa begitu banyak beban yang ditanggung sang kakak.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik disana, aku akan tetap tinggal disini," terang Fahmi.


Dan entah ada angin datang darimana, mata Kiran langsung terasa pedih dan lambat laun mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Menunduk, Kiran kembali bersuara, "Iya Mas, aku akan jaga diri, Mas tidak perlu khawatir. Terima kasih Mas, terima kasih untuk semuanya," ucap Kiran diantara isak tangis yang tak bisa dicegah.


Tanpa sepengetahuan Kiran, sudut mata Fahmi pun mengeluarkan air mata, namun dengan cepat dihapusnya.


"Jaga Kiran baik-baik Lan, dan maafkan aku atas semua yang sudah terjadi," ucap Fahmi berlapang dada.


"Insya Allah Mas, insya Allah aku akan selalu menjaga Kiran. Maafkan aku juga dan terima kasih Mas masih memberiku kesempatan untuk bersama Kiran," jawab Aslan dan Fahmi mengangguk kecil.


Fahmi lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri sang adik. Ia memeluk Kiran untuk terakhir kalinya.


Karena setelah ini, pertemuan mereka pasti akan sulit.


"Maafkan aku Mas," isak Kiran dalam pelukan sang kakak.


"Sudah, jangan menangis lagi, nanti anakmu jadi cengeng," ucap Fahmi lalu melerai pelukannya sendiri.


Mendengar itu, Kiran tersenyum kecil, lalu mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 7.30 pagi, Aslan dan Kiran pergi menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur. Fahmi mengantar kepergian mereka, sementara Tika tetap tinggal di apartemen bersama Raka dan Rian.


Memasuki ruang tunggu, Kiran melambai pada sang kakak yang masih berdiri disana.


Keduanya tersenyum, menyambut perpisahan mereka. Aneh memang, semakin banyak masalah diantara mereka, hubungan kakak beradik ini malah semakin membaik.


"Bismilah sayang," ucap Aslan ketika mendengar suara speaker pemberitahuan untuk memasuki pesawat.

__ADS_1


"Bismilahirohmanirohim," jawab Kiran patuh.


__ADS_2